Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
111. Kejujuran Narendra


__ADS_3

Narendra berdiri ragu melihat Glacia. Wanita itu sudah jauh lebih baik dari semalam, ia sudah bisa berjemur di taman, dengan ditemani seorang perawat.


Perlahan Narendra mendekat, hingga hadirnya mampu mengusik perhatian Glacia dari kolam ikan. Glacia mendongak ke arah Narendra yang berdiri di sampingnya.


"Kau sudah tidak mabuk?" Ia bertanya sambil memperhatikan sang suami dari atas ke bawah, terutama wajahnya yang pagi ini sudah nampak lebih segar. Pasti Narendra sudah mandi.


Narendra mengangguk kaku. "Sudah." Ia lalu melanjutkan. "Maaf."


Mendengar itu Glacia langsung membuang nafas. "Sampai kapan kau akan mengulang perkataan yang sama? Apa kau tidak bosan?"


Glacia kembali mengalihkan perhatiannya pada ikan-ikan yang kini bergerumul di bawah pancuran air.


Narendra menggeleng. "Aku tidak akan bosan sampai kau mau memaafkanku, sampai kau menatapku tanpa sorot aneh itu."


Hening. Glacia memberi isyarat pada perawat yang menemaninya, supaya mau meninggalkannya sebentar dengan Narendra. Perawat itu mengangguk lalu pergi.


Kini hanya tinggal Glacia dan Narendra yang sama-sama bungkam memperhatikan kolam ikan di hadapan mereka. Glacia membuang nafas samar. "Bagaimana dengan kepalamu? Apa masih pengar?"


"Sudah tidak lagi. Julian merawatku dengan baik," jawab Narendra.


Glacia mengangguk lamat. "Baguslah, kamu cukup merepotkan saat mabuk," cetusnya, membuat ringisan kecil keluar dari mulut Narendra.


"Apa ... aku melakukan sesuatu yang aneh padamu?"


"Tidak, sih. Kamu hanya jadi lebih jujur saja." Glacia mendongak saat Narendra terdiam. "Kamu tidak ingat sama sekali?"


Narendra diam sebentar seperti berpikir. "Ah, aku ingat ... aku yang ..." ia menggaruk rambut.


Melihat kegugupan Narendra, Glacia diam-diam ingin tertawa, tapi kemudian rautnya berubah malas saat mengingat foto yang diperlihatkan Gibran beberapa saat lalu. Narendra yang mabuk-mabukan dan didekati seorang wanita.


Ia mendengus. "Setelah ini tidak akan kubiarkan kau minum-minum di club," gumamnya hampir tak jelas.


Narendra yang kurang mendengar gerutuan tersebut pun bertanya penasaran. "Apa?"


"Bukan apa-apa. Ini jadwalku sarapan dan minum obat. Aku akan kembali ke kamar." Glacia menggerakkan kursi rodanya meninggalkan Narendra. Sekarang ia lebih leluasa karena tak pakai infus.


Narendra berkedip. "Kenapa dia jadi mendadak ketus? Jangan-jangan aku memang berbuat sesuatu kemarin?"


Memikirkan itu, Narendra dengan cepat mengejar Glacia, mengikuti sang istri sambil memastikan kursi rodanya tidak tergelincir di atas walkway yang mereka pijak.


Setibanya di kamar rawat, Glacia sudah mendapati seorang dokter dan perawat yang mengantar makanan serta obat. Dokter itu tersenyum begitu melihat Glacia.


"Bagaimana jalan-jalannya, Nyonya?"


"Cukup menyenangkan," jawab Glacia seadanya.


Dokter itu mengangguk senang. "Kalau begitu kita mulai pemeriksaan dulu, ya?"


Glacia menurut, ia membiarkan si dokter melakukan prosedur pemeriksaan. Narendra pun mengamati dalam diam. Usai ketahuan mabuk semalam, lelaki itu jadi lebih diam dari biasanya, rautnya selalu terlihat kikuk di hadapan Glacia. Mungkin ia masih malu.


Selesai memeriksa, dokter itu menjelaskan kondisinya. Glacia dan Narendra mendengarkan dengan seksama. Terlebih Narendra, ia tak melewatkan satupun informasi tersebut. Meski dokter mengatakan perkembangannya bagus, Narendra tetap tak bisa menghilangkan kecemasannya karena kanker itu masih ada di tubuh Glacia. Dokter hanya memeriksa rutin, lebih pada daya tahan tubuh sang istri setiap harinya, sebelum jadwal kemoterapi datang lagi.


