
Angin malam berhembus lirih menciptakan gemerisik dedaunan. Narendra bergeming di dalam mobilnya dengan mata menatap lurus pada mansion besar di depan. Terlalu jauh untuk Narendra memastikan lampu kamar Glacia masih menyala atau tidak. Halaman kediaman Martadinata begitu luas puluhan meter jaraknya.
Tapi, Narendra masih bisa menangkap siluet seorang wanita yang tengah duduk di kursi roda. Wanita itu berdiam diri di balkon, menengadah menatap langit malam yang sama sekali tak ada istimewanya.
Narendra terus terpekur di sana. Sesaat matanya melirik selembar kertas berupa surat perpisahan yang tergeletak di jok samping. Narendra menatap lama kertas berlogo Pengadilan Negeri tersebut, lalu kembali menerawang ke depan, tempat di mana Glacia kini sudah hilang dari pandangan. Mungkin wanita itu pergi tidur.
Menghela nafas, Narendra pun memutar setir hingga mobilnya berbalik meninggalkan kawasan mewah tersebut. Namun saat itulah ia berpapasan dengan mobil lain yang melintas dari arah berlawanan.
Narendra mengernyit karena mengenali mobil itu sebagai milik Lizy. Ia pun menghentikan mobilnya dan menoleh ke belakang.
Mobil Lizy berhenti sesaat di depan gerbang, ia tampak berbincang sebentar dengan penjaga di sana sebelum akhirnya dipersilakan masuk.
Narendra diam berpikir lama. Ia bertanya-tanya untuk apa Lizy ke rumah Glacia malam-malam begini.
***
Di rumah, Glacia yang baru saja masuk meninggalkan balkon tiba-tiba kedatangan Weni. Gadis itu memberi tahu Glacia tentang kedatangan seseorang yang tak Glacia sangka-sangka akan menemuinya.
"Nyonya, di bawah ada tamu yang ingin bertemu Nyonya," ucapnya, sekaligus menghentikan niat Glacia memasuki kamar.
Glacia mengernyit dalam. "Siapa?"
"Nona Eliza Pataya."
Mendengar nama itu membuat Glacia mematung sesaat. Ia bertanya-tanya kenapa Lizy mencarinya sampai kemari.
Glacia pun mengangguk dan berniat turun menemui wanita itu.
"Tolong kamu bereskan ranjangku, ya. Aku akan menemuinya sebentar," titahnya pada Weni.
"Tapi, Nyonya—"
"Pergilah. Aku akan menemuinya sendiri."
"Ya sudah," gumam Weni menyerah. Ia menatap kepergian Glacia yang lantas menghilang ditelan pintu lift.
Weni membuang nafas. Saat itulah ia mendapatkan pesan dari Narendra di ponselnya. Memang, meski sudah mengikuti Glacia sebagai pelayan pribadinya di kediaman Martadinata, Weni masih sering berhubungan dengan Narendra mengenai urusan kabar sang nyonya.
Glacia pun sepertinya sadar, tapi wanita itu nampak tak peduli. Hal yang Weni syukuri karena sekarang Glacia tak begitu pemarah.
Di ruang tamu, Glacia terdiam sesaat melihat keberadaan Lizy. Wanita itu duduk di salah satu sofa di sana. Ia lalu mendongak ketika menyadari keberadaan Glacia.
Lizy berdiri sambil tersenyum hingga mau tak mau Glacia mendekat padanya.
"Kenapa kamu kemari?" tanya Glacia. Ia mempersilakan Lizy untuk duduk.
Lizy pun kembali duduk dengan anggun. Ia melipat bibir dengan jari saling meremas di pangkuan. Matanya menatap Glacia seakan merasa bersalah akan sesuatu.
"Glacy, maaf aku baru datang menemuimu. Aku tadi sempat ke rumahmu dan Narendra, tapi kalian tidak ada. Dan dengar-dengar kamu sudah 4 hari tinggal di sini?"
Glacia tersenyum canggung. "Iya, aku sedang merindukan papaku. Ngomong-ngomong, kenapa kau sampai menemuki kemari?"
Lizy mengangguk paham. "Ah, iya. Aku mencarimu untuk minta maaf atas kejadian malam itu di pestaku. Aku benar-benar merasa malu padamu, Glacy. Pada Narendra, pada Tuan Yohanes, aku benar-benar kehilangan muka di hadapan mereka dan tentu saja kamu. Aku benar-benar minta maaf," ujarnya menyesal.
