Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
Extra Part


__ADS_3

"Hiks, ndak mau! Ilen mau sup buatan Papa! Hwaaa ... Mamaa ..." Aileen meraung keras sambil memukul-mukul meja makan kecil miliknya. Anak itu menangis disertai jeritan yang membuat semua orang panik.


Pagi itu, kediaman Martadinata dibuat kelimpungan oleh si kecil yang merindukan papanya. Pasalnya, Narendra sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar kota sejak dua hari kemarin.


Karena tidak mau kesepian di rumah, Glacia sengaja membawa putrinya menginap di rumah sang ayah. Tentu saja Yohanes senang bukan main. Setiap kali Aileen menginap, lelaki baya itu selalu membelikan mainan-mainan baru untuk sang cucu.


Tapi memang suasana hati Aileen kadang tak menentu, seperti dia yang tiba-tiba tantrum, atau mengamuk seperti sekarang karena ingin makan masakan papanya.


"Ilen mau satenya Papa! Hiks, Ilen mau udangnya Papa! Hiks, hiks ..."


Yohanes yang kebingungan hanya bisa terdiam sambil berpikir. Sang cucu begitu lekat dengan Narendra. Anak itu tidak bisa ditinggal sehari saja oleh papanya. Inilah yang selalu menjadi kendala setiap kali Aileen menginap tanpa Narendra. Pasti ada saja alasan Aileen untuk menangis.


"Aileen, papanya Aileen sebentar lagi pulang. Sekarang Aileen makan dulu, supaya nanti tidak sakit saat bertemu Papa. Ya?" bujuk Yohanes. Ia berlutut mengusap kepala Aileen, berharap anak itu bisa berhenti menangis.


Namun Aileen tetap menggeleng dan meraung semakin keras. Para pelayan di sana sampai ikut meringis karena jeritan Aileen membuat telinga berdenging.


"Ilen mau Papaaa!!! Ilen mau Papaaa!!!"


"Papaaa!!! Hiks."


Glacia yang baru selesai mandi berjalan terburu-buru karena mendengar jeritan anaknya. Ia memasuki ruang makan yang kini sudah berantakan. Sepertinya Aileen melempar makanannya lagi.


Glacia mendekati Aileen yang masih duduk di kursi makan khusus berukuran kecil. Ia sempat melirik Yohanes untuk bertanya kenapa Aileen bisa menangis sekeras itu. Sang papa hanya membuang nafas dengan wajah menyerah.


"Aileen mau makan masakan papanya." Pria itu berdiri, membiarkan Glacia berlutut untuk membujuk Aileen.


Glacia mengangkat tubuh Aileen, menggendong sang putri yang sedang mengamuk, sambil menepuk-nepuk dan mengelus kepala serta punggungnya yang mungil.


Lambat-laun tangisan Aileen berubah menjadi senggukkan kecil. Anak itu tersedu membenamkan wajahnya di pundak sang ibu. Sesekali Aileen menggumamkan kata 'papa'.


"Ilen mau sate lilit Papa, hiks," ujarnya parau. Mungkin yang Aileen maksud sate lilit ayam buatan Narendra.


"Shuuut ... Aileen, Papa nanti siang pulang. Aileen bisa makan masakan Papa nanti. Oh ya, tadi Papa bilang, Aileen tidak boleh nakal kalau mau Papa masakin. Aileen harus berhenti menangis supaya bisa makan masakan Papa. Oke?"


Aileen masih sesenggukan. Ia membersit hidungnya hingga berbunyi. Glacia mengusap wajah putrinya yang sembab dan memerah. Matanya bengkak, pun bibirnya mengerucut. Sesekali Aileen mencebik saat menggasak mata. Ia pasti mengantuk karena lelah menangis.


"Hiks, Papa ..."


"Iya, nanti Papa pulang. Sekarang Aileen makan, yuk? Mama suapin?"


Aileen menggeleng. "Ndak mauuu ..." rengeknya.


Glacia membuang nafas. Ia lalu menoleh pada Yohanes. Yohanes sepertinya mengerti apa yang hendak Glacia katakan. Ia pun segera merogoh ponsel miliknya dalam saku celana, lalu menghubungi Narendra lewat video call.


Sudah tiga kali panggilan tak kunjung Narendra hiraukan. Bahkan seterusnya juga tak ada jawaban. Yohanes menggeleng pada Glacia. Mau tak mau Glacia merasa heran, karena yang ia tahu waktu Narendra masih luang. Ini masih jam setengah tujuh pagi. Biasanya Narendra selalu menghubungi mereka duluan setiap kali akan sarapan. Tapi sekarang, sejak Glacia bangun tidur pun Narendra tak ada kabar.


