
"Naren?" bisik Glacia pelan. Narendra baru saja mematikan lampu atas permintaan Glacia. Glacia memang kerap tidur dalam keadaan remang, tak jauh berbeda dengan dirinya maupun kebanyakan orang.
"Ya?" Narendra mendekat dan duduk kembali di tepian ranjang. Ia sedikit membenarkan selang infus Glacia yang terlihat kelut-melut tak karuan. "Tangan kamu berdarah. Sakit?"
Narendra melihat sedikit darah di sela bagian ujung selang dekat jarum. Glacia menggeleng pelan. "Sedikit pegal. Tapi tidak apa-apa, itu wajar."
"Harusnya kamu jangan terlalu banyak bergerak, ini bisa saja bengkak saat dilepas nanti."
Glacia diam. Sementara Narendra masih menyentuh tangannya yang terpasang infus. Mereka sama-sama larut dalam keheningan ketika Glacia memulai kembali pembicaraan. "Soal Lizy ..."
Narendra menunggu ucapan Glacia yang menggantung.
"Ini semua salahku, kan?" lanjut wanita itu pelan.
"Maksudnya?" Narendra berkerut dalam.
Glacia melipat bibirnya sebentar, lalu menatap Narendra dengan gusar. "Sebelumnya ... aku yang sengaja mendekatkan kalian. Mungkinkah Lizy marah karena aku terkesan memberinya harapan, sementara aku sendiri tak kunjung melepasmu sepenuhnya? Aku ..."
Narendra tetap diam berusaha mendengarkan. Ia menatap wajah pucat Glacia lekat, terutama pergerakan bibirnya yang entah kenapa Narendra betah menatapnya begitu lama.
"Aku tidak punya pendirian," dengus Glacia menyindir dirinya sendiri. "Aku berlagak mau memberikanmu pada wanita lain, tapi hatiku sakit sendiri melihat kalian bersama. Padahal aku yakin, aku tidak memiliki perasaan padamu."
Kalimat terakhir Glacia memang tak enak didengar oleh Narendra, tapi ia berusaha dewasa karena di sini Glacia yang paling sulit menyadari hatinya.
"Kapan aku pernah bersama Lizy?"
Mata Glacia menyipit. "Bukankah kalian pernah pacaran?"
"Selain itu?"
Kini Glacia mengerjap, ia terlihat kesulitan menjelaskan. "Aku sering melihat kalian berdua."
"Kau yang membuat situasinya jadi seperti itu," sanggah Narendra.
Benar, sih.
"Tapi waktu di pesta, kalian juga bersama! Sampai kau lupa aku ..." Suara Glacia semakin mencicit dan hilang.
__ADS_1
Ia nampak merenung sebelum kemudian bungkam meminta maaf. Namun tanpa diduga justru Narendra terlihat merasa bersalah. Sorot matanya menyiratkan penyesalan yang cukup jelas Glacia lihat.
Narendra kemudian menunduk. Helaan nafas berat terdengar dari hidungnya. Ia kembali mendongak menatap Glacia teduh, pun tangannya terulur menyentuh wajah wanita itu. "Untuk masalah yang itu, aku benar-benar minta maaf. Permintaan maafku memang tidak cukup untuk menghapus segala kenangan burukmu, juga rasa sesalku yang sampai sekarang masih menjalar membuat hatiku tak tenang."
"Mungkin aku tidak tahu malu dengan terus meminta kesempatan padamu. Aku ingin memperbaiki semua yang terjadi di antara kita," lanjut Narendra. "Kamu tidak perlu berusaha untuk menerimaku, aku yang akan berusaha membuatmu menerimaku. Kita jalani ini sama-sama. Aku akan menunggu sampai hatimu terbuka sepenuhnya untukku."
"Dan untuk masalah Lizy, rencanamu untuk mendekatkanku dengannya memang salah, tapi Lizy juga salah karena berharap padaku yang sudah jelas berstatus suami orang, meski istriku sendiri yang pertama mengundangnya."
Glacia terdiam. Narendra benar, di sini memang Glacia yang salah.
"Kesalahanmu bukan hanya itu, Glacia," lanjut Narendra. "Dengan kamu berencana membuat hubunganku dan Lizy kembali, kamu sama saja menghancurkan hubungan lainnya. Hubunganku dan kamu, hubungan Lizy dan Rafael. Asmara terlarang seperti itu hanya akan merusak segala hal, dan lebih-lebih menimbulkan petaka yang tak diduga. Kamu harus ingat, bahwa Tuhan membenci perselingkuhan. Perbuatanmu sama saja mendukung pengkhianatan."
"Aku ..." Glacia tak dapat berkata-kata.
Narendra membuang nafas panjang, tangannya terulur mengusap kening Glacia pelan. "Berhenti memikirkan sesuatu yang rumit. Berpikirlah bagaimana kamu akan sembuh ke depannya."
"Naren, kenapa kamu sangat baik padaku?" Tanya Glacia tiba-tiba. Matanya menatap tepat di pupil Narendra. "Kamu juga bilang ... kamu mencintaiku? Kenapa? Bukankah selama ini aku selalu jahat padamu? Aku bahkan tidak pernah menghormatimu sebagai suami. Aku memperlakukanmu semena-mena, aku juga menganggap kamu bawahan Papa yang tidak harus kuhargai."
