Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
118. Ajakan Berbincang


__ADS_3

Mereka sudah tiba di Bogor. Sementara Glacia diantar ke hotel, Narendra langsung menuju lokasi proyek bersama Julian.


Glacia ditemani Bu Lulu, perawat pribadi yang satu minggu ini Narendra tugaskan untuk menjaga Glacia, setelah sebelumnya berganti-ganti perawat karena Narendra anggap mereka tidak becus bekerja. Ada saja kejadian di mana Glacia jatuh dan semacamnya saat latihan berjalan.


"Nyonya, teh hangatnya." Bu Lulu menyodorkan cangkir berisi teh hangat tanpa gula di hadapan Glacia yang tengah duduk di single sofa. Di depannya ada meja kopi, juga beberapa majalah turut berserak di sana.


Glacia mengangguk disertai senyum kecil. "Terima kasih. Oh ya, Bu Lulu kalau mau makan, makan saja. Tidak perlu memikirkan saya di sini."


Wanita berusia di atas empat puluhan itu terdiam ragu. Pasalnya, Narendra melarang ia makan selain sayur dan buah di hadapan Glacia.


"Tidak perlu, Nyonya. Saya sudah sarapan tadi," tolak Bu Lulu pada akhirnya.


Glacia membuang nafas samar. Sebenarnya ia sedikit kurang setuju dengan peraturan Narendra yang menurutnya terlalu menyiksa bagi pegawai. Mereka jadi tidak bebas saat di hadapan Glacia.


Tampak sekali sikap segan dan takut itu. Ini hanya masalah makanan, tapi menurut Glacia, Narendra terlalu berlebihan. Padahal Glacia bisa menahan nafsunya terhadap makanan, meski orang lain makan sesuatu yang enak di depannya sekalipun.


Glacia mendongak pada Bu Lulu. "Tadi saya lihat Bu Lulu bawa bekal, dimakan saja. Tidak apa-apa. Untuk masalah suami saya, biar saya yang bicara nanti." Ia menunjukkan camilan sehat miliknya yang dibelikan Narendra. "Lihat, saya juga makan, berarti Bu Lulu juga bisa makan."


"Makan apa pun yang Bu Lulu mau, tidak perlu sayur dan buah, atau makanan sehat seperti saya. Kondisi kita kan beda, jelas kebutuhan tubuh juga beda," lanjut Glacia. Glacia tidak mau ada perawat-perawat lain yang mengaku tidak betah lantaran aturan soal makanan yang diterapkan Narendra.


Hanya karena takut Glacia menelan ludah saat melihat orang lain makan enak, Narendra jadi menetapkan peraturan konyol seperti itu.


Melihat Bu Lulu yang masih bergeming ragu, Glacia pun meraih tangan wanita baya itu sembari menatapnya ramah. "Makanlah, saya tahu Bu Lulu capek. Jangan hiraukan saya. Kalau Bu Lulu tidak nyaman makan di depan saya, Bu Lulu bisa makan di belakang." Ia menunjuk seperangkat sofa tak jauh dari punggungnya.


Sesaat Lulu dibuat terdiam oleh sikap pengertian Glacia. Berbeda dari yang ia dengar tentang majikan arogan dan sombong, Glacia justru lebih terlihat seperti seorang nyonya yang perduli pada bawahan seperti dirinya.


Mungkin, boleh jadi sikap wanita itu dulu tak sebaik sekarang, hal yang memicu banyaknya anggapan mengenai perlakuan yang katanya kerap semena-mena. Tapi, Glacia yang berada di hadapan Lulu sekarang adalah seorang nyonya yang berkelas.


Untuk itu Lulu mengangguk segan, senyumnya terukir tulus menghormati Glacia. "Terima kasih, Nyonya. Jika anda membutuhkan sesuatu, jangan ragu untuk panggil saya."

__ADS_1


Glacia mengangguk. Ia melepaskan tangan perawat itu, mengibaskan tangan agar ia cepat pergi makan di sofa belakang sana. Sementara Glacia, ia meraih ponselnya di meja untuk mengetik pesan pada Narendra. Sesekali Glacia memotret dirinya sendiri sambil tersenyum.


Di tempat lain, Narendra juga tersenyum membaca pesan yang disertai foto dari Glacia. Dengan begini ia bisa tenang. Tak lama Julian datang bersama petugas proyek, membawa helm proyek untuk Narendra pakai selama peninjauan di sana.


Narendra memasukkan ponselnya ke dalam saku, lalu mulai fokus pada tugas dan melupakan sejenak kehidupan pribadinya yang tengah berbunga bersama Glacia.


***


"Hati-hati, Nyonya. Awas ada kerikil." Bu Lulu menuntun Glacia berjalan dengan sangat perlahan. Wanita itu tersenyum karena sejauh ini Glacia hampir lancar berjalan sendiri. Meski begitu, untuk berjaga-jaga ia tetap mendampingi majikannya supaya tidak jatuh.


