Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
15. Hujan Petir dan Terkilir


__ADS_3

"Kenapa Papa tidak membiarkanku tinggal di mansion saja? Aku benar-benar tidak nyaman di sini," keluh Glacia.


Minggu ini Yohanes berkunjung ke rumah Glacia dan Narendra. Pria itu tampak santai dengan pakaian casualnya, berbeda dari hari-hari biasa yang selalu formal dan kaku.


Yohanes tersenyum menatap putrinya, tangannya terulur mengusap surai hitam Glacia yang tertata rapi. Sang putri memang selalu cantik, meski dalam keadaan tidak sempurna seperti sekarang.


"Kamu seorang istri. Di mana-mana istri harus mengikuti suaminya."


Itu lagi. Glacia muak mendengar alasan yang sama.


"Meski tidak bahagia sekalipun?"


Sayangnya Yohanes tetap mengangguk. Glacia mendelik membuang pandangannya. Entah itu Narendra atau Yohanes, keduanya sama-sama senang mempersulit keinginan Glacia.


Tak lama Narendra muncul bersama Dokter Teresa. Glacia baru saja menyelesaikan jadwal terapinya hari ini. Pria itu mengangguk formal pada dokter tersebut, yang dibalas hal serupa oleh Dokter Teresa. Dokter Teresa kemudian berpamitan pada Yohanes dan juga Glacia. Wanita baya itu memandang Glacia lembut dengan senyum meneduhkan.


"Hari ini anda hebat. Jika anda terus semangat, kemungkinan untuk cepat sembuh pasti ada," ucapnya sebelum benar-benar pulang.


Glacia hanya bisa termenung mendengarnya. Ia tahu Dokter Teresa hanya berniat menghibur, karena nyatanya Glacia belum merasakan perubahan apa pun.


"Papa juga harus pergi. Kamu baik-baik di rumah bersama Narendra ya, Sayang? Sesekali coba hormatilah suamimu." Kali ini Yohanes yang berpamitan. Ia berkata sambil sekilas melirik Narendra yang berdiri di belakang Glacia.


Glacia membuang matanya malas. Yohanes pun berdiri setelah mengusap rambut putrinya, mengecupnya singkat sebelum kemudian menepuk bahu Narendra dengan hangat. "Papa titip Glacy, ya?"


Narendra mengangguk segan. Setelah itu Yohanes pun benar-benar pergi meninggalkan ia dan sang istri berdua.


Semua orang pergi, dan rumah pun kembali terasa sepi. Narendra menunduk pada Glacia yang duduk di kursi rodanya, wanita itu juga nampak bungkam seperti dirinya.


Tak berapa lama Wina dan Weni datang menghampiri mereka. "Nyonya ingin makan sesuatu?" tanya salah satunya.


Glacia berkata sembari mulai menjalankan kursi rodanya. "Aku ingin cokelat panas, bawa ke sun house seperti biasa."


"Nyonya akan pergi ke sana?" tanya Wina.

__ADS_1


Glacia mendelikkan matanya hingga membuat Wina langsung bungkam. "Akan segera saya buatkan, Nyonya." Ia cepat-cepat berlalu ke dapur guna menyiapkan cokelat panas permintaan Glacia.


Sementara Weni menemani Glacia menuju rumah kaca. Sebelum itu ia membungkuk pada Narendra, lalu keduanya menghilang meninggalkan Narendra yang lagi-lagi bergeming dalam kesepian.


Pernikahan yang terasa amat dingin. Entah sampai kapan mereka bisa menumpangi perahu yang sejatinya tak tahu hendak menuju ke mana.


***


Hari beranjak malam. Hujan deras mengguyur ibu kota bersama petirnya yang maha dahsyat. Kilat-kilat cahaya berlomba menunjukkan aksinya di luar jendela, membuat seorang wanita ketakutan bergelung di balik selimutnya.


Dia adalah Glacia. Wanita itu menggigil dengan jantung berdebar berusaha memejamkan mata. Guntur menggelegar layaknya bom di atas langit, suara hujan dan angin turut berisik menempati kebisingan.


Duaarr!!!


Jdeerrr!!!


Glacia mencicit menyembunyikan wajahnya, ia tak mau melihat jendela maupun cermin yang berkilat-kilat menakutkan. Ia menyesal sebelumnya memerintahkan Wina mematikan lampu, karena memang Glacia terbiasa tidur dalam keadaan gelap.


