Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
81. Pertanyaan Glacia


__ADS_3

"Narendra tak ada di kantor?" Glacia mengernyit memegangi ponselnya di telinga. "Ah, begitu. Baiklah. Kabari aku kalau dia sudah kembali."


Ia menurunkan ponsel itu ketika sambungan berakhir. Glacia terduduk di ranjangnya sambil berpikir. Ke mana Narendra? Bukankah tadi pagi dia berpamitan ke kantor? Glacia yakin ingatannya masih tajam.


Di tengah lamunannya tiba-tiba saja pintu terbuka. Narendra masuk, lalu menutup kembali pintu tersebut sambil tersenyum kecil pada Glacia.


Ia mendekati Glacia yang bergeming di tempat tidurnya, lalu mengecup keningnya sekilas. Seraya menatap lelaki itu, Glacia pun kontan bertanya. "Dari mana?"


Narendra mengangkat alis menegakkan kembali punggungnya. Ia berpikir sesaat ketika beranjak mendekati meja untuk menuang air ke gelas, lalu meminumnya secara perlahan dan teratur.


"Tentu bekerja?" sahut Narendra setengah bertanya. Ia menatap Glacia yang memicing padanya. Dahi Narendra pun berkerut. "Kenapa?"


"Kau tidak ke kantor."


Pernyataan Glacia membuat Narendra mematung. Meski begitu wajahnya masih terlihat tenang. Tak lama lelaki itu terkekeh samar sambil berjalan mendekat.


Narendra duduk di sebelah Glacia, ia balas menatap wanita itu dalam jarak cukup dekat, mungkin hanya sekitar 2 jengkal tangan.


"Aku memang tidak ke kantor. Aku baru saja pulang meninjau proyek lapangan di luar." Narendra menunjukkan lengan bajunya yang kotor. Seluruh tubuhnya juga masih setengah basah. Hal itu memancing raut khawatir di wajah Glacia.


"Kau hujan-hujanan?" Glacia mengamati suaminya dari atas ke bawah. Kenapa ia baru sadar penampilan Narendra seberantakan itu?


Narendra sendiri menatap Glacia lekat. Tanpa wanita itu tahu, sudut bibirnya terangkat tipis. Glacia tidak menyadari kekhawatiran tersebut membuat Narendra merasa senang.


"Astaga, kenapa tidak ganti baju? Kau kan bisa mampir butik di jalan?" Glacia mendongak. Dahinya berkerut dalam.


Narendra terkekeh, ia tersenyum tipis mengusap sisi wajah Glacia yang pucat. "Aku khawatir istriku menunggu terlalu lama. Tidak masalah, aku bisa ganti baju di sini. Julian sedang membeli semua perlengkapannya."


Glacia mengerjap gugup. "Ah, begitu. Baiklah."


Narendra tak kunjung melepaskan tangannya yang dingin. Ia terus menatap Glacia hingga wanita itu kebingungan hendak berbuat apa. Glacia hampir menolehkan kepalanya ke sembarang arah, saat dengan halus Narendra menahan lehernya.


Keduanya saling beradu pandang semakin dekat, hingga sedetik kemudian Narendra memiringkan wajah dan mencium bibir Glacia dalam. Glacia mematung, jantungnya berdegup kencang hampir membuatnya sesak.


Luluman dan hisapan lembut yang Narendra lakukan mengalirkan rasa hangat di pipi, dan menjalar ke seluruh tubuhnya yang kini diam tak berkutik.


"N-Naren." Glacia berbisik ketika Narendra menjeda ciumannya, tapi tak lama lelaki itu kembali meraup bibirnya lebih tegas dan dalam.


Glacia hanya mampu diam dalam buaian itu. Tanpa sadar kedua tangannya sudah berada di bahu lebar milik Narendra, meremat erat kemeja putihnya yang setengah basah.

__ADS_1


Lima menit kemudian Narendra menghentikan pagutan tersebut. Wajahnya sedikit menjauh, namun Glacia masih bisa merasakan nafas hangat lelaki itu.


Tepat beberapa saat kemudian Julian masuk, ia menenteng tas belanja besar yang Glacia tebak berisi pakaian Narendra.


"Tuan, bajunya." Julian nampak sedikit salah tingkah melihat kedekatan Narendra dan Glacia, meski begitu ia tetap profesional dengan tidak ikut campur urusan pribadi sang majikan.


Narendra membuang nafas seraya menjauh dari Glacia. Ia mengangguk pada Julian. "Terima kasih. Kau pergilah. Hari ini kau boleh istirahat lebih awal."


Julian mengangguk patuh. "Kalau begitu saya pergi. Jika anda butuh sesuatu, segera hubungi saya."


Pintu kembali menutup dari luar. Narendra mengambil paper bag itu dan melihat isi di dalamnya. Ia kemudian menoleh pada Glacia, yang membuat Glacia langsung terperanjat karena terkejut. Ekspresinya seolah ketahuan memperhatikan Narendra begitu lama.


"Aku mandi dulu. Kamu butuh sesuatu?" tanya Narendra.


Bisa-bisanya lelaki itu masih terlihat santai setelah apa yang dilakukannya pada Glacia barusan.


