
Glacia menepis tangan Narendra setelah pria itu mengantarnya ke kamar. Ia sudah berhenti menangis sejak sampai di rumah, namun bukan berarti perasaannya turut membaik setelah apa yang ia dapatkan dari perlakuan Gallen serta ayahnya.
Glacia hanya diam membisu, Narendra yang enggan memperburuk suasana akhirnya memilih keluar dan meninggalkan Glacia sendiri di kamarnya. Namun, tepat setelah pintu tertutup, Narendra bisa mendengar jeritan Glacia yang disusul suara gaduh lemparan barang. Ia tebak wanita itu tengah mengamuk. Narendra tak ingin ambil pusing dan lekas melanjutkan langkahnya ke lantai bawah, di mana Julian masih berada di sana menunggunya.
Mulai besok, supir yang hari ini mengantar Glacia resmi berhenti bekerja.
Hampir dua jam Glacia mengamuk, selama itu pula tak ada satupun pelayan yang berani masuk ke kamarnya. Glacia tergeletak di lantai dengan tatapan kosong di antara barang-barang yang berserakan. Kakinya menjulur kaku dengan tubuh tengkurap setengah menyamping. Netra indahnya kini bengkak dan sembab, bahkan sesekali air mata masih mengalir tanpa suara.
Tak pelak berakhirnya hubungan dia dan Gallen berhasil menyentak mentalnya. Terlebih perlakuan buruk pria itu yang baru ia ketahui sekarang. Dulu, Gallen adalah sosok sempurna yang membuatnya terkagum-kagum, pria yang menyelamatkannya dari keterpurukan usai Glacia kehilangan sang ibu.
Alasan mengapa Glacia begitu kekeh mempertahankan Gallen meski tahu lelaki itu sering berkhianat. Ya, Glacia bukan wanita bodoh yang tidak tahu menahu seluk beluk pacarnya. Akan tetapi, Glacia hanya membutuhkan Gallen berada di sampingnya, tak peduli seberapa gelap kehidupan lelaki itu di belakangnya. Glacia hanya butuh Gallen, Gallen nya yang dulu.
Glacia termenung, dadanya sesak dipenuhi oleh sembilu. Dipandang sebelah mata setelah sebelumnya dipuja sedemikian rupa adalah satu dari sekian hal menyesakkan dalam hidup. Glacia terbiasa dikelilingi oleh kesempurnaan, rasanya ia ingin mati ketika orang-orang menatapnya remeh sekaligus mengejek. Ia yakin betul di antara mereka yang membencinya pasti sudah mengutuk dan menyumpahi nasib Glacia. Sebuah rasa syukur bagi mereka yang tak suka padanya.
Lama Glacia bergeming di atas lantai hingga tanpa sadar ia tertidur. Lelah hati dan fisik turut menyertai pening yang bertalu-talu melanda kepala. Di samping itu, Glacia tidak tahu bahwa kini cairan berwarna merah keluar dari lubang hidungnya. Setelah itu ... entah Glacia terlelap atau justru tak sadarkan diri karena pingsan.
***
Narendra menatap istrinya yang terbaring di atas ranjang. Dokter sudah datang, namun Glacia justru ditemukan dalam keadaan memprihatinkan. Situasi sempat dilanda panik ketika mendapati hidung wanita itu berdarah.
__ADS_1
Entah bagaimana bisa Glacia sampai mimisan begitu, yang jelas Dokter Teresa bilang hal itu wajar dan Glacia baik-baik saja, ia hanya kelelahan dan mengalami stress berat usai memberantakkan seluruh isi kamar.
Narendra tak bertanya lebih, meski hatinya sedikit ragu. Jadwal terapi pun diundur menjadi besok dan Dokter Teresa kembali pulang. Langit telah berubah gelap sejak terakhir Narendra meninggalkan Glacia di kamarnya. Ia sudah menduga kamar sang istri akan berantakan, dan sudah meminta para pelayan membereskan kekacauan.
