Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
35. Perjamuan atau Pertemuan?


__ADS_3

Dulu, pesta bukanlah masalah besar bagi Glacia. Namun sekarang nampaknya berbeda, Glacia benar-benar membenci pesta, karena di sana ia akan bertemu begitu banyak orang. Tentu akan ada lebih banyak pasang mata yang memandangnya kasihan, atau justru cemoohan.


Minggu lalu Narendra dan Yohanes memang sudah memberitahunya soal perayaan perusahaan. Dan Yohanes mewanti Glacia untuk tetap ikut, meski Narendra sendiri tak begitu memaksa.


Bukan tanpa alasan Yohanes berpesan demikian, di event-event sebelumnya Narendra juga kerap datang sendiri tanpa seorang istri. Padahal publik jelas tahu pria itu sudah menikah. Mungkin kali ini Yohanes ingin Narendra terlihat sempurna di depan media, sekaligus menepis figur menyedihkan usai beredarnya berita perselingkuhan yang dilakukan Glacia.


"Kau baik-baik saja?" Narendra menoleh pada Glacia yang duduk di sampingnya. Mereka masih berada di dalam mobil setelah sedetik lalu tiba di depan gedung.


Glacia berusaha mengangguk walau diam-diam ia menelan ludah. Kedua tangannya berkeringat dingin. Sungguh, setelah kondisi kakinya tak lagi sempurna, Glacia benar-benar kehilangan separuh kepercayaan diri. Ia kerap kali merasa tertekan berada di antara lautan orang.


"Kalau kau merasa keberatan, Julian bisa mengantarmu pulang," lanjut Narendra.


Seketika Glacia menggeleng. "Aku baik-baik saja. Hanya ... sedikit kurang nyaman," ucapnya pelan. Konyol jika Glacia memilih pulang. Ia sudah berdandan sedemikian rupa, lalu kalah oleh keberanian yang menciut.


Narendra menatap Glacia lekat. Sang istri tampak berusaha tenang sejak tadi. Narendra menyadari itu semua karena ia memperhatikan.


"Kalau begitu kita keluar. Tenang saja, kau hanya perlu terus berada di sampingku."


Glacia pasrah saja ketika pintu di sampingnya terbuka. Narendra turun terlebih dulu, sementara Julian mengambil kursi roda di bagasi.


Narendra menggendong Glacia dan mendudukkan wanita itu di kursi rodanya. Saat itulah kilat cahaya menyapa mereka secara serentak. Puluhan kamera menghadang begitu Glacia menatap ke depan.


Riuh ramai suasana membuat Glacia terhenyak sesaat. Ia terkejut, tak dapat dipungkiri kini tangannya bergetar hebat. Namun itu hanya sesaat, sebelum ia merasa Narendra membungkuk menggenggam tangannya dari belakang.

__ADS_1


Lelaki itu berbisik di samping telinga Glacia. "Rileks. Jadilah Glacia yang dulu, Glacia yang suka pesta dan mengangkat dagunya ketika berjalan."


Narendra mendongak menatap para awak media di depan. Ia tersenyum dengan masih merengkuh Glacia yang kini terpekur dengan perkataannya.


Tak berapa lama Glacia ikut mengangkat kepalanya menatap kamera, dan detik itu pula sudut bibirnya terangkat menyungging senyum.


Momen itu diabadikan oleh para pemburu berita di sana. Keduanya nampak serasi sebagai pasangan, setelah sebelumnya diterpa isu perselingkuhan.


Tanpa Glacia sadari, ada saat di mana Narendra menoleh padanya, memandangnya lekat dengan sorot hangatnya yang tulus.


Andai Glacia tahu, Narendra sudah menunggu hal ini terjadi sejak lama.


Narendra membawa Glacia memasuki gedung tempat digelarnya acara. Suasana ballroom sudah ramai oleh para tamu undangan. Narendra bisa melihat Yohanes di tengah ruangan sedang berbincang dengan beberapa kolega.


"Ya Tuhan, Glacy. Papa senang sekali kamu datang, Nak," ujar Yohanes memberi pelukan.


Glacia membalas pelukan ayahnya. Narendra tersenyum kecil berdiri di belakangnya. Beberapa kolega di sana pun turut menyapa Glacia dan Narendra yang baru saja tiba. Namun hal yang Glacia takutkan pun terjadi, sebagian besar dari mereka memandangnya iba, bahkan terang-terangan membuat Glacia merasa rendah.


Samar Glacia rasakan remasan pelan di bahunya. Ia tahu Narendra diam-diam berusaha membuatnya tenang. Namun apa daya, sekeras apa pun Glacia berusaha, ia tetap tak bisa mengontrol rasa rendah dirinya di antara orang-orang.


"Ini putri anda yang tempo lalu kecelakaan, kan?" Salah satu dari kolega di sana bertanya pada Yohanes.


Yohanes tampak tersenyum kaku. Ia lalu membenarkan dengan wajah bijaksananya. "Benar, sekarang dia sedang rutin menjalani terapi."

__ADS_1


"Saya dengar saraf tulang belakangnya yang rusak? Kalian harus berhati-hati, itu sangat berbahaya karena katanya kerusakan itu bisa menyebar hingga menyebabkan kelumpuhan permanen."


Suasana mendadak tak nyaman karena pembicaraan tersebut. Dalam hati Yohanes berusaha tetap tenang dan menahan diri untuk tidak memaki. Sementara Glacia sendiri sudah menunduk melihat tautan tangannya yang saling meremas.


Jantung Glacia berdetak lebih cepat hingga sesaat sesak itu datang menghantam dada. Glacia berusaha rileks saat rasa pusing perlahan menghampiri. Hanya Narendra yang bertahan dalam sikap kalem dan sulit dipengaruhi.


"Terima kasih atas kekhawatirannya. Kami sedang berusaha melakukan pengobatan yang terbaik bersama dokter-dokter yang terbaik juga." Narendra berucap dengan suara tenang.


Para kolega itu pun tersenyum hambar. Mereka mengangguk dan memilih mundur dari lingkaran tersebut, lalu bergabung dengan circle lainnya.


Tak bisa dipungkiri hati Glacia merasa sedih. Betapa Tuhan bisa membalik keadaan secara cepat. Dulu Glacia terbiasa dengan segala pujian, dan sekarang semua itu hilang berganti tatapan rendah meremehkan.


Yohanes mengusap puncak kepala Glacia hati-hati. "Jangan banyak berpikir. Kamu pasti sembuh setelah program terapinya selesai," ucapnya menenangkan. "Dan saat itu tiba, kamu baru boleh membalas mereka dengan kesombongan."


Tampaknya Yohanes juga merasa kesal. Bisa-bisanya para pengusaha itu malah membicarakan kesehatan orang alih-alih bisnis dan saham.


Glacia tak menjawab. Ia masih setia bungkam sampai kedatangan seseorang kembali merenggut atensi.


"Glacy? Kamu datang juga?" Suara halus nan lembut milik Lizy menyapa telinganya.


Glacia mendongak. Benar saja, wanita itu tengah tersenyum ramah ke arahnya. Namun yang lebih menarik perhatian Glacia justru keberadaan Rafael yang juga melempar senyum padanya.


"Halo, kita bertemu lagi."

__ADS_1


__ADS_2