Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
49. Menyakiti Diri Sendiri


__ADS_3

"Kau sudah mencatat semua pelakunya?"


Julian mengangguk. "Sudah, Tuan. Selanjutnya, apa kita akan melaporkan mereka?


Narendra terdiam sesaat, nampak melamun, tapi kemudian lanjut membaca berkas di meja kerja, mengabaikan Julian yang bertanya-tanya.


Narendra baru saja menyuruhnya merangkum kejadian semalam yang melibatkan Glacia sebagai korban perundungan dan mencatat semua pelaku yang menyakiti istrinya.


Sebenarnya Julian sudah akan melapor, sesuai dengan keinginan Yohanes yang juga turut marah mengetahui putrinya diinjak-injak. Tapi, ia tentu harus menunggu keputusan Narendra.


"Tidak perlu," cetus lelaki itu mengejutkan.


Julian mendongak dengan kening berkerut dalam. Ia pikir Narendra akan membawa kasus ini ke jalur hukum. "Tapi, Tuan, mereka sudah sangat keterlaluan pada Nyonya."


Meski tak begitu menyukai kesombongan Glacia di masa lalu, Julian tetap merasa kesal dengan perlakuan orang-orang di pesta semalam pada sang nyonya.


"Penjara saja tidak cukup. Lagipula mereka orang berkuasa semua, hukum tidak akan begitu mencekalnya," ucap Narendra santai.


"Lalu, apa yang akan Tuan lakukan?" tanya Julian penasaran.


Narendra menghentikan sejenak kegiatannya membolak-balik kertas, ia melirik julian dengan senyum tipis yang sekilas terlihat berbahaya.


Entah apa yang akan Narendra lakukan, pria itu sama sekali tak memberi tahu Julian soal rencananya pada orang-orang jahat itu.


***


Sementara di rumah, Glacia masih belum menunjukkan batang hidungnya keluar kamar. Selama itu hanya Weni yang setia keluar masuk melayani sang nyonya. Glacia tak ingin bertemu siapa pun, bahkan ayahnya yang datang berkali-kali ingin menjenguk.


Tidak ada yang tahu apa saja yang Glacia lakukan di dalam sana. Kamarnya sepi, pun sun house yang biasa ia datangi. Selepas malam itu Glacia benar-benar membatasi dirinya dari semua orang, bahkan pada Weni sekalipun ia juga tak banyak bicara. Biasanya, Glacia senang sekali memerintah, tapi kali ini tidak, dan Weni merasa tak nyaman dengan semua itu.


Diamnya Glacia berdampak ada suasana rumah yang semakin lengang. Tidak ada lagi lontaran ketus mengomentari pelayan, tidak ada lagi teriakan marah yang membuat semua orang ketakutan. Rasanya rumah itu damai, tapi juga tegang.


Yohanes sampai mendatangkan seorang psikolog untuk mengajak putrinya bicara, namun hasilnya sama sekali tak memuaskan. Glacia tetap pada pendiriannya enggan keluar kamar.


"Kenapa Naren belum bertindak apa pun? Kalau begini, lebih baik aku mengajukan laporan sendiri," gerutu Yohanes. Hari ini dia kembali mengunjungi putrinya di rumah Narendra.


"Tuan Naren masih mencari sesuatu yang akan lebih memberatkan orang-orang itu," jawab Fin lugas.


Yohanes menoleh malas. "Kau asistenku atau dia? Kenapa kau terkesan sangat memahaminya?"


Fin tak menjawab. Sorang wanita kemudian turun dari lantai atas. Dia psikolog entah ke berapa yang Yohanes datangkan.


Wanita itu membungkuk sungkan. "Mohon maaf, Tuan. Tapi, dengan berat hati saya mengatakan, saya menyerah. Permisi," ujarnya cepat, lalu berlari keluar.


Yohanes mendengus. Ia mendelik tajam pada Fin yang juga memperhatikan kepergian si wanita. "Sepertinya kau memanggil anak magang ke sini. Kenapa tidak ada satupun yang berhasil?" tanya ia kesal.


