
Glacia memekik, menjerit, menggigit bibir dan memejamkan mata dengan keringat dingin. Semua ia lakukan demi menahan rasa sakit pada tangannya yang sedang dipijat.
Ingin rasanya Glacia memaki Narendra, kenapa pria itu tak membawanya ke rumah sakit saja dan malah meminta tukang kebun mereka menyiksa pergelangan tangannya.
Hujan perlahan mereda di luar sana, suasana pun tak sebising sebelumnya. Narendra berdiri di samping ranjang Glacia, memperhatikan sang istri yang meringis-ringis kesakitan. Wina yang melihat turut mengernyit ngeri. Betapa tidak, tangan sang nyonya membengkak begitu, pasti sangat sakit.
"Aaaaww!" Teriakan terakhir Glacia mengakhiri semuanya.
Pak Ramlan melepaskan tangan sang nyonya yang kini melemas tak berdaya. Ia lantas lekas berdiri, duduk di ranjang majikan meski hanya setitik tempat membuatnya sangat gugup.
Pak Ramlan berdehem. "Saya sudah membenarkan letak urat di tangan Nyonya. Nyonya hanya perlu mengistirahatkannya selama beberapa hari. Bekas sakitnya mungkin akan bertahan beberapa waktu ke depan, tapi perlahan akan hilang. Tidak lama, mungkin hanya seminggu."
Glacia tak menghiraukan penjelasan tukang kebun itu, hingga mau tak mau Narendra yang mengambil alih keheningan.
"Terima kasih. Kembalilah. Maaf mengganggu waktu tidur kalian," ucapnya sekalian pada Pak Ramlan dan juga Wina.
Wina yang mengerti lekas mengajak Pak Ramlan kembali, hingga kini menyisakan Narendra dan Glacia berdua di kamar itu.
Glacia tampak membuang muka ketika Narendra menoleh. Mata bengkak bekas menangis masih tersisa di wajah wanita itu.
"Kenapa melihatku terus?" sewot Glacia. Mungkin ia malu kedapatan cengeng di depan Narendra. Muka jeleknya pasti membuat pria itu tertawa.
Narendra membuang nafas. Ia lalu berkata dengan pelan. "Kau bisa memanggilku jika butuh sesuatu. Kamar kita bersebelahan."
Mendengus, Glacia pun memicing mengejek Narendra. "Sebelahan pun belum tentu kau dengar. Dinding rumah ini terlalu tebal. Lagi pula aku bisa memanggil Wina."
"Kau tidak melakukannya saat terjatuh tadi," cetus Narendra melempar kenyataan.
Sontak Glacia mengelak sedikit gelagapan. "I-itu karena kamarnya gelap! Aku tidak bisa melihat letak teleponnya!"
__ADS_1
Narendra tak menanggapi lagi. Tanpa Glacia jelaskan pun, Narendra tahu apa yang sebelumnya terjadi.
"Tidurlah lagi. Ini masih terlalu malam," ujar Narendra sembari melirik jam.
Pukul 1 dini hari, dan hujan seolah belum mau berhenti. Semula Narendra hendak kembali ke kamarnya, namun sebuah suara tiba-tiba menyeruak membuatnya berhenti. Ia berbalik menatap Glacia yang membuang pandangan.
"I-itu bukan perutku!" elaknya.
"Kau lapar?" tanya Narendra.
"Sudah kubilang itu bukan perutku!" Glacia masih enggan mengaku.
Padahal, manusia bodoh pun tahu bahwa di ruangan ini hanya ada mereka berdua, dan Narendra tak merasa perutnya berbunyi.
Narendra tak berkata apa-apa, ia pergi keluar meninggalkan Glacia sendiri. Tanpa sadar wanita itu mencibir kesal. "Bisa-bisanya dia meninggalkanku yang kelaparan," desisnya tajam.
Narendra masuk dengan membawa senampan makanan serta air putih. Glacia yang melihat itu bergeming canggung tak jadi tidur. Ternyata dugaannya salah. Narendra bukan meninggalkannya, pria itu justru mengambilkannya makanan dari dapur.
