
Glacia meremas selimutnya di depan dada. Narendra baru saja bangkit memakai celana. Lelaki itu duduk di pinggir ranjang, membelakangi Glacia yang masih lemas dengan tubuh bergetar.
Keduanya sama-sama diam dan larut dalam keheningan. Entahlah, perasaan Glacia berkecamuk. Bukan hanya pusat tubuhnya yang perih, namun hatinya lebih sakit seperti diiris.
Glacia mengulurkan satu tangannya, menyentuh punggung Narendra yang polos. Ia mengusap sejenak peluh lelaki itu sebelum bersuara. "Naren?"
Bisikan Glacia terdengar lemah. Ia tidak tahu, kedua tangan Narendra bertaut saling meremas. Urat-uratnya timbul, pertanda lelaki itu menggunakan tenaga saat melakukannya.
"Bukan percintaan seperti ini yang kuinginkan," gumam Narendra, masih bisa didengar oleh Glacia. Lelaki itu membuang nafas sembari menunduk. Glacia yang melihat itu lantas bangkit, lalu menggeser posisinya untuk mendekat.
Ia memeluk Narendra dari belakang, menyandarkan kepalanya pada punggung lebar yang beberapa saat lalu sempat ia remas. Glacia mengusap sebentar bekas cakaran yang memerah itu, sebelum kembali melingkarkan lengannya di seputaran pinggang Narendra.
"Tidak apa-apa. Mungkin memang sudah saatnya kita melakukannya." Glacia memejamkan mata, sambil sesekali mencium permukaan kulit Narendra yang lembab.
Narendra kembali menelan ludah. "Maaf."
Glacia menggeleng. "Bukan sepenuhnya salahmu. Kamu pasti punya alasan sampai bisa semarah itu. Tolong jangan menyesal sudah menyentuhku, karena itu akan semakin membuatku sakit."
Ia menghirup hidungnya yang basah, menimbulkan suara yang membuat Narendra refleks menyentuh tangan Glacia di perutnya.
"Glacy ..."
"Aku tahu, sikapmu yang mendadak seperti ini, pasti disebabkan olehku," tukas Glacia. "Kamu marah, dan berpikir macam-macam, karena tahu aku bertemu ayah Gallen siang tadi. Iya, kan?" Glacia mengangkat kepalanya. Ia menatap bagian belakang kepala Narendra yang rambutnya nampak semrawut. "Kamu marah karena mengira aku tidak jujur?"
Narendra terdiam.
"Apa kamu terlalu lelah sampai tidak mau bertanya lebih jelasnya?" Glacia bertanya lagi. "Naren, harusnya kamu tahu, aku tidak mungkin mau ikut kemari, kalau perasaanku padamu hanya sekedar rasa iba. Kamu tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan. Aku mencintai kamu, tapi aku tidak tahu alasan apa yang harus aku katakan padamu. Aku bingung."
"Masalah Om Edward, tadi dia menemuiku untuk meminta maaf, sekaligus memberikan surat dari Gallen," lanjut Glacia. "Aku tidak bilang padamu, karena kamu kelihatan sangat lelah. Aku tidak mau membahas hal yang mungkin cukup krusial di saat tubuhmu kurang fit. Tapi bukan berarti aku berniat menyembunyikan hal ini darimu. Aku akan memberi tahu kamu, saat suasana hati kita sama-sama santai. Tidak mungkin aku bercerita di saat suamiku baru pulang kerja, kan?"
"Tapi hal itu justru membuatmu curiga dan cemburu. Mungkin sejak awal, tidak seharusnya aku menunda untuk memberithaumu. Tapi ada baiknya kamu juga langsung bertanya pada intinya, supaya aku bisa lebih cepat memahami rasa ingin tahumu. Aku sedang berusaha terbuka sebagai istri, dan sebagai suami, harusnya kamu bisa mengajakku bicara baik-baik."
Mata Narendra terpejam rapat. Ia tahu ia salah. Tidak seharusnya Narendra mengedepankan emosi yang berujung pemaksaan seperti tadi. Ia marah, rasa takut menghantui, andai Glacia kembali menemui perasannya terhadap Gallen.
Ia takut, rasa simpati wanita itu membangkitkan cinta yang susah payah Narendra padamkan. Narendra tidak mau Glacia kasihan pada Gallen. Terlebih, belum lama ini lelaki itu kehilangan tungkainya atas pembalasan Narendra.
__ADS_1
"Maaf," bisik Narendra pelan. Ia mengelus punggung tangan Glacia yang memeluknya. Pun Glacia mengeratkan dekapan sambil menyandarkan kembali kepalanya dengan posisi menyamping di punggung Narendra.
"Kamu masih bisa setenang ini setelah perlakuanku tadi?" Narendra bertanya lamat. "Sikapku sangat buruk, sama sekali tidak mencerminkan diri seorang pria. Aku benar-benar malu, malu padamu dan malu pada diriku sendiri."
Diam-diam Glacia mengulas senyum. "Kenapa kamu sampai semarah itu? Aku tidak berbuat macam-macam, dan tidak berniat melakukan hal buruk apa pun yang bisa mengecewakan hatimu. Kita sudah berjanji, Narendra. Kita berjanji untuk saling terbuka satu sama lain. Kamu sendiri yang bilang begitu. Lantas, kenapa kamu malah marah-marah alih-alih bertanya?"
Nafas Narendra terdengar berat. Perlahan ia berbalik menghadap Glacia, meraih tengkuk wanita itu untuk kemudian mendekapnya erat. Narendra menciumi rambut Glacia bertubi-tubi. "Maaf," bisiknya menyesal.
