Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
123. Liburan


__ADS_3

Delapan bulan kemudian.


Narendra berjalan di bandara dengan langkah terburu-buru. Di belakangnya, Julian mengikuti sambil menyeret koper milik pria itu. Penampilan Narendra masih sangat kusut. Lengan kemejanya tergulung hingga siku, pun dua kancing teratasnya sudah terlepas.


Wajahnya sama sekali tidak santai. Ia baru saja melakukan perjalanan hampir satu hari satu malam di pesawat. Tubuhnya yang lelah tak ia hiraukan, yang ia pikirkan hanya Glacia yang sudah menunggu selama berjam-jam.


Usai meeting jam 10 kemarin, Narendra langsung melakukan penerbangan ke Islandia, menyusul Glacia yang sudah lebih dulu berangkat dua hari yang lalu.


Sebetulnya ini di luar rencana. Awalnya Narendra dan Glacia akan berangkat bersama, namun niatan itu terpaksa urung karena tiba-tiba ada masalah di kantor.


Akhirnya Narendra harus rela membiarkan Glacia pergi sendiri. Padahal Narendra sudah menyarankan agar wanita itu menunggu, supaya mereka bisa berangkat sama-sama ke negara tersebut.


"Tuan, mantelnya dipakai dulu. Udaranya lebih dingin dari perkiraan kita." Julian berseru sambil membentangkan sebuah mantel panjang, menyelimuti bahu Narendra.


Narendra berhenti sejenak. Ia bahkan lupa caranya berpakaian yang benar. Setidaknya ia sudah ganti baju di pesawat, kemarin. Narendra tak ada waktu untuk merapikan diri lagi setelah bangun tidur.


Ia khawatir karena sedari kemarin Glacia jarang sekali membalas telepon serta pesannya. Wanita itu pasti merajuk, dan Narendra harus segera memikirkan cara untuk meredakan kekesalan istrinya itu.


"Tuan, mobilnya di sana." Julian mengarahkan langkah Narendra yang salah.


Narendra membuang nafas, lalu mengikuti Julian memasuki sebuah BMW hitam mewah yang terparkir di depan lobi bandara.

__ADS_1


"Tolong cepat," titah Narendra pada sopir mereka, menggunakan bahasa Inggris.


Sopir itu mengangguk, lantas mobil pun melaju meninggalkan tempat penerbangan tersebut.


Narendra mencoba menghubungi Glacia lagi, ia bersyukur kali ini wanita itu menerima panggilannya.


"Sayang?" serbu Narendra cepat.


"Hmm." Glacia hanya terdengar bergumam, terkesan malas menerima telepon Narendra.


Narendra menelan ludah sebentar sebelum melanjutkan. "Aku sudah sampai. Sekarang dalam perjalanan ke hotel. Kamu di mana?"


Sontak kening Narendra berkerut dalam. Ia melirik pada Julian yang seketika meringis meminta maaf. Asistennya itu berkata tanpa suara. "Maaf, Tuan. Saya tidak tahu."


Sial. Narendra berdecak dalam hati. Bisa-bisanya Julian melewatkan informasi ini. Apa saja yang dia lakukan saat tersambung pada pengawal-pengawal Glacia di sini?


"Tidak di hotel? Lalu, kamu di mana? Sudah sarapan? Glacy, ingat kata dokter, kurangi aktifitas kamu mulai sekarang. Kamu sedang hamil, Sayang."


Dengusan terdengar dari seberang sana. "Ayolah, Naren. Aku tahu aku sedang hamil, tapi bukan berarti aku harus diam terus di kamar, menunggu kamu yang tidak datang-datang. Kamu pikir aku tidak bosan? Apalagi kamu terus mengundur keberangkatan. Sudahlah, aku sedang kesal padamu."


Glacia memutus sambungan begitu saja, membuat Narendra meraup rambutnya kasar. Ia sudah lelah, dan sekarang harus sabar menghadapi wanita hamil yang emosinya sering tak menentu.

__ADS_1


Benar, Glacia sedang hamil. Usia kehamilannya kini menginjak trimester dua. Narendra senang bukan main saat pertama tahu kabar bahagia tersebut. Ia bahkan masih ingat tangisan harunya saat Glacia menunjukkan testpack dengan garis dua. Mereka juga memastikan ke dokter, dan hati Narendra semakin membuncah ketika dokter membenarkan.


Glacia tidak pernah ngidam macam-macam. Ia makan apa pun yang ia mau, nafsu makannya cenderung meningkat hingga porsinya dua kali lipat lebih besar dari biasanya.


Baru sekarang Glacia memaksa ingin jalan-jalan ke Islandia. Wanita itu sangat ngotot hingga Narendra tak punya alasan untuk menolak. Sebenarnya Narendra khawatir kalau Glacia harus melakukan penerbangan saat hamil, terlebih perjalanan jauh ke luar negeri.


"Berapa lama lagi kita sampai?" tanya Narendra.


Julian menoleh sebentar pada sopir, lalu menjawab. "Sekitar 15 menit lagi, Tuan."


Oke, Narendra hanya perlu sabar selama 15 menit. Dalam waktu sesingkat itu ia juga harus memikirkan bagaimana cara membuat Glacia mengerti.


Padahal, Glacia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Awalnya Narendra sempat heran, karena Glacia tidak semerepotkan ibu hamil kebanyakan yang sering diceritakan orang.


Wanita itu cenderung lebih tenang, tak pernah menuntut apa pun pada Narendra. Sekalinya punya keinginan, ia ingin ke Islandia. Benar-benar menakjubkan, setidaknya Narendra merasakan sulitnya menuruti kemauan wanita hamil.


Makanya, meski sesibuk apa pun, Narendra tetap mengusahakan untuk memenuhi keinginan Glacia, termasuk mengundur semua jadwal setelah rapat terakhirnya kemarin.


Narendra melirik arloji di tangannya. "Masih ada waktu setengah jam. Glacy biasa sarapan pukul tujuh. Cari cafe atau toko roti yang sudah buka. Kita mampir dulu sebentar," titahnya kemudian. Ia lalu beralih pada Julian yang duduk di kursi depan samping sopir. "Tanya pengawal kita soal lokasi Glacia sekarang. Kita langsung ke sana setelah ini."


"Baik, Tuan."

__ADS_1


__ADS_2