Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
25. Mulai Rumit


__ADS_3

Narendra terdiam saat ia keluar dari lift di ruang makan. Lagi dan lagi Glacia mengundang Lizy untuk sarapan bersama mereka. Entah apa yang wanita itu pikirkan, dan lagi kenapa Lizy mau-mau saja menerima undangan tak jelas dari Glacia.


"Naren, kau sudah bangun?" tanya Glacia. Tak pelak senyum wanita itu membuat suasana terasa lebih cerah. Biasanya Glacia selalu marah-marah pada siapa pun, dan tidak ada hari untuk tidak bersikap ketus atau berteriak.


Tapi hari ini berbeda, Glacia seolah penuh aura yang membuatnya kehilangan figur antagonis yang melekat. Orang yang baru mengenalnya tak akan percaya bahwa sebelumnya dia adalah iblis wanita.


Narendra mengangguk, lalu mendekat dan duduk di antara dua wanita tersebut. Ia memperhatikan kudapan yang tersaji di hadapan Glacia dan lantas mengernyit. "Bukankah dokter bilang untuk tidak dulu makan kacang-kacangan?"


Glacia mengerjap, ikut memperhatikan kudapan di depannya. Mengerti akan kebingungan Glacia, Narendra pun berkata lagi. "Puding itu terbuat dari kacang."


"O-ohh ... iyakah? Aku ... tidak tahu. Lizy yang membawa ini," tutur Glacia sedikit terbata.


Sontak hal itu membuat Narendra menoleh pada Lizy. Wanita itu gelagapan ditatap oleh Narendra. "Aku tidak tahu Glacia tidak boleh makan kacang." Ia lalu beralih pada Glacia. "Maaf, Glacy. Aku benar-benar tidak tahu. Kau tidak perlu memakannya. Sekali lagi maafkan aku," ucapnya menyesal.


Glacia mengangguk sambil tersenyum. "Its okay. Tidak apa-apa. Sebenarnya aku sangat penasaran dengan rasanya, hehe."

__ADS_1


"Tidak boleh." Narendra segera menyingkirkan puding tersebut dari hadapan Glacia. Hal itu tak lepas dari perhatian Lizy.


"Kenapa? Sedikit saja kurasa tak akan jadi masalah."


"Jangan membantah. Ini untuk kebaikanmu sendiri."


Glacia merengut, hal tersebut tanpa sadar membuat Narendra terpaku menatapnya. Namun sepertinya ia lupa bahwa Lizy melihat itu semua. Interaksi Narendra dan Glacia tak lepas dari pengamatan wanita itu.


Lizy tersenyum teduh menatap Glacia. "Benar, Glacy. Kau tak perlu memakannya hanya untuk menghargaiku. Aku membawa puding itu karena dulu Narendra sangat menyukainya. Kupikir kalian sering membuatnya."


Entah kenapa suasana mendadak hening. Glacia meringis canggung disertai tawa kecil yang terkesan dipaksakan. Ia melirik Narendra yang malah acuh tak acuh, lalu pada puding di hadapan lelaki itu. Puding buatan Lizy yang Glacia siapkan sendiri tadi.


"Bagaimana kabar tunanganmu?" Narendra berusaha memecah suasana meski suaranya terdengar datar, seolah ia hanya berbasa-basi melontarkan pertanyaan barusan.


Ternyata Narendra melewatkan kudapan dan langsung menyantap makanan inti. Dan tanpa sadar Glacia menghembuskan nafas yang rupanya sedari tadi ia tahan.

__ADS_1


Lizy terlihat kecewa karena Narendra tak memakan puding buatannya, namun ia lantas tersenyum menjawab pertanyaan lelaki itu. "Seperti biasa, Rafael selalu disibukkan dengan berbagai kegiatan di rumah sakit," ucapnya kalem.


Rafael Adiwangsa, dia juga termasuk putra seorang konglomerat. Keluarganya adalah pemilik jaringan rumah sakit terbesar di Indonesia. Tak salah Lizy mendapatkannya, mungkin keduanya terlibat hubungan bisnis antar keluarga. Itu sedikit selentingan yang Glacia dengar.


Glacia tersenyum mendengar perbincangan Narendra dan Lizy. Sepertinya rencana Glacia yang ingin membuat kedua insan itu berinteraksi mulai berhasil.


Tapi itu sebelum Glacia sendiri yang mengacaukannya.


"Nyonyaaa!!!"


Trang!


Suara sendok yang terjatuh mengiringi ambruknya tubuh Glacia. Ia pingsan dan hampir limbung menghantam lantai jika saja Narendra tak segera menangkapnya.


Wajah Glacia pucat dan terasa dingin. Seberkas darah juga mengalir dari hidungnya.

__ADS_1


"Glacy?"


Panggilan Narendra terdengar samar. Glacia hanya ingat ekspresi cemas Narendra sebelum kesadarannya benar-benar menghilang.


__ADS_2