Glacia sendiri senang, karena akhirnya ia bisa merasakan lagi memakai sandal ketika berjalan. Hal yang dulu sepele namun sangat ia rindukan.


Area tengah gedung hotel itu tersedia taman yang bisa Glacia gunakan untuk membunuh bosan. Ia memutuskan latihan bersama Suster Lulu di sana, karena menurutnya di dalam kamar terus bisa menurunkan mood.


Sementara di pinggir jalan, sebuah mobil terparkir tepat di sebelah pagar yang mengarah pada taman itu. Seseorang memperhatikan mereka dari balik jendela yang tertutup, juga kacamata hitam yang bertengger di antara pangkal hidungnya.


Edward Mou menatap punggung Glacia dengan datar. Bibirnya membentuk garis lurus, sebelum kemudian meminta sopir melajukan mobilnya meninggalkan area tersebut.


Namun Lulu menatapnya ragu. "Tapi, Nyonya ..."


"Sudah, biarkan aku latihan sendiri. Kalau dibantu terus, kapan aku bisa berhenti bergantung pada orang lain?"


Benar juga. Akhirnya Bu Lulu pun melepas pegangan tangannya di lengan Glacia, dengan sangat pelan dan hati-hati. Rautnya waswas mengawasi sang majikan yang kini mencari keseimbangan.


Tangan Glacia terlentang, pun tubuhnya sedikit bergoyang, hampir terhuyung ke sana kemari.


"Nyonya, hati-hati." Bu Lulu memperingati. "Tidak perlu jauh-jauh, Nyonya. Lima langkah saja sudah cukup."


"Iya, berhenti bicara, Bu Lulu. Saya bukan anak kecil yang harus diingatkan setiap menit dan setiap jam."

__ADS_1


"Tapi Tuan Naren menyuruh saya untuk terus mengingatkan anda," balas Bu Lulu.


Glacia membuang nafas. "Lagi-lagi Narendra. Bu Lulu tahu? Suami saya itu sering khawatir berlebihan. Sepertinya dia mengidap sebuah sindrom, entah apa," ucapnya mengendik.


Ia kembali mencoba mengayunkan kaki perlahan-lahan, lalu tersenyum karena langkahnya mulai terasa ringan. "Ini luar biasa," bisiknya senang.


"Itu tandanya Tuan Narendra sangat menyayangi anda, Nyonya. Dia tidak mau anda terluka sedikit pun." Bu Lulu menimpali seraya mengikuti Glacia dengan gerakan siaga, takut-takut wanita muda itu terjatuh secara tiba-tiba.


"Iya, dia memang menyayangiku. Padahal aku sering menyakitinya dulu," gumam Glacia tanpa sadar.


Bu Lulu tersenyum. Rupanya ia mendengar cetusan Glacia yang serupa bisikan itu. "Cinta memang kadang sulit dimengerti. Seseorang kerapkali terkesan bodoh karena mencintai. Mungkin suami anda satu dari sekian pria yang hanya bisa memuja satu wanita. Biasanya, orang-orang seperti ini sebelumnya sangat sulit jatuh cinta. Anda harus bersyukur karena beruntung menjadi pemilik hatinya."


Glacia terdiam, ia berdiri kemudian menoleh pada Suster Lulu. "Tapi, sebelum menikah denganku, dia punya mantan pacar yang sangat gila, sampai-sampai ingin membunuhku karena cemburu. Tidak mungkin ada orang yang sulit jatuh cinta, padahal sebelumnya dia sempat menjalin hubungan dengan seorang wanita, kan? Itu konyol," dengusnya.


Sekali lagi Suster Lulu tersenyum. "Menjalin hubungan bukan berarti melibatkan perasaan, bukan? Siapa yang tahu sebelumnya suami anda hanya memacari, tapi tidak bermain hati."


Glacia mengibas. "Sudahlah, lagipula wanita itu sudah meninggal. Tidak baik terus membicarakannya."


Suster Lulu mengangguk paham. "Maaf."


"Saya ingin duduk, Bu. Bisa bantu saya jalan ke kursi di sana?" tunjuk Glacia pada bangku taman.


Tentu saja Suster Lulu langsung mengangguk lagi. Ia menuntun Glacia pelan-pelan, karena sepertinya wanita itu sudah kelelahan.


"Nyonya, saya mau beli minum, anda tunggu di sini dulu, ya?" ucap Suster Lulu, begitu Glacia berhasil duduk di bangku.


Glacia mengangguk. "Pergilah."


"Oke, Nyonya. Saya janji tidak akan lama." Setelah berkata demikian, Lulu bergegas lari meninggalkan Glacia, guna mencari minum untuk nyonya muda tersebut.

__ADS_1


Tak berapa lama setelah kepergian Suster Lulu, tiba-tiba saja sepasang sepatu berhenti di hadapan Glacia. Glacia mendongak, lantas terdiam mendapati seseorang yang dikenalnya tengah menunduk menatapnya.


"Bisa kita bicara sebentar?"


__ADS_2