Fin menunduk dalam. "Maafkan saya, saya akan mencari yang lebih ahli."


***


Lizy melangkahkan kakinya dengan santai. Ia berjalan mengikuti seorang petugas yang akan mengantarnya ke sebuah tahanan. Ketika sampai, Lizy dipersilakan masuk, lalu duduk di kursi yang sudah disediakan.


Ia menunggu beberapa saat hingga seseorang yang ingin ditemuinya keluar bersama seorang petugas lain. Pria itu duduk dengan tangan terborgol. Kini mereka berhadapan dengan seutas kaca sebagai pembatas. Mereka bicara lewat telepon yang disediakan.


"Anda terlihat lebih baik," ucap Lizy memulai pembicaraan.


Krisna Julius Hutabarat, dia adalah ayah Narendra yang sepuluh tahun lalu terjerat kasus pembunuhan dan perampokan. Kini pria itu mendekam di penjara, menghabiskan masa tahanan yang sebetulnya masih lama.


Tapi ...


"Tentu aku baik. Sebentar lagi aku akan bebas dari tempat bau ini." Krisna tersenyum miring. "Semua berkat kau."


Lizy tersenyum tipis. "Tentu Anda tidak boleh lupa dengan kesepakatan kita. Sebagai balasan, lakukan semua yang kuperintahkan."


Krisna dan Lizy saling melempar pandang penuh arti. Pembicaraan mereka tidak banyak lantaran waktu yang terbatas.


Lizy keluar dari rutan tak sampai sepuluh menit kemudian, namun ia tidak sadar bahwa seseorang memperhatikannya dari sebuah mobil yang diparkir jauh dari tempat para tahanan tersebut.

__ADS_1


Matanya menatap awas mobil Lizy yang melintas pergi, tak berapa lama ia pun turut pergi meninggalkan persembunyiannya.


***


Narendra memasuki rumah saat jam menunjuk pukul 7 malam. Ia membuka dasi serta jas yang serasa mencekik seharian ini. Ia berjalan diikuti Julian serta Meredith yang senantiasa menanti pertanyaan.


Setiap pulang bekerja, Narendra akan selalu bertanya keadaan rumah pada kepala pelayan.


"Glacia masih belum keluar?" tanya Narendra pada Meredith. Mereka berjalan ke dapur, melewati lalu-lalang pelayan yang masih berkeliaran. Saat ini memang masih jam kerja mereka.


Meredith menggeleng sebagai jawaban. Ia memberikan gelas berisi air untuk Narendra minum. "Belum, Tuan. Tuan Yohanes sudah mendatangkan beberapa psikolog untuk mengajak Nyonya bicara, tapi hasilnya nihil."


"Tapi dia baik-baik saja, kan? Maksudku tidak ada yang terjadi selama aku pergi? Kesehatannya akhir-akhir ini buruk."


"Tidak ada yang terjadi, Tuan. Weni selalu memperhatikan dan mengawasi Nyonya setiap kali ke kamarnya."


Narendra menyimpan gelasnya di meja. Ia mengangguk, lalu terdiam sambil membuang nafas pelan. Sorotnya nampak berpikir sesaat, sebelum kemudian berbalik meninggalkan dapur.


"Kalian pergilah. Aku akan istirahat," ucap Narendra, sekaligus menghentikan langkah Julian yang hendak kembali mengikutinya.


Pria itu memasuki lift sendiri, matanya lagi-lagi nampak melamun memikirkan Glacia. Ia berjalan keluar saat pintu lift berdenting terbuka, lalu berhenti tepat di depan kamar Glacia yang terkunci rapat.


Ragu Narendra mengetuk dan memanggil Glacia pelan. "Glacy?"


Tak ada jawaban, persis seperti sebelum-sebelumnya.


"Kamu sudah makan?"


"Boleh aku masuk? Sebentar saja. Ada yang ingin kubicarakan padamu."


