Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
105. Maut tak Disangka


__ADS_3

"Lizy, jangan gila!" pekik Glacia, memegangi lengan Lizy yang melingkar di lehernya. Kursi rodanya semakin mundur memasuki area balkon. "Ayo kita bicara baik-baik. Kali ini aku pasti memaafkanmu!"


Lizy mendengus. "Aku tidak butuh maafmu, Glacy. Kaulah yang harus meminta maaf padaku atas nama Narendra." Ia membuka tudung jaket yang semula menutupi wajahnya hingga semua orang bisa melihat rupanya yang buruk penuh luka, pun jaket tersebut ia buka dan lempar ke sembarang arah.


Lizy menarik kursi roda Glacia menghadapnya. "Kamu lihat apa yang sudah Narendra lakukan padaku? Lihat! Dia bahkan mampu menyakiti fisikku separah ini! Tidak menutup kemungkinan dia juga akan berlaku sama padamu! Apa kamu masih mau bersamanya? Dia kejam, Glacy!"


Tak pelak Glacia terkesiap melihat kondisi tubuh Lizy yang dipenuhi bekas luka. Bahkan beberapa belum sembuh dan bisa dibilang masih basah. Luka gores, sayatan, luka bekas sundutan rokok, dan luka-luka lainnya bisa Glacia lihat saat Lizy menyingkap bajunya. Ini terlalu menyeramkan.


Tanpa sadar Glacia menoleh ke dalam, pada Narendra yang berdiri siaga bersama polisi dan timnya. "Glacy." Pria menyuruhnya tenang sambil berusaha mendekat, tapi beberapa kali urung karena setiap orang-orang itu mengikis jarak, Lizy akan semakin menarik Glacia ke pinggir balkon.


"Nona Eliza! Menyerahlah sekarang! Dor!" Salah satu polisi menembakkan peluru ke sebuah lemari konsol yang terbuat dari kayu.


Lizy tertawa sambil memegangi Glacia. "Sudah kubilang aku lebih baik mati daripada hidup dalam kekalahan!" Ia lalu menoleh lagi pada Glacia. "Glacy, pikiran lagi. Aku sama sekali tidak berbohong. Semua yang kualami ini perbuatan Narendra! Dia menyiksaku hingga hampir mati! Narendra bukan orang baik, kau harus tahu itu!"


Kemudian Lizy menatap para polisi. "Orang yang seharusnya kalian tangkap itu bukan aku, tapi dia!" tunjuknya pada Narendra. "Dia dan orang-orangnya adalah penjahat yang sebenarnya! Mereka psikopat!"


Narendra seolah tak menghiraukan tuduhan Lizy tersebut, fokusnya tak sekalipun lepas dari Glacia. Bagaimana cara menarik wanita itu dari cengkraman Lizy, sementara jika Narendra maju, kemungkinan Lizy akan berbuat lebih gila bisa saja terjadi.


"Jika kalian saja mengejarku karena satu kejahatan, dia lebih, lebih dari pada jahat dari aku! Dia monster!! Monster!!!"


"Glacy, dia monster. Kau harus percaya padaku! Dia pasti akan menyakitimu juga!" Lizy mengguncang bahu Glacia.


Glacia bungkam. Ia menelan ludah meneliti Lizy dari atas ke bawah. Jadi, ini yang Narendra maksud sebagai pembalasan waktu itu? Separah ini?


Glacia menoleh pelan pada Narendra, ia juga mengamati para polisi yang hanya diam saja mendengar pengaduan Eliza barusan, seolah mereka memang tahu, tapi tak berani menanggapi.


Siapa Narendra sebenarnya? Kenapa aparat pun terkesan begitu segan padanya? Padahal, Glacia yakin Lizy tak serta-merta berbohong.


Di sisi lain, Rafael yang baru tiba di lobi langsung memasuki lift menuju lantai apartemennya. Langkahnya tergesa, dan saat melihat pintu unitnya yang terbuka, Rafael tahu bahwa kediamannya kini sudah terkepung.


Dengan cepat ia menekan password pada pintu unit di sebelahnya. Rafael memang membeli 2 unit di sisi kanan kiri apartemennya, guna mencegah Glacia berinteraksi seandainya ada penghuni lain di sebelah mereka.


Dokter itu bergegas membuka pintu balkon, hingga kini ia bisa melihat Glacia yang tengah menjadi sandera Lizy.


Nick yang melihat kedatangan Rafael dari atap, kembali menghubungi Narendra melalui handy talky. "Rafael berada di lokasi. Dia ada di balkon sebelah apartemen tempat kalian berada sekarang."

__ADS_1


Narendra yang mendengar informasi tersebut, lekas memandang ke arah Glacia di balkon. Lizy belum juga melepaskan Glacia, ia tidak bisa diam saja dan menunggu kesempatan tiba sementara Rafael berada di sekitar mereka.


"Jangan mendekat!" Lizy berseru ketika menyadari Narendra mulai mengendap maju. Narendra berhenti sejenak. "Jika kalian mendekat, aku akan menjatuhkannya ke bawah!" ancam Lizy.


"Lizy," panggil Glacia waswas. Wanita itu semakin menjerat lehernya dan menariknya ke arah pembatas.


"Diam, Glacy. Apa kau masih mau dengan suamimu setelah tahu dia seperti apa? Jika kamu mati bersamaku, kau tidak akan rugi," ucap Lizy gila.


