
"Ada apa?" Narendra bertanya saat mereka sudah berada di tempat yang lebih sepi dan jauh dari keramaian.
Ia menatap Lizy yang malah memandangnya lekat. Ia pun bertanya lagi sedikit tak sabar. "Apa yang ingin kau bicarakan?"
Lizy menghela nafas dengan senyum kecil. "Sudah kubilang ini tentang ayahmu."
"Ada apa dengan ayahku?" tanya Narendra datar.
"Ayahmu sebentar lagi bebas, apa kamu tahu?" Lizy menatap Narendra.
Kening Narendra tentu berkerut dalam. "Maksudmu?"
"Maksudku, ayahmu sebentar lagi akan keluar dari penjara. Kamu tahu sendiri bagaimana sifatnya. Ia pasti tidak akan membiarkanmu hidup tenang setelah bebas," jelas Lizy.
"Itu tidak mungkin. Masa tahanannya masih setengah tahun lagi," bantah Narendra.
Namun Lizy menggeleng. "Ayahmu bebas bersyarat, Naren."
Hening. Lizy mengamati reaksi Narendra yang terlihat biasa saja. Lelaki itu masih tenang meski Lizy yakin ia sangat terkejut.
"Mungkin dia akan melakukan hal yang sama pada Glacia, sama seperti yang dia lakukan padaku dulu."
***
Glacia meremas gaunnya erat. Ia berusaha menahan marah atas perlakuan orang-orang padanya. Rahang Glacia mengeras saat mulut-mulut itu tertawa keras mengejeknya.
"Hey, kau Glacia, kan? Glacia Martadinata?" Seorang pria menghentikan tawanya dan bertanya pada Glacia. Matanya menatap dengan dua alis terangkat.
Glacia membalasnya dengan sorot tajam. Sementara orang-orang itu terkekeh melihat Glacia dari atas ke bawah dengan pandangan remeh.
"Karma benar berlaku, Bung ..." Satu pria lain bicara pada temannya. "Sebelum ini dia gadis yang sangat sombong. Kau tahu? Dia juga tukang selingkuh. Hahaha ...."
Semua orang tertawa. Para wanita yang dulu merasa tersaingi mendadak merasa jumawa. Mereka mengejeknya, menghinanya, menertawainya. Glacia benar-benar muak dengan keadaan ini. Ia ingin pergi, ia berharap Narendra cepat kembali.
Glacia menyesalkan Julian yang tak bisa ikut masuk, karena hanya tamu yang memiliki kertas undangan yang diperbolehkan. Kalau saja Julian tetap mengawalnya, mungkin semua ini tak akan terjadi. Tidak, kalau saja Narendra tak meninggalkannya orang-orang itu tak akan berani mendekatinya.
Glacia hanya bisa diam saat seorang wanita mendorong bahunya menggunakan telunjuk. Wanita itu menatap Glacia sombong dengan dagu terangkat tinggi. Bibirnya terangkat sumir merendahkan. "Hei, tundukkan tatapanmu itu. Dengan kondisimu yang seperti ini, kau sudah tidak pantas untuk menyombong."
Kalimat itu disambut tawa yang lain. Namun hal itu tak lantas membuat Glacia meredupkan tatapannya yang tajam. Emosi sudah membayang di matanya, ia memandang semua orang yang saat ini tertawa-tawa mengelilinginya.
"Minggir, kursi rodamu sungguh membuat repot orang lain." Wanita di hadapan Glacia menendang kursi rodanya hingga Glacia termundur dan membentur manusia lainnya di belakang.
"Ups." Pria di belakang Glacia menahan kursi rodanya, lalu mendorongnya balik ke depan.
"Hahaha ...." Mereka semua tertawa karena berhasil mempermainkan Glacia.
Glacia yang sudah tidak tahan secara refleks merebut gelas dari nampan seorang waiters yang kebetulan lewat lalu menyiramkannya pada salah satu wanita di sana.
"Aaaaa ...!!!" Wanita itu memekik saat gaun biru pudarnya kini kotor dan basah. Ia menatap Glacia nyalang penuh amarah, namun Glacia hanya membalasnya datar.
Semua orang yang tadi tertawa sekarang menatapnya kesal. Terutama si wanita dan temannya yang kini maju terlihat geram.
__ADS_1
Tanpa di duga salah satu dari mereka mendorong Glacia keras hingga kursi rodanya oleng dan Glacia pun jatuh menghantam lantai.
