
Pagi harinya, Glacia benar-benar tak menyerah. Jika ia tak bisa mempertemukan Narendra dan Lizy di waktu makan siang, maka ia akan mendatangkan wanita itu di waktu sarapan.
Seperti sekarang, Glacia sudah berdandan cantik menyambut tamu kehormatannya. Ia memasang senyum seramah mungkin supaya Lizy merasa nyaman sekaligus menghilangkan kecanggungan di antara mereka. Wanita itu pasti heran karena Glacia terus mengundangnya tanpa alasan yang jelas. Tapi sekarang Glacia jamin rencananya akan berhasil.
Narendra belum berangkat ke kantor, Glacia sudah memastikannya sendiri. Pria itu masih di kamarnya di lantai atas, tinggal menunggu beberapa menit mungkin dia akan turun untuk sarapan.
"Silakan dicoba kudapannya. Pelayan kami membuatnya dengan sepenuh hati," ujar Glacia. Saat ini mereka tengah berada di ruang makan menunggu Narendra.
Lizy mengangguk santun dan mencicipi kudapan yang Glacia maksud. Hingga tak lama suara langkah kaki mengalihkan atensi semuanya.
Narendra baru saja keluar dari lift yang mengarah langsung ke ruang makan. Ia berjalan sambil menunduk membenarkan jam tangan tanpa menyadari semua tatapan mengarah padanya.
Wina dan Weni berdiri gelisah. Ia takut sang tuan marah pada nyonya mereka lantaran mengundang orang tanpa persetujuannya. Mungkin Narendra tidak akan meluapkan amarah pada Glacia, tapi tidak menutup kemungkinan pria itu akan memecat para pekerja yang dianggapnya tidak becus.
Mereka sudah belajar dari kasus supir yang mengantar Glacia tempo lalu. Narendra tidak ragu menendangnya tanpa toleransi apa pun.
"Kau sudah bangun?" Narendra bertanya pada Glacia. Ia selesai memasang arloji di tangannya dan bersiap duduk di kursi makan.
Narendra ingin menyuarakan keheranan karena tak biasanya Glacia duduk di kursi paling dekat dengannya. Biasanya mereka duduk dari ujung ke ujung dengan jarak yang membentang.
Namun, saat Narendra mengangkat kepala ia justru dibuat terdiam dengan kehadiran seseorang. Pria itu bahkan lupa sebelumnya hendak duduk.
Narendra menatap Lizy, begitu pula sebaliknya. Keduanya nampak sama-sama terpaku satu sama lain. Hal itu dilihat jelas oleh Glacia. Ia tersenyum karena pada akhirnya bisa mempertemukan mereka berdua.
Tapi ... entah kenapa jantungnya juga bergemuruh cepat. Glacia segera menggeleng dan membuang nafasnya pelan-pelan.
"Eliza?" Narendra berhasil menguasai dirinya.
Lizy yang masih setia terpaku, sedikit terlonjak dan segera berdiri mengulas senyum. "Naren," sapanya dengan suara lembut.
Glacia menatap mereka bergantian. Ia menanti reaksi Narendra seperti di drama-drama, tapi pria itu terlalu datar dan emosinya sungguh sulit untuk ditebak.
Glacia malah melihat Lizy lah yang paling berbinar di sini.
"Apa kabar?" tanya Lizy mengajak Narendra bersalaman.
__ADS_1
Narendra menyambutnya singkat. "Baik."
Pria itu duduk, dan meminta Lizy untuk duduk juga, tanpa suara. Narendra tak berkata apa pun, ia menoleh ke arah Glacia yang sedari tadi asik memperhatikan.
Glacia mengangkat alis membalas tatapan Narendra. Ia menyadri raut ingin protes lelaki itu. Narendra membuang nafas dan beralih mengambil kopi untuk menyeruputnya.
"Sejak kapan kau mulai minum kopi?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Lizy secara tiba-tiba.
Narendra maupun Glacia terdiam. Glacia melirik Narendra beserta cangkir kopinya yang menggantung di udara. Pria itu berhenti sejenak lalu lanjut menyeruputnya dengan khidmat.
"Sudah lama," sahutnya pendek.
Lizy nampak canggung. Sesekali ia kedapatan melirik Narendra yang terlihat biasa saja bertemu kembali dengannya. Narendra justru lebih memperhatikan Glacia yang bahkan jarang meliriknya sama sekali.
