Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
71. Comeback


__ADS_3

Kondisi Glacia mulai membaik, meski begitu dokter tetap memantau perkembangan kesehatannya. Satu hal yang sedikit disyukuri, tingkat penyebaran kanker di tubuh Glacia berjalan agak lambat. Mereka bisa mengatur kembali jadwal kemoterapi untuk penyembuhan, pun terapi saraf untuk kemajuan ruang gerak kakinya.


Selama itu pula Narendra tak pernah beranjak meninggalkan Glacia. Ia selalu berada di sampingnya, terlebih sekarang Glacia mulai membuka diri terhadap presensi lelaki itu.


Glacia tak lagi menolak kehadiran Narendra, hal tersebut membuat Yohanes yang melihat merasa senang dan lega. Ia berharap hubungan anak dan menantunya bisa semakin membaik. Glacia butuh teman, dia butuh seseorang yang bisa diandalkan. Baik itu dalam arti fisik ataupun sekedar teman bercerita.


Yohanes sendiri tengah sibuk mengurus kasus Gallen dan Krisna. Ia berusaha semaksimal mungkin supaya dua lelaki itu mendapat hukuman yang setimpal. Dan untuk mantan pacar Narendra, polisi belum kunjung menemukan keberadaannya.


Ada beberapa orang yang ditetapkan sebagai saksi, hanya saja kasus begitu lama berkembang. Yohanes tidak sabar. Ia ingin melihat Gallen mengalami apa yang Glacia alami karenanya. Yohanes ingin Gallen ditinggalkan semua orang, persis seperti yang dirasakan Glacia dulu.


"Glacy?" Yohanes menyapa ketika ia masuk ke ruangan Glacia. Sang anak tengah menerima suapan buah dari Narendra. Dua sejoli itu langsung menoleh saat menyadari kehadiran Yohanes.


Yohanes mendekat dan langsung mengusap kepala Glacia yang terbaring di bantal. Namun Glacia menghentikan gerakannya dan menjauhkan tangan Yohanes dari kepalanya.


"Ada apa?" tanya Yohanes bingung.


Glacia menjawab lirih. "Rambutku mulai rontok."


Seketika Yohanes tergagap dengan mata mengerjap serba salah. Hatinya serasa teriris mendapati kenyataan tersebut. Yohanes mengangguk sambil tersenyum canggung. Ia beralih menatap Narendra, berusaha telihat tenang dengan bertanya pada lelaki itu. "Kamu sudah mendapat telepon dari manager? Kemarin dia bilang ingin menghubungimu."


Narendra masih fokus mengupas buah ketika menjawab. "Belum."


Tiba-tiba saja Glacia menyeletuk. "Bukankah ponselmu mati?"


Hening. Narendra mengerjap, pun wajah datarnya nampak berpikir. Ia pun merogoh saku celananya lalu berkata membenarkan. "Ah, iya. Aku lupa mengisi dayanya semalam."


"Nanti biar ku-charge," lanjutnya santai, menyimpan benda pipih itu ke atas nakas, kemudian lanjut mengupas buah.


Glacia menoleh pada Yohanes yang juga tengah menatap suaminya. Diam-diam ia meringis dengan sifat apatis Narendra. Bagaimana bisa Yohanes tahan dengan kelakuannya selama ini?


"Sejak kemarin aku tidak melihat asistenmu. Ke mana dia?" Yohanes berjalan ke arah sofa tak jauh dari ranjang, melesakkan dirinya di sana.


"Dia ada pekerjaan penting, bukankah aku sudah bilang kemarin?"


Glacia membuka mulut ketika Narendra mengulurkan potongan peach yang sudah dikupas. Ia hanya diam memperhatikan interaksi sang ayah dan suaminya yang terkesan begitu kaku. Glacia membuang nafas, ia menggeleng ketika Narendra hendak menyuapinya lagi. "Aku sudah kenyang."

__ADS_1


Lelaki itu hanya mengangguk paham, menyimpan buah dan pisau ke tempatnya semula. Namun kemudian Narendra mengambil kembali pisau tersebut.


"Ada apa?" tanya Glacia penasaran.


"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menyimpan benda tajam di kamarmu," jawab Narendra. Ia mendekati Glacia dan mengusap pelipisnya sekilas. "Istirahatlah, aku akan keluar sebentar. Mungkin nanti sore kembali."


"Mau ke mana?"


Narendra tersenyum. "Apa kau mulai selalu merindukan suamimu? Sekarang kau selalu penasaran ke mana aku akan pergi."


Melihat raut Narendra yang terkesan menggodanya, Glacia pun berdecak datar. "B-bukan. Ya sudah, terserah kamu mau pergi ke mana."


Narendra malah terkekeh dengan tangan bersidekap. "Lucu sekali."


"Apa yang lucu?" Glacia berkerut heran. Wajah pucatnya nampak sayu nan lemah. Tapi hari ini sudah jauh lebih berwarna.


"Kau. Kau yang lucu," sahut Narendra.