Bruk!
Suara henyakan terdengar dari beberapa sisi, termasuk Rafael yang sedari tadi mengobrol bersama Darius dan Jemima, orang tua Lizy yang juga merupakan sahabat ayah dan ibunya.
"Anak-anak nakal itu pasti membuat masalah lagi." Darius mendesis kesal.
Sementara Rafael, ia mengerjap sebentar sebelum kemudian berpamitan pada calon mertuanya. "Biar saya lihat."
Ia pun pergi menghampiri tempat keributan tadi. Jemima mengusap lengan Darius untuk bisa lebih sabar dan mengontrol emosinya. Mereka sebagai tuan rumah dituntut harus tetap ramah meski semenyebalkan apa pun.
"Di mana Lizy?" tanya Darius. Jemima tak bisa untuk tidak tergagap karena tadi ia lihat putrinya menghampiri Narendra. Jemima tahu Lizy masih menyimpan harapan pada pemuda itu. Tapi, Darius pasti tidak akan senang mendengarnya.
Jemima pun sama, ia lebih suka Rafael karena asal-usul lelaki itu sudah jelas dan merupakan keluarga terpandang. Tidak seperti Narendra yang tidak jelas keluarga dan orang tuanya. Yang Jemima tahu ayah Narendra adalah seorang kriminal.
Tapi untuk saat ini, Jemima akan menutup mulut mengenai Lizy yang sedang berusaha mendekati Narendra lagi, karena ia tak ingin ada keributan di depan umum.
Rafael berjalan mendekati kerumunan, dan betapa ia terkejut saat melihat Glacia sudah tergeletak mengenaskan di atas lantai. Beberapa lelaki dan wanita mengelilinginya dengan pandangan remeh.
Glacia sendiri bersusah payah menahan tangis. Mengabaikan rasa nyeri di lengannya, Glacia mendongak menatap dua wanita yang berdiri menjulang di hadapannya. Mereka menatap Glacia marah.
Masih dengan masalah sama perihal baju kotor. Keduanya menatap Glacia tajam seraya mengambil gelas milik sembarang orang.
"Dasar wanita ja-lang!"
Byurrrr!
"Kau baik-baik saja?" tanya pria itu, sebelum kemudian berbalik menatap semua orang yang kini terdiam dengan wajah terkejut.
Rafael memandang satu-persatu orang di sana, terutama dua wanita yang paling jelas ia dapati merundung Glacia.
"Apa-apaan kalian? Apa kalian tidak punya sopan santun? Di mana hati nurani kalian!" serunya keras.
Ini pertama kali Glacia melihat Rafael mode marah. Sebelumnya pria itu tampak hangat dan ramah.
Bukannya minta maaf, orang-orang itu malah mendengus dan membubarkan diri. Mereka jelas tak berani melawan Rafael si pemilik tahta rumah sakit terbesar.
Dua wanita tadi menyimpan kasar gelas kosong di tangannya, mereka lalu pergi dengan langkah menghentak meninggalkan Rafael dan Glacia yang kini jadi pusat perhatian.
Rafael menoleh pada Glacia yang masih terduduk di lantai. Wanita itu memegangi lengan kanannya yang tampak kesakitan. Salah satu teman Rafael membantu membenarkan kursi roda yang terguling, sementara Rafael sendiri lekas mendekat pada Glacia.
"Tanganmu sakit?"
Glacia tak menjawab. Tanpa dijawab pun Rafael pasti tahu karena ia seorang dokter. Glacia justru memandang jas abu-abu Rafael yang kotor, pasti pria itu terkena siraman anggur saat menghalanginya tadi.
"Bajumu ..."
"Tidak usah dipikirkan. Sekarang boleh kubantu kau duduk?" tanya Rafael meminta izin.
Glacia pun mengangguk dan tak banyak bicara ketika pria itu merengkuh dan mengangkat tubuhnya ringan. Rafael mendudukkan Glacia di kursi rodanya kembali. Mereka lalu sama-sama terdiam sebentar sebelum Rafael berpamitan pada temannya untuk membawa Glacia keluar.
__ADS_1
Glacia masih bergeming tak banyak bicara. Tangannya saling meremas di atas pangkuan. Kejadian tadi benar-benar mengguncang mentalnya dalam sekejap mata. Ia sudah berusaha untuk tidak menangis walau sulit mengingat harga dirinya diinjak sedemikian rupa.
