
"Sialan. Kenapa ada hujan di siang bolong begini?" Krisna menggerutu.
Ia sibuk berdiri di samping jendela, menatap halaman belakang rumah yang becek diguyur hujan. Suara petir bersahutan, dan kadang gelegarnya mengagetkan.
Langit yang gelap membuat pencahayaan dalam rumah menjadi redup, sementara Thomas melarang Krisna menyalakan lampu guna menghemat listrik.
Anak itu kini tengah berkutat dengan masakan. Krisna sendiri ragu masakan Thomas seenak apa, tapi untuk saat ini perasaan lapar lebih penting ketimbang selera.
"Menurutmu, apa polisi mencari kita?" tanya Krisna. Ia menoleh pada Thomas. Thomas tak menjawab, namun bahunya mengendik tak acuh pertanda bahwa ia tak begitu memikirkannya.
Krisna mendengus, sudut bibirnya terangkat miring ketika melanjutkan. "Setelah ini aku pastikan, Narendra tak akan bisa hidup tenang. Lalu wanita cacat itu ..." Krisna terkekeh. "Dia memang poin utama yang membuat ketenangan Narendra luruh."
Thomas tetap bungkam. Tak lama ia meletakkan piring berisi daging kelinci yang sudah dipanggang, juga sayuran seadanya yang tadi mereka dapatkan dari hutan. Thomas juga sempat membeli beras tadi pagi. Entah dia punya uang dari mana.
Wanginya tercium lezat oleh Krisna, tapi saat ia mendekat dan mencicipinya, daging kelinci itu terasa hambar, hampir tak ada garam.
Thomas pun menyeletuk. "Bahan-bahannya terbatas, jangan protes kalau tidak enak."
Anak itu duduk di hadapan Krisna, ia mengambil nasi dan lauk seadanya itu, lalu makan dengan tenang. Mengabaikan Krisna yang masih terdiam di kursinya.
Sementara di tempat lain, Narendra bersidekap di dalam mobil. Matanya mengarah pada hutan tak jauh dari pinggir jalan. Rautnya datar dan tenang, sesekali ia melirik jam yang melingkar di tangan, lalu mulai menghitung mundur.
"Lima, empat, tiga, dua, satu."
Aaaauuuuu ...!!!
Suara lolongan serigala seketika terdengar. Narendra menyeringai, tepat ketika itu Krisna dan Thomas juga mendengar hingga mereka berhenti makan.
Krisna menoleh ke luar, lalu pada Thomas yang mematung.
"Apa di sini selalu banyak hewan buas?" Krisna jadi takut sendiri. Terlebih cuaca sudah seperti badai. Krisna bisa melihat pepohonan yang bergoyang hebat seolah hendak tumbang.
Thomas tiba-tiba berdiri, lalu berjalan ke arah pintu belakang.
"Kau mau ke mana?" tanya Krisna.
"Aku lupa membuang sisa potongan kelinci. Kalau tidak segera dikubur, kemungkinan besar serigala itu akan kemari," ucapnya malas.
"Di luar hujan. Kau tidak takut hewan buas itu akan menerkammu?"
"Dari suaranya mereka jauh." Thomas tak lagi menghiraukan Krisna. Ia membuka pintu dan benar-benar keluar untuk membuang potongan kelinci.
Krisna mendengus tak perduli. Terserah Thomas dalam bahaya atau tidak, lagipula setelah ini Krisna berencana pergi ke kota untuk mencari Lizy, menangih pembayaran yang masih kurang dari perjanjian.
Kini anak buahnya semua dipenjara, jadi Krisna bisa menikmati uang itu untuk dirinya sendiri.
Lama terdiam, Krisna belum juga mendapati kedatangan Thomas, bahkan sampai ia selesai makan pun Thomas masih belum kembali.
"Ke mana anak itu?" gumamnya, sambil berdiri mengambil piring kotor lalu menyimpannya di wastafel. Ia malas mencuci, biar nanti saja Thomas yang melakukannya.
Krisna hendak berlalu dari dapur, tapi kemudian langkahnya berhenti. Ia menoleh pada pintu belakang yang tertutup rapat. Krisna tidak mau perduli, tapi tidak tahu kenapa kakinya malah berbalik dan berjalan ke sana.
"Menyebalkan. Ke mana dia sebenarnya? Kalau anak itu mati, besok aku tidak bisa menikmati sarapan," dengus Thomas. "Meski masakannya tak enak, hanya dia yang bisa kuandalkan sekarang."
Krisna membuka pintu belakang rumah itu. Matanya mengedar karena tak mendapati Thomas di mana pun. Tapi potongan kelinci itu sudah raib. Di mana anak itu menguburnya?
"Thomas?!" Krisna berseru keras.
"Thomas! Thom!"
__ADS_1
Tak ada sahutan, pun suara Krisna berlomba dengan gemuruh hujan. Sialan, ke mana berandal itu pergi?
Mata Krisna mengarah ke pinggiran hutan. Jangan bilang kalau Thomas mengubur potongan kelinci itu di sana? Dasar bodoh. Dalam cuaca seperti ini dia masih berani masuk hutan? Belum lagi tadi mereka mendengar lolongan serigala.
