
Narendra membaringkan Glacia di ranjang, mengatur posisinya supaya nyaman, lalu menyelimutinya. Hal yang sama terulang kembali, Glacia lagi-lagi tidur saat mereka sedang berciuman. Entah apa penyebabnya, atau bisa jadi hanya refleks kebetulan.
Narendra menghela nafas panjang seraya memandangi wajah Glacia yang semakin hari semakin pucat dan tirus. Tak pelak hal tersebut membuat Narendra khawatir.
Perhatian Narendra lalu bergeser pada paper bag di meja. Ia berjalan mendekati meja tersebut, kemudian mengambil kantong kertas yang entah berisi apa dari Lizy.
Narendra merogoh sebuah kotak di dalamnya yang ternyata satu paket lengkap teh hijau China. Dilihat dari nama produknya, Narendra kenal ini salah satu teh mahal dan sulit didapat oleh kalangan biasa.
Sebuah note tersemat di atas kotak tersebut.
...Aku dengar teh ini sangat bagus untuk kesehatan. Teh ini langka, tapi banyak yang mencarinya. Semoga kamu suka, dan aku harap bisa berpengaruh baik untuk kesehatanmu....
...~Lizy~...
Narendra menatap datar tulisan itu, ia lalu mengambil salah satu kemasan teh untuk ditelitinya lebih dalam. Bukan mau menuduh, tapi Lizy adalah salah satu orang yang sedang Narendra curigai saat ini.
Narendra memasukkan kembali bungkusan teh itu lalu menoleh pada Glacia yang tertidur. Ia mendekat dan melabuhkan ciuman ringan di kening serta bibir wanita itu.
"Mungkin aku ditakdirkan untuk menciummu saat tidur," bisik Narendra pelan.
Ia kemudian beranjak dan membuka pintu balkon kamar Glacia pelan-pelan, lalu menghilang di kegelapan malam. Entah bagaimana cara Narendra melewati setiap penjagaan di mansion itu, yang pasti tidak ada satupun orang yang menyadari kehadirannya.
Pagi harinya Glacia terbangun saat matahari sudah lumayan terang. Kepalanya pening, dan Glacia merasa tubuhnya lemas luar biasa. Yohanes masuk dan tersenyum menyapa putrinya yang baru bangun. Ia membawakan satu nampan penuh berisi menu sarapan untuk Glacia.
"Kenapa tidak biarkan Weni yang membawanya?" lirih Glacia parau.
Yohanes lagi-lagi hanya tersenyum. "Papa mau melayani putri Papa yang cantik ini."
Glacia ikut tersenyum. "Memangnya Weni ke mana?"
"Ada. Papa suruh dia masuk kalau kamu mandi saja nanti."
"Minum dulu," lanjut Yohanes, mengulurkan segelas air pada Glacia.
Glacia menerimanya dengan senang hati. Ia lalu meneguknya sedikit demi sedikit hingga tandas. Yohanes mengambil kembali gelas kosong itu, menyimpannya di atas nakas. Selanjutnya Glacia memakan sarapan yang dibawakan sang papa.
"Nak?"
"Hm?" Glacia mengangkat alis.
Yohanes mengambil nafas pelan sebelum bicara. "Setelah proses perceraianmu dan Narendra selesai, kamu mau ikut Papa ke luar negeri? Sebulan lagi perusahaan Papa di sana akan diresmikan, dan mungkin ke depannya Papa akan lebih fokus di sana."
__ADS_1
Glacia mengerjap lamat. "Papa mau ke luar negeri? Lalu, perusahaan di sini siapa yang pegang?"
"Narendra," jawab Yohanes lugas.
Glacia mengernyit dalam. Kenapa Yohanes masih berniat mempercayakan kekuasaan pada Narendra meski ia dan lelaki itu kelak tak ada hubungan apa-apa lagi?
Seolah mengerti apa yang Glacia pikirkan, Yohanes pun lanjut menjelaskan. "Papa percaya Narendra bukan setahun dua tahun. Sebelum dia jadi suamimu pun, Papa sudah sangat mengandalkan lelaki itu. Jadi, meski nanti dia bukan lagi suami kamu, Papa akan tetap biarkan Narendra di perusahaan kita."
Glacia seolah tak setuju. "Papa terlalu percaya pada orang. Hati manusia itu selalu berubah-ubah. Mungkin sekarang Narendra tak mengecewakan Papa, tapi siapa yang tahu ke depannya?"
Yohanes tersenyum dalam hati. Glacia tidak tahu saja, meski Narendra memimpin di kursi tertinggi saat ini, pria itu tetap mengutamakan nama Glacia di perusahaan mereka.
"Jangan khawatir, Papa juga selalu memantau setiap pergerakannya. Jangan kira karena Papa percaya Narendra, Papa tak lantas bersikap waspada. Dunia bisnis itu rumit dan tak terduga. Kamu tenang saja, semua Papa lakukan melalui pertimbangan matang."