Hari semakin larut, tak lama Glacia pun membuka mata. Ia sempat terlonjak ketika mendapati Narendra duduk tepat di sisi ranjang. Pria itu menatapnya lekat, entah sejak kapan.
Glacia yang masih diliputi mendung di hatinya enggan peduli. Ia membuang muka sembari mulai mengangkat punggungnya dari permukaan ranjang, lalu dengan cuek berusaha meraih gelas di nakas.
Akan tetapi, ia kurang memperkirakan kemampuan sendiri hingga lupa bahwa letak benda tersebut terlalu jauh dari jangkauan.
Di tengah kekesalan akan ketidakmampuannya, Narendra mengambil gelas berisi air putih itu dan memberikannya pada Glacia.
Lama Glacia hanya menatap uluran tersebut tanpa berniat menerimanya. Hingga tiga menit kemudian ia berubah pikiran lantaran Narendra tetap bertahan di posisinya.
Keduanya masih sama-sama bungkam, Glacia juga baru sadar keadaan kamarnya sudah jauh lebih rapi dari yang terakhir ia ingat. Pasti para pelayan bergerak cepat membereskannya.
Diam-diam Glacia menghela nafas, dadanya masih terasa berat dan sesak. Patah hati membuat kewarasannya hampir hilang. Bukan, mungkin Glacia yang tak bisa menerima perubahan sikap Gallen terhadapnya, padahal sejak kemarin kenyataan sudah terbuka lebar. Glacia hanya enggan percaya, bahwa Gallen membuang dirinya karena keadaan kakinya yang cacat.
Glacia benci kekurangan tersebut, rasanya ia ingin mengulang waktu seandainya bisa mencegah kecelakaan seminggu lalu. Namun kita sebagai manusia hanya bisa membuat pengandaian, menyesal pun tak bisa mengembalikan semua.
__ADS_1
Narendra menyimpan kembali gelas yang kosong. Glacia juga baru sadar pakaiannya sudah berganti, seketika perasaan waswas pun muncul saat matanya secara refleks menatap Narendra.
Seakan tahu kegelisahan Glacia, Narendra pun berkata. "Pelayan yang menggantinya," ujarnya singkat.
Rasa lega muncul mengetahui hal tersebut. Ia memerhatikan Narendra dalam diam. Lelaki itu bangkit dan mulai beranjak hendak meninggalkannya. Baru satu langkah berbalik, Glacia membuka suara.
"Tadi siang ... k-kenapa kau bisa ada di sana?" bisiknya pelan.
Narendra urung pergi, ia berbalik kembali menghadap Glacia. Sesaat bibirnya bungkam sebelum kemudian menjawab. "Tentu bisa."
Kalimat pendek Narendra yang sudah biasa Glacia temui. Glacia mengambil nafas lalu menunduk menatap jemarinya. "Terima kasih ... karena sudah membantuku keluar dari sana," bisiknya lagi. "Kenapa kau selalu baik padaku? Padahal ... kau tahu sendiri perlakuanku cukup buruk padamu." Glacia mendongak. "Kenapa?"
Narendra tak langsung menjawab, ia menatap Glacia lama sampai wanita itu risih sendiri dan sedikit membuang muka.
Suara pelan Narendra pun terdengar. "Terkadang, manusia tak membutuhkan alasan untuk bersikap baik."
Glacia menoleh dan kembali mendongak. Hal tersebut membuat keduanya saling tatap, beradu pandang dalam remang.
Glacia mengangguk canggung. "Kau pasti orang baik."
__ADS_1
Tanpa Glacia sadari sudut bibir Narendra berkedut singkat. "Jangan terlalu naif, aku tidak sebaik yang kau kira," ucapnya, setelah itu berbalik pergi meninggalkan Glacia sendiri.
Glacia termenung di tempat. Hatinya yang rapuh sudah hancur oleh Gallen. Sekarang, ia tidak tahu harus berbuat apa setelah kehilangan separuh kesempurnaan yang ia punya.