Ke mana lelaki itu? Apa dia tidak ingat dengan Aileen?


Mendadak keresahan menghinggapi hati Glacia. Ia kembali mencoba membujuk Aileen supaya mau makan, tapi anak itu malah sudah terlelap.


Akhirnya Glacia pun ke kamar, menidurkan Aileen terlebih dulu. Ia akan coba lagi menyuapi Aileen setelah anak itu bangun nanti.


"Papa coba hubungi Julian, ya?" Yohanes sepertinya mengerti kegelisahan putrinya.


Glacia hanya mengangguk sebelum kemudian berlalu membawa Aileen ke kamar. Raut Glacia tak bisa menipu, wanita itu sekarang sedang merasa kesal. Suasana hatinya tak karuan karena tangisan Aileen, ditambah Narendra yang mendadak susah dihubungi.


***


Di dalam kamar, Glacia termenung menatapi layar ponselnya. Ia tengah duduk di pinggir ranjang. Di belakangnya, Aileen tidur. Sesekali nafas gadis kecil itu terhenyak, dampak dari sisa menangis tadi.


Glacia membuang nafas. Ini sudah lewat pukul tujuh, tapi Narendra masih saja belum menghubunginya. Tidak mungkin lelaki itu masih tidur, kan?


Sekali lagi Glacia mencoba menghubungi nomor Narendra, namun lagi-lagi tidak ada hasil. Kali ini malah tidak aktif. Jelas sekali Narendra sengaja mematikan ponselnya.

__ADS_1


Mendengus, Glacia menyimpan benda pipih itu dengan sedikit dilempar ke atas nakas. Hal tersebut rupanya membuat tidur Aileen terganggu. Gadis kecil itu merengek sembari membuka matanya perlahan.


"Mama ..." lirihnya serak.


Glacia kontan berbalik merespon panggilan Aileen. Ia mengusap rambut lebat putrinya dengan sayang. "Kenapa? Kamu terkejut, ya? Maaf," ujarnya lembut.


"Papa mana?" Aileen bertanya. Sementara Glacia langsung terdiam, karena ia pun tidak tahu harus menjawab apa.


Akhirnya Glacia harus berbohong untuk memenangkan putrinya. "Papa ada. Tadi telepon, tapi Aileen tidur. Jadi Papa hanya bicara sama Mama."


"Karena sekarang kamu sudah bangun, gimana kalau kita makan? Mama buatkan sate lilit ayam kesukaan kamu," lanjut Glacia. "Mungkin rasanya berbeda dari buatan Papa, tapi Mama jamin tidak kalah enak. Yuk?"


Glacia terkekeh saat Aileen menggasak matanya yang bengkak. Ia menarik kedua tangan gadis itu supaya bangun. Aileen duduk, wajahnya merengut sambil mengulurkan lengan minta digendong.


Tentu tingkahnya membuat Glacia tak kuasa menahan gemas. Dengan senang hati Glacia mengangkat tubuh Aileen dari kasur.


"Sebelum makan, kita ganti dulu baju kamu, ya. Lihat, ini kotor kena tumpahan sup." Glacia membawa putrinya ke ruang wardrobe miliknya. Selain mainan, Yohanes juga sering membelikan Aileen pakaian, dan semua itu tertata apik di lemari khusus kamar Glacia.


Aileen memeluk leher Glacia sembari menyurukan wajahnya di ceruk leher sang mama. Anak itu tampak lesu karena belum mendapat telepon dari papanya.


Dengan telaten Glacia mengganti baju Aileen. Ia juga sedikit mendandani anak itu, mengepang rambutnya serapi mungkin. Glacia tersenyum puas melihat putrinya yang terlihat cantik di cermin. Ia menyeka wajah bulatnya menggunakan tisu basah tanpa alkohol, lalu memberinya pelembab supaya kulit Aileen tetap terawat.


"Anak Mama cantik sekaliii ..." ujar Glacia, mencium pipi Aileen gemas. "Karena princess ini sudah cantik, sekarang ayo kita makan. Let's go!" lanjutnya berseru, membawa tubuh gempal Aileen untuk berlari bersamanya.


Aileen tertawa-tawa di gendongan Glacia. Melihat itu, Glacia pun turut tersenyum karena sang anak bisa sejenak melupakan papanya.


Awas saja, setelah ini ia akan memberi pelajaran pada Narendra.


***


Malam harinya, Glacia membacakan buku dongeng untuk Aileen. Anak itu mendengarkan sambil berbaring di samping Glacia. Terkadang tangan mungilnya menyentuh dada sang ibu, mungkin ia masih ingat sumber makanan yang entah kenapa berhenti diberikan padanya.


