
Narendra menghentikan langkahnya ketika sampai di lobi rumah sakit, pun Lizy ikut berhenti dan menoleh heran.
"Ada apa?"
Narendra tak langsung menjawab. Ia menunjuk sebuah mobil di mana ada Julian di sana. "Julian akan mengantarmu," ucapnya singkat.
Lizy mengikuti arah pandang Narendra. "Ooh, kupikir kau yang akan—"
"Segeralah pulang." Narendra segera memotong dan hendak berbalik meninggalkan Lizy. Namun wanita itu tiba-tiba berseru.
"Naren tunggu!"
Narendra menghentikan langkah, lantas menoleh, menunggu Lizy yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu tapi terlihat ragu. Wanita itu mendekat dan berhenti tepat di depan Narendra.
"Soal Glacia ... sepertinya dia memang sengaja dan berniat mendekatkan kita."
"Lalu?"
Lizy gelagapan, mulutnya membuka dan menutup tanpa suara. Entah kenapa ia merasa aura Narendra begitu mengintimidasi.
"Bukan apa-apa. Terima kasih sudah mengantarku sampai di sini." Pada akhirnya Lizy mengurungkan niat berbicara lebih lama dengan Narendra.
Narendra hanya mengangguk dan langsung kembali memasuki gedung rumah sakit. Lizy menatap punggung pria itu lama, rautnya rumit dengan sorot mata terlihat sendu.
Narendra bukan Narendra-nya yang dulu. Dulu, Narendra selalu memperlakukannya lembut, tidak pernah sekalipun lelaki itu menatapnya sedingin sekarang.
Kalau saja keluarga Lizy tidak menuntut terlalu banyak untuk standar pasangannya, mungkin saat ini Lizy sudah berbahagia dengan Narendra. Tapi, hubungan mereka berakhir bukan hanya karena keluarga, ia tahu Narendra bukan tipe orang yang mudah menyerah dengan masalah demikian.
Yohanes Martadinata, Lizy tahu Narendra sangat mengabdi pada pria itu. Ia dengar, ayah Glacia lah yang memaksa Narendra untuk menikahi putrinya. Penyebab sebenarnya Narendra memutuskan Lizy.
__ADS_1
"Lizy?" Sebuah suara yang menyapa membuat Lizy sedikit terlonjak.
Ia menoleh dan mendapati Rafael yang baru saja keluar dari pintu lobi. Tampaknya lelaki itu hendak pulang.
"Kamu di sini?" tanya Rafael.
"Ah, itu ... ada temanku yang sakit, jadi aku menjenguknya."
Rafael mengangguk paham. "Mau pulang?"
"Iya."
"Aku tidak melihat mobilmu?" ujar Rafael dengan pandangan mengedar.
"Aku memang tidak bawa mobil," ucap Lizy.
"Oh." Rafael mengangguk lagi. "Mau pulang bersama?" tawarnya.
"Ada apa? Dia siapa?" Rafael tampak penasaran.
Akan tetapi Lizy segera menyanggah. "Bukan siapa-siapa. Kupikir tadi aku mengenalnya. Ya sudah, aku pulang denganmu saja," putus Lizy.
Karena sepertinya Julian juga enggan berurusan lebih lama dengannya.
Meski agak heran dengan sikap Lizy, Rafael mengangguk saja dan mengajak wanita itu menuju mobilnya.
Rafael membukakan pintu untuk Lizy. Sebelum masuk, diam-diam Lizy melirik sebentar ke arah Julian yang kini sudah beranjak dan tak terlihat.
Sikap Narendra yang terang-terangan menjaga jarak darinya membuat Lizy termenung lama. Apa pria itu sudah melupakan Lizy sepenuhnya?
__ADS_1
***
Narendra membuka pintu kamar rawat Glacia dengan pelan. Ia masuk tanpa suara ketika mengetahui bahwa Glacia sudah terlelap di ranjangnya. Narendra berdiri lama menatap wanita itu.
"Jujur, aku kesulitan menebak apa yang sebenarnya kau inginkan," gumamnya pelan. "Atau keinginanmu hanya bercerai dariku?"
"Selama ini aku diam saja melihat segala tingkah lakumu. Tidak pernah sekalipun aku menuntut sesuatu darimu. Aku bahkan tidak protes saat kau memiliki kekasih dan melukai harga diriku sebagai suami."
"Kau benar, seharusnya aku membencimu. Tapi aku memilih tidak melakukannya."
"Kenapa? Karena aku yakin kau bisa berubah, dan akan kembali menjadi Glacy yang dulu kukenal."
Usai bergumam demikian, Narendra akhirnya beranjak dan melesakkan diri di sofa. Matanya terpejam dengan kepala bersandar menengadah ke atas.
Ia tidak sadar saat itu Glacia mengerjap membuka matanya perlahan. Glacia menoleh dan mengernyit mendapati Narendra kini sudah berada di sana.
"Kau sudah kembali? Kenapa cepat sekali?" tanya Glacia setengah mengantuk.
Narendra tak menjawab, bahkan membuka mata pun tidak. Hal tersebut membuat Glacia berpikir bahwa lelaki itu sudah tidur.
"Tidur? Ya sudah. Padahal aku mengira kau akan pulang ke rumah dan tidur nyaman di sana. Tapi kau malah kembali ke sini," gumam Glacia, masih dengan suaranya yang terkantuk-kantuk. Ia membenarkan posisi kepalanya supaya lebih nyaman.
"Kupikir kau juga akan menginap dengan Lizy." Glacia masih melanjutkan bisikan setengah sadarnya. "Kau bodoh karena lebih memilih menemani wanita pesakitan sepertiku."
"Hidupku tidak akan lama, kau tahu? Sebentar lagi aku juga mati."
Glacia benar-benar melindur. Narendra membuka mata dan menoleh padanya. Sang istri tertidur lelap seolah ia tak bicara apa pun sebelumnya.
Meski diucapkan dengan igauan, tapi perkataan terakhir Glacia begitu tabu untuk didengar.
__ADS_1
"Kenapa kau selalu asal kalau bicara?"