Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
88. Penyusup Misterius


__ADS_3

Selama 32 tahun Narendra bernafas, begitu banyak hal yang sudah dilaluinya hingga sampai di tahap ini. Perubahan mindset hidup dari setiap orang yang berubah-ubah bagaikan ombak, sesuatu berupa materi yang berperan besar dalam kekuasaan manusia, sebuah derajat yang kerap menciptakan kesenjangan di setiap kalangan, dan masih banyak sesuatu di luar nalar yang membutuhkan pemahaman.


Narendra tahu, hukum berjalan sesuai peraturannya. Hakim memutuskan persis dengan apa yang tertulis, meski kemarahan berteriak mengagungkan ketidakadilan. Ini sudah yang paling adil, akan aneh bila hakim mendakwakan hukuman lebih berat sesuai harapan korban. Legawa jalan satu-satunya untuk mendamaikan keadaan.


"Mengadili! Terdakwa Gallen Mou telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah karena mengemudikan kendaraan bermotor dengan lalai, sehingga mengakibatkan korban terluka berat. Korban tidak dapat bergerak sebagaimana biasanya karena mengalami kelumpuhan. Korban juga sempat mengalami perubahan mental lantaran trauma, dan hingga saat ini masih menjalani tahap pengobatan di sebuah rumah sakit swasta di ibu kota. Karena hal ini, pihak terdakwa Gallen Mou berjanji akan membiayai seluruh perawatan dan terapi korban hingga korban dinyatakan sembuh, dengan harapan keluarga korban bisa memaafkan serta berhenti memperluas masalah di antara keduanya. Dengan ini, sebagaimana yang tertulis dalam pasal perundang-undangan nomor 229 ayat 4, menjatuhkan pidana kepada terdakwa Gallen Mou, oleh karena itu dengan pidana 5 tahun penjara, serta denda sebesar sepuluh juta rupiah."


Riuh terdengar dari sejumlah pengunjung yang menghadiri persidangan. Beberapa terlihat membicarakan hasil putusan hakim, dan beberapa lainnya tampak acuh tak perduli.


Termasuk Narendra, ia nampak tenang bersidekap di samping Gibran yang mendengus. Lelaki itu menepuk bahu Narendra dan berbisik. "Inilah hukum menurut mereka. Alasan kenapa aku membenci semua aparat. Menurutku, mereka terlalu segan dalam menjatuhkan hukuman. Hey, istrimu bahkan berada di ambang hidup dan mati. Bagaimana bisa Gallen Si Sapi itu hanya bernafas di dalam penjara? Lima tahun itu kurang lama."


Narendra menoleh malas mendengar ocehan Gibran. Lelaki itu semakin lama semakin mirip istrinya. Dahi Narendra berkerut saat bertanya. "Sapi?"


Gibran menjawab singkat nan enteng. "Nama belakangnya memang mirip suara sapi."


"Berhenti melucu. Wajahmu tidak cocok untuk berkelakar sekecil apa pun."


Gibran mengangkat alis. "Maria selalu mengeluhkan anak-anak yang takut padaku. Apa wajahku memang semenakutkan itu?"


Narendra mendengus tak percaya dengan pembicaraan tak bermutu ini. Ia menoleh, dan saat itu bertepatan matanya bertemu dengan Edward Mou, ayah Gallen.


Edward menatapnya dengan sudut bibir berkedut miring. Lelaki itu pasti puas karena semua tidak sesuai yang Narendra harapkan. Narendra hanya bisa mendengus samar, pikirnya ia tidak tahu soal perundang-undangan.


Narendra balas menatap Edward, rautnya tenang, ia bahkan turut tersenyum kecil pertanda bahwa keputusan barusan sama sekali tak mempengaruhinya. Narendra justru memandang Edward penuh makna, ia juga sempat melirik Gallen yang diboyong usai persidangan selesai.


"Apa yang membuatmu masih mengharapkan Glacia? Dia bahkan sudah berkali-kali menyakitimu." Gibran bertanya saat mereka sudah berada di luar.


Keduanya berjalan bersisian menuju parkiran. Tak pelak figur mereka kerap mengundang beberapa pasang mata yang penasaran. Secara sekilas pun, orang-orang tahu bahwa Narendra dan Gibran bukan pria dari kalangan biasa.