Glacia tersenyum kikuk. Sebenarnya ia masih trauma jika membahas kejadian malam itu. Rasa malu yang ditanggungnya begitu besar, sampai-sampai ia tak lagi sepercaya diri dulu untuk menatap orang.
"Itu bukan salahmu. Lagipula aku sudah melupakannya," bohong Glacia. Ia hanya ingin pembicaraan ini berhenti.
__ADS_1
Namun Lizy menggeleng. "Tidak, ini semua salahku. Aku kurang memperhatikan para tamu yang hadir. Seandainya aku bisa mengatur pestaku dengan lebih baik, mungkin hal itu tidak akan pernah terjadi."
"Aku baik-baik saja," ucap Glacia.
"Kau sungguh baik-baik saja?" Mata Lizy kemudian melihat pada lengan atas Glacia yang masih menyisakan lebam samar. Glacia masih mengenakan dress rumahan lengan pendek. "Itu ..."
Glacia yang mengerti arah pandang Lizy, lantas mengusap lebam itu pelan. "Tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil."
Dengan kondisinya yang sekarang, Glacia memang mudah sekali mendapatkan memar. Terbentur sedikit saja tubuhnya pasti akan membiru meninggalkan bekas.
"Kau yakin?" tanya Lizy tak nyaman.
Glacia mengangguk. "Iya, ini bukan apa-apa, kok."
Lizy pun mengangguk lega. "Oh ya, malam itu kamu diantar Rafael?"
Mendengar pertanyaan barusan, Glacia pun tergagap. "Iya, itu ... itu kebetulan saja Rafael yang menolongku di sana," jelas Glacia, berusaha tak memicu salah paham. Bagaimana pun Lizy dan Rafael masih terikat hubungan pertunangan, meski sebenarnya Glacia tahu Lizy masih memiliki perasaan pada Narendra.
Lizy terkekeh halus. "Kenapa kau jadi segugup itu? Aku tidak masalah kau pulang dengan Rafael. Dia memang selalu baik pada semua orang."
Sekilas ada rasa iri di mata Lizy, namun ia segera menyipit tersenyum manis. Glacia mengangguk membenarkan. Rafael memang baik, terlalu baik sampai Glacia takut jika terus ditolong olehnya.
"Iya, dia memang baik."
"Oh ya, ini aku bawa sesuatu untukmu. Aku harap kamu menyukainya." Lizy mengambil sebuah paper bag yang sedari tadi ia simpan di samping tubuhnya, lalu menyerahkannya ada Glacia.
Glacia mengernyit menerima benda itu dari Lizy. "Ini apa?"
"Sebagai tanda permintaan maafku. Tolong jangan menolak atau aku akan benar-benar malu padamu."
"Oh." Glacia bergumam, sedikit menilik kotak di dalamnya.
"Ah, iya. Aku juga minta maaf karena tidak menghadiri pestamu sampai selesai."
Lizy tersenyum. "Tak apa, aku mengerti. Kalau begitu sampai jumpa. Semoga cepat sembuh."
Lizy membungkuk mengecup pipi kiri dan kanan Glacia sebagai tanda perpisahan. Wanita itu lalu berjalan keluar meninggalkan Glacia yang masih mematung di ruang tamu.
Ia sedikit meremas paper bag di tangannya. Nyatanya Glacia masih takut jika memikirkan kejadian tempo malam.
Di luar, Lizy yang sudah memasuki mobilnya kini mendengus. Wajah yang semula ramah penuh senyum sekarang nampak datar penuh kebencian. Wanita itu membuang nafas, lalu memutar kemudinya untuk pergi.
Tapi, ia senang Glacia dan Narendra sudah pisah rumah. Ternyata rumor mereka akan bercerai benar adanya.
***
Glacia memasuki kamar, ia menyimpan hadiah dari Lizy di atas meja, tapi kemudian ia dikejutkan dengan siluet seseorang yang duduk di sofa dekat jendela.
Pencahayaan kamar yang remang membuat lelaki itu terlihat dingin seperti bayangan.
"Naren?" Glacia terkejut.
Benar, dia adalah Narendra. Lelaki itu duduk dengan kaki bersilang dan tangan terlipat di depan dada. Wajahnya lurus menghadap Glacia.