Glacia hanya bisa berharap dapat tidur nyenyak meski mustahil, karena saat ini ia benar-benar ketakutan hingga menggigil dan berkeringat dingin.


"Papa ..." lirih Glacia.


Ia menurunkan sedikit selimutnya hingga menciptakan celah. Mata Glacia mengedar mencari-cari kursi rodanya. Tidak bisa, meski letaknya dekat, Glacia tak bisa memindahkan sendiri tubuhnya ke sana.


Ia ingin mencari remot untuk menyalakan lampu, tapi petir lagi-lagi mengurungkan niatnya dengan gelegar mengejutkan.


Glacia berusaha tidur kembali namun sulit. Pada akhirnya ia pun memutuskan bangkit dan berusaha menggapai kursi rodanya yang berada di ujung ranjang.


Glacia menyeret tubuhnya susah payah. Ia berhasil meraih pegangan kursi roda miliknya. Namun nahas, ketika Glacia hendak menurunkan tubuhnya ke sana, ia malah terjatuh hingga tergeletak mengenaskan di lantai.


Glacia menjerit kesakitan karena merasakan tangannya terkilir. Tak bisa berbuat apa-apa, Glacia hanya bisa menangis sesenggukan membenamkan wajahnya di lantai.


Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka sedikit kasar. Seberkas cahaya menyeruak dari luar bersamaan siluet seseorang yang berdiri menjulang di sana.

__ADS_1


Glacia mengerjap di antara air matanya. Bayangan itu berlari mendekat hingga samar-samar Glacia bisa mengenali wajahnya yang diselimuti kecemasan.


"Glacy!"


Narendra langsung berlutut dan meraih tubuh Glacia yang terkapar di lantai. Ia mengangkat sang istri kembali ke atas ranjang lalu menyalakan lampu hingga kini kamar tersebut terang-benderang.


Narendra bisa melihat wajah Glacia yang sembab dipenuhi air mata. Wanita itu menangis sesenggukan sambil memegangi tangan kanannya. Narendra melihat itu membiru, ia pun mendekat dan duduk di pinggir ranjang, meraih tangan Glacia yang ia duga telah terkilir, sangat parah karena langsung membengkak.


Narendra meraih telepon rumah di nakas samping ranjang, menghubungi Wina yang syukurnya segera cepat tanggap. "Bawa kompres dingin ke kamar Nyonya. Sekarang."


Narendra menyimpan kembali telepon itu, lalu memusatkan pandangan pada Glacia yang terisak kesakitan. "Sakiiit ... hiks."


Narendra menelan ludah, tanpa sadar tangannya mengepal hingga tak lama pintu terbuka menampilkan Wina. Wanita itu membawa apa yang Narendra minta.


"Ini, Tuan. Nyonya kenapa?" Wina menyerahkan kompres tersebut pada Narendra sembari memperhatikan Glacia yang menangis sesenggukan. Ia baru tahu jawabannya ketika Narendra menempatkan kompres itu di tangan Glacia.


"Astaga, tangan Nyonya kenapa?" Rasa kantuk bangun tidur seketika berganti cemas.


Wina juga melihat kekhawatiran itu di wajah Narendra. Lelaki itu dengan telaten mengompres tangan Glacia. Sang nyonya tak kunjung berhenti menangis karena kesakitan.


"Panggil Pak Ramlan. Suruh dia kemari. Cepat," titah Narendra selanjutnya.


Sontak Wina langsung mengangguk dan bergegas keluar untuk mencari seseorang yang Narendra maksud. Pak Ramlan adalah tukang kebun di rumah tersebut yang secara kebetulan punya kemampuan mengurut. Mereka para pekerja di sana seringkali mengandalkannya tatkala ada masalah urat, termasuk Narendra sekalipun.


Glacia masih saja uring-uringan. Hujan pun masih mengguyur deras di luar jendela. Petir seakan tak ada niat untuk berhenti melemparkan gelegar suaranya. Glacia ketakutan, Narendra tahu itu.


"Naren, sakiiittt, hiks~"


Untuk pertama kalinya Glacia terdengar merengek memanggil namanya. Narendra sampai terpaku sesaat karena terkejut. Matanya menatap lekat Glacia yang entah sadar atau tidak menggenggam tangan Narendra dengan erat.


Rasa dingin karena memegangi kompres mendadak berubah seperti aliran yang menjalar mengalahkan penghangat ruang.


Memandangi wajah Glacia yang sembab, perlahan Narendra mengarahkan tangan satunya mengusap sudut mata wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2