
Keesokan harinya, Lizy mendapat surat dari kota. Ia meremas surat tersebut usai membaca isinya. Mendadak rasa sarapan di hadapannya terasa hambar.
Lizy melempar garpu yang ia pegang hingga berdenting menghantam meja dan lantai. Ia mendengus geram sebelum mengambil pematik lalu membakar gumpalan surat itu hingga melebur tak bersisa.
"Glacia, kenapa keberuntungan selalu mengikutimu?" desisnya tajam, menatap kobaran api yang masih menyala di meja.
"Aarrghh! Brak!" Lizy berdiri setelah memukul meja. Ia berkacak pinggang dengan raut kesal luar biasa.
Wina belum kemari, terlalu beresiko jika gadis itu sering-sering keluar dan menemuinya yang berada di luar kota. Lizy berharap pelayan rendahan itu tahu apa yang harus dilakukan. Karena jika tidak, Lizy akan membuatnya menyesal seumur hidup.
"Lihat saja, kalian sudah membuat hidupku kacau. Jadi, aku tidak akan membiarkan kalian bahagia begitu saja," gumam Lizy.
Glacia dan Narendra tidak boleh bersama. Jika Lizy tak bisa memiliki lelaki itu, maka Glacia pun tidak boleh memilikinya. Tapi, Lizy akan tetap berusaha mendapatkan Narendra kembali setelah Glacia mati.
"Hahaha ... Hahaha ...."
Suara tawa Eliza Pataya bergema di rumah kecil itu. Sosoknya yang dikagumi semua orang karena kelembutan dan keanggunannya kini hilang berganti iblis wanita yang haus kasih sayang sang mantan. Ia ingin Narendra. Lizy benar-benar bertekad untuk mengambil kembali apa yang dia punya. Karena Narendra Hutabarat hanya milik Lizy seorang, mau itu dulu atau sekarang.
***
Rafael berjalan memasuki rumah sakit. Ia mengangguk ketika bertemu beberapa orang yang dikenalnya sebagai sesama tenaga medis. Rafael kemari bukan untuk bekerja, melainkan menjenguk seseorang yang selama beberapa hari ini tak berhenti ia pikirkan.
Rafael baru pulang dari Beijing hari ini, ketika ia mendengar perihal insiden penculikan yang melibatkan Glacia sebagai korban. Tentu Rafael terkejut, terlebih nama Eliza, tunangannya turut disebut-sebut sebagai salah satu dalangnya.
Memang, media baru mengumumkan nama inisialnya saja. Tapi Rafael sudah bisa menebak karena ia dengar Lizy juga mendadak hilang dari peredaran. Polisi menjadikannya sebagai buronan, dan wanita itu entah berada di mana sekarang.
Dari kejauhan, Rafael melihat Yohanes Martadinata yang sedang bicara pada para pengawalnya. Mereka berjumlah empat orang, dan sepertinya baru ditugaskan oleh Yohanes sekarang.
Sesaat ia berhenti sebelum melanjutkan langkah menghampiri lelaki tersebut. "Tuan Yohanes, apa kabar?" sapa Rafael sopan.
Yohanes berbalik ketika mendengar suara di belakangnya. Sejenak ekspresinya tampak bingung, hingga dengan santun Rafael mengenalkan dirinya. "Saya Rafael Adiwangsa."
Barulah setelah itu Yohanes mengangguk, disertai gumaman 'oh' panjang. "Ah, kau putra Satria Adiwangsa?"
Rafael mengangguk. "Benar."
"Ada perlu apa kemari?"
Refleks Rafael melirik pada pintu ruang rawat Glacia yang tertutup. Hal itu tentu tak lepas dari perhatian Yohanes.
__ADS_1
"Kau ingin menjenguk putriku?" tanya Yohanes.
Rafael tersenyum kecil. "Jika diperbolehkan."
"Tentu boleh. Silakan."
***
Narendra tidak tahu apa maksud mertuanya membawa lelaki ini kemari. Ia melirik keduanya ketika Yohanes membuka pintu.
"Silakan, di sana ada menantuku. Aku minta maaf tidak bisa menemanimu, karena masih ada sesuatu sangat penting yang harus ku urus," ujar Yohanes mempersilakan Rafael untuk masuk.
Rafael mengangguk paham. Ia pun berujar terima kasih sebelum Yohanes pergi menutup pintu dari luar. Mereka tidak sadar, di sana pria itu membuang nafasnya pelan. Yohanes tahu ada sesuatu di antara para anak muda itu. Antara Glacia, Narendra, Lizy, dan juga Rafael.
Entah bagaimana hidup putrinya jadi serumit ini.
Rafael diam sejenak, melihat Narendra yang juga tengah menatapnya datar. Ia tersenyum sebelum mendekat dan menyapa pria itu ramah. "Apa kabar?"
Narendra tak menjawab. Alih-alih begitu ia malah balik bertanya dengan nada dingin. "Untuk apa kau di sini?"
"Ah." Rafael terkekeh canggung. Ia melirik Glacia yang tertidur di atas ranjang. Melihat dari beberapa alat di tubuhnya, sepertinya wanita itu belum sepenuhnya pulih dari masa kritis. "Tentu saya ingin menjenguk Glacia. Bagaimana keadaannya?"
Rafael menyerah berbasa-basi, ia mengangguk disertai senyum tipis untuk kemudian larut dalam keterdiaman. Ia lalu menyerahkan buket bunga yang sedari tadi dibawanya pada Narendra. Jelas Narendra semakin melirik lelaki itu tajam.
