
Glacia merengut, saat ini ia tengah luar biasa kesal pada Narendra.
"Tidak hanya mengabaikanku, sekarang kau membatalkan janji jalan-jalan kita? Apa kau sedang mempermainkanku, Narendra?" Glacia berseru dengan kening berkerut dalam. Di belakangnya, Narendra mendorong kursi rodanya dengan langkah sedikit terburu.
"Narendra! Sebenarnya ada apa denganmu? Kau mau bermain tarik ulur denganku? Kenapa kau membawaku kembali ke kamar? Padahal tadi kau sendiri yang bilang mau menemaniku makan camilan! Tapi ini apa? Kenapa kita tidak jadi ke luar? Astaga, bukalah mulutmu, setidaknya jawab aku!"
Tak pelak teriakan-teriakan Glacia memancing atensi beberapa orang. Narendra membuang nafas perlahan sebelum menjelaskan pada sang istri secara perlahan. "Glacy, tolong mengertilah—"
"Kau yang seharusnya mengerti! Aku bosan di kamar!" potong Glacia. Wajah wanita itu kusut, matanya melirik Narendra tajam.
Sekali lagi Narendra membuang nafas. Ia meraih tangan Glacia yang memegang bantalan infus supaya posisinya lebih naik. Kemarahan membuat Glacia kurang memperhatikan kondisinya sendiri.
"Aku minta maaf, kita bicara di kamar, oke? Dan tolong jangan turunkan tanganmu seperti ini. Lihat, cairan infusnya malah berbalik, darahmu sudah banyak yang keluar. Kalau seperti ini terus bisa bengkak," ujar Narendra.
"Kau menyebalkan!" ketus Glacia.
Narendra kembali mendorong Glacia hingga mereka tiba di kamar rawat wanita itu. Narendra menutup pintunya rapat, ia lalu berjongkok di hadapan Glacia yang merengut menghindari pandangan. Satu tangan wanita itu memeluk paper bag berisi makanan yang sebelumnya dibawakan Narendra.
__ADS_1
"Glacy?" bujuk Narendra. "Setelah kamu pulang dari sini, aku janji akan mengajakmu makan di luar. Tapi untuk sekarang, kamu makan di sini dulu, ya? Tolong mengerti, ini semua demi kebaikan kamu."
"Kau mau pergi lagi, kan?" todong Glacia. "Melihat sikap dan perkataanmu saat menelpon tadi, sepertinya tebakanku benar."
Narendra terdiam. Ia menghela nafas panjang sambil melipat bibirnya sedikit bingung. "Ada hal penting yang harus kupastikan," ucapnya pelan.
"Hal penting apa?" Glacia bertanya lagi.
"Hal penting yang sangat berhubungan dengan keamanan kamu. Jadi tolong kamu mengerti kali ini saja. Turuti apa kataku, dan jadilah gadis baik sehari saja."
"Aku bukan gadis, aku istrimu," tegas Glacia. "Sebenarnya apa yang terjadi sampai kau gelisah seperti itu?"
Glacia hendak membuka mulutnya lagi ketika Narendra menggeleng. "Please, Sun. Dengar apa kataku. Untuk saat ini, jangan dulu keluar kamar, mengerti?"
Glacia diam menatap Narendra. Melihatnya yang sampai memohon seperti itu, sudah jelas kegelisahan Narendra berada di tahap yang serius. Baiklah, untuk kali ini saja Glacia akan coba mengalah, dan membiarkan Narendra dengan segala rahasianya.
"Oke. Tapi, setelah ini kau harus memberitahuku soal apa yang sedang terjadi, alasan kenapa kamu masih menganggapku tidak aman. Bukankah penculiknya sudah ditangkap semua? Ketakutanmu malah membuatku bingung."
__ADS_1
Narendra mengangguk saja. Biarlah nanti ia pikirkan apa yang hendak dikatakan pada Glacia. Untuk saat ini Narendra harus keluar memastikan apa yang baru saja dilihatnya beberapa saat lalu.
Narendra mengusap sisi wajah Glacia. "Maaf, aku tidak bisa menemanimu makan camilan. Setelah ini aku akan mengambil cuti untuk mengajakmu makan sepuasnya."
Glacia mengangguk. "Pergilah, kalau urusanmu begitu penting. Aku tidak mau kekanakan menahanmu tetap di sini, meski sebenarnya hatiku ingin. Kau tahu? Kali ini aku jujur selalu merindukanmu."
Narendra terpaku dengan mata mematri Glacia. Sedetik kemudian senyumnya terukir hangat. Ia mengangguk, lalu mencium tangan Glacia yang memegangi bantalan infus. "Terima kasih sudah jujur. Aku senang mendengarnya."
"Makanlah selagi camilannya hangat. Aku pergi dulu. Ingat, jangan keluar sebelum aku kembali. Mengerti?"
"Iya ..." sahut Glacia malas.
Narendra tersenyum kecil. Ia mengecup kilat bibir Glacia sebelum beranjak keluar kamar. Kini Glacia harus berteman lagi dengan keheningan. Ia menunduk, menatap paper bag hangat di tangannya, lalu mengintip isinya penasaran.
Mata Glacia seketika berbinar melihat croissant renyah terbungkus rapi di sana. Ia mengeluarkan satu dan menggigitnya antusias. Matanya terpejam menikmati renyah dan lembutnya roti khas Prancis tersebut.
"Eumm ... Bagaimana Naren bisa tahu aku menyukai roti ini?" gumamnya di sela mengunyah. Ia tersenyum, namun perlahan senyumnya luntur berganti rengutan. "Aku masih kesal karena dia tidak jadi mengajakku ke luar. Meski hanya makan di taman, itu sesuatu sekali untukku yang tidak bisa ke mana-mana sekarang," gerutunya pelan.
__ADS_1
"Hish! Menyebalkan. Ayo, dewasalah sedikit Glacia. Kau tidak boleh egois dengan mengekang seorang pria, atau dia akan lari seperti Gallen yang mengkhianatimu." Glacia menyemangati dirinya sendiri.
Ia memakan kembali croissant, sambil melihat langit yang perlahan menggelap di luar sana. "Tidak ada sunset yang indah. Entah kenapa hatiku malah ikut gelap."