Glacia tak bicara lagi. Ia percaya ayahnya. Meski aneh rasanya melihat Narendra masih memimpin setelah mereka bercerai nanti. Glacia berharap Narendra tak mengecewakan kepercayaan Yohanes.
***
Usai mandi, Glacia baru ingat sesuatu tentang kedatangan Lizy semalam. Ia pun menoleh pada Weni yang tengah membereskan ranjang.
"Kau melihat paper bag di meja yang kutaruh semalam?" Mata Glacia mengedar, pun Weni melakukan hal yang sama sembari mengernyit.
"Paper bag yang mana, Nyonya?" Pasalnya sejak ia masuk ke kamar Glacia pagi ini, ia sama sekali tak menemui benda serupa yang dimaksud Glacia.
Menghela nafas, Glacia tak mempermasalahkan hilangnya pemberian Lizy tersebut. Entah apa pun alasan Narendra mencurinya, Glacia tak peduli karena sejak awal ia juga tak begitu tertarik dengan hadiah Lizy.
"Dokter Teresa datang jam berapa?" tanya Glacia.
Hari ini jadwal terapi pertamanya sejak pindah dari rumah Narendra.
Weni menjawab tepat saat ia usai berberes kamar. "Pukul 10 siang ini, Nyonya."
"Itu berarti masih ada waktu 2 jam lagi, ya?"
Weni menghampiri sang nyonya, menyemprotkan minyak wangi secukupnya. "Memangnya kenapa, Nyonya."
"Tidak, hanya saja kemarin aku lihat postingan di Instagram, ada pameran buku tak jauh dari sini. Aku tertarik mendatanginya sebentar."
"Tapi itu akan membuat Nyonya lelah." Weni tampak tak setuju.
"Hanya sebentar, aku bosan di rumah terus." Glacia masih kekeh.
__ADS_1
Weni menghela nafas panjang. "Ya sudah, saya akan minta izin ada Tuan Yohanes dulu."
"Tidak perlu. Papa sibuk, dia pasti akan terganggu kalau kamu menghubunginya. Lagipula aku hanya sebentar."
"Tetap saja, kita harus meminta izin."
Glacia membuang nafas. "Ya sudah."
Weni pun segera menghubungi Fin, asisten Yohanes yang kerap menjadi perantara antara pekerja dan sang tuan. Beberapa detik Weni bicara pada pria itu, lalu diakhiri dengan anggukan mengerti. "Baik, Tuan. Terima kasih."
"Bagaimana?" tanya Glacia malas.
"Nyonya boleh pergi, dengan syarat pengawalan."
Glacia berdecak keras. "Kenapa, sih, mereka senang sekali memberlakukanku seperti tahanan? Aku juga tidak akan melarikan diri."
"Tuan hanya khawatir pada Nyonya," balas Weni.
"Khawatir apa? Tidak akan terjadi apa-apa padaku. Setidaknya kau dan satu bodyguard saja sudah cukup, tidak perlu terus ditambah-tambahi jumlahnya."
"Sudah persis orang penting yang punya banyak musuh saja," lanjut Glacia bergumam. "Memang siapa yang akan menyakitiku?" Ia masih betah menggerutu.
Weni meringis mendengar keluhan pelan itu. Apa Glacia lupa beberapa waktu lalu sempat dibully orang di pesta? Yohanes pun pasti ingin mencegah hal serupa terjadi.
Mengesampingkan rasa kesal Glacia yang merasa risih dengan sejumlah pengawalnya, mereka tetap pergi ke pameran buku yang dimaksud wanita itu.
***
Glacia melihat banyak sekali buku berbagi genre di sana. Bukan hanya buku dengan naskah bahasa Indonesia, bahasa daerah dan asing pun turut melengkapi kemeriahan pameran tersebut.
Yang membuat Glacia kagum, meski pengunjung tak bisa dibilang sedikit, tapi suasana tetap tenang dan teratur, seolah mereka datang kemari memang untuk membaca dan hanyut dalam tulisan.
Sebetulnya Glacia tak begitu suka dengan buku, terutama buku yang membahas masalah materi dan lainnya. Glacia hanya cukup menyukai membaca novel, itu pun ia lakukan sejak kondisi kakinya mustahil diajak jalan-jalan.
Dulu, Glacia lebih senang traveling ke luar kota dan negeri. Shopping barang branded dan mengeksplor berbagai club serta restoran berbintang dengan harga makanan selangit.
Tapi entah kenapa, sekarang semakin hari Glacia semakin menyukai keheningan dan aksara. Mungkin rasa tidak percaya diri membuat Glacia mau tak mau menikmati kesendirian.
Tapi ternyata itu tidak buruk, dengan tidak adanya suara di sekitar, Glacia bisa merasa tenang dan jauh dari pikiran-pikiran buruk yang menggerogoti hati serta pikirannya.
Betapa sibuknya Glacia menelusuri jejeran novel di rak bagian fiksi dan fantasi, saat seseorang tiba-tiba menyapa tanpa diduga.
__ADS_1
"Glacia?"