
"Semalam kamu tidur di mana?" tanya Glacia, usai menaruh gelas yang sebelumnya diberikan Narendra. Glacia baru saja selesai sarapan.
Narendra membereskan piring serta gelas kosong itu dengan rapi. Ia menyuruh si pengawal yang masih setia menunggui mereka di sana untuk menyingkirkan nampan tersebut. Narendra lalu menatap Glacia kembali setelah pengawal itu pergi.
"Di kantor. Kemarin habis dari persidang—" Narendra menghentikan ucapannya dan segera meralat. "Kemarin habis dari sini aku ke kantor, terus lembur."
Glacia mengamati Narendra lebih dalam. "Dari kantor, kamu langsung ke sini?"
Narendra mengangguk. "Iya."
"Berarti, itu kamu masih pakai kemeja yang kemarin?" Setahu Glacia, saat di rumah sakit, Narendra mengenakan pakaian santai berupa sweater. Entah mungkin lelaki itu menggantinya saat memutuskan pergi bekerja.
Narendra menunduk menatap pakaiannya sendiri, ia lantas meringis sembari mengangguk membenarkan. Narendra memang belum mandi, dan pengakuannya yang sempat minum kopi juga benar adanya. Ia minum kopi di pantry kantor, dan roti untuk mengganjal perutnya.
Glacia tanpa sengaja melihat tangan Narendra saat menunduk. Ia menyentuh punggung tangan lelaki itu pelan, membuat Narendra juga mendongak ke arahnya.
"Tadi kamu sempat bilang tersiram air panas?" tanya Glacia.
Narendra mengangguk. "Iya, tadi saat buat kopi. Tapi tidak apa-apa, tidak melepuh juga. Hanya terasa panas saja," ujarnya, turut menyentuh tangan Glacia yang berada di punggung tangannya.
"Tapi ini merah. Lebih baik kamu beli salep, atau minta resep obat pada dokter," saran Glacia.
Namun Narendra menggeleng. Ia justru menatap lekat sang istri yang pagi ini sudah kembali seperti biasa. Ia senang Glacia perhatian padanya. Ia menikmati saat Glacia khawatir melihat tangannya.
Glacia menunduk menatap tangannya yang berada di antara tangan Narendra, lalu mendongak mengamati lelaki itu. "Kemarin ... kamu sempat bilang soal pembalasan," ucapnya penuh hati-hati. Ia meneliti reaksi Narendra seraya melanjutkan. "Pembalasan apa yang kamu lakukan pada Lizy?"
Hening. Narendra nampak terdiam bungkam, namun matanya tak lepas dari Glacia. Wajah lelaki itu tenang, tanpa riak, tapi juga sulit untuk ditebak.
Glacia masih menunggu jawaban Narendra, namun belum juga mendapatkannya, kedatangan Julian yang berjalan tergesa berhasil mengalihkan atensi dirinya maupun Narendra.
"Tuan, kenapa ponsel anda mati?" Wajah Julian yang terlihat masam membuat Narendra menegakkan punggung yang semula bersandar pada pinggiran meja. Ia menjauhkan tangannya dari Glacia, hal tersebut tanpa sadar membuat Glacia merasa kosong dan kehilangan.
"Ada apa?" Narendra mengeluarkan ponsel yang sebelumnya ia matikan atas permintaan Glacia. Begitu aktif, ia mendapati puluhan panggilan tak terjawab dari Julian, dan ... Gibran?
Ia mendongak menatap sang asisten yang kini tampak berdiri gelisah. Sesaat Narendra menoleh pada Glacia yang juga merasa penasaran. Ia lalu beranjak mendekati Julian sambil mendorongnya pelan supaya menjauh.
Narendra berbisik. "Jangan bicara di sini. Tunggulah di depan."
Julian berdecak, namun ia tak punya pilihan selain menurut. Julian mengangguk singkat sebagai tanda segan pada Glacia sebelum pergi. Sementara itu, Narendra berbalik menghadap Glacia yang masih terdiam dengan raut ingin tahu.
"Julian kenapa?" tanya wanita itu.
Narendra melipat bibirnya tersenyum. Ia mendekati Glacia, lalu duduk di pinggiran meja sambil menghadapnya. "Aku ada urusan sebentar, kamu tidak apa-apa kalau aku tinggal, kan?"