Mereka sarapan dengan tenang. Berkali-kali Lizy amati, Narendra masih tetap mempesona seperti dulu. Dia tampan dan berkarisma. Sikap diamnya seringkali membuat orang penasaran.
"Uhuk, uhuk!" Glacia tiba-tiba terbatuk.
Narendra yang saat itu tengah menyuap makanan, secara refleks melempar sendoknya dan berdiri mendekat dengan wajah khawatir. "Kau baik-baik saja?"
Narendra mengusap punggungnya pelan. Hal itu tak lepas dari perhatian Lizy yang menatapnya rumit.
Glacia mengangguk dengan nafas terengah. "A-aku tidak apa-apa. Kau lanjutlah makan," ucapnya mendongak pada Narendra. Ia sedikit melirik Lizy tak enak, terlebih saat itu Lizy juga tengah menatap ke arah mereka.
Dengan enggan Narendra pun kembali ke kursinya. Ia duduk diapit dua wanita di kepala meja. Hal ini membuat suasana menjadi aneh dan tak nyaman.
Narendra dan Lizy melanjutkan makan, namun tidak dengan Glacia. Ia malah memundurkan kursi rodanya dan hendak pergi. Tentu hal tersebut membuat Narendra urung menyuap sarapannya kembali.
"Mau ke mana?"
"Aku sudah kenyang dan akan beristirahat ke kamar. Kalian lanjutkan saja," ujar Glacia penuh maksud.
Kening Narendra berkerut dalam. "Tapi kau belum selesai sarapan?" Ia melirik isi piring Glacia yang bahkan hampir terlihat utuh.
"Nanti saja." Glacia kekeh ingin meninggalkan ruang makan. Ia lalu menoleh ke arah Lizy yang juga menatapnya. "Maaf, aku tidak bisa menemanimu lebih lama. Kau lanjutkan saja dengan Narendra, ya?"
__ADS_1
Senyum Glacia sekaligus menyadarkan Lizy, bahwa inilah tujuan wanita itu mengundangnya beberapa kali, untuk bertemu dengan Narendra. Sungguh, Lizy tak bisa menebak apa yang ada di pikiran Glacia.
Narendra tak bisa berbuat apa-apa. Glacia terlalu gila. Ia hanya bisa menatap kepergian wanita itu bersama dua pelayannya yang selalu setia mengikutinya ke manapun.
"Istrimu cantik," ujar Lizy tiba-tiba.
Narendra mengalihkan pandangannya saat Glacia tak lagi terlihat, ia kembali memakan sarapannya agak cepat.
"Sangat," gumam Narendra.
"Dia luar biasa karena bisa melewati kondisi seperti itu," lanjut Lizy.
Narendra hanya diam. Di sini, hanya dia yang tahu seberapa terpuruk Glacia di awal-awal. Narendra bersyukur sejauh ini tak ada hal buruk yang wanita itu lakukan selain emosinya yang sering tak terkendali. Setidaknya, Glacia tak berencana mengakhiri hidup.
"Apa kau mencintainya?" tanya Lizy serta-merta.
Hening. Suasana mendadak sunyi karena Narendra terdiam. Lizy menatap lelaki itu lekat sambil menunggu jawaban.
Sementara di lain tempat, Glacia menghentikan kursi rodanya di koridor samping rumah. Wina dan Weni ikut berhenti, mereka kini berada di persimpangan taman hendak menuju sun house favorit sang nyonya.
"Nyonya baik-baik saja?" Keduanya melihat nafas Glacia terengah.
Ini tak seperti biasanya. Glacia jarang terlihat kelelahan jika hanya keliling rumah.
Glacia tak menjawab. Ia menyentuh dadanya yang mendadak terasa sesak. Mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Glacia menggeleng dengan wajah yang lebih baik. "I'm okay," jawabnya kembali menjalankan kursi roda.
"Nyonya bilang ingin istirahat? Wajah anda pucat," tutur Weni.
"Sudah kubilang aku baik-baik saja!" seru Glacia yang langsung membuat dua pelayannya terdiam.
Mereka hanya bisa mengikuti Glacia dari belakang, tanpa tahu bahwa wanita itu menyembunyikan sebuah tisu yang terselip di balik buku yang ia bawa.
Glacia memang sempat mampir ke kamarnya sebentar. Ia berencana melanjutkan bacaan kemarin di sun house seperti biasa.
***
__ADS_1