
Glacia sangat malu. Beruntung Narendra tak segila yang ia pikir. Tapi tetap saja ini menyebalkan karena Glacia terbiasa mandi bersama Wina maupun Weni. Mereka kerap membantunya jika Glacia mengalami kesulitan, semisal mengambil shampo, sabun, sikat gigi dan lain sebagainya.
Tapi kali ini Glacia harus mengandalkan dirinya sendiri karena tak ada Weni maupun Wina, yang ada justru Narendra. Entah pria itu masih menunggu di luar atau bahkan sudah pergi. Sebenarnya Glacia berharap Narendra sudah pergi dari kamarnya.
Entahlah, rasanya canggung sekali, mandi di kamar mandi milik orang.
"Aish, ini menyebalkan. Kenapa dia begitu pelit tidak memperbolehkan Wina dan Weni masuk?" gerutu Glacia sembari menggosok tubuhnya dengan sabun.
Sebelumnya ia sudah bersusah payah melepas pakaiannya sendiri karena Glacia tidak mungkin meminta bantuan Narendra dalam hal tersebut. Meski mereka suami istri, keduanya belum pernah sekalipun bertelanjang satu sama lain.
Sial, apa yang Glacia pikirkan.
Glacia cepat-cepat membasuh dirinya hingga selesai. Namun selanjutnya ia dibuat bingung karena tak membawa pakaian. Handuk saja Glacia belum memakainya dengan benar karena minimnya ruang gerak.
Ya Tuhan, tidak mungkin Glacia memanggil Narendra untuk masalah ini.
Dengan pelan Glacia mengarahkan kursi rodanya ke arah pintu kamar mandi. Glacia mencondongkan tubuh, menempelkan telinga pada daun pintu. Sepi, apa Narendra tidak di kamarnya?
"Naren?" panggil Glacia setengah berbisik.
Sayangnya dugaan Glacia salah, pria itu langsung berdehem begitu mendengar suara Glacia yang sepelan angin.
"Kau sudah selesai?" Suara langkah kaki yang mendekat sontak membuat Glacia ketar-ketir.
"I-iya. Tidak bisakah kau biarkan Wina atau Weni membantuku?" cicitnya memohon. "Aku ... sedikit kesulitan, dan ... tidak bawa pakaian," lanjutnya malu.
Sesaat tak ada suara dari luar sana. Begitu hening hingga Glacia hampir menganggap Narendra telah pergi.
"Pakaianmu sudah di sini. Kau ingin aku membantumu?"
Mata Glacia membelalak. Rupanya lelaki itu masih pada pendiriannya yang tak ingin memasukkan orang lain ke dalam kamar. Astaga, kenapa hidupnya repot sekali? Bahkan Glacia tak habis pikir saat mengetahui Narendra selalu membersihkan kamarnya seorang diri.
Bahu Glacia meluruh lesu. Bagaimana sekarang? Ia tidak pakai baju, dan tidak bisa memakainya sendiri. Menerima bantuan Narendra sangatlah tidak mungkin. Keluar kamar mandi dengan keadaan seperti ini juga lebih tidak mungkin.
"Kau sudah selesai, kan? Keluarlah, atau biarkan aku masuk," ucap Narendra.
__ADS_1
"Kau gila, ya?! Tidak mau!" seru Glacia menolak.
"Ya sudah. Aku juga tidak mau kamarku dimasuki orang lain."
"Tapi kau mengizinkanku masuk, bahkan mandi di sini?" tantang Glacia sekaligus heran.
Narendra tak menjawab. Sementara Glacia berusaha membenahi letak bathrobe-nya yang berantakan, bahkan pahanya tak tertutup sempurna. Kaki sialan, ini begitu merepotkan.
Tahu begini harusnya tadi Glacia memilih tidak mandi saja. Biar saja ia kegerahan sampai sore. Tapi Glacia tidak nyaman dan rasanya ingin uring-uringan karena lengket dan gatal.
"Perlu bantuan atau tidak?" Suara Narendra kembali terdengar.
Glacia pun membuang nafasnya panjang. "Jelas saja aku perlu bantuan, tapi kau bahkan tidak mengizinkan pelayanku masuk," kesalnya.
"Aku bisa membantumu. Tidak perlu malu. Keluarlah."
"Kemarikan saja bajunya," elak Glacia.
Tampaknya Narendra membuang nafas di luar sana. Hingga akhirnya ia pun menyetujui keinginan Glacia. "Buka pintunya."
