Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
11. Tak Bisa Menghindar


__ADS_3

Meski sudah menolak, nyatanya Glacia tak bisa menghindar dari makan malam keluarganya. Seolah sudah menjadi tradisi sejak bertahun-tahun silam, setiap bulan acara temu keluarga rutin dilakukan di rumahnya.


Mansion besar Martadinata memang warisan turun temurun. Kakek Glacia memberikan kepemilikan tersebut pada Yohanes sebagai putra pertama. Meski begitu semua aset yang menggunung tak lantas diberikan sepenuhnya pada papa Glacia, semua saudaranya juga mendapat bagian.


Namun, seperti halnya manusia yang tak pernah puas, iri pasti tetap ada menyelimuti sebagian dari mereka.


Narendra mendorong kursi rodanya setelah mereka turun dari mobil. Padahal, Glacia bisa mengoperasikan kursi elektrik itu sendiri, tapi Naren tetap kekeh mendorongnya secara manual.


Seperti sebelum-sebelumnya pakaian Glacia dan Narendra kerap diatur agar terlihat serasi. Meredith, sang kepala pelayan di rumah mereka yang selalu menyiapkan segalanya. Dia wanita tua multitalenta kesayangan Narendra. Buktinya, sampai sekarang Narendra betah mempertahankannya meski ia sudah sangat tua dan tak layak bekerja. Bersyukur Meredith masih sangat bugar di usianya.


Julian mengikuti dari belakang. Lelaki itu seolah tak bisa lepas sebentar saja dari Narendra. Ia layaknya anjing setia di mata Glacia. Terlalu tunduk dan patuh, persis Narendra pada ayahnya.


Memasuki lobi mansion, mereka disambut oleh jejeran pelayan yang menunduk hormat. Di luar sudah ada begitu banyak mobil yang terparkir. Bisa dipastikan beberapa keluarganya sudah datang.


Sebetulnya Glacia sangat malas. Acara silaturahmi begini menurut Glacia tak ada gunanya. Bertemu orang-orang bermuka dua dengan senyum culas mereka yang memuakkan. Sungguh, kalau saja kaki Glacia tidak lumpuh, ia lebih baik pergi jalan-jalan keliling kota. Sayangnya sekarang ia tak bisa menyetir, hal yang masih Glacia sesali mengingat ruang geraknya kini terbatas.


Makan malam digelar di halaman belakang mansion yang luas. Diapit taman bunga yang membentang dengan lampu-lampu yang berpendar kekuningan. Narendra mendorong Glacia mendekati perkumpulan orang di meja makan. Meja tersebut sangat besar dengan panjang kurang lebih sepuluh meter.


Sebelum menyapa yang lain, tentu mereka menghadap sang kepala keluarga terlebih dulu. Yohanes yang meneruskan jejak sang ayah sebelumnya otomatis menjadi pemimpin bagi mereka semua.


Begitu tiba di depan Yohanes, Narendra sedikit menunduk hormat, begitu pula Julian yang langsung menempatkan diri berdampingan dengan para pengawal lain di sana. Glacia masih setia dengan wajah datar serta malasnya, bahkan saat Yohanes tersenyum dan membungkuk memeluknya tak membuat Glacia serta-merta mengubah wajahnya menjadi lebih baik.


"Papa senang kamu dan Narendra datang. Akhirnya Narendra tak sendiri lagi menghadiri acara temu keluarga begini," ujar Yohanes, mengusap-usap punggung Glacia yang terbalut dress putih, serasi dengan Narendra.


"Hm." Glacia hanya bergumam menanggapi perkataan sang ayah. "Karena memang acara seperti ini tak berguna," lanjutnya yang spontan mengundang ketegangan.

__ADS_1


Bisa Glacia lihat wajah-wajah keluarganya berubah masam. Ia tak peduli karena memang begitu adanya. Yohanes melepas pelukannya, ia terkekeh canggung dan menyuruh Glacia serta Narendra untuk segera mengambil tempat duduk.


Rupanya sang papa sudah menyiapkan space khusus untuk Glacia dan kursi rodanya. Dengan telaten Narendra mendorong Glacia untuk bergabung bersama keluarga lain di sana. Lelaki itu pun duduk di sampingnya.


Glacia tahu berpasang-pasang mata menatap ke arahnya, termasuk para sepupunya yang tak pernah akur dengan Glacia. Sudah Glacia bilang, mereka semua bermuka dua dan memuakkan.


