
Tiga hari berlalu sejak ia melayangkan gugatan cerai, tapi sampai saat ini belum juga ada respon dari Narendra. Apa mungkin tangannya masih sakit seperti yang pria itu katakan sebagai alasan?
Glacia kembali menyeka hidungnya yang lagi-lagi berdarah menggunakan tisu. Ia baru saja selesai kemoterapi di sebuah rumah sakit swasta, bersama sang papa tentu saja. Dimulai hari ini, Glacia memang mulai menjalani pengobatan kankernya, sesuai yang disarankan dokter beberapa waktu lalu.
Yohanes tak banyak bicara, ia hanya sempat memberi tahu Glacia bahwa pelaku perundungan kemarin sudah ditangkap.
Tapi bukan itu yang menarik perhatian Glacia. Selain terjerat hukum, mereka juga terkena masalah internal perusahaan keluarga masing-masing. Entahlah, menurut Glacia itu terlalu tiba-tiba, seakan semua masalah ditimpakan secara sekaligus. Beritanya juga tersebar di mana-mana, jelas mereka juga akan terkena sanksi sosial di lingkungannya.
Mungkinkah ada campur tangan Yohanes dalam hal ini?
"Glacy, kamu pulang bersama Weni dan sopir, ya? Papa akan langsung ke kantor. Kamu tidak apa-apa, kan?"
Glacia mengangguk tersenyum. "Tidak masalah. Lagian Papa tidak perlu khawatir. Papa membawa terlalu banyak orang hanya untuk berobat," dengusnya geli, melirik pada beberapa pengawal yang sedari tadi berada di sekitar mereka.
Yohanes mengusap rambut putrinya lembut. Setelah beberapa tahapan kemoterapi nanti, mungkin perlahan rambut indah ini akan rontok. Hal yang turut membuat Yohanes sedih.
Padahal ia sangat menyukai rambut panjang Glacia sejak kecil. Dulu Yohanes juga merasa demikian saat Glacia menjalani pengobatan kankernya.
"Ya sudah, Papa pergi dulu. Tolong kabari kalau sudah sampai rumah."
"Hmm," gumam Glacia mengangguk.
Seperginya Yohanes, Glacia juga turut meninggalkan rumah sakit. Tapi baru sampai lobi, ia tanpa sengaja berpapasan dengan Rafael.
__ADS_1
"Glacy? Kamu ... di sini?"
Glacia sedikit tergemap ingin menjawab apa. Mungkin Rafael sedikit heran karena yang lelaki itu tahu, dokter terapis Glacia adalah Teresa, salah satu dokter di Rumah Sakit Adiwangsa.
Di samping itu, Glacia memang sengaja menghindari rumah sakit itu untuk mencegah bertemu Rafael sewaktu-waktu. Bukannya apa, Glacia hanya tidak mau berurusan dengan orang-orang terkait Narendra atau Lizy lagi.
"Iya. Kamu di sini juga?" tanya balik Glacia, berusaha santai.
Rafael tersenyum teduh. "Saya ada pertemuan. Kamu sudah mau pulang?"
Glacia bersyukur Rafael tak bertanya lebih soal untuk apa Glacia di sini. Ia pun mengangguk membenarkan pertanyaan barusan. "Iya."
Mengangguk paham, Rafael pun berpamitan karena sepertinya lelaki itu tengah diburu waktu. "Kalau begitu hati-hati. Sampai jumpa lagi," ucapnya melambai, sementara bibirnya tak henti menguar senyum ramah.
Rafael baru saja mendengar kabar bahwa Glacia dan Narendra hendak bercerai. Mereka bahkan sudah pisah rumah sejak 3 hari yang lalu. Entah kenapa, tapi ada sedikit rasa senang di hati Rafael.
Sementara di perjalanan, Glacia harus bersabar saat mobilnya terjebak macet. Belum lagi beberapa mobil yang ditumpangi para pengawalnya. Menurut Glacia, sang papa terlalu berlebihan. Iringan seperti ini hanya akan memicu dan menambah kemacetan.
"Astaga, kenapa bisa semacet ini?" heran Glacia. Ia celingukan menatap ke luar jendela.
"Maaf, Nona. Sepertinya ada kecelakaan. Pengawal kita di depan sudah mengeceknya." Si sopir menyahut.
Weni yang melihat raut kusut Glacia pun segera menawarkan sesuatu. "Nyonya mau makan atau minum sesuatu? Kita masih ada jus."
__ADS_1
"Mana?" pinta Glacia.
Weni pun segera mengambilnya dan memberikannya pada wanita itu.
"Apa tidak ada jalan lain?" tanya Glacia pada si sopir.
"Tidak ada, Nona. Nona tenang saja, sepertinya di depan mulai longgar."
Dan benar saja, tak lama kemudian mobil mereka kembali melaju. Glacia menoleh ke luar melihat sebuah mobil dan motor tergeletak mengenaskan dengan kondisi rusak di pinggir jalan. Sepertinya telah terjadi tabrakan.
Tepat saat Glacia melirik ke arah lain, ia bertemu sepasang mata yang menatap ke arah mobilnya dengan ekspresi rumit dan penuh arti. Glacia mengernyit, pria itu berdiri di antara kerumunan orang yang menyaksikan tempat terjadinya kecelakaan.
"Weni, apa kau melihat pria tua tadi?"
Weni menoleh. "Pria yang mana, Nyonya?"
Sepertinya Weni tidak melihat. Glacia pun segera menggeleng, mungkin hanya perasaan Glacia saja. "Tidak ada. Tadi aku salah lihat."
"Begitu?" Weni mengangguk mengerti.
Tanpa Glacia sadari, di kejauhan sana Krisna terus memandang kepergian mobilnya. Pria baya itu tersenyum miring dengan mata sarat akan rencana. Ia pun mengeluarkan ponsel yang baru dibelikan seseorang untuknya, lalu melakukan panggilan pada orang tersebut.
"Aku sudah melihatnya. Katakan saja, kapan aku harus memulai rencana kita?"
__ADS_1