
"Aileen!" Glacia berseru mengejar putrinya yang berlari terhuyung-huyung saat keluar dari lift.
Ia takut anak itu jatuh saking semangatnya. Keseimbangannya belum sempurna hingga kerap kali tersungkur saat berjalan.
"Papa! Papa!"
"Papa masih meeting, Sayang. Ayo, sini sama Mama dulu!" Glacia menangkap Aileen, namun gadis kecil itu memberontak dan mendorong pintu di dekat mereka.
Seorang karyawan tampak baru saja masuk sambil membawa map. Hal itu membuat Aileen merasa punya kesempatan untuk menerobos masuk.
"Aileen!" Glacia menjerit kecil, namun anak itu sudah terlanjur masuk ke ruang meeting. Bocah montok itu sangat aktif dan gesit.
Sementara di dalam, Narendra tengah mendengarkan presentasi dari salah satu karyawannya, saat tiba-tiba lengkingan suara familiar mengejutkan dan memecah konsentrasinya.
"Papa!"
Sontak seisi ruangan menoleh ke asal suara. Seorang gadis kecil berumur 2 tahun berlari mendekati Narendra. Aileen nampak imut menggunakan dress ruffle, serta kaos kaki beraksen renda selaras dengan kerah bajunya, sementara rambut hitam sebahunya dicepol kiri kanan. Sangat menggemaskan.
Narendra menoleh, ia langsung menegakkan punggung begitu melihat kedatangan Aileen. Matanya sempat melirik Glacia yang meringis tak nyaman di ambang pintu, pun ia segera membungkuk membawa Aileen untuk dipangku.
Narendra mengangguk pelan pada Glacia yang sibuk meminta maaf pada peserta meeting. Secara tidak langsung ia berkata tidak masalah, sekaligus mengirim isyarat agar Glacia menunggu sampai rapat selesai.
Masih dengan wajah tak enak hati, Glacia pun keluar dan membiarkan putrinya ikut meeting bersama sang papa. Ada-ada saja. Niat hati mau mengantar makan siang, Aileen malah berlari dan ikut keluar dari lift saat salah satu karyawan berhenti di lantai tersebut, tempat di mana biasanya meeting berlangsung.
"Hish, memalukan!" Glacia menggerutu. Mau tak mau ia meneruskan niatnya ke ruangan Narendra di atas. Sendirian, karena Aileen sudah pasti tak mau lepas jika sudah menempel pada sang papa. Entah dari mana Aileen tahu papanya sedang ada rapat.
Pasti Julian. Mereka memang teman yang kompak.
Di dalam ruang rapat, Narendra mendekap putrinya di pangkuan. "Silakan lanjutkan," ucapnya pada pemuda yang presentasinya sempat terpotong.
Meeting pun kembali berlangsung. Meski awalnya suasana sedikit aneh karena kehadiran Aileen, tapi lambat-laun mereka bisa meraih kembali konsentrasi yang terpecah.
"Syuutt." Narendra menyentuh bibir mungil Aileen menggunakan jari telunjuknya. Entah ia mengerti atau tidak, tapi bibirnya mengulum senyum manis yang terlihat imut.
Aileen menyungging cengiran lebar begitu Narendra melepas jarinya. Ia menggoyang-goyangkan kakinya yang terbalut pantofel cantik, membentur tungkai panjang Narendra dengan pelan.
Narendra membiarkan ketika anak itu memainkan bolpoin miliknya di atas meja hingga menimbulkan bunyi dentingan kecil. Tubuh mungil Aileen bersandar di dadanya, terlihat nyaman sambil sesekali memperhatikan orang-orang di sana.
__ADS_1
Aileen akan melonjak setiap kali ada yang balas menatap dan tersenyum padanya. Anak itu memang murah senyum dan mudah dekat dengan orang asing sekalipun.
Bermenit-menit meeting berlangsung, Narendra sedikit menggoyang tubuhnya karena Aileen mulai tampak bosan dan mengantuk. Julian sempat ingin mengajak Aileen ke luar, tapi anak itu menolak keras dan malah bergelung menghadap Narendra, ia berbalik memeluk tubuh kekar sang papa.
Narendra tersenyum, menatap teduh putrinya yang lambat-laun mulai memejamkan mata. Tangan besarnya mengusap dari puncak kepala hingga ke punggung. Sampai rapat selesai pun, Aileen masih lelap tertidur.
"Oke, hari ini sampai di sini dulu. Lusa kita lanjut," ujar Narendra, menutup rapat setelah sebelumnya ikut menimpali presentasi di depan.
Semua orang membereskan berkas dan barang masing-masing di meja. Mereka berdiri, dan satu-persatu meninggalkan ruangan usai bersalaman dengan Narendra sebagai pimpinan.
Narendra keluar belakangan bersama Julian. Ia menggendong Aileen, si tuan puteri yang malah pulas karena bosan. Hal ini sering terjadi karena bukan pertama kali Aileen ikut dengannya ketika meeting.
Padahal Narendra sering bilang dan mengingatkan, berada di antara orang dewasa bukan sesuatu yang menyenangkan bagi anak kecil sepertinya. Tapi Aileen tetap ngotot menempeli Narendra.
"Beli tiramisu di toko biasa kita beli. Aileen selalu ingin makanan manis kalau bangun tidur," titah Narendra pada Julian, ketika mereka sampai di depan ruang kerja Narendra.
