
Di sinilah Lizy sekarang. Berlari mengikuti pria tadi setelah mereka berhasil keluar dari banker. Lizy meringis ketika berkali-kali tubuhnya tersayat ilalang. Namun lelaki itu seakan tak perduli dan terus menggerakkan kakinya dengan cepat.
Lizy yang sudah tidak kuat akhirnya limbung. Tubuhnya jatuh menghantam rerumputan di antara rimbunnya alang-alang. Meringis, Lizy mendesis lantaran tubuhnya yang penuh luka kini harus menerima limpahan luka baru dari rumput-rumput tajam itu.
Lelaki itu berhenti berlari, ia berbalik dan seketika berdecak melihat Lizy yang tak berdaya. Tak lama derap kaki yang terdengar banyak bergemuruh dari kejauhan.
"Sial, merepotkan saja. Cepat bangun atau kutinggal! Jika kau tertangkap, mereka akan memenggal kepalamu!" seru si pria tak sabar.
Sementara di sisi lain, sekitar sepuluh orang pria bersetelan hitam berlari memencar di lahan luas penuh ilalang tersebut. Ketika menyadari ada seseorang yang menempelkan sesuatu pada CCTV, mereka bergegas memeriksa ruangan Wina dan Lizy.
Benar saja, salah satu dari mereka sudah lari bersama pria dengan jaket dan topi hitam. Seorang tim yang tetap mengawasi ruang CCTV memberi tahu informasi tersebut, hingga kini mereka saling berpencar mencari dua orang itu.
Salah satu dari mereka berhenti ketika mendengar sesuatu yang mencurigakan dari balik rimbunnya alang-alang. Ia berhenti, lalu berseru pada teman-temannya untuk ikut memeriksa.
Ia melambai sambil memberi isyarat tanpa suara. Dua orang mendekat turut memeriksa. Perlahan dan hati-hati mereka menghampiri sesuatu mencurigakan di balik ilalang tersebut. Lalu, dalam hitungan detik mereka menyibak rerumputan tinggi itu.
Seketika tiga orang itu terperanjat mendengar jeritan kucing. Benar, rupanya yang bersembunyi hanya kucing liar yang kini berlari entah ke mana.
Salah satu dari mereka berdecak, namun tak mengatakan apa-apa selain menyuruh agar kedua temannya segera bergegas mencari Lizy dan penyusup itu kembali.
Di samping itu, Lizy berhasil bangkit setelah dibantu si pria penyusup yang sampai saat ini belum Lizy ketahui identitasnya. Ia menyeret Lizy, tak perduli tangan Lizy penuh luka sekalipun. Kini mereka sudah keluar dari kebun ilalang itu, dan tengah berlari memasuki hutan belantara guna mencapai pinggir jalan yang merupakan jalan keluar satu-satunya.
Setidaknya menurut si pria, karena selama ia mengamati tempat itu, ia hanya menemukan satu jalan tersebut. Mobilnya pun terparkir di sana.
Ketika tengah sibuknya berlari, pria itu tiba-tiba mengajak Lizy berhenti. Tubuhnya tegang dan waspada hingga membuat Lizy ikut siaga.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Lizy.
Lelaki itu menaruh telunjuknya di depan bibir. "Shhhtt." Ia sedikit melirikkan matanya mengedar, sambil bergerak berputar secara perlahan.
Sementara Lizy, ia menunduk dan tanpa sengaja mendapati sebuah tato kecil di pergelangan tangan lelaki itu. Tato berupa tulisan tersebut gagal Lizy maknakan lantaran ia mendengar suara grasak-grusuk di sekitarnya.
Rupanya kewaspadaan tadi tidaklah salah. Puluhan pria bersetelan hitam kini nampak keluar dari balik pepohonan di sekeliling mereka. Mereka bergerak perlahan mengurung Lizy dan pria itu sambil menodongkan senjata, membuat Lizy dan si pria refleks mengangkat kedua tangan waspada.
Salah satu dari mereka pun berkata. "Menyerahlah, jika kalian belum ingin mati."
Hening. Seakan tahu suasana yang menegang, burung-burung yang tadi berkicau mendadak bungkam entah bersembunyi di mana. Lizy menelan ludah, jantungnya berdegup cemas meremat tangan pria itu yang menggenggamnya. Ia melirik si pria yang masih terdiam berpikir, mungkin memikirkan langkah selanjutnya yang akan mereka ambil.