Tangannya mengusap sisi wajah Glacia yang dingin. Ia mengeluarkan ponsel menghubungi salah satu bodyguard yang bertugas di depan ruang rawat Glacia untuk kemari.
Glacia memperhatikan lelaki itu. Sebenarnya ia penasaran ada masalah apa sampai Julian menyusul Narendra dengan wajah seperti tadi.
Narendra selesai dengan panggilannya, pun fokusnya kembali pada Glacia yang masih menatapnya.
"Aku tidak akan lama, kamu tunggu di sini sebentar. Aku sudah memanggil bodyguard untuk menemanimu di sini. Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Narendra sekali lagi. Ia mengambil obat Glacia yang sudah disiapkan perawat bersamaan jatah sarapan tadi.
"Minum dulu." Narendra menyerahkan obat tersebut pada Glacia. Glacia menerima bersamaan air mineral yang sempat Narendra beli di sela Glacia makan beberapa saat lalu.
Usai minum obat, Glacia kembali bertanya. "Julian terlihat gelisah. Ada apa? Apa ada sesuatu yang buruk terjadi?"
Mendapati Glacia yang masih penasaran, Narendra hanya tersenyum kecil enggan menjawab. "Aku tidak tahu, tapi sepertinya sangat penting. Maka dari itu, kamu tidak apa-apa aku tinggal sendiri?"
"Sepertinya begitu penting sampai kalian harus membicarakannya berdua," gumam Glacia.
"Aku akan segera kembali." Narendra membungkuk meraih tengkuk Glacia, lalu memagut bibir wanita itu pelan. Hanya sekitar beberapa detik sebelum kemudian menjauh.
__ADS_1
Bertepatan dengan itu, bodyguard yang tadi Narendra hubungi datang menghampiri. Keduanya mengangguk segan pada Narendra serta Glacia.
Narendra beranjak dari pinggiran meja, mengusap pundak Glacia sebelum melenggang meninggalkannya di sana. Ia sempat berpesan pada dua pengawal agar mengawasi Glacia sebaik mungkin.
Glacia menatap kepergian Narendra lama. Ia pun membuang nafas dan berusaha menyingkirkan keinginan untuk ikut campur. Mungkin hanya masalah pekerjaan yang tidak Glacia mengerti.
Di halaman depan rumah sakit, Narendra menghampiri Julian yang berdiri menunggu kedatangannya. "Ada apa?"
Julian segera berbalik menghadap Narendra guna memberi tahu sesuatu. "Nona Eliza menghilang," ucapnya pelan.
Sejenak Narendra melirik sekitar, lalu mengajak Julian untuk bicara di mobil. "Bagaimana bisa?" lanjutnya setelah mereka berdua berada di tempat yang lebih tertutup.
Julian membuang nafas. "Ada penyusup yang membawanya kabur. Masalahnya, saat penangkapan mereka jatuh ke jurang, dan kemungkinan hanyut terbawa arus sungai. Sampai saat ini tim kita masih melakukan pencarian. Ini sudah lebih dari 14 jam, mungkinkah mereka tewas?"
"Empat belas jam, dan tidak ada satupun yang memberitahuku?" dengus Narendra tak percaya.
"Saya pun baru mendapat kabar pagi ini," timpal Julian.
Narendra berdecak kesal. Ia pun menarik tuas mobil sebelum memutar setir hingga kendaraan itu meninggalkan pelataran rumah sakit.
"Tuan, kita mau ke mana?"
"Menurutmu aku harus diam saat tawananku kabur?" Narendra balik bertanya.
"Tapi, Nyonya ..."
"Dia bisa menunggu ini."
***
Ringisan pelan keluar dari mulut seorang wanita. Bukan pelan, ia justru hampir menangis merasakan perih dan sakitnya luka-luka yang ia rasakan di seluruh bagian tubuh. Termasuk wajahnya yang kini penuh akan luka gores.
Mengedarkan pandangan, ia mengernyit mendapati sebuah tempat asing. Kecil, tapi setidaknya tidak lebih kotor dan menjijikan seperti di banker kemarin.
Seolah sudah terbiasa dengan hal-hal kotor beberapa hari terakhir, Lizy tak perduli lagi dengan keadaan benda-benda di sekitarnya. Tubuhnya sendiri lusuh dan bau.
Sekali lagi Lizy meringis. Ia menunduk mengamati seluruh tubuhnya yang dipenuhi luka. Tidak sedikit bekas sundutan rokok yang ia temukan di permukaan kulitnya. Ada pun bekas sayatan benda tajam, serta baret lain yang membuat hancur kulit mulusnya.