Glacia tersenyum geli setiap kali Aileen memandang buah dadanya dengan tatapan rindu.


"Kenapa? Mau mimi?" tanya Glacia.


Glacia tertawa. Dasar anak polos. Aileen tidak tahu saja, darah yang membuatnya berhenti menyusu adalah lipstik yang sengaja Glacia oleskan.


"Ya sudah, Mama bacakan lagi bukunya." Glacia mengusap-usap rambut Aileen sambil kembali bercerita.


Hampir sepuluh menit berlalu mata Aileen berangsur sayu, hingga tak lama anak itu terlelap dengan mulut sedikit terbuka.


Glacia menyudahi ceritanya. Ia menutup buku, lalu menatap Aileen dengan teduh. Wajahnya turun mengecup kening si gadis kecil. Ia mengusap kepala putrinya, sebelum kemudian bangkit meninggalkan ranjang.


Glacia membuang nafas sambil berjalan ke arah pintu. Ia keluar dari kamar karena merasa haus, dan berniat turun ke dapur untuk mengambil minum.


Glacia memasuki lift, tepat saat lift terbuka di lantai satu, tubuhnya mematung mendapati seseorang berdiri di hadapannya.


Keduanya sama-sama terdiam saling menatap. Setelah sadar, Glacia pun berkedip membuang muka, lalu berjalan melewati tubuh si pria yang terpaku.


Narendra berbalik menyusul langkah Glacia dengan cepat. "Glacy!" panggilnya.


Glacia terus berjalan mengabaikan Narendra. Narendra pun meraih bahu Glacia dan menariknya hingga berbalik. "Glacy?"


Glacia menatap Narendra datar. Ia tak bicara apa pun. Sudah jelas wanita itu tengah marah padanya.


"Glacy—"


"Ke mana saja kamu?" todong Glacia. Narendra seketika diam. "Tidakkah kamu tahu serepot apa aku di rumah tadi?"


Mata Glacia menyorot tajam.


"Kamu mengabaikan semua panggilanku, bahkan mematikan ponsel. Bertanya pada Julian pun sama tidak jelasnya. Sebenarnya ada apa denganmu? Apa yang sudah terjadi sampai kamu mendadak hilang kabar hari ini?"

__ADS_1


"Kamu tidak tahu Aileen menangis terus karena merindukanmu. Dia hampir kesulitan makan jika aku tidak membujuknya. Dia ingin bertemu papanya, tapi kamu malah tidak bisa dihubungi."


"Kalau tidak sedang di rumah Papa, mungkin aku sudah nekat menyusulmu ke luar kota. Sayangnya Papa tidak akan mengizinkan jika aku melakukannya, apalagi membawa Aileen hanya untuk mengetahui kebenaran tentang kabarmu. Hiks ..."


Glacia sudah menahan resah di hatinya sejak pagi. Kini saat ia mengatakan segala kegundahan itu, ia tak bisa menahan matanya untuk tidak berair. Pada akhirnya Glacia pun menangis. Lelah hati dan fisik ia alami hari ini. Menghadapi Aileen yang rewel, ia bahkan tidak sempat makan siang karena Aileen tidak mau bersama siapa pun selain dirinya.


"Aku khawatir. Aku cemas karena kamu tidak memberi kabar," lanjut Glacia sambil terisak.


Narendra menatapnya nanar. Ia membawa Glacia ke pelukannya, mendekap wanita itu erat sembari menciumi rambutnya dalam-dalam.


"Maaf," gumam Narendra. "Maaf karena membuatmu begini. Aku tidak bermaksud mengabaikan semua panggilanmu. Aku benar-benar minta maaf, Sayang."


Glacia terisak di dada Narendra. Ia meremas kemeja bagian punggung lelaki itu hingga kusut. "Kenapa ... Hiks, kenapa kamu tidak mengangkat teleponku?"


Narendra membuang nafas perlahan. "Aku kecopetan. Ponsel dan dompet semuanya raib. Beruntung Julian bisa memblokir semua kartu dan akun milikku di handphone itu. Hari ini benar-benar sial. Daerah yang kami kunjungi memiliki jaringan sinyal yang buruk. Saat kamu dan papa menghubungi Julian, aku juga ada di sampingnya. Tapi karena sinyalnya tidak bagus jadi sulit menghubungi balik. Maaf."


Glacia melepaskan pelukan. Ia mendongak menatap Narendra seksama. "Kamu kecopetan?" tanyanya khawatir.


Narendra tersenyum kecil, mengusap bawah serta sudut mata Glacia yang berair. "Jangan khawatir, aku baik-baik saja."