Pria itu memundurkan tubuhnya waspada ketika orang-orang bersetelan hitam itu perlahan mendekat. Otomatis Lizy pun ikut mundur. Ia benar-benar takut sampai kaki dan tangannya terasa bergetar. Belum lagi kondisi tubuhnya yang lemah.
Lizy betul-betul hanya memiliki sedikit tenaga. Makanan basi dan teh beracun tak cukup menguatkan metabolisme tubuhhnya.
Lelaki itu terut menoleh, dan kemudian tahu bahwa di belakang mereka kini terdapat jurang yang cukup curam dan menyeramkan. Diam-diam ia berdecak karena semakin dipersulit mencari celah untuk terbebas.
"Sial," desisnya, dengan gigi mengatup rapat.
Lizy yang kian cemas pun mencicit lirih. "Bagaimana ini?"
Pria-pria bersetelan hitam itu tak lepas menodongkan pistol ke arah Lizy dan si penyusup. Mereka mendekat, dan semakin mendekat hingga hampir mencapai keduanya.
Tepat saat salah satu dari pria-pria itu hendak menangkap, Lizy membelalak karena dengan gila lelaki di sampingnya malah melompat ke belakang. Otomatis Lizy menjerit keras. Tubuhnya berguling bersama lelaki itu, membentur dan melanggar semak-semak rimbun.
__ADS_1
Perihnya luka dari goresan dahan serta ranting-ranting kering tak ia pikirkan. Hal utama yang ada di otak Lizy sekarang justru nyawanya yang mungkin saja melayang.
Ia berpikir, mau kabur ataupun tidak, kematian sama-sama berlomba menjemputnya.
"Aaaaahhh!!!"
Pria-pria bersetelan hitam di atas sana sesaat mematung, menurunkan senjata mereka. Satu di antaranya menekan earpiece di telinga, dan berkata pada seseorang. "Target melompat ke jurang. Segera siapkan drone dan peralatan lainnya untuk memantau."
Ia kemudian menoleh pada anak buahnya yang lain, lalu melambaikan tangan sebagai isyarat agar mereka mengikutinya menuruni jurang.
Seseorang dengan cepat datang membawa tali pengaman, yang lantas langsung dipakai oleh salah satu pria yang akan turun menyusuri lembah hutan tersebut.
Beberapa berjaga di atas, beberapa lainnya berpencar mencari upaya lain. Lima orang dari mereka kini perlahan ikut turun setelah mengikatkan tali pengaman. Mereka harus cepat selagi langit masih terang, belum lagi kemungkinan amukan dari sang atasan yang kerap tidak mentolerir sekecil apa pun kesalahan.
Pria berdarah dingin yang sangat membenci kelalaian.
Berjam-jam mereka menelusuri lembah jurang, namun belum kunjung mendapatkan hasil.
"Bagaimana?!" teriak salah satu pria yang menunggu di atas, ketika beberapa rekan lainnya muncul menaiki permukaan. Mereka tetap meneliti area di sekitar sana dan menelusuri bekas jatuhnya Lizy dan si pria penyusup tadi.
"Kami menemukan robekan gaun dan satu sepatu kets yang diduga milik si pria. Masalahnya, di bawah sana ada sungai dengan arus sangat deras. Tidak menutup kemungkinan mereka jatuh dan hanyut," jawab rekannya melalui earpiece. Kemudian ia melanjutkan. "Segera lakukan pelacakan, kita turunkan beberapa anjing untuk menambah pasukan pencarian. Mereka tetap harus ditemukan, tak perduli masih bernyawa atau tidak. Satu lagi, perketat penjagaan di banker, jangan sampai kejadian sama terulang pada satu tawanan yang tersisa."
Selepas instruksi tersebut, mereka segera membagi tugas baru. Beberapa tetap melakukan penjagaan, dan sebagian besar lainnya melakukan pelacakan serta pencarian, baik itu secara manual maupun menggunakan perangkat yang lebih canggih.
Di tengah kesibukan para pasukan itu, mereka dibuat menegang oleh kedatangan seseorang yang tak diduga-duga. Padahal, belum ada satupun dari mereka yang melapor, akan tetapi Gibran Wiranata kini sudah berdiri dengan raut geram serta auranya yang membuat beku semua orang. Seolah-olah lelaki tinggi itu tahu, bahwa pasukan elitnya baru saja melakukan kecerobohan.
__ADS_1
"Temukan wanita itu sebelum aku mengirim kalian ke neraka."