Glacia mengusap hidungnya yang kembali mimisan. Rafael menyadari itu, dan mereka berhenti di parkiran, tepat di halaman samping kediaman keluarga Lizy.
Pria itu mengeluarkan saputangan yang selalu terselip di saku. Sebelumnya Rafael sangat jarang menggunakannya, tapi sekarang benda itu terasa sangat berguna untuk Glacia.
Melihat Glacia yang bungkam menahan isak, ia pun dengan sendirinya menyeka darah di hidung wanita itu. Rafael memandang wanita di hadapannya prihatin, lalu menyadari memar biru yang tercetak jelas di lengan atas Glacia, juga di beberapa bagian kakinya.
"Tunggu sebentar." Rafael berlari dan menghilang sesaat entah ke mana. Ia lalu kembali dengan membawa kompres dingin berisi es serta sebotol mineral di tangan.
"Minum dulu." Rafael membuka tutup botol dan menyerahkannya pada Glacia. Glacia menerimanya meski sedikit sungkan. Ia pun meminum isi botol itu hingga tersisa setengah.
Rafael menempelkan kompres di lengan Glacia yang memar.
"Suamimu mana?" Seingatnya Glacia datang bersama Narendra.
Glacia yang ditanya pun terdiam. Ia tidak tahu Narendra ke mana hingga mengambil minuman selama itu. Menyadari Glacia yang enggan membuka mulut, Rafael pun memilih tak bersuara lagi.
Mereka sama-sama diam, pun Rafael fokus mengompres lengan Glacia hingga wanita itu terbatuk menarik perhatiannya.
Rafael mematung saat mendapati bercak darah pada tangan Glacia. Ia memandang wanita itu lekat, mengamatinya dengan seksama seraya menebak-nebak.
Glacia di hadapannya tampak lemah dan mengkhawatirkan. Wajah pucatnya kadang membuat Rafael menggigil sendiri. Sudah jelas kondisi kesehatan wanita itu tidak baik-baik saja. Selain kakinya, pasti ada hal lain yang membuatnya nampak seperti mayat hidup.
Mengabaikan Rafael yang memperhatikannya, mata Glacia justru terpaku ke suatu arah di sudut terjauh koridor gelap. Rafael yang menyadari perhatian Glacia turut mengikuti arah pandang wanita itu.
Ia sama-sama terdiam seperti Glacia ketika mendapati dua siluet pria dan wanita yang terlihat samar di kejauhan sana. Meski gelap, Rafael jelas mengenali postur tubuh mereka sebagai Lizy dan Narendra.
"Biar aku mengantarmu pulang," bisik Rafael. Ia bangkit hendak membawa Glacia pergi dari sana.
Tapi belum sempat Rafael mencapai mobilnya, seorang pria dengan wajah cemasnya berlari menghampiri mereka.
Dia adalah Julian yang sejak tadi mencari keberadaan Glacia usai mendengar berita keributan di dalam aula. Asisten Narendra itu nampak terengah ketika berhenti di hadapan Rafael dan Glacia.
"Nyonya, anda baik-baik saja? Mau saya antar pulang? Saya akan panggil Tuan—"
"Tidak usah. Aku pulang dengan Rafael saja," bisik Glacia pelan.
Tubuhnya masih membeku dengan pandangan kosong menatap tangannya sendiri. Rafael yang menyadari suasana buruk hati Glacia dengan cepat membawa wanita itu ke mobilnya.
Ia mengangguk singkat ketika melewati Julian, dan mereka pun pergi meninggalkan pesta yang masih berlangsung dan entah kapan akan usai.
Sepanjang perjalanan, Rafael tak berhenti melirik Glacia yang bungkam. Wanita itu menatap ke luar jendela dengan pandangan melamun. Bias kemerahan di sekitar hidung serta mulut menandakan mimisannya lumayan banyak tadi.
Rafael sudah berusaha menahan diri dan tak ingin penasaran, tapi ... hatinya tetap merasa iba, dan perasaan ingin merengkuh itu semakin sulit ia kendalikan.
Glacia, kenapa aku harus memiliki ketertarikan sebesar ini padamu? Kau jelas-jelas wanita bersuami, dan aku adalah tunangan seseorang.
Apa yang harus kulakukan, Glacia?
***
__ADS_1