Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
36. Menyatukan Dua Romansa


__ADS_3

Semua orang menatap Rafael, termasuk Lizy yang kemudian bertanya. "Kau mengenal Glacia?"


Pria itu mengangguk tersenyum. "Beberapa waktu lalu Glacia dirawat di rumah sakit keluargaku."


"Ohh ..." Lizy bergumam paham. "Tidak kusangka kalian bertemu juga. Dia teman yang kujenguk waktu itu."


Kali ini giliran Rafael yang mengangguk mengerti. Sementara itu, Narendra menatap Rafael dengan rumit, pegangannya di kursi roda Glacia sedikit mengerat, terlebih saat Rafael lagi-lagi melihat Glacia yang sedari tadi terdiam.


Wanita itu sama sekali tak membalas sapaannya, senyum pun tidak. Raut malas yang bisa Rafael simpulkan bahwa dia tipe orang yang enggan peduli dengan sekitar.


"Apa kabar?" Rafael kembali berusaha menarik atensi Glacia.


Glacia pun hanya menjawab singkat. "Baik."


Rafael mengangguk. "Syukurlah. Semoga ke depannya kamu sehat selalu."


"Terima kasih."

__ADS_1


Yohanes sebagai tuan rumah turut menyapa Rafael dan Lizy seramah mungkin. "Kalian nikmatilah acaranya. Kami menyediakan banyak anggur berkualitas dan kudapan lain yang tak kalah lezat."


Rafael dan Lizy mengangguk ramah. "Terima kasih."


"Kalau begitu, saya ingin menyapa tamu yang lain. Glacy, kamu baik-baik dengan Narendra, ya? Naren, Papa titip Glacy." Yohanes sedikit menatap Narendra penuh arti. Ia juga sempat melirik Lizy yang saat itu tengah mencuri pandang pada Narendra.


Seperginya Yohanes dari sana, suasana di antara mereka kini bungkam. Glacia lalu menoleh pada Lizy dan tersenyum. "Apa kabar?"


Lizy yang ditanya pun turut tersenyum tak kalah ramah. "Aku baik. Kamu sudah lebih sehat?"


Glacia mengangguk. Di tengah kecanggungan seseorang tiba-tiba mendekat. Mungkin dia kenalan Rafael, karena selanjutnya lelaki itu pergi membawa si dokter entah ke mana.


Narendra menunduk balas menatapnya. "Kau ingin berdansa?" tanyanya balik.


Glacia menggeleng, bibirnya tersenyum kecut berpikir bahwa Narendra lupa kondisi kakinya tak memungkinkan.


"Kau ajaklah Lizy. Kamu tahu sendiri aku tidak mungkin melakukannya," ucap Glacia.

__ADS_1


"Kalau begitu tidak perlu."


Mendapati respon Narendra, Lizy tersenyum tipis. Lelaki itu jelas enggan dan menghindarinya.


Glacia menyentuh lengan Narendra, dan itu membuat Narendra terenyuh tanpa ia sadari.


"Berdansalah. Setidaknya kau harus menjamu tamu dengan ramah. Benar, kan?"


Narendra memandang Glacia lekat. Sorotnya nampak rumit memperhatikan sang istri yang begitu gigih mendekatkannya dengan Lizy.


Mendapati Glacia memohon padanya, Narendra tak bisa berbuat apa-apa. Ia pun mengulurkan tangan pada Eliza dan mengajaknya berjalan ke tengah ruangan, bergabung dengan pasangan lain yang sudah lebih dulu menari.


Sebelum itu Narendra berpesan pada Glacia. "Tunggulah di sini. Aku tidak akan lama."


Glacia memandang keduanya lekat. Ia tersenyum sumir dengan hati yang perlahan menggelincir. Sepertinya memang benar, Glacia mulai luluh pada pesona Narendra.


Tapi, semua itu tidak boleh terjadi. Narendra tidak boleh bersamanya, karena sejak awal hubungan mereka tidak didasari oleh cinta. Narendra berhak bahagia, terlepas dari pengabdiannya pada Yohanes, lelaki itu harus terbang bebas mengejar angannya sendiri.

__ADS_1


Glacia mengalihkan pandangan dari Narendra dan Lizy yang kini berdansa bersama. Ia mengarahkan kursi rodanya untuk menepi dari kerumunan orang. Glacia benar-benar butuh ketenangan. Keramaian tak lagi membuatnya senang seperti dulu.


Melewati beberapa orang di koridor, Glacia pun berhasil menemukan tempat yang tidak ada siapa pun di sana. Akhirnya ia bisa sedikit merasa tenang.


__ADS_2