
Narendra bersidekap dengan kaki bersilang. Di hadapannya, Thomas duduk dengan wajah tak kalah datar. Pemuda bertato itu menatap Narendra lurus, wajah dinginnya sontak membuat Narendra mendengus.
"Ada apa? Kau mau menuntutku karena membunuh ayahmu?" tanya Narendra dengan wajah tak beriak.
"Dia juga ayahmu," balas Thomas.
Narendra kembali mendengus, membuang mukanya sesaat sebelum beralih lagi menatap Thomas. "Kau tahu aku tidak punya banyak waktu. Jadi cepat katakan apa maumu?"
"Izinkan aku bekerja."
"Apa?" Narendra mengernyit.
"Biarkan aku bekerja padamu," lanjut Thomas.
Hening. Sejenak Narendra hanya menatap anak itu. Ia lalu terkekeh samar membuang senyumnya ke arah lain. "Kau salah orang kalau begitu," ujarnya, lalu bangkit sambil memasukkan kedua tangannya dalam saku.
Thomas mendongak menatap Narendra yang hendak pergi. "Aku serius. Kau bilang untuk memperbaiki semuanya, aku harus mengubah pola hidup. Dan hal pertama yang akan kulakukan adalah bekerja dengan benar."
Suara Thomas terdengar datar, namun di telinga Narendra itu tak lebih dari ocehan remaja yang membuatnya ingin tertawa.
"Kau butuh pekerjaan?" tanya Narendra.
Thomas tak menjawab, namun anak itu yakin Narendra bisa mengerti sikap diamnya. Terbukti, selanjutnya Narendra mengulurkan sebuah kartu nama kepada Thomas.
"Datanglah padanya. Itupun kalau kau benar-benar mau bekerja, bukan mendekati karena alasan tertentu." Narendra keluar. Itu adalah ruangan yang sempat Julian pinjam dari pihak rumah sakit saat tiba-tiba Thomas datang meminta bertemu.
Karena Narendra enggan bertemu di luar, mau tak mau Julian pun menggunakan salah satu fasilitas di rumah sakit tersebut guna menjaga privasi lelaki itu.
Julian mengikuti Narendra keluar, menyisakan Thomas yang masih bergeming di tempatnya duduk. Kalimat Narendra terdengar sarkas. Pria itu memiliki intuisi cukup luas untuk menyadari bahwa Thomas menemuinya dengan maksud lain.
Thomas mendenguskan nafasnya keras. Ia melihat kartu nama yang diberikan Narendra, di sana tertera sebuah nama dengan marga Wiranata. "Kau serius mau membuatku bekerja di sana," desisnya tak percaya.
Ia lalu bangkit, dan turut meninggalkan ruangan tersebut. Saat ia melewati sebuah lorong, kakinya berhenti mendapati seseorang yang familiar.
Bukankah itu wanita cacat yang sempat ingin Krisna lenyapkan? Jadi dia istri Narendra?
Thomas mematung lama di sana. Wanita itu tengah duduk di kursi roda bersama seorang perawat. Wajahnya sangat pucat, tapi Thomas akui memang cantik, meski menurutnya dia terlalu kurus.
Dari kejauhan, Narendra nampak menghampiri wanita itu. Thomas pun segera menepikan kakinya bersembunyi di balik tembok lorong.
"Aku mencarimu," ujar Narendra.
__ADS_1
Helaan nafas terdengar dari istrinya. "Aku bosan, kau tahu?"
"Tapi sepertinya dokter belum menyarankanmu keluar." Lelaki itu kembali berujar datar. Suara Narendra memang khas, tenang seolah tak ada emosi meski ia sedang bersikap manis dan penuh perhatian.
Thomas mendengus. Ia hampir tak percaya sebelumnya Narendra habis membantai puluhan manusia menggunakan serigala. Kalau istrinya tahu, Thomas yakin dia pun akan mengira bahwa itu semua bohong.
Ia jadi penasaran, apa yang akan terjadi jika wanita itu tahu kekejaman suaminya.
Thomas kembali mengintip mereka berdua. Rupanya Narendra bersikeras membawa istrinya untuk kembali ke kamar. Mereka menjauh, pun Thomas keluar dari persembunyiannya.
***
Glacia tak henti merengut ketika Narendra mendorong kursi rodanya menuju kamar rawat. Apa lelaki itu tidak mengerti bahwa ia bosan di dalam rungan terus?
"Hentikan wajah cemberut itu. Kita harus meminta izin dokter kalau kamu mau ke luar," cetus Narendra.
Lelaki itu membuka pintu begitu tiba di depan ruangan Glacia. Dan Glacia dibuat mengerjap karena ternyata sudah ada beberapa dokter yang menunggunya di sana. Mereka hendak memulai pemeriksaan.
Glacia meringis sedikit malu. Narendra mendorong dirinya masuk lebih dalam, lalu menggendongnya untuk kembali berbaring di ranjang.
Salah satu dokter pun terkekeh. "Ternyata anda cukup nakal, Nyonya. Apa anda begitu tidak tahan ingin berjalan-jalan, hingga berani mencabut jarum infus sendiri?"
Kalimat itu mengundang raut geli dokter lainnya. Glacia tak menghiraukan mereka. Ia hanya membiarkan ketika salah satu perawat kembali memasang infus tersebut di punggung tangannya.
Selesai memeriksa, dokter-dokter itu memberikan penjelasan mengenai kondisi Glacia.
"Detak jantung Nyonya masih terlalu lemah untuk dibawa beraktifitas. Tubuh Nyonya juga belum siap diajak jalan-jalan terlalu lama. Kondisi kesehatan Nyonya masih belum stabil. Nafas anda juga masih terdengar berat dan sesak, lebih baik jangan sembarangan membuka selang oksigen untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan."