Bagaimana bisa pria itu kemari dan tiba-tiba berada di kamarnya? Apa Narendra masuk secara mengendap-endap? Pasalnya Glacia sudah memberi ultimatum pada setiap penjaga supaya tak membiarkan lelaki itu masuk jika bukan untuk masalah surat cerai.
"Kenapa kau bisa di sini?" tanya Glacia datar. Ia menoleh pada jendela yang tertutup, mustahil orang akan melihatnya dari luar. Ia masih penasaran Narendra masuk lewat mana.
__ADS_1
Narendra tak langsung menjawab, ia beranjak pelan mendekati Glacia yang refleks sedikit memundurkan kursi rodanya.
"Kau mau apa? Jangan macam-macam atau aku akan teriak!" ancam Glacia.
Narendra tak peduli, ia semakin mendekat hingga berhasil mengurung Glacia di antara kursi rodanya.
"Aku masih suamimu, tentu aku berhak menemuimu di sini," ujar Narendra pelan.
Glacia membelalak. Itu artinya Narendra belum menandatangani surat perceraian mereka.
"Kau belum tanda tangan?" desis Glacia.
Lagi dan lagi Narendra tak menajawab, ia hanya menatap lurus pada Glacia yang mulai kesal dengan perlakuan lelaki itu.
Glacia berusaha menepis kedua tangan Narendra yang mengungkungnya, namun lengan itu seolah kuat seperti baja yang sulit disingkirkan.
"Lepas!" desis Glacia tajam. Namun Narendra urung peduli.
Glacia terkekeh hambar membuang muka. "Kenapa kalian senang sekali membuat suasana hatiku menjadi buruk?"
"Apa yang Lizy katakan padamu?"
Oh, jadi Narendra kemari karena Lizy. Glacia mendenguskan senyum samar yang terlihat sinis. "Dia hanya minta maaf. Kenapa? Kau takut aku dan dia terlibat pertengkaran karena hubungan kalian? Mohon maaf, tapi aku tidak peduli. Kau tidak lupa bahwa aku yang mendekatkan kalian berdua, kan?"
"Aku dan Lizy tidak ada hubungan apa pun. Malam itu kami bicara soal ayahku." Narendra tahu, malam itu Glacia melihatnya bersama Lizy di koridor samping, dan ia sadar itu adalah salah satu yang memicu kemarahan Glacia.
"Aku tidak peduli."
"Kau peduli," kekeh Narendra.
"Apa alasan aku harus peduli?" tantang Glacia.
Narendra menatap Glacia lama. Ia memandang tepat di mata wanita itu. "Karena tanpa kau sadari, kau mulai menganggap serius pernikahan kita," jawab Narendra yakin.
Glacia terdiam bungkam. Ia mematung membalas tatapan Narendra, matanya seolah hanyut dalam pupilnya yang kelam. Ia lalu membuang nafas seraya mengalihkan pandangan. "Kau salah paham."
"Kaulah yang selalu salah paham." Narendra tak meninggalkan tatapannya dari Glacia. "Glacy, sebenarnya kau mulai menerimaku, kan?" Ia meneliti perubahan raut Glacia yang tampak gugup dan terus menghindar.
"Malam itu kau bilang sudah mulai berharap padaku. Mungkin permintaan maaf saja tidak cukup untuk menebus kesalahanku. Aku juga tak akan mengelak, akulah yang menyebabkan hubungan kita jadi seperti sekarang. Tapi kau juga pasti sadar, bahwa hubungan kita sudah jauh berbeda dari awal pernikahan."
"Secara tidak sadar kita bukan lagi orang asing. Kamu pun merasakannya, kan?"
Glacia tetap bungkam. Ia lalu balas menatap Narendra tegas. "Lalu apa?"
"Meski begitu kita tetap tak akan bisa bersama," lanjutnya.
Narendra menggeleng. "Kau boleh berbanggapan seperti itu, tapi aku tetap tak akan menceraikanmu."
"Egois," bisik Glacia tajam.
Narendra mengangguk. "Ya, aku ingin egois sesekali."
"Bajingan gila!" Glacia mendesis lagi. "Keluar dari kamarku!"
"Kubilang keluar! Pergi dari rumah ini!" teriak Glacia karena Narendra tak kunjung beranjak.
Alih-alih pergi, Narendra justru menunjukkan keegoisannya yang lain. Ia menunduk dan memagut paksa bibir Glacia yang seketika mematung karena terlalu terkejut.
__ADS_1
Glacia baru tahu sekarang, bahwa Narendra memang bajingan miskin yang gila!