Julian mengangguk patuh. Ia pergi, sementara Narendra mulai membuka pintu. Pemandangan pertama yang Narendra temui adalah Glacia yang tengah duduk di kursi kebesaran miliknya. Wanita itu mengamati berkas-berkas di atas meja, meski Narendra yakin Glacia tak memahaminya.
Narendra menutup pintu, ia berjalan ke arah sofa, membaringkan tubuh kecil Aileen di sana. Selepas itu ia berjalan menghampiri Glacia yang langsung menyambutnya dengan memutar kursi hingga menyamping.
Suara decapan ringan terdengar, hanya beberapa detik karena Narendra langsung menjauh guna melirik Aileen di sofa.
"Aku pantang melakukan ini di depan anak kita, tapi penampilanmu siang ini membuatku sedikit kesal." Ia kembali melihat pada Glacia. Wanita itu tersenyum menggoda memainkan jari lentiknya, menyusuri pinggiran jas Narendra di bagian dada.
"Why?" tanya Glacia mengerling. Sudut bibir wanita itu terangkat culas. "Aku juga ingin terlihat cantik. Kamu sendiri tahu selera pakaianku."
"Setidaknya pilih rok yang panjangnya minimal selutut," balas Narendra tenang. Ia menurunkan satu tangannya menyentuh paha Glacia, lalu menyusup perlahan ke dalam rok yang dipakai wanita itu.
Glacia menahan tangan Narendra. "Sabar." Ia melirik sofa, di mana Aileen terlelap begitu pulas. "Kita tidak boleh bermesraan di depan anak. Ingat?"
Mata Narendra memicing. "Kamu sedang balas dendam padaku?"
Glacia mengangkat alis menatap sang suami. "Kenapa aku harus balas dendam padamu?" tanyanya dengan suara halus.
Narendra tak kunjung mengeluarkan tangannya dari rok Glacia. Ia balas menatap mata wanita itu dengan lekat. "Karena kau gagal dapat pelepasan semalam."
Hening. Seketika Glacia tertawa lirih hingga kepalanya menunduk sesaat. "Ayolah, apa aku sekekanakan itu?" sahutnya geli.
__ADS_1
Ia lalu mengeluarkan tangan Narendra dari dalam roknya dengan sedikit paksa. "Jangan nakal. Lekaslah makan sebelum waktu istirahat berakhir."
Glacia berdiri, ia berjalan mendekati sofa. Menyiapkan sejumlah kotak makan yang ia bawa dari rumah.
Narendra membuang nafas panjang sebelum mendekat. Ia duduk di sofa seberang Aileen, lalu menarik Glacia untuk turut duduk di sampingnya.
"Maaf untuk semalam. Kamu tahu sendiri kadang Aileen suka terbangun dan ingin tidur bersama kita."
"Bersamamu, lebih tepatnya," timpal Glacia santai. Ia lanjut membuka lunch box di atas meja.
Ia menoleh ketika tak ada suara dari Narendra. Lelaki itu terdiam dengan sorot mata bersalah memandangnya. Glacia mendengus geli. "Kamu masih berpikir aku marah gara-gara semalam? Hey, semua pasangan yang sudah memiliki anak pasti mengalaminya."
Narendra meraih tangan Glacia, menggenggamnya. "Tetap saja aku tidak nyaman, karena gagal memberi pelayanan terbaik dalam hubungan kita."
"Tadi Papa bilang rindu Aileen. Bagaimana kalau malam ini Aileen menginap di rumah kakeknya? Lagipula dia sudah lepas ASI," lanjut Narendra lagi.
Glacia menghela nafas pelan. "Kita bicarakan itu nanti. Sekarang kamu makan dulu."
Sejujurnya Glacia juga kesal semalam. Ia merasa tidak adil ketika Narendra sudah berkali-kali meraih kepuasan, sementara bagiannya tidak kunjung datang.
Belum lagi Aileen yang mendadak bangun dan minta tidur bersama mereka. Secara kasar Glacia hanya memuaskan tanpa dipuaskan.
Tapi itu semua sudah resiko saat mereka memiliki anak. Kekesalan Glacia tidak ada artinya, karena semua terlupakan begitu saja setelah melihat Aileen tidur nyaman di antara mereka.
Narendra hendak buka suara lagi saat Glacia menempelkan jari di depan bibirnya. "Syuutt ... Jangan bahas masalah ranjang di depan anak, meski anak kita sedang tertidur. Kamu sendiri yang sering mengingatkan hal ini. Kenapa sekarang jadi cerewet sekali?"
"Makanlah. Lihat, aku baru saja coba resep baru. Tadi sudah kucoba rasanya. Semoga cocok di lidahmu," lanjut Glacia.
Ia lalu mendengus lantaran Narendra terus terdiam. "Bilang saja kamu sedang ingin sekarang. Tidak perlu pakai alasan masalah semalam," ujarnya geli.
Narendra mendenguskan senyum malas. Ia menarik pinggang Glacia agar lebih merapat padanya.
"Maka dari itu, selesai makan, kita pulangkan Aileen lebih dulu. Biarkan dia menginap di rumah kakeknya malam ini," bisik Narendra, tepat di samping telinga Glacia.
Keduanya saling pandang penuh makna, hingga suara imut itu memecah kesunyian yang sempat membuat mereka larut.
"Papa, kenapa Mama digigit? Apa Mama nakal?" tanya Aileen terdengar mengantuk, dengan suara cadel yang cenderung tidak jelas.
__ADS_1