Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
43. Kedatangan Yohanes


__ADS_3

Glacia membuka matanya perlahan, hal pertama yang ia lihat adalah wajah Narendra yang tersenyum dalam jarak dekat. Glacia sempat terhenyak sebentar sebelum Narendra merengkuhnya menenangkan.


"Hei, tenang."


Nafas Glacia terengah panik. Ia sama sekali belum terbiasa dengan intensitas mereka saat ini. Glacia bahkan baru sadar kepalanya tidur berbantalkan lengan Narendra.


"N-Naren," bisik Glacia pelan.


"Tidak ada yang terjadi, kita hanya tidur bersama." Narendra yang mengerti kegelisahan Glacia pun menjelaskan. "Kamu tidur saat kita ciuman."


Glacia membuang pandangannya malu. Benar, kemarin sore mereka berciuman. Lalu, berarti Glacia tidur senyenyak itu sampai baru bangun sekarang?


Tiba-tiba Narendra terkekeh singkat, walau sekilas hanya terdengar seperti dengusan geli. "Aku tidak tahu ciuman bisa membuat seseorang mengantuk."


Glacia tergagap berusaha mengeluarkan pembelaan. "A-aku, sebelumnya aku memang sudah mengantuk."


Narendra mengangguk saja.


"Lapar?"


"Tentu saja," ketus Glacia.


"Kalau begitu bangunlah. Kita mandi lalu sarapan." Narendra bangkit, sementara Glacia melotot ngeri.


"Apa kau bilang?"


Narendra menoleh, ia masih belum sadar hingga kemudian terkekeh setelah tahu apa yang Glacia pikirkan. "Maksudku kita mandi. Kamu mandi di sini, aku mandi di kamarku tentu saja."


Ia tahu Glacia masih belum terlalu nyaman dengannya. Narendra bisa mengerti, dan ia akan berusaha pelan-pelan saja.


"Kalau begitu aku keluar. Akan kupanggilkan Weni kemari."


Glacia tak menyahut apa pun dan membiarkan Narendra keluar dari kamarnya. Setelah pintu itu menutup, Glacia meremas rambutnya pelan dengan wajah frustasi.


Apa yang sudah dia lakukan? Bodoh, kenapa bisa terbuai begitu saja oleh ciuman Narendra. Sekarang, lelaki itu malah semakin berharap dan menganggap Glacia telah membuka jalan untuk hubungan mereka.


Glacia telah selesai mandi dan berpakaian rapi. Ia tengah turun ke ruang makan bersama Weni. Glacia membuang nafas, ini benar-benar sulit. Ia tak habis pikir kenapa Narendra bisa memiliki usulan seperti kemarin. Padahal sebelumnya mereka hampir tak pernah bicara kecuali masalah perceraian.


"Haahh ..." Glacia kembali membuang nafas kasar, sampai-sampai Weni memperhatikannya dengan heran.


Pintu lift terbuka, dan Glacia memaki dalam hati ketika mendapati Narendra tengah duduk minum kopi di meja makan sana. Belum sempat Glacia memiliki niat untuk berbalik, Narendra sudah keburu menangkap keberadaannya.


"Kemarilah. Makanannya sudah siap." Suara itu masih terdengar datar, tapi aksen hangat dan tulus bisa Glacia rasakan di sana.

__ADS_1


Lagi-lagi menghela nafas. Pada akhirnya mau tak mau Glacia bergerak maju mendekati meja makan. Ia hendak duduk di seberang paling jauh dari Narendra, seperti yang biasa terjadi selama ini. Namun panggilan Narendra membuatnya berhenti dan menoleh.


"Duduklah di sini," ujar lelaki itu.


Weni melirik sang nyonya yang terdiam. Situasi tersebut tak hanya membuat Glacia canggung, tapi atmosfer ruangan juga terasa berbeda.


Sebetulnya Glacia sudah menyadari sedari tadi, Narendra sudah menyiapkan tempat di sampingnya untuk Glacia. Terbukti satu kursi di sana telah hilang entah ke mana. Rupanya Narendra bersungguh-sungguh dengan niatnya mendekati Glacia.


Weni mendorong pelan kursi roda Glacia tepat bersebelahan dengan Narendra. Setelah itu mundur dan membiarkan Glacia makan dengan tenang bersama suaminya.


Glacia menelan ludah gugup. Ia masih saja merasa aneh dengan perubahan suasana di antara mereka. Narendra menyimpan sepotong sandwich di piring Glacia. Sekali lagi Glacia dibuat terkejut karena untuk menu sarapan pun Narendra tahu apa yang ia sukai.