Tetap tak mendapat sahutan. Entah berapa kali Narendra merasa menyesal atas kejadian kemarin. Ia benar-benar bodoh karena sempat mengabaikan Glacia di pesta. Padahal Narendra tahu kondisi Glacia membutuhkan pendampingan.


"Glacy, kumohon bicaralah. Jangan mengunci diri seperti ini. Semua orang khawatir."


Narendra tidak tahu lagi harus membujuk Glacia dengan cara apa. Ia benar-benar resah karena takut Glacia kenapa-napa di dalam sana.


"Ayo kita bicara."


"Glacy?" Narendra mengetuk, kali ini lebih keras dan tergesa. "Glacy, bisa buka pintunya?"


Narendra tidak tahu, tapi ia merasa tak bisa diam saja seperti ini. Ia mencari akal untuk bisa masuk secepatnya ke kamar Glacia, dan Narendra pun segera berlari memasuki lift hingga tindakannya tersebut memancing rasa penasaran para pelayan yang lewat.


Raut pria itu yang sedikit tegang memicu mereka untuk melapor pada Meredith sang kepala pelayan, dan kebetulan di sana juga masih ada Julian yang sontak langsung menyusul begitu tahu Narendra pergi ke atap.


Julian tiba di atap, dan ia langsung meloncat berlari panik melihat Narendra yang berkutat di pinggir pembatas, membuat simpul tali entah untuk apa.


"Tuan, apa yang anda lakukan?"


Narendra tak menghiraukan. Ia tetap fokus membuat simpul sekuat mungkin untuk dirinya turun. Narendra menyesali kunci kamar Glacia yang tak memiliki cadangan. Kalau saja ada, mereka bisa masuk sesuka hati dari kemarin.


"Glacia melarang kita masuk lewat pintu, kan? Jadi biarkan aku masuk lewat jalan lain."


Julian sedikit melotot ketika menyadari apa yang hendak Narendra lakukan. "Tuan mau pakai tali ini untuk ke kamar Nyonya? Tuan, itu sangat berbahaya. Kalau anda jatuh bagaimana?" tanya Julian panik.


Tapi Narendra seakan tak peduli. Ia sudah menjulurkan tali itu ke bawah hingga mencapai lantai balkon kamar Glacia.


"Tenang saja. Aku bisa melakukannya," ucap Narendra, sebelum ia benar-benar mengayunkan tubuhnya keluar pembatas, mulai memegangi tali bersiap untuk turun.


Julian tak bisa berbuat apa-apa ketika Narendra dengan keberaniannya melompat ke bawah dengan bantuan seutas tali tanpa pengaman. Julian hanya bisa menahan nafas sampai jantungnya ikut berhenti sesaat.


Narendra berhasil mendarat di balkon kamar Glacia. Pria itu lekas menghampiri jendela dan mengendornya keras sembari berusaha melihat ke dalam.


Matanya langsung melotot ketika melihat sesuatu yang tak disangka-sangka. Tangannya semakin menggedor pintu kaca itu dengan keras. Ia bahkan berteriak memanggil Glacia yang sepertinya mulai sadar akan kehadiran Narendra, tapi memilih acuh tak peduli.


"Glacy!!!"


Brak brak brak!

__ADS_1


"Glacy!!!" Narendra berteriak keras.


Glacia tak memperdulikan teriakan Narendra. Wanita yang tengah duduk di kursi roda itu menatap kosong kakinya sembari menangis.


Namun yang lebih membuat Narendra panik adalah pisau buah di tangannya yang terangkat tinggi seolah hendak menikam kakinya sendiri.


"Glacy, jangan lakukan itu! Glacy!!"


Brak!


Brak!


Narendra membentur-benturkan tubuhnya berusaha mendobrak pintu balkon. Kesal tak kunjung terbuka, Narendra akhirnya mengambil sebuah bangku yang terbuat dari besi di sana, lalu tanpa ragu menghantamkannya hingga pintu kaca itu pecah tercerai-berai.