"Kami belum menyarankan anda keluar kecuali berjemur di taman terdekat." Dokter itu menoleh pada Narendra. "Tuan, pastikan juga tubuh istri Anda selalu dalam keadaan hangat. Suhu tubuh yang rendah bisa memperburuk kondisi kesehatannya."
Narendra mengangguk. "Oke." Ia menunduk pada Glacia yang memasang wajah malas. "Terima kasih, Dokter," lanjutnya.
"Sama-sama. Kalau begitu kami permisi."
Setelah para dokter itu pergi, Narendra membuang nafas sambil melempar tatapan pada Glacia. Glacia berkerut dalam, balas menatap Narendra. "Apa?"
"Kau cukup bebal, padahal ini untuk kesehatanmu sendiri."
"Aku bosan, Naren."
"Aku akan membawamu ke taman paling dekat. Tapi ingat, jangan meninggalkan kamar seenaknya seperti tadi. Kalau terjadi sesuatu padamu, bagaimana? Masih bagus aku kembali ke sini dan mendapatimu tidak ada di kamar. Di depan tidak ada pengawal. Kamu pasti meminta Papa untuk menarik mereka. Benar, kan?" cerocos Narendra.
__ADS_1
Glacia meringis. Ia memang menyuruh Yohanes untuk menarik semua bodyguard yang berjaga di depan. Ia risih dan malu seandainya orang lain menganggap mereka terlalu berlebihan.
"Kamu kenapa kembali? Bukankah tadi sudah ke luar? Aku pikir kamu berangkat kerja," rengut Glacia.
Narendra membuang nafas panjang. Ia duduk di pinggir ranjang Glacia, mengamati wanita yang tengah terbaring memandangnya dengan wajah pucat.
"Aku hanya bertemu seseorang sebentar, dan aku tidak berniat ke kantor hari ini. Papa sudah mengurus semua."
Glacia mengerjap mengerti. "Lalu, kenapa pakaianmu begitu formal? Aku rasa kamu jarang sekali memakai baju casual?"
Ia mengamati Narendra yang rapi dari ujung rambut hingga kaki. Benar-benar penampilan eksekutif muda ibu kota. Dia terlalu necis untuk sekedar bersantai menunggui orang sakit.
Mengerti dengan apa yang Glacia pikirkan, Narendra pun membuang nafasnya lagi. Ia membuka jas, lalu dasi dan rompi kemeja yang membalutnya.
"Haruskah aku juga melepas kemeja ini?" Narendra mengangkat alis menatap Glacia. Jarinya menunjuk pada kemeja biru muda yang dikenakannya. "Aku kehabisan baju ganti, dan tinggal ini yang tersisa. Hanya memberi tahu saja," lanjutnya sembari mengendik.
Glacia mendesis. "Ya sudah pakai itu saja."
Narendra terkekeh. "Kupikir kau akan membiarkanku telanjang dada. Aku sendiri tidak masalah."
"Ya!" Glacia memukul Narendra yang berdiri di dekatnya. Lelaki itu hanya tersenyum kecil menanggapi kekesalan Glacia.
Tiba-tiba Narendra duduk lagi di pinggir ranjang. Wajahnya menatap Glacia lekat, lalu meraih satu tangan wanita itu untuk ia genggam.
"Glacy, berjanjilah untuk tetap semangat. Kamu pasti sembuh, dan memang harus sembuh. Aku akan terus menemanimu sampai kapan pun. Jadi, jangan pernah berpikir macam-macam. Optimislah, teruslah berpikir positif. Kamu memilikiku jika ingin berkeluh-kesah. Kamu tidak sendiri. Aku adalah suami sekaligus temanmu," ujar Narendra lembut.
Mata keduanya saling beradu. Narendra dengan sorot hangatnya, lalu Glacia dengan ekspresi bingungnya yang tergemap. Wanita itu tak tahu harus mengatakan apa. Ia lebih pada heran, kenapa Narendra begitu ingin bertahan dalam pernikahan mereka. Padahal, selama ini Glacia sudah banyak menyakitinya.
"Apa cinta memang serumit ini?" Glacia mendenguskan senyum, berusaha memecah suasana yang mendadak haru. "Hey, tentu saja aku tidak akan menyerah dengan hidupku. Kau benar-benar mencintaiku, ya? Sampai kau berkali-kali menyuruhku jangan mati. Haha ..." Wanita itu terkekeh.
Namun Narendra sama sekali tak tertawa. Ia malah tersenyum kecut dengan pandangan sedikit nanar. "Aku serius."
"Apa? Mencintaiku?" tanya Glacia geli.
Narendra membuang nafas, lalu tersenyum. "Ya, aku mencintaimu. Jangan tanya alasannya, karena aku sendiri tidak memiliki alasan kenapa bisa menyukaimu."
Glacia bergeming. Pernyataan Narendra membuatnya tak berkutik. Pun ketika Narendra menundukkan wajah mencium bibirnya, Glacia tetap diam.
Naren, kamu terlalu baik sampai aku takut untuk mencintaimu.
Mata Glacia terpejam menikmati pergerakan bibir Narendra. Lelaki itu menciumnya lembut penuh perasaan, sangat berbeda dari apa yang pernah Glacia rasakan bersama Gallen.
__ADS_1
Bagaimana Glacia menjelaskannya? Narendra, ia selalu membuat Glacia merasa tenang setiap kali berada di sampingnya. Tapi Glacia juga merasa takut. Seandainya Tuhan berkata lain dan mereka harus berpisah, Glacia takut ia akan pergi dengan tidak ikhlas.