Enggan menimbulkan keributan, Rafael pun segera berkata. "Saya tidak terpikir hadiah lain untuk orang sakit. Maaf jika pemberian saya menyinggungmu."
Narendra mendengus. Lelaki itu masih setia duduk bersidekap di samping ranjang istrinya. Ia mendongak tanpa menghiraukan bunga yang Rafael ulurkan. "Kenapa harus bunga?"
"Karena kebetulan saya lewat toko bunga."
"Kau bisa membeli buah," todong Narendra.
Rafael mengerjap. Ia tersenyum canggung mendapati kecemburuan Narendra yang begitu kentara. Rafael menarik kembali buket bunga itu sembari menghela nafas samar.
Matanya melirik kembali pada Glacia yang tertidur. "Apa dia sudah sadar?" tanya Rafael.
"Untuk apa kau bertanya?"
Rafael benar-benar dibuat meringis oleh sikap Narendra. "Kenapa kamu begitu kekanakan? Saya ke sini hanya ingin menjenguknya." Akhirnya ia pun hilang kesabaran.
__ADS_1
Narendra tak langsung menjawab. Mata tajamnya kemudian melirik Rafael yang berdiri di samping kursinya. "Kau menyukai istriku," cetus lelaki itu datar.
Rafael mematung mendengar itu. Rautnya tak bisa mengelak bahwa tebakan Narendra memang benar. Mendapati keterdiaman Rafael, Narendra akhirnya terkekeh sinis sambil membuang muka, kembali mengamati Glacia yang masih terlelap dalam damai.
"Kalau iya, kenapa?" gumam Rafael pelan. Pandangannya terlihat kosong setengah bingung. Mungkin ia tidak menyangka Narendra akan menyadari perasaan terlarangnya.
"Kau masih bertanya kenapa sementara statusmu adalah tunangan orang?" Narendra mendongak. Ia berdiri hingga kini mereka saling berhadapan. Raut keduanya nampak serius ketika beradu pandang.
Rafael balas menatap Narendra. "Saya dan Lizy—"
"Aku tahu kau tidak mencintainya," potong Narendra. "Kalian terikat karena perjodohan dan hubungan bisnis. Tapi aku tidak peduli. Kau tetap tidak boleh menyukai Glacia karena dia istriku," lanjutnya tegas.
Rafael terdiam. Ia sedikit menelan ludah ketika mengangguk mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Kita sama-sama dewasa, dan tahu betapa sulitnya hidup bersama seseorang yang tak diinginkan." Ia kembali menatap Narendra. "Dan menurutku kau egois karena terlalu memaksakan diri pada Glacia, sementara kita sendiri tahu, Glacia selalu ingin bercerai darimu."
Rafael mulai berani membalas. Hal itu membuat Narendra terkekeh sinis dengan raut tak menyangka. "Rupanya kau sudah sampai sejauh itu mengamati istriku. Tapi meski begitu aku akan menekankan kembali, bahwa kau tidak bisa menyukai Glacia, dan kau tidak sepantasnya menelusuri kehidupan pribadi kami."
Rafael nampak tak gentar, ia menatap Narendra tak kalah datar.
"Alih-alih begitu urus saja tunanganmu yang iblis itu," lanjut Narendra penuh penekanan. "Sebelum aku membunuhnya sendiri."
Keduanya masih saling beradu tatap, pun ketegangan tak lepas menyelimuti mereka. Suasana ruang rawat yang semula terasa hening dan tenang, kini malah sunyi dengan aura mencekam.
Rafael tak bicara lagi, ia balas menatap Narendra dengan raut yang menegang, sebelum akhirnya memutuskan pergi dengan membawa bunganya kembali.
Narendra melirik lelaki itu sampai ia menghilang menutup pintu. Pandangannya lalu jatuh pada Glacia, tak ada yang Narendra katakan selain kembali duduk di kursi, meredakan hatinya yang bergemuruh menunggu Glacia bangun.
Sementara Rafael yang baru keluar, berpapasan dengan Yohanes di lorong. Lelaki itu berjalan dari arah berlawanan dan dengan hangat menyapanya.
"Rafael, kamu sudah mau pulang?" Yohanes menunduk pada buket bunga di tangan Rafael.
Lelaki muda itu balas tersenyum dengan raut sedikit kaku, tak seramah saat awal mereka bertemu. "Iya, Tuan. Sepertinya Glacia masih tidur, saya enggan mengganggunya. Kalau begitu saya pergi."
Yohanes mengangguk mengerti. "Oh, baiklah. Sampai bertemu lagi."
Kini giliran Rafael yang mengangguk. Ia lalu melanjutkan langkah dan menghilang ketika memasuki lift.
Yohanes masih mematung menatap pintu lift yang baru saja menutup itu. Ia lalu membuang nafas seraya berdecak. "Anak itu masih bisa bersikap sopan dengan wajah seperti itu. Sepertinya terjadi sesuatu antara dia dan Narendra tadi," gumam Yohanes.
Sampai di lobi, Rafael melempar bunganya ke tempat sampah. Raut lelaki itu begitu datar hingga orang-orang yang mengenalnya tak berani menyapa.
__ADS_1
Satu lagi, ini pertama kali mereka melihat ekspresi seorang Rafael Adiwangsa yang kaku dan beku. Apa yang terjadi dengannya?