Glacia yang bingung harus menanggapi apa, secara refleks mencibir. Bagaimana bisa Narendra mengatakannya sesantai itu? Dan yang lebih memalukan, wajah Glacia terasa menghangat karenanya.


Glacia kembali mendongak pada Narendra yang masih setia berdiri menatapnya. "Kenapa masih di sini? Katanya mau pergi?"


Lelaki itu mengangguk. "Aku akan segera kembali. Kamu istirahatlah. Jangan takut, di sini ada ayahmu dan pengawalnya."


"Kemarin kau tidak mempercayai penjagaanku, Nak," celetuk Yohanes menimbrung. Pria baya itu masih sibuk membaca saat Narendra menoleh.


Sesaat Narendra tak bersuara, sebelum kemudian ia menjawab. "Pengawalmu adalah orang-orang berdedikasi, bagaimana mungkin aku meragukan mereka? Meski kepercayaanku sempat terpatahkan karena mereka kalah hanya karena sekumpulan berandal, aku cukup menghargai pengorbanan mereka yang harus tewas saat bekerja."


Yohanes tersenyum, Narendra dan sifat diplomatisnya. Tak heran, lelaki itu selalu membuat orang lain penasaran.


***


Narendra mengikuti langkah seseorang di hadapannya. Ia berjalan tegap memasuki sebuah perusahaan besar dengan kilap hitam penuh kemewahan. Dari sini semua orang sudah bisa menebak karakter si pemilik yang lekat dengan kekuasaan dan kegelapan.


Jangan lupakan juga kesombongan yang dimilikinya, hal tersebut sudah terpampang dengan logo yang diukir besar pada separuh bagian gedung pencakar langit itu, yang bahkan bisa dilihat oleh mata telanjang meski dari ketinggian 634 meter.

__ADS_1


Betapa si empunya membanggakan gambar hewan serupa kucing besar. Adalah cheetah yang sangat cepat, yang bisa berlari hingga 96 kilometer perjam hanya dalam waktu tiga detik saja.


Cheetah merupakan hewan tercepat di dunia, sangat menggambarkan dirinya yang berani dan tangkas dalam segala hal, terutama dalam membantai mangsanya.


"Silakan, Tuan." Pria di depan Narendra mempersilakannya masuk ketika mereka sampai di depan sebuah pintu hitam berukuran raksasa.


Pintu itu terbuka secara otomatis saat Narendra berdiri di hadapannya. Nuansa ruang luas dengan dominan warna gelap seketika menyapa penglihatan Narendra. Ia pun masuk dan mematung sejenak hingga pintu di belakangnya kembali menutup.


Narendra mengedarkan pandangan ketika tak mendapati siapa pun di sana. Meski begitu Narendra dengan santai menelusuri ruangan kerja milik seseorang tersebut.


Saat ia berdiri di depan sebuah rak buku dan melihat berbagai karya tulis dari beberapa pengarang, ia pun dibuat terpaku sejenak karena mendengar lirihan dari balik dinding partisi itu.


"Koko, emph ..."


"Shhh ..."


Suara lenguhan dan desisan yang disertai geraman membuat Narendra membuang nafas. Ia segera berbalik menjauh dan melesakkan diri di sofa, duduk dengan kaki bersilang serta tangan terlipat di dada.


"Selesaikan segera kegiatan kalian. Kau tahu aku tidak punya banyak waktu," ucapnya datar.


Hening. Sepertinya suara Narendra mengejutkan mereka, terdengar bisikan si perempuan yang melontarkan perdebatan kecil, tapi nampaknya si pria enggan berhenti hingga nada-nada erotis itu berlanjut, bahkan lebih kentara dari sebelumnya.


Beberapa menit kemudian Narendra mendengar suara langkah kaki di belakangnya, dan detik itu pula tubuh jangkung yang dibalut setelan jas rapi itu duduk di hadapan Narendra.


"Maaf, aku paling tidak tahan melihat istriku," cetusnya santai.


Narendra tak menyahut, ia tak mendengar suara si wanita di belakang sana, pasti sudah melarikan diri karena malu. Seingat Narendra, Gibran membuat kamar khusus di ruang kerjanya.


"Jadi?" Gibran bersandar dengan kedua tangan terlentang di sofa, pun kakinya turut menyilang seperti Narendra. Satu alisnya terangkat menunggu jawaban.


Narendra balas menatap lelaki itu datar. "Aku mau pembalasan paling menyakitkan untuk mereka," ucapnya pelan.


Gibran terdiam, keduanya saling beradu pandang penuh makna. Sudut bibir lelaki itu pun tersungging miring dengan raut penuh kepuasan. "As you wish. So, kamu bersedia menjadi anggotaku kembali?"


Narendra tak menjawab, namun dengan tangkas ia menerima emblem keemasan yang dilemparkan Gibran.

__ADS_1


"Welcome back, my confidant!" seru Gibran dengan senyum khasnya yang mengerikan.


__ADS_2