Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
14. Hadiah Sepatu


__ADS_3

"Tuan, kenapa anda menukar souvenir dari brand? Padahal sebelumnya mereka memberi souvenir untuk pria, tapi anda malah menukarnya dengan souvenir untuk wanita." Julian memperhatikan tuannya seraya membereskan berkas yang baru selesai Narendra tanda tangan.


Meski baru pulang dari Taiwan, Narendra tak lantas meliburkan diri untuk bekerja. Entahlah, menurut Julian pria itu terlalu workaholic, seperti tidak ada capeknya.


Narendra bergumam sambil lalu, ia terlihat begitu serius mengamati kertas demi kertas di atas meja. Mereka hanya sempat istirahat beberapa jam sepulang dari bandara, siangnya Narendra langsung mengajak Julian ke kantor. Sebenarnya Julian sudah terbiasa, tapi sekali-kali ia juga ingin libur di luar hari libur.


"Saya jadi berpikir anda sengaja melakukannya untuk Nyonya," celetuk Julian. Matanya diam-diam melirik Narendra. "Padahal produk itu akan sangat langka di musim ini," pancingnya lagi.


Narendra membuang nafas lumayan keras. Ia mendongak menatap Julian datar. "Kenapa aku merasa hari ini kau begitu cerewet? Kau mau libur? Oke, silakan pulang," putusnya lelah, lalu kembali menorehkan pulpen di atas berkas.


Mata Julian membeliak berbinar. "Serius, Tuan?"


Narendra mengangguk, hal tersebut tentu membuat Julian hampir berjingkrak kesenangan. Namun itu sebelum Narendra melanjutkan ucapannya.


"Serius, tapi selama 2 bulan gajimu kupotong 15 persen."


Seketika itu juga wajah Julian langsung layu, ia lantas diam dan memilih mengerjakan apa pun yang Narendra suruh.


Sementara di rumah, Glacia tengah berada di walk in closet bersama dua pelayannya, Wina dan Weni, mereka kembar tidak identik, hal yang membuat Glacia mudah membedakan mereka.


"Nyonya, bagaimana dengan dress ini?" tanya Weni sembari menunjukkan hanger di tangannya. Glacia baru saja mengalami hal menyebalkan, tanpa sengaja terkena tumpahan jus oleh seorang pelayan. Ia langsung memecat pelayan itu tanpa pikir panjang.

__ADS_1


Glacia melirik malas pakaian di tangan Weni. "Terlalu tebal, aku tidak suka," jawabnya datar.


Weni meringis. Meski begitu ia tak menyerah memilihkan baju untuk Glacia. Entah sudah berapa banyak yang wanita itu tolak. Weni kemudian mengambil dress lilac dengan aksen renda yang lucu. "Bagaimana dengan ini, Nyonya?"


Glacia tak langsung menjawab, ia mengamati dahulu dress tersebut sebelum kemudian mengangguk. "Not bad."


Jawaban sederhana yang membuat Weni senang bukan kepalang. Ia langsung membantu Glacia memakai dress tersebut dibantu oleh Wina. Wina lalu merapikan rambut Glacia yang terurai panjang, memasangkan satu jepitan yang membuat tampilannya kian terlihat manis.


"Selesai!" seru mereka bersamaan. Glacia hampir memutar mata melihat tingkah dua bersaudara itu.


"Nyonya, sepatu anda." Wina membawa beberapa pasang sepatu ke hadapan Glacia.


Kemudian Wina teringat sesuatu. "Nyonya, bagaimana dengan sepatu hadiah Tuan?" tawarnya antusias. Ia berlari mengambil kotak hitam eksklusif di atas meja lalu kembali ke hadapan Glacia.


Weni tak kalah antusias melihat Wina membuka pita kotak tersebut. Di sudut kanan kotak terdapat ukiran nama brand dari tinta emas.


Saat Wina berhasil mengangkat tutup kotak itu, nampaklah sepasang flatshoes cantik yang siapa pun yakin bisa menyihir semua mata wanita, tak terkecuali Glacia yang sempat dibuat terpaku melihat keindahan sepatu itu.


Narendra memberikan itu untuknya? Tanpa sadar Glacia membatin. Namun ia ingat bahwa itu hanya souvenir dari pre-launching produk.


"Singkirkan itu," cetus Glacia, mengejutkan Wina dan Weni yang masih bergeming terpesona melihat benda mahal itu.

__ADS_1


Glacia mendengus. Mahal tapi gratisan.


Wina mengerjap. "Nyo-Nyonya tidak mau memakainya? Ini cantik sekali," tanyanya penuh sesal.


Sementara Glacia berdecak malas. "Kau pikir aku mau ke mana, harus memakai sepatu itu? Kalau aku memakainya sekarang akan aneh, itu lebih cocok untuk acara formal," ketusnya membuang muka.


"Iya juga, ya?" gumam Wina. Dalam hati ia tersenyum alasan logis Glacia. Itu artinya Glacia menerima sepatu pemberian Narendra, meski tak secara terang-terangan berkata.


Tanpa Glacia sadari, Weni mengulum senyum mengetikkan sesuatu di ponselnya. Ia mengirim pesan pada Julian si pria tampan idaman semua pelayan.


Nyonya menyukai sepatunya, Tuan.


Di lain sisi, Julian yang mendapati pesan tersebut langsung mendongak pada Narendra yang masih sibuk di meja kerja.


"Tuan, mereka bilang Nyonya menyukai sepatunya," ucapnya memberi tahu Narendra.


Respon Narendra tampak biasa saja. Ia bergumam, namun sesaat Julian dapati pria itu terdiam, dan ... tersenyum? Sangat tipis sampai luput dari pengamatan, apalagi Narendra melakukannya sambil membuang pandangan.


Julian mengerjap, mungkin ia hanya salah lihat.


__ADS_1


__ADS_2