"Ah, t-tidak. Pergilah. T-tidak, maksudku, mandilah."


Suara Glacia yang terpatah-patah membuat Narendra terkekeh halus. Matanya menyipit membentuk bulan sabit, yang seketika mampu membuat Glacia terperangah karena Narendra yang terkesan lebih ekspresif.


"Sepertinya suasana hatimu sedang baik?" tanya Glacia hati-hati.


Narendra mengangguk. "Ya, karena kamu," ujarnya disertai senyum. Ia lalu melangkah memasuki kamar mandi, meninggalkan Glacia yang terpengap-pengap dengan mata mengerjap.


Glacia tidak tahu, di dalam kamar mandi senyum manis dan hangat Narendra luntur. Lelaki itu menumpukan tangannya di kedua sisi wastafel, memandang pantulan wajahnya sendiri di cermin sambil tersenyum miring dengan mata menyorot dingin.


***


Narendra keluar dari kamar mandi sambil mengusap-usap rambutnya yang basah menggunakan handuk. Pakaiannya sudah berganti dengan celana dan sweater panjang pas badan. Harum sabun menguar membuat Glacia seketika menoleh. Wanita itu tengah berbaring di ranjangnya sambil menonton televisi.


"Lihat apa?" Narendra duduk di kursi sebelah ranjang.


Sementara Glacia kembali memusatkan perhatiannya pada TV di depan. "Polisi menemukan puluhan mayat di hutan. Katanya mereka diserang hewan buas saat pesta miras dan obat-obatan terlarang. Aneh-aneh saja, kenapa mereka harus mabuk-mabukan di tengah hutan? Aku tahu karena mereka bawa nar-koba, tapi kenapa harus di tempat berbahaya?"


Narendra memperhatikan Glacia yang menggerutu. Ia mendenguskan senyum sambil meraih tangan wanita itu, mengusapnya halus, lalu menempelkan sisi wajahnya di sana. "Mereka bukan kamu yang bisa menyewa hotel semaunya. Wajar mereka mengabaikan keselamatan hanya untuk mendapat tempat paling terpencil dan jauh dari jangkauan orang."


"Sudah, jangan pikirkan sesuatu yang bukan masalahmu. Kamu sudah makan?" lanjut Narendra bertanya. Ia memindahkan channel televisi yang menampilkan drama Korea.


Glacia membuang nafas. "Makan malam masih setengah jam lagi."

__ADS_1


"Oke. Mau buah?"


Glacia melirik nakas, lebih tepatnya pada piring buah di sana. "Melon," ucapnya pelan.


Narendra mengangguk, ia menyampirkan handuknya di bahu, lalu mengambil potongan melon untuk ia kupas dan potong kecil-kecil. Glacia memperhatikan dalam diam, tatapannya lekat menatap Narendra.


Hingga lelaki itu menyuapinya, Glacia masih menatapnya tanpa suara. Narendra balas memandang Glacia sambil tersenyum kecil. "Ada apa?"


Glacia tak lantas menjawab. Ia mengunyah pelan buah berwarna hijau itu di mulutnya. Lalu menggeleng. "Tidak ada. Aku hanya merasa pandanganku sedikit buram."


Narendra tahu Glacia sedang berbohong. Ia bisa melihat kecurigaan dalam matanya yang bening. Entah apa yang tengah Glacia ragukan, yang pasti hal itu cukup mengganggu Narendra.


"Naren," bisik Glacia kemudian.


Narendra mendongak. "Ya?"


"Kamu tidak sedang membohongiku, kan?"


Narendra mematung. Ia menatap Glacia dengan wajah terpekur. "Maksudmu?" tanyanya pelan dan hati-hati. Gesturnya berubah waswas menanti pertanyaan Glacia berikutnya.


"Maksudku, kamu tidak ada wanita lain setelah Lizy? I-itu ... kau tahu, aku sedikit takut karena pengalamanku dulu." Glacia melipat bibir dengan ragu.


Namun diam-diam Narendra justru membuang nafas lega. Ia pikir, Glacia mau bertanya soal kejadian di hutan itu.


Narendra tersenyum geli. "Selingkuh maksudmu?"


Glacia berdehem kaku.


"Kau tenang saja. Saat ini tak ada wanita yang menarik perhatianku sebesar kamu."


Andai Glacia tahu, dialah yang berhasil mengalihkan dunia Narendra, juga yang membuatnya memutuskan meninggalkan dunia gelap Wiranata. Tapi, Glacia juga yang membuatnya kembali pada dunia gelap itu.


Glacia merengut dan bergumam sendiri. "Saat ini? Berarti saat-saat ke depannya ...?"


Narendra yang mendengar celetukan halus itu kontan terkekeh. Ia mencubit hidung Glacia gemas. "Tetap tidak ada, Sayang."


Perlakuan Narendra barusan membuat Glacia tergemap. "A-apa kau bilang?"


"Hm?" Narendra mengangkat alis.

__ADS_1


"Itu, anu— emph." Glacia bungkam karena Narendra menjejalinya potongan melon, hingga ia hanya mampu mengerjap, memperhatikan Narendra yang lagi-lagi tertawa.


Sial! Berani sekali lelaki itu mempermainkannya!


__ADS_2