"Hanya ini yang bisa kusiapkan dengan cepat. Kuharap kau tidak menolak," ujar lelaki itu.
Glacia membuka mulutnya namun tak jadi bicara. Ia memperhatikan Narendra yang duduk di samping ranjang, memangku sepiring lasagna yang tampaknya baru dipanaskan.
"A-apa?" gagap Glacia saat Narendra mengulurkan sendok ke depan mulutnya.
"Tanganmu sakit, memang kau bisa makan sendiri?"
Narendra mau menyuapinya, begitu?
Belum sempat Glacia menolak, pria itu memasukkan paksa lasagna ke mulut Glacia. Glacia sudah seperti orang bodoh yang tak mampu berkutik. Sebenarnya Glacia malu, tapi apa daya perutnya lapar, dan ia tak bisa berbuat apa-apa apalagi berjalan.
__ADS_1
Usai makan, ia maupun Narendra sama-sama bungkam. Hujan sudah berhenti beberapa saat lalu, menyisakan rintik dan kilat-kilat petir yang masih bersinggungan hingga saat ini.
Glacia terdiam mengusapi tangan kanannya yang bengkak. Sementara Narendra, pria itu juga ikut terdiam usai membereskan nampan.
Canggung, itulah yang Glacia rasakan saat ini. Berduaan saja dengan Narendra membuat Glacia merasakan sesuatu yang dejavu. Entahlah, suasana hatinya mendadak tidak jelas.
"Terima kasih," ucap Glacia singkat. Ia berpikir Narendra masih di kamarnya karena menunggu rasa terima kasihnya. Nyatanya, setelah Glacia menurunkan sedikit ego pun Narendra tetap mematung di tempatnya.
Belum lagi matanya tak kunjung berpindah dari Glacia. Hal tersebut membuat Glacia risih karena merasa jelek usai menangis sedemikian rupa.
"Lizy akan cemburu kalau kau terus menatapku seperti itu," celetuk Glacia tanpa sadar. Ia menyentuh mulutnya sendiri saat dirasa salah bicara, namun sudah terlanjur, Narendra juga pasti mendengarnya dengan jelas. Ya sudahlah.
Dengan cuek Glacia berlagak membereskan selimut di tubuhnya. Ia masih duduk dan bersandar di punggung ranjang setelah makan. Narendra tiba-tiba berucap. "Tidak baik membahas wanita yang sudah bertunangan."
Glacia menoleh, ia mengerjap. Sejujurnya ia sama sekali tak berniat membahas siapa pun. Nama Lizy hanya refleks keluar dari mulutnya. Tapi, sekarang Glacia malah tertarik melanjutkan.
"Kau tidak ada niat merebutnya lagi?" tanya Glacia sedikit menantang. Ia ingin melihat respon Narendra mengenai mantannya, tapi yang Glacia dapati justru wajah Narendra yang biasa-biasa saja.
Ini membuatnya bingung. Setahunya Narendra begitu mencintai Lizy, dulu. Hubungan mereka cukup lama terjalin sebelum akhirnya Papa Glacia meminta Narendra menikahinya.
"Kau ... masih ingin kembali padanya?" lanjut Glacia lagi. "Kalau iya, aku bisa membantumu."
Kenapa ia tidak terpikirkan sejak dulu, bahwa mungkin saja Lizy bisa menjadi solusi utama agar Narendra mau menceraikannya.
"Bagaimana?" Raut Glacia terlihat antusias. Berbanding terbalik dengan Narendra yang justru samar-samar terkesan tak menyetujui.
Namun Glacia tak perduli, ia akan mencoba cara apa pun supaya Narendra bisa berani melepasnya tanpa memikirkan rasa hormatnya pada Yohanes. Tentu perlu alasan kuat untuk semua itu, dan menurut Glacia, Lizy adalah pilihan yang tepat.
__ADS_1