Glacia tidak percaya. Ia menyentuh lengan Narendra dan mengamati seluruh bagian tubuhnya dengan teliti. Glacia bahkan hampir melepas seluruh pakaian suaminya, jika saja Narendra tak segera menahan.


Narendra mengerling menatap Glacia geli. "Kamu begitu tidak sabaran sampai ingin menyerangku di sini?"


Sontak Glacia memukul bisep Narendra kesal. "Aku hanya berniat memastikan kamu tidak terluka!"


Narendra tersenyum. "Sudah kubilang, aku baik-baik saja. Berhentilah khawatir, Sunshine." Ia menyelipkan anak rambut Glacia ke belakang telinga, sebelum kemudian mengecup keningnya lama.


Namun Glacia tidak serta-merta bisa dibohongi. Ia menarik Narendra ke kamar tamu, lalu melucuti kemeja pria itu dengan tergesa.


Narendra tidak bisa menghentikan Glacia setelah melihat raut wanita itu. Tangan sang istri bahkan gemetar saat menyibak bajunya yang sudah terbuka.


Glacia terhenyak mendapati perban yang melintang dari bahu hingga ke bagian dada Narendra.


"Ini yang kamu bilang baik-baik saja?" Glacia mendongak. "Lalu ini apa?!" serunya dengan nafas terengah.


"Glacy—" Narendra menyentuh bahu Glacia. Mendadak ia tergagap sulit menjelaskan, karena takut semakin memperkeruh keadaan.


"Ini hanya luka ringan. Sudah dijahit, kok. Dokter bilang juga tidak sampai mengenai organ dalam. Hanya bagian kulit luar."


Air mata Glacia kembali turun. "Tetap saja ini namanya luka. Kenapa bisa sampai begini? Kamu mendadak lupa caranya bela diri?"


Berbeda dengan Glacia yang terisak, Narendra masih bertahan dalam sikap tenangnya. "Orang itu bawa senjata. Aku hanya sedikit lengah, tapi masih beruntung pisaunya tidak mengenai kepala." Ia kembali mengusap rambut Glacia yang tergerai. "Sudah, ya? Aku baik-baik saja. Kalau kamu tidak percaya, aku bisa tunjukkan hasil scan tadi. Omong-omong besok jadwalmu kontrol ke dokter. Aku akan mengantarmu."


Glacia membersit hidungnya yang basah. Narendra menyentuhkan jarinya di sana, mengelus pelan sebelum kemudian mengecupnya sekilas.


Narendra memeluk Glacia dengan lembut. Ia biarkan istrinya menangis, mengeluarkan segala keluh kesahnya hari ini. Narendra mengerti perasaan Glacia. Sebagai seorang wanita yang selalu mengedepankan hati, menangis kadang dibutuhkan untuk sekedar meredakan emosi.


Glacia tidak butuh ia hibur, wanita itu hanya butuh penjelasan dan didengarkan oleh Narendra, juga butuh keberadaan Narendra di sampingnya.


Beberapa menit kemudian tangisan Glacia mulai mereda. Ia menjauhkan wajahnya dari dekapan lelaki itu sambil merunduk menatap lantai.


Narendra meraih pipi Glacia hingga kini mereka bersitatap. Tanpa kata Narendra mengikis jarak hingga hidung mereka bersentuhan. Narendra tersenyum, lalu melabuhkan bibirnya di atas bibir Glacia.


Mereka berciuman pelan. Narendra memagut, menggigit, dan menghisap kedua bilahnya bergantian, hingga Glacia melenguh tanpa sadar.


"Maaf," gumam Narendra, lalu meraup kembali Glacia dengan lebih intens dan dalam, juga penuh kerinduan.


Mereka tidak tahu, di dalam kamar, Aileen terbangun dan merengek mencari sang mama yang mendadak hilang di sampingnya. Tapi Yohanes buru-buru masuk menenangkan gadis kecil itu, menepuk-nepuk punggungnya sampai Aileen kembali tertidur.


"Shuutt ... Malam ini Aileen tidur sama Opa, ya?"


Aileen hanya bergumam sambil bergelung dalam dekapan sang kakek.

__ADS_1


Sementara di lantai bawah, Glacia sudah terengah di atas ranjang bersama Narendra. Mereka saling melucuti pakaian masing-masing, mencumbu, dan mengerang melepas rindu. Keduanya hanyut dalam kenikmatan. Hawa panas berangsur mengalahkan suhu ruangan yang ber-AC.


Meski tengah terluka, sepertinya hal itu tak menghalangi Narendra untuk tetap aktif dan mendominasi. Tapi Glacia suka. Kali ini Narendra tidak gagal memuaskannya.


__ADS_2