
"Nyonya, Anda yakin mau melakukan ini?" tanya Wina. Di sampingnya, Weni turut menatap Glacia ragu.
Glacia berdecak. "Sudah diam. Semuanya sudah siap, kan? Jangan lupa tehnya. Kita sudah terlanjur mengundangnya," ucapnya melirik dua pelayan tersebut. "Naren jadi pulang, kan?" lanjut Glacia bertanya.
Wina menggaruk rambut. "Tuan bilang, lihat waktunya saja."
Mendengar itu Glacia kembali berdecak. "Dasar sok sibuk. Pokoknya dia harus datang. Sia-sia, dong, aku mengundang Lizy kemari!"
Benar, hari ini Glacia akan memulai rencananya mempersatukan kembali Narendra dan Eliza. Mengesampingkan rasa malu, Glacia mengundang wanita itu ke rumahnya dengan alasan minum teh.
Sebenarnya terdengar cukup aneh mengingat ia dan juga Lizy belum pernah bersinggungan langsung, dan secara tiba-tiba Glacia mengundang wanita itu untuk bertemu.
Glacia yakin, Lizy pasti bertanya-tanya alasannya. Tapi, ke sampingkan semua itu dulu. Glacia melakukan ini demi kelangsungan hidupnya dan Narendra, demi perceraiannya dengan lelaki itu.
Glacia senang, Narendra pun senang. Harusnya pria itu bersyukur karena Glacia sudah berbaik hati ingin membebaskannya dari tekanan Yohanes. Dengan bercerai, Narendra bisa bebas memilih pilihan hidupnya sendiri.
Sebuah mobil berhenti di depan lobi. Glacia yang sedari tadi menunggu di dalam, lantas keluar bersama dua pelayan pribadinya.
Eliza Pataya memenuhi undangannya. Glacia hampir bersorak melihat wanita itu turun dari mobil dengan anggun. Ternyata selera Narendra tak bisa diremehkan.
"Selamat datang, Eliza?" sambut Glacia memastikan. Meski ia sudah tahu itu Eliza karena sempat melihat fotonya.
"Benar, saya Eliza Pataya." Lizy berdiri di hadapan Glacia. Gesturnya sangat tenang dan sopan. Cocok sekali dengan Narendra. Memang wanita seperti ini yang harusnya Narendra nikahi.
__ADS_1
Glacia tersenyum setan dalam hati, kalau sudah begini mustahil Narendra bisa menolak surat cerainya. Bodoh, kenapa tidak ia pikirkan sejak dulu?
Glacia menyungging senyum lebar. "Terima kasih sudah memenuhi undanganku. Aku sempat melihat beritamu di media, dan ingin mengenalmu lebih dekat. Maaf, sebelumnya mengganggu waktumu."
Eliza tersenyum sangat manis. "Tidak, Nyonya. Undanganmu sama sekali tak menggangguku. Senang bisa berkenalan denganmu."
Glacia mengibas tangan. "Panggil saja aku Glacia, atau Glacy. Nyonya terlalu kaku untuk didengar."
"Oh, baik, Glacia," sahut Eliza santun.
"Kalau begitu, mari masuk?" ajak Glacia.
Inilah saatnya. Ia benar-benar bersemangat mengundang mantan pacar suaminya. Glacia harap, setelah Narendra melihat Eliza, pria itu mau menandatangani surat cerainya.
***
Memandang Eliza canggung, Glacia berusaha mengulas senyum yang dibalas hal serupa oleh Eliza. Wanita itu nampak tenang menyeruput teh di gelasnya. Entah sudah berapa gelas, Glacia bahkan sudah mengajak Eliza makan siang guna mengulur waktu dan menunggu kedatangan Narendra.
Tentu saja Glacia tidak bilang soal Narendra pada Eliza. Ia masih bungkam soal rencananya. Sial, Narendra mana, sih? Berani sekali dia membantah Glacia.
Menutupi kekesalan di hatinya, Glacia kembali tersenyum pada Eliza. "Apa tehnya enak? Ini dipesan langsung dari Jepang," ucapnya memulai pembicaraan.
Eliza menyimpan cangkirnya pelan. Ia tersenyum teduh seraya mengangguk kecil. "Sangat enak. Jepang memang terkenal memiliki banyak teh istimewa," ujarnya lembut.
__ADS_1
Glacia meringis samar. "Iya, itu teh sencha."
Eliza mengangguk. Rupanya dia juga sudah tahu tanpa Glacia memberitahunya. "Ini bagus untuk kesehatan. Tidak hanya memiliki rasa yang nikmat, daun teh sencha juga memiliki banyak khasiat. Salah satunya adalah memperkuat sistem imun pada tubuh."
"Ah, iya benar." Glacia bahkan tidak tahu menahu soal manfaat tersebut. Ia asal memesan karena katanya teh ini salah satu yang terenak di Jepang.
Tiba-tiba Eliza memandangnya ragu. Sebenarnya Glacia sudah menyadari sejak tadi wanita itu mulai tak nyaman. "Maaf, Glacy. Sebenarnya aku sangat penasaran, apa ada hal yang ingin kau bicarakan hingga mengundangku kemari?"
Akhirnya pertanyaan itu datang. Glacia harus jawab apa? Ia sendiri kebingungan akibat Narendra yang tak jadi datang.
Mereka terdiam lama. Eliza dengan sabar menunggu Glacia buka suara.
"Anu ... sebenarnya ..."
Suara ponsel milik Eliza menyeruak memecah suasana canggung di antara mereka. Wanita itu buru-buru merogoh benda canggih tersebut dalam tasnya. Ia lalu memandang Glacia menyesal. "Maaf, Glacy, tapi aku harus pergi. Ada jadwal yang tak bisa ditunda hari ini."
Glacia membelalak. Ia tergagap, namun berusaha mencegah pun percuma. Mana mungkin ia menyuruh Eliza tetap bertahan di rumahnya setelah 2 jam berlalu tanpa kejelasan.
Ini semua karena Narendra. Ke mana sebenarnya pria itu?
"Ah, begitu? Ya sudah, silakan. Maaf sudah menyita waktumu. Tapi ... kapan-kapan aku boleh mengundangmu lagi, kan?"
Eliza mengangguk. "Tentu, senang bertemu denganmu. Kalau begitu aku permisi. Mari?"
__ADS_1
Hanya begitu saja? Rencana yang telah Glacia susun sampai memesan langsung teh dari Jepang kini berakhir sia-sia.
Glacia memandang kepergian Eliza dengan lesu. Ternyata, mempertemukan Lizy dan Narendra tak semudah yang ia pikir.