Membuang nafas, Krisna hendak menutup pintu dan kembali masuk ke dalam. Tapi, lagi-lagi tangannya berhenti. Krisna nampak berpikir lama sebelum kemudian ia memutuskan keluar menerobos hujan. Benar, Krisna akan mencari Thomas ke hutan.
Krisna tidak sadar, bahwa sebuah senyum kini terukir di sudut bibir seseorang. Ia memang menunggu Krisna sejak tadi.
***
"Thomas!"
"Thom!"
"Thomas!"
Suara Krisna bergaung di tengah guyuran hujan. Suasana hutan sedikit gelap. Ia berjalan di antara pepohonan rimbun juga semak belukar. Krisna tidak mengerti, kenapa ia harus perduli pada Thomas yang bukan siapa-siapa.
Tapi, harus Krisna akui ia merasa satu frekuensi dengan anak itu. Sangat berbeda dari Narendra yang selalu bertentangan dalam hal apa pun.
"Thomas!" Krisna kembali berseru.
Ia tiba-tiba berhenti karena menemukan sebuah cangkul yang tergeletak. Itu pasti milik Thomas. Di mana anak itu sekarang?
Krisna mengedarkan kepalanya ke sekeliling hutan. Guntur masih bergemuruh memecah langit di atas sana. Ia kembali berjalan menelusuri pepohonan rimbun, hingga tak lama ...
"Thomas?" Krisna berhenti. Kakinya memaku di tempat dengan mata mengarah ke depan.
Pria yang sedari tadi ia cari kini berdiri tak jauh darinya. Jarak mereka sekitar 5 meter, dan Krisna bisa melihat Thomas yang juga balas menatapnya.
Anak itu memandangnya datar seperti biasa. Tapi, ada sorot tajam yang kerumitannya tak bisa Krisna mengerti. Keduanya berdiri saling berhadapan di bawah guyuran hujan. Entah kapan langit akan berhenti menumpahkan airnya. Ini masih siang, seharusnya matahari bersinar terang.
Namun Thomas masih saja terdiam. Mulutnya bungkam seolah tak ada niat untuk menjawab. Alih-alih begitu, Thomas justru bersuara lain. "Kau tahu? Ini hari peringatan kematian ibuku."
Suara beratnya terdengar seperti gumaman di tengah derasnya air. Thomas memang terlihat dingin, tapi jika ditelusuri lebih dalam, wajahnya bukan hanya basah karena air hujan. Mata pemuda tersebut terlihat merah jika didekati.
Krisna berdecak. "Rupanya kau lama karena itu. Kenapa harus berduka di tengah hutan? Hey, kau lupa di sana ada serigala? Bahkan mungkin hewan buas lainnya," dengus Krisna.
Thomas masih menatap Krisna dengan tatapan rumitnya. Ia lalu menoleh ke suatu arah di sebelah kiri mereka. "Aku yang menguburnya sendiri. Di sana."
Krisna mengikuti arah yang ditunjuk Thomas. Ia masih tidak mengerti alur dari pembicaraan mereka. Yang Krisna tahu, perasaan Thomas saat ini tengah bergejolak, mungkin karena ini hari kematian ibunya.
Krisna mendengus. Kenapa orang-orang begitu sensitif terhadap ibu mereka? Narendra pun sama. Bahkan hanya karena wanita yang melahirkannya mati, Narendra menghancurkan Krisna hingga menjadi gelandangan seperti sekarang. Anak tidak tahu diri. Tahu begitu ia lenyapkan saja Narendra sejak bayi.
Krisna mengangkat alis ketika Thomas menoleh kembali padanya.
"Sejak dulu kami hidup berdua. Ia dicampakkan seorang lelaki karena hamil. Aku benci, kenapa ibuku harus berhubungan dengan lelaki beristri? Sudah jelas dia tak akan bertanggungjawab, dan pada akhirnya membuang kami."
Krisna berdecak. "Hey, sudah cukup! Kenapa kau berubah seperti anak kecil? Menggelikan sekali. Ayo kembali! Di sini bahaya!"
Satu yang dapat Krisna simpulkan, Thomas adalah anak dari hasil hubungan haram. Tiba-tiba saja Krisna terdiam mengingat masa lalu. Ia menelan ludah ketika cerita Thomas mengingatkan Krisna pada suatu kenangan.
Ia menggeleng dan kembali berseru pada Thomas. "Hujan sepertinya masih lama! Ayo pulang!"
Sialan. Krisna jadi merasa ia tengah menjemput anaknya yang nakal bermain.
Thomas masih enggan beranjak, dan Krisna menyerah, ia pun berdecak, lalu berbalik hendak meninggalkan Thomas.
"Dulu dia begitu menyombongkan hartanya. Tapi, sekarang aku senang karena derajat kami tak ada bedanya." Thomas menyeringai. "Dia jatuh miskin, dia hancur oleh putra kebanggaannya sendiri. Terlebih, seorang gelandangan dan narapidana yang diincar polisi. Hahaha."