"Dengan semua perlakuan burukku, kenapa kamu selalu menolak bercerai? Apa yang membuatmu tahan bersamaku?"
Hening. Narendra tidak menyangka Glacia akan bertanya mengenai hal sensitif itu sekarang. Kenapa? Ia pun tak tahu kenapa harus bertahan dengan wanita seperti Glacia. Narendra benci pengkhianatan, Narendra benci diperlakukan buruk oleh seseorang, ia tidak suka ketika orang lain memandangnya lemah. Tapi, kenapa dengan Glacia semuanya berbeda?
Jika itu yang dinamakan cinta, bukankah sudah jelas jawabannya?
"Aku rasa kita sudah pernah membicarakan ini. Kamu dan aku sama-sama paham perasaan masing-masing," tukas Narendra disertai senyum kecil.
Glacia mencibir lalu membuang muka. Dengan suara pelan dan hampir tak terdengar ia pun bergumam. "Aku hanya ingin mendengar pernyataan cintanya lagi. Siapa yang tahu dia begitu pelit."
Glacia tidak sadar bahwa kini Narendra menatapnya geli. Ia mengangkat alis berusaha untuk tidak tersenyum melihat sikap Glacia yang menurutnya menggemaskan.
Tiba-tiba ... Cup.
Jantung Glacia seolah berhenti berdetak merasakan sentuhan halus di sudut bibirnya. Meski hanya sebentar dan sekilas, tapi hal itu berdampak panjang untuk Glacia.
"K-kau ..."
Narendra tersenyum menatapnya. Ia baru saja mencondongkan tubuh mengecup sisi bibir Glacia. Mengabaikan Glacia yang tengah dilanda gugup, ia menyuruh wanita itu segera tidur.
__ADS_1
Tapi, bagaimana mau tidur, sementara Narendra sendiri baru saja membuat kekacauan di hatinya.
***
Lantaran Glacia tak kunjung tidur, dokter menyuntikan sedikit obat ketika jadwal pemeriksaan terakhir. Alhasil sekarang wanita itu terlelap damai setelah berpuluh menit berperang dengan perasaannya sendiri.
Narendra menghela nafas melihat Glacia yang terlelap. Tangannya kembali mengusap permukaan keningnya yang pucat. Namun, Narendra dibuat mematung saat ia tanpa sengaja menyentuh rambut Glacia yang rontok.
Narendra langsung menjauhkan tangan ketika beberapa helai panjang itu tersangkut di jari-jemarinya. Bergeming, ia pun menelan ludah kasar sambil kembali mengamati Glacia.
Berusaha menahan kekhawatiran yang seketika melanda, Narendra pun membungkuk mengecup kening Glacia sembari berbisik. "Tidur yang nyenyak."
Ia menjauhkan kembali tubuhnya, dan tepat ketika itu ponselnya pun berbunyi. Karena takut membangunkan Glacia, Narendra segera mengangkat panggilan tersebut yang ternyata dari Julian.
"Halo, Tuan?"
"Halo," bisik Narendra, berjalan sedikit menjauh dari ranjang pasien. Narendra berdiri di tepi jendela dengan satu tangan terselip di saku. Ia siap mendengarkan Julian, meski matanya sesekali melirik Glacia. "Ada yang kamu temukan?" tanya Narendra tanpa basa-basi.
"Ada, Tuan. Saya baru saja mendapatkan sesuatu tentang Nona Eliza**."
Narendra menunggu.
"Nona Eliza ..."
Julian mengatakan sesuatu di akhir kalimatnya yang membuat tubuh Narendra menegak. Ia refleks menoleh pada Glacia yang tidak ada pergerakan di atas ranjang. Wanita itu tidur sangat lelap.
Narendra pun mengeluarkan tangannya dari saku dan mulai berderap menuju pintu keluar. "Kau di mana sekarang?"
Ia menutup pintu dengan pelan, dan pengawal di luar langsung membungkuk begitu ia lewat. Narendra berpesan pada mereka untuk menjaga Glacia selama ia pergi.
Dengan tegap ia berjalan menjauhi ruangan Glacia, memasuki lift dan turun ke lantai bawah sambil terus mendengarkan penjelasan Julian di balik telepon.
Akan tetapi, tak berapa lama setelah Narendra menghilang dan koridor kembali sepi nan hening, tiba-tiba saja kehadiran seseorang berpakaian hitam yang bersembunyi di sela lorong gelap menarik perhatian para penjaga di sana.
"Hey! Siapa kau?!"
Dengan cepat orang tersebut berlari menjauh. Sontak para pengawal Glacia pun mengejarnya tak kalah cepat. Mereka berpencar di beberapa persimpangan koridor karena orang tersebut turun melalui tangga darurat.
__ADS_1
Suasana di beberapa lantai seketika berubah tegang, tim keamanan rumah sakit pun ikut turun tangan mencari seseorang mencurigakan itu.
Namun, mereka tidak sadar satu orang lainnya keluar dari sebuah keremangan, lalu masuk dengan mudah ke ruangan Glacia.