Sakit, rasanya mati lebih baik untuk Lizy saat ini. Akan tetapi, ia tidak mau mati sia-sia. Seseorang membuka pintu membuat Lizy menoleh. Pria tinggi yang dilihatnya kemarin kini muncul menampakkan diri di hadapan Lizy lagi.
Ia nampak baik-baik saja, padahal mereka baru saja jatuh ke dalam jurang yang cukup curam. Lizy tidak ingat apa pun lantaran pingsan. Jika tidak bangun sekarang, mungkin Lizy sudah mengira dirinya mati.
"Akhirnya kau bangun. Kalau kau mati, sia-sia saja aku menyelamatkanmu," ujar si pria, datar.
Sedari kemarin Lizy penasaran dengan sosok lelaki itu yang wajahnya selalu tertutup topi dan masker. "Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau mau bersusah payah menolongku?"
"Aku bukan menolongmu, karena kita akan melakukan kerja sama yang saling menguntungkan."
"Kerja sama?" Lizy merasa tubuhnya masih sangat lemas. Perutnya sakit dan melilit, ini pasti dampak dari makanan basi yang akhir-akhir ini menjadi santapan utamanya, atau teh China beracun yang setiap hari ia minum atas paksaan dari orang-orang kejam itu. Tentu, dalang dari semua penderitaan Lizy adalah Narendra.
"Intinya sama, kau dan aku sama-sama menginginkan perpisahan antara Glacia dan Narendra."
Mata di balik topi dan masker itu terlihat sedikit berkedut menandakan senyum, dan sepertinya Lizy tahu siapa sosok lelaki tersebut.
Adapun lelaki itu menyeringai menatap Lizy. Betapa ia mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan wanita di hadapannya kini. Setelah bertindak gila menjatuhkan diri ke jurang, pada akhirnya keberuntungan masih berpihak pada mereka. Bukankah, itu artinya Tuhan merestui rencana yang akan ia buat?
Menurutnya, ini sebuah keajaiban karena ia bisa selamat setelah terkepung oleh anak buah Gibran Wiranata.
Jatuh terguling lalu hanyut dalam arus sungai yang deras, bertahan di antara garis hidup dan mati, berusaha lari dari kejaran pasukan terlatih, sungguh pengalaman luar biasa baginya. Ini adalah aksi nekat yang pertama ia lakukan, demi seseorang yang saat ini begitu ia inginkan.
"Glacia harus tahu, bahwa suaminya tak sebaik yang ia kira," gumamnya penuh ambisi, membuat Lizy semakin yakin, bahwa pria di hadapannya kini adalah seseorang yang ia kenal.
__ADS_1
***
Narendra berjalan cepat memasuki banker tersembunyi di balik rimbunnya hutan dan ilalang. Wajahnya kaku dengan derap langkah yang terdengar tegas. Di belakangnya, Julian mengekori dengan wajah tak kalah serius. Mereka tiba di sebuah ruangan yang merupakan ruang pengawasan, di sana terdapat puluhan layar yang menampilkan rekaman CCTV berbagai sudut tempat tersebut.
"Apa saja yang kalian lakukan sampai penyusup bisa masuk kemari?" todong Narendra, membuat hening ruangan yang sedari tadi mencekam.
Gibran bersidekap di hadapan layar-layar tersebut, sampai Narendra mendekat dan berdiri di sampingnya. Ia turut terdiam mengamati rekaman dari berbagai sudut yang diputar berulang-ulang.
Tak ada yang aneh, di sana tidak menunjukkan satupun pergerakan asing apalagi mencurigakan. Hanya ada satu orang anggota mereka yang masuk dan keluar dari ruang penyekapan Wina. Ini jelas ada yang tidak beres.
Narendra menoleh pada Gibran yang sepertinya juga memiliki pemikiran yang sama dengannya. Tak lama lelaki itu pun bersuara. "Jangankan manusia, aku bahkan bisa melihat pergerakan semut dari kamera itu," ujarnya dingin. Intonasinya yang tenang selalu membuat orang ketar-ketir.
Ia balas menoleh pada Narendra. "Kau tidak buta teknologi, pasti mengerti apa yang kumaksud."