Sebenarnya sejak tadi Glacia menahan tangis. Ia balas memeluk Narendra tak kalah erat, membenamkan wajahnya di dada bidang lelaki itu, menghirup aroma maskulin yang bercampur feromon memabukkan.
"Aku cemburu, takut kamu berhubungan dengan mereka lagi," lanjut Narendra.
"Ternyata, kecemburuan bisa membuat seseorang bertindak gegabah, ya? Jangan seperti itu lagi. Aku takut. Lain kali, kalau ada apa-apa, kita bicarakan baik-baik."
Narendra mengangguk. "Pasti."
Ia memeluk Glacia, membiarkan wanita itu bersandar nyaman. Sembari mengusap kepala hingga ke punggungnya yang telanjang, Narendra turut menghirup harum Glacia yang bercampur dengan aroma percintaan mereka.
Narendra membuka mata saat bertanya. "Aku pasti sangat menyakitimu."
Sesaat Glacia tak menjawab. Ia balas menatap Narendra, lalu tersenyum baik-baik saja. "Jangan tanya hal itu. Jelas ini sakit bagi wanita yang baru pertama kali melakukannya. Tapi, aku senang, karena itu artinya aku sudah menjadi istrimu seutuhnya."
Narendra tidak tahu, apakah ia harus memukul kepalanya sendiri karena dengan teganya memberi pengalaman pertama yang buruk bagi istrinya. Jujur, bukan percintaan seperti ini yang ia inginkan. Kemarahan benar-benar membuatnya bertindak di luar dugaan.
Perlahan Narendra membaringkan tubuh Glacia. Ia meminta izin untuk menyibak selimut yang membalut wanita itu. Glacia mengangguk pelan, pun Narendra dengan hati-hati membukanya.
Glacia memalingkan wajahnya malu ketika Narendra mengamati pusat tubuhnya dengan lekat. Lelaki itu melebarkan sedikit kaki Glacia untuk melihat lebih jelas.
"Sepertinya aku harus beli salep," ucap Narendra kemudian. Ia menjauhkan wajahnya dari sana, hal yang membuat Glacia menghela nafas lega.
Narendra menatap Glacia lama. "Aku tidak tahu sudah sekasar apa sampai milikmu lecet begitu. Maaf."
"Sudahlah, jangan meminta maaf lagi." Glacia menyentuh tangan Narendra. "Nanti juga baikan. Beli salepnya besok saja, sekarang aku hanya ingin kamu tidur lagi di sampingku. Kemarilah."
Ia menarik Narendra hingga lelaki itu menjatuhkan tubuhnya di sebelah Glacia.
__ADS_1
"Tapi ..."
"Syuutt ... Sudah, diam. Aku akan menceritakan kenapa Edward Mou menemuiku tadi siang. Juga, mengenai isi surat Gallen." Glacia menunjuk laci nakas di samping Narendra.
Narendra yang mengerti mengangkat sedikit punggungnya, lalu membuka laci dan menemukan amplop putih di sana. Ia memberikan itu pada Glacia.
Narendra diam saja saat Glacia memagut bibirnya mesra. Ia membalasnya sebentar sampai ciuman itu berakhir.
Glacia membuka amplop berisi surat itu, lalu mengeluarkan lipatan kertas di dalamnya. Kini deretan kalimat tulisan tangan terpampang Narendra baca.
Mereka sama-sama larut dalam suasana hening. Hingga beberapa menit kemudian, Glacia buka suara, saat dirasa Narendra sudah selesai membaca.
"Aku tidak tahu selama ini Gallen mengkonsumsi obat-obatan. Jika sudah sampai overdosis seperti itu, bukankah itu berarti dia sudah kecanduan parah?" Glacia mendongak menatap Narendra yang juga terdiam. "Kamu tidak tahu? Apa saat kamu menyelidikinya tidak menemukan apa pun?"
"Aku tahu," jawab Narendra. Ia menunduk, membalas tatapan sang istri. "Sejak awal aku dan papamu sudah tahu, alasan kenapa kita tidak senang kamu bergaul dengannya."
Glacia terbengong. "Wah, benarkah? Rupanya kalian menyimpan banyak rahasia dariku."
"Tapi kali ini akan aku maafkan." Glacia melingkarkan kedua lengannya di leher Narendra. Bibirnya mengukir senyum saat jari-jemari lentiknya menyusup, menarik sejumput rambut Narendra hingga berantakan.
Narendra terpaku menatap pupil Glacia. "Kau sedang menggodaku?"
Masih dengan tersenyum, Glacia menjawab dengan suara sedikit manja. "Aku kesal, kamu merebut pengalaman pertamaku dengan sangat brutal. Kali ini, aku ingin kamu mengulangnya, tapi perlakukan aku selembut mungkin. Oke?" rengeknya.
Narendra terperangah. Awalnya ia berpikir Glacia akan trauma setelah perlakuan kasarnya tadi. Siapa yang menduga wanita itu malah memintanya untuk mengulang.
"Kamu serius?"
"Apa aku terlihat bercanda?" sewot Glacia. "Ck, cepat buka celanamu! Atau aku akan menarik dia dengan paksa?"
Narendra menatap ngeri ketika mengikuti arah pandang Glacia yang mengarah pada pusat tubuhnya di balik celana. Tak pelak ancaman wanita itu membuat Narendra menyerah. Kali ini ia pasrah terhadap apa pun yang Glacia lakukan dengan tubuhnya.
Narendra baru tahu, ternyata Glacia tipe wanita yang mendominasi saat bercinta.
"Bertahanlah, Narendra. Karena kali ini aku akan membuatmu sangat tersiksa," bisiknya sensual.
__ADS_1
Narendra berdesis tajam. "Nakal."