Lihat saja beberapa dari mereka yang berlagak ramah tamah menyapanya. Salah, lebih tepatnya Narendra. Glacia hanya membuang muka dan memasang wajah tak acuh setiap kali ada yang bicara padanya.


"Kak Naren, terima kasih hadiah ulang tahunnya yang kemarin. Aku suka," celetuk Mia, salah satu sepupu Glacia. Ia masih kuliah dan akan memasuki semester akhir.


Narendra yang mendengar itu menoleh ke seberang meja. Mia duduk diapit orang tuanya yang merupakan om dan tante Glacia.


Diam-diam Glacia mendengus melihat wajah malu-malu gadis itu. Ia tahu Mia mengagumi Narendra sejak lama.


Hampir saja Glacia tertawa kalau saja ia tidak ingat dengan gengsinya. Glacia berdehem pelan hingga membuat Naren menoleh sesaat.


Yohanes yang melihat keluarga besarnya sudah berkumpul semua akhirnya membuka suara. "Karena semuanya sudah lengkap, mari kita mulai makan malamnya."


Tepat setelah Yohanes mengatakan itu, para pelayan berhamburan muncul dari dalam mansion membawa entah berapa banyak troli makanan. Mulai dari hidangan pembuka, hidangan inti hingga penutup. Tak lupa mereka menuangkan anggur ke gelas masing-masing.


Glacia menyantap pudingnya dengan anggun. Matanya diam-diam mengedar memperhatikan para penghuni meja makan, hingga pandangannya berhenti pada Claire. Entah kenapa perempuan itu menatapnya terus, Glacia menyadarinya sejak tadi.


Usai hidangan pembuka, semuanya mulai menyentuh makanan inti. Saat Glacia mengangkat pisau dan garpunya hendak memotong daging, Narendra sudah mendahului. Lelaki itu mengiris daging di piring Glacia tanpa suara.


Sementara Glacia sempat mematung sebelum akhirnya ia bisa menguasai ekspresinya kembali. "Terima kasih," gumamnya saat Narendra selesai.

__ADS_1


Tanpa Glacia ketahui Narendra sedikit bergeming, ia masih belum terbiasa dengan ungkapan terima kasih Glacia. Wajar, sebelumnya wanita itu hanya bisa berujar ketus. Ucapan terima kasih sudah terbilang dalam meski dikatakan dengan nada ketus sekalipun.


"Sama-sama."


Mereka tidak sadar interaksi tersebut tak luput dari perhatian Yohanes. Diam-diam ayah Glacia mengulum bibir menyembunyikan senyum senang. Akhir-akhir ini ia mengamati sikap Glacia yang sudah jauh lebih tenang.


Sementara itu, Mia memperhatikan Glacia dan Narendra dengan wajah merengut masam. Gadis itu memegang erat pisau dan garpu di tangannya, hingga sebuah sentuhan lembut mampir seolah mengingatkannya untuk tenang.


Mia menoleh pada sang ibu yang menatapnya dalam diam. Ia mengerti wanita itu menyuruhnya untuk tidak bertindak bodoh, melempar pisau ke arah Glacia misalnya.


"Eh!" Seruan Glacia mengundang semua mata mengarah padanya. Narendra yang berada di sampingnya seketika menoleh.


Glacia meringis kesal karena tidak sengaja menjatuhkan makanannya ke pangkuan. Potongan daging berlumur saus itu berhasil mengotori dress putih yang dikenakannya. Dengan jijik ia berusaha menyingkirkan daging tersebut, namun sebelum itu Narendra dengan sigap mengambil tisu dan menggamit makanan itu dari pakaian Glacia.


Seorang pelayan mendekat mengambil gumpalan tisu itu dari Narendra. Glacia menghela nafas berusaha sabar. Hal ini benar-benar menyebalkan baginya.


"Aku harus ke kamar mandi," cetusnya bersiap memundurkan kursi roda.


Narendra menatapnya ragu. "Perlu kuantar?"


Glacia memicing tak suka. "Tidak perlu," ketusnya pelan. Ia lalu mundur dan mengarahkan kursi rodanya menjauhi meja makan.


Kursi roda elektrik yang harganya hampir setara mobil baru cukup memudahkan Glacia dalam bergerak. Benda itu juga bisa ia ajak berlari tanpa khawatir akan kebablasan. Remnya sudah dirancang sempurna dan Glacia sudah membuktikannya.


Yohanes berdehem mengalihkan atensi semua orang untuk kembali makan. Di antara semua itu, mata Claire tak berhenti mengarah pada Glacia yang kini semakin menjauh di koridor mansion.

__ADS_1


__ADS_2