__ADS_1
Krisna mematung di tempat. Wajahnya mendadak kaku saat perlahan berbalik. Thomas sedang menatapnya dengan seringai penuh arti.
"Apa maksudmu?" tanya Krisna pelan. Kenapa ia merasa terlibat dalam kalimat-kalimat yang dilontarkan Thomas?
"Menurutmu?" Thomas bertanya balik. Dagunya terangkat dengan raut menantang.
"Thomas," panggil Krisna penuh peringatan.
Thomas tersenyum miring. "Kau tidak penasaran siapa ibuku?"
"Untuk apa?" geram Krisna, menatap Thomas tajam. "Masalah kalian bukanlah urusanku."
"Salah. Masalah ini justru ada karenamu," balas Thomas tak kalah tajam. "Apa kau sudah lupa dengan wanita yang kau tinggalkan 21 tahun yang lalu?"
Thomas mendekat, senyumnya tersungging lebar dengan mata menghunus Krisna hingga tak bergerak. "Akulah, bayi yang saat itu berusaha kau lenyapkan."
Bisikan Thomas berbarengan dengan petir yang menggelegar. Sama seperti jantung Krisna yang seakan baru dihantam godam. Apa-apaan ini? Takdir macam apa yang sedang mempermainkan Krisna kali ini?
Tanpa diminta ingatan Krisna berputar ke masa puluhan tahun lalu. Pernikahan, perselingkuhan, lalu kehamilan salah satu wanita gelapnya yang begitu menyebalkan.
Wanita itu salah satu karyawan Krisna di perusahaan. Krisna sering tidur dengannya ketika bertengkar dengan sang istri, yang tak lain adalah ibu Narendra. Namun tanpa diduga wanita itu justru hamil, padahal Krisna sudah menyuruhnya minum pil.
Lantaran marah, Krisna menyuruh wanita itu untuk menggugurkan kandungan tersebut. Ia tidak mau anak haram yang dilahirkan kelak akan menjadi masalahnya di masa depan.
"Sekarang kau ingat?" Thomas bertanya masih dengan seringai culasnya. Ia tertawa mengejek. "Aku tidak tahu, ternyata kau sebodoh itu hingga dengan mudah masuk perangkapku."
"Harusnya kau sadar, tujuanku membawamu kemari adalah untuk melenyapkanmu," lanjut Thomas, tajam dan penuh penekanan.
Krisna berdiri dengan tangan mengepal. Rupanya firasat yang ia rasakan sejak awal tidak salah, bahwa mata Thomas nampak tidak asing di ingatan Krisna. Pemuda itu mirip ibunya, selingkuhan Krisna di masa lalu.
"Takdir sialan apa ini? Ternyata, akan lebih baik jika aku membunuh ibumu sejak dulu," desis Krisna, yang membuat amarah Thomas semakin menggelegak.
Wajah Thomas mengeras ketika ia tiba-tiba melompat dan menyerang Krisna secara mendadak. "Hyaaaaa ..."
Bruk!
Krisna yang tidak siap akhirnya terjatuh bergulingan bersama Thomas. Keduanya kini bergulat di atas tanah berumput di tengah hutan. Hujan seolah tak ada hentinya mengguyur disertai angin dan petir, seakan mendukung perkelahian ayah dan anak yang hendak saling membunuh itu.
"Sialan! Buk!" Krisna memukul Thomas, pun sebaliknya Thomas menyerang Krisna membabi-buta.
"Matilah, pria sialan! Manusia sepertimu sama sekali tidak pantas untuk hidup!" desis Thomas. Rahangnya mengetat dengan mata menghunus Krisna yang kini berada di bawahnya.
Thomas mencekik pria itu hingga Krisna berkali-kali tersedak. Ia kesulitan bernafas, ditambah air hujan yang terus berjatuhan di atas wajahnya.
"Uhuk! Le-Lepas!" Krisna mulai kewalahan. Harus ia akui bahwa kemampuan Thomas dalam berkelahi memang hampir setara profesional.
Thomas tak menghiraukan permohonan Krisna, ia justru mengeluarkan pisau dari balik saku celana bagian belakang, dan mulai mengayunkannya ke arah Krisna.
Dor!
Suara tembakan menghentikan niatan Thomas, hingga pisau yang dipegangnya kini menggantung di udara. Thomas terengah, ia lalu menoleh ke belakang, di mana seorang pria dengan setelan abu-abu berdiri tanpa ekspresi di sana.
Krisna terbatuk setelah cekikan Thomas terlepas dari lehernya. Pria itu terdiam, lalu turut menoleh mengikuti arah pandang Thomas.
Rahang Krisna seketika mengeras. Matanya menghunus tajam dengan gigi gemeretak. "Narendra," desisnya hampir tanpa suara.
Narendra tersenyum tipis, wajahnya datar balas menatap Krisna. Kedua tangan lelaki itu bersidekap, dengan salah satunya memegang pistol.
"Jika ada nominasi pria yang paling dibenci anak-anaknya, mungkin itu adalah kau."
__ADS_1