Hening. Gibran kembali melanjutkan ucapannya. "Aku sendiri yang merancang perangkat pengamanan di sini. Mustahil seseorang bisa masuk begitu mudah apalagi sampai lolos melarikan diri. Kecuali, kau gagal mengembangkannya, Narendra."
Semua orang terdiam, termasuk Narendra yang kini menatap tajam pada Gibran. Berani sekali lelaki ini meremehkannya, setelah sebelumnya dia mengemis meminta Narendra bergabung dalam anggotanya kembali.
Narendra memang sudah lama tidak berkutat dalam dunia teknologi, tapi bukan berarti ia menjadi bodoh dan melakukan kecerobohan sebesar ini.
Namun kemudian Gibran menambahkan. "Atau ... seseorang mempermudahnya memasuki tempat ini."
Suasana pun mendadak tegang. Narendra mengerjap pelan dengan raut berpikir keras.
"Selain CCTV yang dimanipulasi, hanya anggota di sini yang bisa keluar masuk banker dengan bebas." Gibran kembali memperhatikan rekaman dalam setiap layar, yang secara sekilas memang tak ada kesalahan. "Kalian pikir bisa membodohiku semudah itu? Narendra bahkan sadar rekaman ini menunjukkan sesuatu yang janggal. Durasi dan pergerakan dalam kamera nampak tidak alami. Jelas sekali, sebelum ini seseorang mengotak-atiknya."
"Satu lagi, tempat ini luput dari sinyal pelacakan milik pemerintah sekalipun. Tidak ada yang bisa memasuki wilayah pribadi milik Gibran Wiranata. Hanya ada satu kemungkinan, seseorang yang memiliki koneksi, yang membawa orang itu kemari."
Pernyataan tersebut membuat Narendra kontan melarikan matanya, meneliti satu persatu anggota yang berdiri di setiap sisi ruangan, mengelilingi Narendra serta Gibran yang menjadi pusat di tengah-tengah mereka.
Tiba-tiba saja Gibran mengeluarkan pistol dari sela celananya. Ia mengacungkan senjata tersebut sambil memandang lurus puluhan layar di depan.
"Katakan, siapa yang berani mengkhianatiku?"
Semua orang bungkam di bawah aura mencekam yang menguar. Tak ada satupun yang berani mengeluarkan suara, apalagi melakukan pergerakan.
Gibran kembali berkata. "Maju! Atau aku sendiri yang akan membuatmu berlutut!"
Seruan itu masih tak mampu memecah ketegangan. Semua anggota di sana berwajah gugup. Hingga sedetik kemudian ...
Dor!
Suara letusan peluru memekik mengiringi jeritan seseorang di belakang sana. Gibran baru saja menembak anak buahnya, namun tubuhnya masih tegak lurus menghadap ke depan. Ia melakukannya tanpa menoleh sekalipun.
"Aarrghh!" Seorang pria berlutut usai betisnya terkoyak. Darah mengalir membasahi celana hitamnya.
Semua mata menoleh ke arah pria tersebut, dengan raut tak menyangka bahwa ada pengkhianat di antara mereka.
Gibran berbalik, menatap tepat pada anggotanya yang baru saja ia tembak. Pria itu merunduk dalam, tak berani menatap Gibran. Tubuhnya nampak bergetar ketika mengucapkan kata maaf.
"Maaf, Tuan. Maafkan saya. S-Saya ... saya ..." Kalimatnya berhenti ketika benda dingin itu menyentuh kepalanya.
Gibran mendekat perlahan dan menempelkan pistol di tangannya tepat di atas puncak kepala lelaki tersebut. Suasana semakin lengang, semua tubuh di sana menegang menanti tindakan Gibran selanjutnya.
"Sebelum kau menjadi anggotaku, kau sudah bersumpah untuk setia, tidak goyah terhadap godaan apa pun, baik itu materi atau simpati pada orang terdekat."
"Jangan kau pikir bisa membodohiku. Meski aku berada di ujung dunia sekalipun, kau tetap tak akan bisa mengelabui seorang Gibran Wiranata." Suara Gibran berdesis tajam.
"Kau tahu apa yang akan terjadi jika kau mengkhianatiku. Aku benci kelalaian, apalagi kesetiaan yang dipermainkan."
Pria itu menunduk semakin dalam, dan tak lama kemudian suara tembakan kembali menggema memecah kesunyian. Pria tersebut jatuh tergeletak di atas lantai, dengan darah mengalir dari kepalanya.
__ADS_1
"Masih berani kalian macam-macam denganku?"