Pelan tapi pasti Glacia membuka pintu hingga menyisakan celah kecil seukuran tangan orang dewasa. Tak lama tangan Narendra pun terulur menyerahkan lipatan baju lengkap dengan baju dalamnya.
"Terima kasih," ucap Glacia sambil buru-buru menutup pintu. Hampir lengan Narendra menjadi korban jika saja lelaki itu tak menariknya cepat.
Glacia memakai bra dan yang lainnya dengan hati-hati dan penuh konsentrasi. Meski ia mengalami kesulitan dalam memasukkan celana intim, tapi syukurlah ia bisa walau dengan banyak drama.
Sedikit-sedikit Glacia sudah mulai bisa menggerakkan kakinya meski tak begitu intens. Setidaknya berpakaian tak sesulit menaikkan resleting. Benar, masalah Glacia selanjutnya ada di resleting baju bagian belakang. Ia memaki siapa saja yang sudah memilihkan dress model begini untuknya.
"Sialan. Apa tidak ada dress lain yang lebih simpel? Kenapa juga ini resletingnya harus sampai ke bawah punggung?" Akibatnya Glacia kesulitan dan hanya bisa menariknya setengah jalan.
Tiba-tiba suara Narendra terdengar. "Glacy? Jangan terlalu lama, nanti kedinginan."
"Peduli apa kau, sialan," maki Glacia dalam hati.
Ia masih berusaha menaikkan resleting bajunya hingga akhirnya Glacia menyerah juga. "Aarrgghh menyebalkan!!!" jeritnya sangat pelan.
__ADS_1
Karena tidak mau terlalu lama terjebak di dalam kamar mandi, alhasil mau tak mau Glacia membuka pintu perlahan, dan berusaha membuang ego untuk meminta bantuan Narendra.
Narendra memandang Glacia dari atas ke bawah. Rambut wanita itu basah. Pakaiannya belum begitu rapi, terlebih di bagian bokong dan paha. Narendra bisa dengan jelas menyaksikan kulit putih Glacia yang terlihat sempurna.
"I-itu ..."
"Ada apa? Kau butuh bantuan?" tanya Narendra pengertian.
Glacia meringis, menunduk dan berusaha menarik dress-nya suapaya lebih menutupi paha. Ia malu, benar-benar malu. "Hanya sedikit. Aku tidak bisa menaikkan resleting," ucapnya pelan.
Narendra mengangguk paham. Ia pun lekas mendekat dan serta-merta mencondongkan tubuh hingga mengurung Glacia yang terduduk di kursi roda.
"A-apa—"
Belum sempat Glacia memprotes, ia mendapati Narendra tengah menarik resleting bajunya di belakang. Hanya saja, kenapa pria itu tidak berdiri di belakang Glacia saja? Kenapa harus dari depan seolah terkesan memeluknya?
Selesai masalah resleting, Narendra kini berdiri menatapnya sesaat. Glacia mendongak, balas menatap lelaki itu bingung. Ia menunggu apa yang hendak Narendra lakukan selanjutnya.
Rupanya pria itu berusaha membantu Glacia berdiri. Naren memeluk Glacia, mengangkat tubuhnya hingga kini mereka berhadapan satu sama lain.
Lengan pria itu melingkari punggung serta pinggang Glacia erat, berupaya menahannya agar tidak jatuh.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Glacia gugup. Rasanya ini interaksi paling intim antara dirinya dan Narendra.
Alih-alih menjawab, Narendra justru diam saja. Namun tangannya bergerak merapikan bagian bawah dress yang dipakai Glacia.
Anehnya Narendra tak lantas melepaskannya. Kini mereka terdiam dalam hening dengan pikiran masing-masing. Glacia menelan ludah, tanpa sadar ia tengah merasa gugup hingga tak menyadari tangannya meremas kemeja bagian dada milik Narendra.
Entah hanya perasaan Glacia atau memang Narendra sengaja memeluknya lama. Belum lagi Glacia merasa hembusan nafas juga sentuhan ringan ujung hidung Narendra di lehernya.
Glacia berusaha berpikir rasional. Mungkin saja Narendra tidak sengaja melakukannya.
Jantung Glacia berdetak tak karuan di pelukan Narendra. Pria itu masih menahannya dalam posisi menggantung.
"Apa tidak berat?" bisik Glacia.
__ADS_1
Narendra turut berbisik. "Tidak."
"O-oh." Glacia tidak tahu harus berucap apa lagi, karena ia benar-benar bingung dengan situasi mereka sekarang.