
Glacia menoleh pada pintu yang terbuka. Padahal Yohanes baru saja keluar, Maria juga sudah pulang karena hari mulai gelap. Maklum, dia adalah ibu 2 orang anak yang tak bisa pergi lama-lama.
Narendra menutup pintu, kemudian berbalik dan tersenyum ketika matanya bersibobrok dengan Glacia. Lelaki itu mendekat, mengusap keningnya pelan lalu melabuhkan ciuman yang membuat Glacia terperanjat.
"Ada apa?" tanya Glacia.
Narendra mengangkat alis. "Apa?"
Mengerjap, Glacia nampak sedikit tergagap. "Kenapa kau menciumku?" tanya ia pelan.
Narendra duduk di pinggir ranjang, mengambil satu buah apel di nakas dan mulai menggigitnya. "Karena kau istriku?" jawabnya santai. "Salah?"
Sesaat tak ada jawaban. Narendra menoleh dan mendapati Glacia yang tengah mengamatinya lekat. "Why?"
Glacia menggeleng. Senyumnya terukir kaku nan canggung. Entahlah, Glacia merasa Narendra sedikit aneh. Pria itu ... tak seperti biasanya. Glacia tak bisa menjelaskan, namun ia bisa merasa ada sesuatu yang lain dari Narendra.
Narendra memakan apelnya tanpa banyak bicara, dan Glacia terus memperhatikan dengan mulut terbungkam. Hening cukup lama menyapa mereka hingga akhirnya Glacia pun bertanya. "Aku baru melihatmu. Sejak semalam kau pergi ke mana?"
Narendra menoleh, ia masih mengunyah apel di mulutnya, sebelum kemudian ia telan guna menjawab pertanyaan Glacia. "Ada urusan penting. Maaf tidak memberitahumu. Aku tidak tahu istriku ternyata merindukanku."
Mata Glacia melebar mendengar jawaban aneh Narendra. Sementara lelaki itu menahan senyum sambil kembali mengunyah apel.
Sejak kapan Narendra berubah narsis?
"B-bukan, kau ..."
Pintu terbuka, kedatangan dokter dan perawat seketika menghentikan percakapan absurd mereka. Selama pemeriksaan, Narendra dan Glacia nampak diam. Terlebih Narendra, lelaki itu dengan serius mendengar seluruh penjelasan dokter.
Aneh. Glacia benar-benar merasa aneh. Ia merasa malam ini pria itu agak berbeda. Dia lebih percaya diri saat bicara dengan Glacia.
Di samping itu, Narendra juga terus menatapnya dengan lekat. Ini perasaan Glacia, atau Narendra memang terasa sedikit asing?
***
"Wah, mendengar dari kisahmu, aku masih tidak menyangka kau memiliki hunian. Melihat ini aku jadi tidak percaya kau seorang mantan narapidana." Krisna melihat-lihat seisi ruangan rumah kayu yang baru saja dimasukinya bersama Thomas.
__ADS_1
Tidak besar, tapi rumah itu lumayan bersih dan masih bisa ditempati.
"Ini rumah ibuku," celetuk Thomas menyahut. Pemuda itu melangkah lebih dalam, pun Krisna terus mengekorinya.
Krisna tidak menyangka Thomas mau mengajaknya kemari. Ia pikir mereka akan terlunta-lunta tanpa tujuan, rupanya anak itu punya rumah di tengah hutan, jauh dari keramaian.
Letaknya memang agak menyeramkan. Tapi dari pada Krisna berkeliaran dan tertangkap lagi oleh polisi, lebih baik untuk sementara waktu ia menumpang di sini, sebelum melanjutkan niat mencari Lizy dan menagih sisa uang yang dijanjikan.
Krisna memperhatikan Thomas yang menepuk-nepuk meja serta kursi menggunkan kain, berusaha menyingkirkan tumpukan debu yang menempel.
Krisna berjalan memasuki sebuah pintu yang ternyata mengarah ke dapur. Rumah itu nampak seperti sudah lama ditinggalkan. Mungkin ini pertama kali Thomas pulang setelah entah berapa lama pemuda itu berkeliaran di luar menjadi penjahat.
Krisna iseng membuka-buka kabinet. Sesuai dugaan, semuanya kosong.
"Tidak ada yang bisa dimakan," decaknya pelan.
Tapi gumaman itu berhasil didengar oleh Thomas. "Pergilah ke hutan, di sana banyak tanaman yang bisa dimakan," cetusnya datar. "Dan kalau kau menginginkan daging, berburulah."
