Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
23. Lepas Kendali


__ADS_3

Hari ini Narendra menghadiri meeting dengan beberapa perwakilan dari sejumlah perusahaan di Jakarta. Salah satunya termasuk Gallen yang sedari tadi kedapatan mencuri pandang.


Narendra tak menghiraukan keberadaan lelaki itu. Ia fokus dengan materi rapat hingga selesai, lalu berniat kembali ke perusahaan.


Namun semua hanya rencana ketika Gallen tiba-tiba mencegatnya saat keluar. Pria itu dengan segala kearoganannya tersenyum miring menatap Narendra.


Julian menahan geram saat Gallen dengan percaya dirinya bersandar di samping mobil Narendra, menghalangi pria itu yang hendak masuk.


"Lama tidak bertemu, wajahmu terlihat semakin kaku."


Narendra berdiri tenang tanpa menghiraukan ejekan Gallen. Hal yang membuat Julian semakin terbiasa menahan emosi adalah pengendalian diri Narendra yang sangat tinggi.


"Pasti Glacia membuatmu semakin stress. Iya, kan?" lanjut Gallen.


Narendra memasukkan kedua tangannya hingga tenggelam di saku. Ia meluruskan tubuh, menatap Gallen tepat di matanya. "Dia istriku, semua yang menyangkut tentangnya adalah urusanku. Kau hanya orang luar yang tidak berhak mengetahui hubungan kami."


Gallen terkekeh. "Jangan lupakan bahwa aku mantan kekasihnya. Dibanding kau, aku lebih tahu segalanya tentang dia, termasuk traumanya setelah kehilangan seorang ibu."


Glacia memang sempat mengalami depresi saat kehilangan ibunya. Yohanes pernah bercerita pada Narendra, dan Narendra tahu semua yang dialami Glacia tanpa terkecuali.


"Aku tahu. Sekarang kau tidak memiliki hubungan apa pun dengan Glacia. Tidak pantas rasanya pria menceritakan seorang wanita di depan suaminya. Terlebih kau hanya mantan kekasih yang pergi di saat ia menderita dengan kondisinya, dan itu disebabkan olehmu. Kalau mau, aku pasti sudah sejak awal membawa namamu ke meja hijau. Sayangnya Glacia terlalu baik hati membiarkamu," ucap Narendra kalem.


Gallen tersenyum miring. "Itu karena dia mencintaiku. Sampai kapan pun akan tetap begitu," ucapnya percaya diri.

__ADS_1


Narendra enggan meladeni. Ia melirik ke belakang, tepatnya pada Julian yang langsung mengerti arti dan maksud dari tatapan tersebut.


Julian maju, dan tanpa aba-aba mendorong tubuh Gallen yang menghalangi pintu mobil hingga hampir terjungkal ke tanah. Beruntung anak buahnya segera menahan.


"Sialan! Berani sekali kau mendorongku!" umpatnya pada Julian.


Julian hanya menanggapinya datar. Ia lekas membukakan pintu supaya Narendra bisa cepat pergi. Akan tetapi lagi-lagi lelaki itu menggonggong. "Gelandangan sombong. Sampai kapan pun Glacia tidak akan pernah mencintaimu. Tidur saja sana. Teruslah bermimpi! Hahaha ...."


"Seharusnya kau sadar, kau itu bodoh! Dia hanya wanita penyakitan yang menjijikan. Lihatlah, dia bahkan tidak bisa apa-apa sekarang. Seorang putri yang cacat hanya akan mencoreng nama baik meski dia kaya sekalipun," ejek Gallen, sambil tersenyum miring menatap punggung Narendra.


Hampir saja Julian membungkam mulut Gallen yang cerewet itu, namun tanpa diduga justru Narendra berbalik cepat dan menghantam Gallen tanpa peringatan terlebih dulu.


Buk!


Saking cepatnya bodyguard pria itu kalah tangkas dan gagal menjauhkan tuan mereka dari pukulan Narendra yang bukan main kerasnya. Gallen sampai terjungkal kurang lebih satu meter dan hampir menabrak tong sampah jika saja salah satu pengawalnya tak segera menahan.


"Kau!" seru Gallen diiringi ringis kesakitan.


"Mencoreng nama baik? Memang kau punya nama baik apa? Pria yang berselingkuh dengan istri orang?" Rahang Narendra mengetat. "Aku bisa saja memotong kakimu sebagai ganti kelumpuhan istriku. Ingat itu," ucapnya tajam.


Narendra lalu berbalik memasuki mobilnya dan menutup pintunya lumayan keras. Julian yang masih terkejut melihat emosi pria itu bergegas menyusul ke balik kemudi dan melajukan mobil dengan cepat.


Gallen menatap kepergian Narendra penuh dendam. Nafasnya terengah menahan marah. "Aaarrrggghhh!!! Brengsek sialan!!! Bajingan miskin itu minta kulenyapkan!"

__ADS_1


"Lepas, sialan!" Ia menepis tangan-tangan para pengawal yang hendak membantunya berdiri.


Gallen bangkit dengan rasa malu yang menggunung. Tak pelak beberapa pasang mata menyaksikan keributannya dengan Narendra tadi. Ini benar-benar memalukan.


"Awas kau, Narendra. Aku akan membalas semua rasa malu ini," desisnya tajam.


***


Yohanes memandang jauh ke luar jendela. Pemandangan metropolitan yang terik nan padat terlihat monoton dan membosankan. Tatapannya menerawang, sementara otaknya penuh dengan kemelut berbagai pikiran.


Di belakangnya, Dokter Teresa terdiam usai menjelaskan semua hasil pemeriksaan lanjutan terhadap Glacia. Ia iba, namun mau bagaimana lagi.


"Sebenarnya sejak awal kami sudah memprediksi bahwa keadaannya akan memburuk seiring waktu. Terlebih sebelumnya Glacia memiliki riwayat cukup parah pada kesehatannya. Kecelakaan kemarin membuat kondisi tubuhnya kian melemah. Saya melihat akhir-akhir ini Glacia sering kelelahan hanya karena aktifitas ringan. Pelayannya bilang, ia juga sempat beberapa kali kedapatan mimisan."


"Kami bisa saja menjadwalkan operasi, tapi ... kemungkinan untuk berhasil lumayan kecil."


Penjelasan tersebut membuat Yohanes bimbang. Ia belum mengatakan apa pun pada Glacia soal penyakit lamanya yang kembali, juga kondisi pasca kecelakaan yang sebenarnya tidak bisa dibilang baik.


Yohanes tidak mau mental Glacia semakin down jika mengetahuinya. Ia juga dengan sengaja merahasiakan hal ini dari Narendra. Ia tidak mau seandainya Narendra tahu, lelaki itu akan mundur seperti Gallen yang terang-terangan tak bisa menerima ketidaksempurnaan putrinya.


Lagipula, Yohanes sudah cukup merepotkan Narendra selama ini. Rasanya ia seperti pria jahat yang memaksa pemuda sebaik Narendra untuk terus terikat dengannya.


Ia tahu pernikahan putrinya tidak baik-baik saja sejak awal. Tapi, saat ini hanya Narendra yang bisa Yohanes percaya mampu menjaga Glacia sekaligus perusahaan.

__ADS_1


Mungkin, nanti ada saatnya Yohanes melepas Narendra dan membiarkannya pergi ke manapun anak itu mau.


"Lalu, apa yang bisa kalian lakukan untuk Glacia?"


__ADS_2