Narendra mengangkat bahu sebagai jawaban. Wajahnya lurus seiring kakinya berayun di sepanjang koridor. "Tidak ada alasan."


Gibran tak bertanya lagi. Ia tahu betapa rumitnya mendefinisikan perasaan, karena ia pun pernah mengalaminya bersama Maria.


Ketika hendak memasuki mobil, Edward Mou berjalan dari arah berlawanan bersama asistennya. Mereka kembali beradu pandang saat Edward tiba di samping mobilnya, yang ternyata diparkir tepat di sebelah mobil Narendra.


Lelaki mirip Gallen itu berhenti, Narendra yang semula hendak membuka pintu pun mengurungkan niat, dan lantas memiringkan tubuh hingga kini mereka saling berhadapan.


Edward melipat tangannya di depan dada, memandang Narendra dengan pandangan puas dan meremehkan.

__ADS_1


"Sebesar apa pun kekuasaanmu sekarang, kau tetap tak bisa mengalahkan kami yang berkuasa sejak dini," ucap Edward.


Mendengar itu Narendra hanya tersenyum santai. "Dengan Gallen ditahan pun sudah menunjukkan siapa yang menang. Pada dasarnya saya memang sedang tidak ingin mengalahkan siapa pun. Jadi anda bisa bebas berpuas diri ..." Narendra menjeda. "Untuk sekarang."


Mereka bungkam dengan mata saling memaku. Edward mendengus tersenyum sumir. "Kekayaan tak lantas membuat derajat seseorang naik, di saat posisinya lebih mirip parasit yang menempeli kekuasaan orang lain. Harusnya, sejak awal kamu sadar tempatmu di mana. Kamu mengerti apa maksudku."


Edward menepuk pelan bahu Narendra, lebih pada meremehkan dan menganggap ia hanyalah pemuda yang tak lebih baik dari dirinya. Sesaat mata Edward melirik pada Gibran Wiranata yang bersidekap malas di sisi lain mobil.


Mereka saling berpandangan, sebelum kemudian Edward kembali mendengus, memasuki mobilnya setelah sang asisten membukakan pintu.


Mobil Edward melaju meninggalkan parkiran. Tepat setelah itu Gibran menoleh pada Narendra yang tak kunjung bergerak dari tempatnya.


"Dia belum tahu siapa kau sebenarnya."


Narendra tak menjawab. Ia berbalik, membuka pintu mobilnya, lalu lekas duduk di kursi kemudi. Gibran pun turut masuk melesakkan dirinya di sebelah lelaki itu.


Tatapan Narendra tampak sedikit menerawang sebelum kemudian ia memutar setir hingga kendaraan tersebut meninggalkan area pengadilan.


***


Di sebuah banker terbengkalai, Lizy masih berusaha bertahan hidup dengan kesengsaraan yang kian menyiksa. Tubuh yang dulu cantik terawat kini penuh bekas luka yang membuatnya terlihat buruk.


"Aku ingin bebas ..." lirihnya serak, hampir tak terdengar. Mulut wanita itu nampak kering dan pecah-pecah.


Tanpa sepengetahuan orang-orang yang berjaga di ruang CCTV, seorang pria berpakaian gelap tengah mengendap di sepanjang sisi lorong. Pergerakannya begitu hati-hati dan awas, mencari titik keberadaan kamera dengan upaya menghindarinya.


Ia semakin merapatkan tudung jaket serta masker dan topi yang dikenakannya. Berusaha menguatkan insting, menebak keberadaan ruangan yang menjadi tujuannya datang kemari.


Berhari-hari lelaki itu mengamati situasi banker tersebut, kini ia memutuskan masuk setelah yakin dengan segala yang akan dihadapinya. Anak buah Wiranata yang dikerahkan Narendra tak bisa dianggap enteng. Mereka para pasukan terlatih dengan sepak terjang bukan main.


Akan tetapi, sekuat apa pun penjagaan tetap memiliki celah meskipun kecil. Bahkan lelaki itu merasa heran dengan suasana lorong banker yang menurutnya terlalu lengang.


Sepanjang pengamatannya di sini, seharusnya keamanan tidak sesepi saat ini. Sekali lagi lelaki tersebut mengedarkan pandangan, memastikan bahwa ia benar-benar berhasil menghindari semua kamera, dan tidak sedang diawasi secara diam-diam.