Krisna mengerjap. Ia jadi merasa sedang hidup di zaman purba. Tiba-tiba saja Krisna merasa penasaran. "Orang tuamu mana?"
Hening. Krisna yang tak mendengar suara Thomas, lantas menoleh dan mendapati pemuda itu kini terdiam dengan tubuh mematung membelakangi Krisna.
Krisna mengendik. "Ibumu tidak di sini?"
"Ibuku mati."
Pemuda berandal itu kini lanjut membuka pintu lainnya yang Krisna duga sebuah kamar.
"Ayahmu?"
Pertanyaan Krisna kembali membuat Thomas terpaku. "Dia seorang bajingan," ucapnya sebelum lanjut memasuki kamar dan menutup pintu rapat-rapat.
Krisna tidak tahu, ia pun tidak mengerti kenapa harus melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu pada Thomas.
"Ck, kenapa aku merasa begitu familiar dengan mata anak itu," decak Krisna. Ia kembali mengedarkan pandangan melihat-lihat.
__ADS_1
Krisna membuka pintu belakang yang mengarah langsung ke hutan. Lelaki itu menghela nafas. "Sialan, apa aku harus masuk ke hutan menyeramkan itu untuk makan? Tapi, ini sudah sangat malam."
***
"Kasus Tuan Gallen mulai ada kemajuan. Kemungkinan untuk kita menang sangat besar, Tuan. Tuan Narendra membantu banyak dalam penyelidikan dan menyangkut bukti-bukti. Itu artinya beliau memang serius dengan kasus ini," ujar Fin pada Yohanes yang tengah termenung di kursi belakang mobil.
Sang asisten melirik melalui kaca spion depan, Yohanes nampak tengah memikirkan sesuatu, dan ia tidak tahu apa itu.
Tak lama Yohanes pun buka suara. "Menurutmu, apa lebih baik aku membawa Glacia berobat ke luar negeri?" tanyanya. Mata lelaki itu mengarah ke luar jendela, mengamati berbagai cahaya yang menyorot dari lampu jalan maupun kendaraan.
Fin melirik lagi sembari fokus menyetir. "Kenapa tiba-tiba anda bertanya? Bukankah, dulu Nona sudah menolak?"
Yohanes membuang nafas panjang. "Aku hanya semakin khawatir dengan keadaan putriku. Kau tahu? Hatiku sakit saat tahu rambutnya mulai rontok."
"Dia juga semakin kurus," lanjut Yohanes berbisik.
"Bukankah, itu memang efek samping dari kemoterapi?" tanya Fin.
"Iya. Tapi mencari tempat pengobatan yang lebih bagus, tidak ada salahnya bukan? Aku juga mau terapi kakinya lebih intens."
"Kalau anda membawa Nona ke luar negeri, bagaimana dengan Tuan Narendra? Beliau tidak bisa meninggalkan perusahaan."
"Dia bisa menyusul sesekali," ujar Yohanes.
Fin terdiam. "Kalau begitu terserah anda."
"Aku hanya merasa negara ini kurang aman untuk Glacia. Dia beberapa kali terjebak dalam situasi bahaya," gumam Yohanes.
"Tuan Narendra pasti bisa menjaga Nona," ujar Fin kembali. "Seharusnya anda tidak perlu khawatir mengenai penjagaan, karena kita sendiri tahu menantu anda memiliki koneksi yang bukan sembarangan."
Sudut bibir Yohanes berkedut samar. "Aku tahu, tapi aku justru semakin khawatir karena dia kembali pada dunia gelapnya. Gibran Wiranata, dia terlalu berbahaya, dan aku takut itu juga akan menular pada Narendra, lalu berimbas pada Glacia," bisiknya.
"Jika Glacia tahu masa lalu suaminya tak sebaik yang ia pikir, aku yakin dia akan sangat terkejut."
Fin membenarkan. Tapi, menurutnya perasaan Narendra pada Glacia tak perlu diragukan. Pria mana lagi yang masih bisa bertahan setelah diperlakukan buruk dan diselingkuhi oleh wanita?
__ADS_1
Hanya Narendra, dia terkesan bodoh tapi diam-diam penuh ambisi.
"Saya mengerti kekhawatiran anda, tapi anda juga perlu melihat pengorbanan Narendra untuk tetap bisa bersama Nona." Fin melirik Yohanes yang terdiam. "Tidak mudah berada di posisinya. Menikahi seorang wanita yang memiliki gengsi dan kekuasaan lebih tinggi darinya."