Nafas Glacia mulai lemah karena syok. Kepalanya juga mulai terasa pening. Tak lama Glacia merasa cairan kental keluar dari hidungnya. Sudah mimisan seperti ini, tubuh Glacia jelas sudah sangat kelelahan. Tatapannya menjadi sayu, bayangan Narendra mulai samar ia lihat.


Lelaki itu bergerak sambil memanggilnya cemas. "Glacy?"


"Berhenti!!!" teriak Lizy. Ia panik ketika orang-orang itu mulai mendekat ke arahnya.


Lantaran Lizy keras kepala, salah satu polisi menembak kakinya hingga wanita itu ambruk.


Dor!


"Akh!" Lizy memekik menyentuh kakinya yang baru saja terkena peluru.


Tapi hal tersebut justru semakin memancing memancing amarah Lizy. "Brengsek kalian! Aku pastikan kalian semua menyesal!!!" Ia menarik Glacia ke pinggir.


"Matilah Glacia!"


Tepat saat Lizy hendak menggulingkan kursi roda Glacia, Rafael melompat dari balkon samping menyerang wanita itu.


Bruk!


Rafael menyekap tubuh Lizy di atas lantai. Ia menatap marah sang tunangan yang kini justru tertawa seperti orang gila.


Di tengah kesempatan itu, Narendra dengan cepat menghampiri Glacia dan menyentuh wajahnya yang mulai tergolek lemas. "Glacy," panggilnya cemas.


Ia menepuk-nepuk pipi Glacia, menyeka darah yang keluar dari hidungnya. "Gkacy, bangun, Sayang. Hey? Glacy?"


Glacia mengerjap sayu. "Naren," bisiknya lemah.

__ADS_1


"Aku akan membawamu ke rumah sakit," ucap Narendra, tak menghiraukan Eliza dan Rafael yang kini bergulat di belakangnya.


"Kau juga bodoh, Rafael. Kau bodoh karena menyukai wanita pesakitan itu yang jelas-jelas minim harapan untuk hidup. Hahaha ..."


"Jaga bicaramu, wanita sialan. Glacia tidak selemah itu karena aku akan menyembuhkannya," desis Rafael.


"Menyembuhkannya? Bagaimana? Lihatlah, dia saja mau mati." Lizy mengarahkan matanya ke belakang, pada Narendra yang masih sibuk menarik kesadaran Glacia. Rafael turut menoleh ke belakang tubuhnya. Ia melihat wajah pias wanita itu yang memprihatinkan.


Seorang kepala tim polisi memberi pergerakan sebagai isyarat agar anak buahnya segera menyergap ke balkon. Mereka menyayangkan luas balkon yang tak seberapa hingga menyulitkan untuk melakukan pergerakan.


Di saat Rafael lengah, di saat para polisi itu hendak menangkapnya, Lizy bangkit menyingkirkan Rafael dan berlari ke arah Glacia dan Narendra.


"Mati kaliaaannn!!!" teriaknya dengan tangan terulur hendak mendorong.


Rafael yang tersadar segera beranjak mengejar. Ia mendekap tubuh Lizy dari belakang, mencegah wanita itu yang hendak menyakiti Glacia. Namun nahas, tindakan tersebut justru membuat Lizy memberontak keras dan tanpa sengaja menggiring tubuh mereka berdua ke tepi balkon. Lalu ...


"Aaaaaa!!!" Tanpa bisa dicegah, teriakan keras Lizy mengiringi jatuhnya dua tubuh yang meluncur melewati pembatas balkon. Disusul bunyi tubrukan keras serta alarm mobil yang menyala membuat semua orang berteriak.


Brak!


"KYAAAAA!!!"


Jeritan riuh para manusia di bawah gedung terdengar nyaring. Mereka semua terkejut tatkala tubuh Lizy dan Rafael meluncur dari atas gedung, lalu jatuh menghantam mobil di bawahnya.


Darah merembes dari tubuh keduanya. Semua orang syok dan lemas menyaksikan peristiwa mengerikan tersebut, termasuk Julian yang sedari tadi berjaga di lobi apartemen.


Nick dan Harley yang bersiaga di atas gedung pun ikut terperangah. Mereka tidak menyangka dua sejoli itu akan berakhir demikian.


Kembali pada posisi Narendra, para polisi bergegas keluar dan turun ke lantai bawah guna memeriksa tubuh Lizy serta Rafael yang kini jadi pusat perhatian.


Glacia yang sempat mendengar teriakan Lizy pun membuka mata, ia menoleh pelan ke arah pembatas balkon, tempat di mana Lizy dan Rafael jatuh sebelumnya.


"Lizy?" gumamnya.


Narendra segera menarik kepala sang istri hingga kini tenggelam di dadanya. Ia juga terkejut dan tak bisa berkata-kata. Sedetik kemudian Narendra mengangkat tubuh Glacia, lalu menggendongnya keluar dari unit apartemen milik Rafael.

__ADS_1


Julian yang menyusul tuannya ke lantai atas, segera mengarahkan lelaki itu ke atas gedung. Kondisi Glacia sudah lemah, ia butuh pertolongan cepat, dan helikopter yang terparkir di atap adalah solusi terbaik.


"Glacy, bertahanlah. Kamu sudah aman sekarang."


__ADS_2