Setelah dipikir-pikir, dirinya masuk kemari agak terlalu mudah. Mengabaikan segala kemungkinan yang terus berdatangan, perhatiannya justru teralihkan oleh beberapa pintu yang berjajar.


Ada sekitar 4 pintu, salah satunya ia yakini sebagai toilet, dan tiga lainnya ruangan biasa yang bisa dipastikan sebagai tempat penyekapan. Sekali lagi matanya berkeliling mencari letak CCTV.

__ADS_1


Ini yang paling sulit, sudah jelas ruangan-ruangan tersebut adalah tempat pengurungan, karena di ujung sana ia dapat menemukan sesuatu yang berkedip merah berupa kamera pengawas.


Lelaki itu bersembunyi ketika melihat seorang pria keluar dari salah satu pintu dan menguncinya dari luar. Selanjutnya pria tersebut menyentuh alat di telinganya. "Aman. Pelayan itu masih hidup."


Pria yang ia duga salah satu komplotan Narendra itu kemudian berjalan meninggalkan lorong, melewatinya yang bersembunyi dalam lekukan koridor dengan pencahayaan paling gelap. Bayangannya menyatu dalam keredupan. Ia berpikir keras, bagaimana cara ia keluar tanpa ketahuan oleh CCTV di ujung sana.


Karena tak ada jalan lain, akhirnya ia pun mengeluarkan sebuah pistol kecil, lalu mengarahkannya pada kamera tersebut. Berusaha membidik setepat mungkin, sedetik kemudian ia menembakkan peluru berupa lem yang meleleh, hingga kini kamera tersebut tertutup sempurna oleh cairan lengket itu.


Cepat-cepat ia keluar dari persembunyian, lalu memeriksa dua pintu lain, karena sebelumnya ia sudah tahu ruangan yang tadi sempat dimasuki penjaga adalah tempat di mana si pelayan disekap. Sementara yang ia cari adalah Eliza Pataya.


Ia menemukan satu pintu yang terkunci. Dengan keterampilan yang dimilikinya, akhirnya ia mampu menumpas gembok yang menjeratnya meski dengan usaha sedikit keras.


Mendorong pintu tersebut secara perlahan, ia pun masuk dengan hati-hati, lalu menutup kembali pintu yang terbuat dari baja itu hingga menimbulkan sedikit decitan.


Decitan tersebut yang berhasil membuat seorang wanita di sudut ruangan mendongak. Lelaki itu terdiam sesaat di sana. Bau, itulah kata pertama yang terlintas di otaknya. Wajahnya mengernyit jijik saat berjalan masuk lebih dalam.


Kini ia berdiri di tengah-tengah ruangan, menatap tepat pada wanita yang sedari tadi mengamatinya dengan awas. Ia membuka tudung jaket, namun tidak dengan topi dan maskernya.


"Kita bertemu lagi, Lizy."


Suara berat itu membuat Lizy mengernyit dalam. Matanya menyipit berusaha meneliti lebih luas lelaki tersebut. Pandangan Lizy memindainya dari atas ke bawah.


"Siapa kau?" bisiknya parau.


"Tidak penting siapa aku, pikirkan saja dirimu yang kini terlihat menyedihkan," ujar lelaki itu dingin.


Lizy mengerut tak senang. Ia berdesis tajam dengan tatapan menghunus, yang justru membuat lelaki itu mendengus dengan seringai meremehkan.


"Tidak perlu menatapku seperti itu, selama kau masih berpikir ingin keluar dari sini. Waktu kita tidak lama, karena sebentar lagi mereka pasti kemari karena menyadari kehadiranku."


Beberapa detik Lizy dibuat berpikir. Apakah ini jawaban dari segala sumpah serapahnya pada Narendra?


Tak perduli siapa pun lelaki itu, Lizy tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Meski sepertinya keluar dari tempat ini lebih sulit dari yang ia pikirkan, setidaknya ia akan tahu setelah mencobanya.


"Kalau begitu, bantu aku keluar."


Lelaki itu menyeringai di balik maskernya. "Tentu, dengan syarat kau harus membayar kebaikanku ini. Setimpal!" tekannya di akhir kalimat.

__ADS_1


Keduanya saling beradu pandang dalam remang. Lizy turut tersenyum miring dengan wajah buruk rupanya.


Narendra, lihatlah, keberuntungan selalu menghampiri kapan pun dan di manapun aku.


__ADS_2