Praaanggg!!!


"Glaciaaaa!!!"


Waktu seolah melambat ketika Narendra berlari pada Glacia yang hendak menikam kakinya. Wanita itu mengayunkan pisau di tangannya, dan hampir berhasil menancap di pahanya kalau saja Narendra tak sigap menahan.


Hap!


Satu senti lagi, hanya butuh satu sentimeter lagi untuk Glacia menancapkan pisau itu di sana.


Narendra menggenggam tangan Glacia kuat. Nafas keduanya juga terengah saling berkejaran. Glacia menatap tajam Narendra yang kini bersimpuh di depan kakinya, balas menatap dengan mata ketakutan luar biasa.


"Glacy?" panggil Narendra sedikit bergetar. Ia benar-benar tidak menyangka apa yang hendak Glacia lakukan barusan.


"Lepas," bisik Glacia tajam.


Narendra menggeleng. Ia tetap menggenggam erat tangan Glacia yang memegang pisau. Rahang Glacia mengeras marah, wajah dan mata itu masih basah nan sembab. Pemandangan itu seolah mengguncang rasa penyesalan Narendra yang sejak kemarin menghantui.


"Glacia, please, jangan lakukan ini," ucap Narendra tak kalah berbisik.


Namun Glacia malah terisak dan berusaha melepaskan cekalan Narendra dari tangannya. "LEAPAASSS!!!"


"Glacia! Hey? Lihat aku! Glacia!"


"PERGIII. LEPASKAN AKU, SIALAN!! LEPAAASSS!!! AARRGHHH!!!"


Glacia menarik keras tangannya, mereka berebut pisau tersebut hingga kemudian Narendra nekat memeluknya dan mengorbankan bahunya sampai tertusuk.


Creshhh!!


Narendra mendesis pelan dengan mata terpejam rapat. Darah mengalir deras dari sela robekan kemeja bagian belakang. Lelaki itu memeluk erat sang istri yang menangis histeris seolah hilang kewarasan. Namun, lambat-laun tangisan Glacia pun memelan begitu sadar apa yang sudah ia lakukan.


"N-Naren?" bisik Glacia gemetar.


Narendra memeluk Glacia semakin erat. "Tolong jangan lakukan itu," bisiknya pelan. Ia membenamkan wajahnya di sela leher Glacia, mengecupi wanita itu penuh rasa sesal dan bersalah.


"Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf karena kesalahanku kemarin. Kamu boleh marah atau menghukumku, tapi tolong jangan sakiti dirimu sendiri."


"Aku sangat memohon untuk ini, Glacy."


Glacia sadar Narendra tengah menangis di bahunya. Pundak lelaki itu bergetar seiring isak pelan yang mulai terdengar.


Mata Glacia terlihat kosong. Tangannya bergetar memegang pisau yang masih menancap di bahu Narendra. Pelan, ia melepas jari jemarinya dari sana, hingga ia bisa melihat sendiri tangannya yang basah berlumur darah Narendra.


"K-kau terluka." Glacia gemetar ketakutan. Namun Narendra segera menenangkan dengan bisikan dan usapan halus di rambutnya.


Lelaki itu masih memeluknya erat sampai suara gaduh terdengar dari luar, dan seketika pintu kamar Glacia pun terbuka dengan bantingan keras setelah beberapa pengawal berbadan besar mendobraknya.


"Nyonya!"


"Tuan!"


Meredith, Weni, serta Julian berlari mendekat dengan wajah pias dan panik. Terlebih saat melihat pisau menancap dalam di bahu Narendra hingga pria itu terluka lumayan parah.

__ADS_1


Meski begitu, Narendra masih tak melepaskan pelukannya dari Glacia, bahkan saat tubuhnya mulai melemas, pun wajahnya pucat dengan keringat dingin sampai akhirnya ia pun kehilangan kesadarannya di pangkuan Glacia.


Narendra pingsan dalam rengkuhan wanita itu.


__ADS_2