"Ayo makan," ujarnya. Narendra menyingkirkan gelas kopinya dan mulai menyantap sarapan di meja.


Padahal, Glacia sengaja berlama-lama mandi dan bersiap agar saat dirinya turun, Narendra sudah pergi. Tapi, nyatanya semua upayanya tak berguna. Narendra masih anteng duduk menunggu Glacia untuk sarapan bersama.


Membuang nafas lelah, Glacia pun memilih menyerah dan memakan saja makanannya. Ia tak berselera, moodnya benar-benar berhasil diobrak-abrik oleh Narendra.


***


Narendra betul-betul menunjukkan kesungguhannya untuk kemajuan hubungan mereka. Beberapa hari terakhir pria itu semakin perhatian pada Glacia. Ia tak segan memasuki kamar Glacia sepulang kerja, bahkan berkali-kali tidur di sana.


Glacia malah stress sendiri melihat sikap Narendra yang semakin ke sini semakin menunjukkan kepeduliannya. Entah Glacia harus menyikapi bagaimana. Ia sendiri masih bingung dengan hatinya.


Sore ini ia tengah bersantai di sun house, menelusuri novel-novel romansa dengan harapan mampu menyingkirkan bayang-bayang masalahnya dengan Narendra. Nyatanya semakin dibaca malah semakin tak masuk akal. Glacia salah memilih tema bacaan, harusnya ia membaca buku tentang strategi perang, ensiklopedia, atau geografi.


Kisah romantis membuat Glacia menempatkan dirinya dan Narendra sebagai tokoh utama. Itu gila.


"Papa?"


"Benar. Beliau menunggu di dalam."


Glacia menutup bukunya sambil berpikir sesaat. Ada apa gerangan Yohanes menemuinya.


"Glacy, apa kabar? Papa rindu sekali padamu, Nak," ujar Yohanes begitu mereka bertemu di ruang keluarga.


Glacia tersenyum membalas pelukan sang papa. "Baik. Papa sendiri bagaimana?"


"Baik."


Yohanes terdiam lama memeluk Glacia. "Glacy," panggilnya dengan suara serius.


"Ya, Papa?"

__ADS_1


Yohanes melepas dekapannya dan menatap Glacia seraya memegangi bahunya. Sekian menit berlalu Yohanes masih saja nampak ragu mengutarakan kalimatnya.


"Kenapa, Pa?" tanya Glacia.


"Sebenarnya ..."


"Sebenarnya Papa ada rencana bawa kamu ke luar negeri untuk berobat."


Glacia diam.


"Maksud Papa?"


Yohanes melepas tangannya dari bahu Glacia. Lelaki baya itu membuang nafasnya keras, ia lalu menunduk dengan kedua siku bertumpu di lutut.


"Papa mungkin belum memberitahumu, tapi Papa yakin kamu juga sadar apa yang kamu rasakan."


Kembali hening. Glacia memandang ayahnya lekat. Yohanes tampak seperti banyak pikiran akhir-akhir ini, salah satunya Glacia sadari karena dirinya.


Glacia lalu mengangguk mengerti. "Aku tahu, kok, Pa."


Yohanes menoleh menatap putrinya. Glacia pun sama, membalas tatapan sang ayah dengan sorot dalam.


"Kanker itu kembali, kan?"


"Kamu tahu?" bisik Yohanes.


Glacia tersenyum. "Aku tidak bodoh untuk tidak menyadari gejalanya."


Getir, itulah yang Yohanes rasakan saat ini. Ia menunduk memijat pangkal hidungnya hingga kemudian isak pelan keluar dari mulutnya.


"Maafkan Papa, Nak."


"Papa tidak salah," ujar Glacia.


Yohanes menggeleng. Ia benar-benar terlihat lemah sekarang. Kesedihannya tumpah di hadapan Glacia. Ia ingin marah, kenapa Tuhan harus bertubi-tubi memberi putrinya rasa sakit. Belum sembuh kakinya, kini mereka dihadapkan masalah yang lebih ganas dan beresiko.


Menyeka air matanya, Yohanes kembali mendongak menatap Glacia. Tangannya terulur mengusap sisi wajah sang putri. "Kamu akan baik-baik saja, Glacy. Papa janji. Kamu pasti akan baik-baik saja."


Dalam hati Glacia tersenyum getir. Ia pun mengangguk guna menghilangkan sedikit keresahan ayahnya. "Glacy percaya, kok."


Meski sebenarnya ia pun tak begitu berharap.


Tiba-tiba saja Yohanes kembali bertanya. "Glacia, apa kamu masih ingin bercerai dari Narendra?"

__ADS_1


__ADS_2