"Kalau begitu kami permisi. Nyonya silakan sarapan dan minum obat, lalu setelah itu istirahat," pesan dokter itu.


Glacia mengangguk. "Terima kasih, Dokter."


Dokter dan perawat itu pergi. Kini Glacia menatap Narendra yang masih saja terdiam dengan tubuh mematungnya.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa berdiri terus seperti itu? Kau tidak mau membantuku makan?" tanya Glacia beruntun.


Narendra terperanjat. Ia lalu balik bertanya dengan suara tergagap. "M-memangnya ... kamu mengizinkan?"


Ia masih ingat saat mereka pulang menghadiri pemakaman, Glacia melempar gelas minum yang diberikannya. Hal yang membuat Narendra menyerah karena tak tahan dengan sorot Glacia yang menatapnya penuh cela dan tak percaya.


"Bukankah biasanya kau menyuapiku? Kalau tidak mau ya sudah." Glacia mendekati meja nakas, hendak mengambil nampannya. Namun Narendra buru-buru menahan.


"Biar aku saja," serunya nampak senang. Bibir lelaki itu menguar senyum cerah, sampai-sampai Glacia merasa silau karena ekspresinya terkesan begitu murni seperti mentari yang baru terbit.


Astaga, kenapa ia jadi mendadak puitis? Dan kenapa Narendra jadi terkesan menggemaskan begitu?

__ADS_1


Di sisi lain, Narendra merasa jantungnya berdegup tak karuan saat menyuapi Glacia. Ia senang, sampai-sampai bibirnya kesulitan menahan senyum. Apa ini pertanda bahwa Glacia mau menerimanya kembali?


Dengan pelan dan telaten Narendra menyuapkan olahan kentang lembut dan beberapa sayur lain ke mulut Glacia. Wanita itu makan dengan tenang, pun matanya tak lepas memperhatikan raut bahagia Narendra.


"Kamu sudah memaafkanku?" tanya Narendra.


"Apa yang harus ku maafkan? Kau tidak berbuat salah padaku," cetus Glacia, menerima kembali suapan dari Narendra.


Sesaat Narendra terdiam mencerna respon Glacia barusan.


"Jadi ..." Kalimat Narendra menggantung.


"Apa kau mengira aku akan mengajakmu bercerai lagi? Sampai rautmu beberapa hari terakhir seperti akan kalah perang," potong Glacia.


Narendra mengerjap. "Glacy, kau tidak membenciku?" tanyanya memastikan.


"Kenapa aku harus membencimu?"


"Aku ..."


"Aku yakin kau memiliki alasan saat melakukan semua hal itu. Jadi, bisakah kau beri tahu aku apa alasanmu? Aku akan memikirkan ulang hubungan kita, kalau kau mau jujur. Siapa pun benci dibohongi." Glacia terus memotong lantaran Narendra tampak bingung.


Mau tak mau Narendra pun membuang nafas. Ia kembali menyuapi Glacia lalu berkata. "Lebih baik habiskan dulu sarapannya. Aku akan memberitahumu semua, setelah kamu selesai makan dan minum obat."


"Benar?" Mata Glacia tampak menyipit. "Kau pandai mengelak, apalagi saat aku meminta cerai."


Narendra membuang nafas lagi. "Itu kasus yang berbeda."


"Oke, aku menunggumu kalau begitu," putus Glacia. Ia menerima suap demi suap sambil terus menatap Narendra yang sudah jauh lebih tenang.


***


Narendra duduk di lantai, bersandar pada kusen jendela. Di hadapannya Glacia terus menanti di atas kursi roda, ia menunggu Narendra mulai cerita.


Hingga tak lama lelaki itu melipat bibirnya sebelum bersuara. "Semula bermula dari ayahku. Ia sering menyakiti ibuku, baik hati maupun fisik. Lelaki bejat itu menyiksa ibuku hingga mati," ucap Narendra.


Glacia sedikit terkesiap, apalagi raut Narendra terkesan dingin saat mengatakan itu. "Kupikir kau anak panti asuhan yang tak jelas asal-usulnya, lalu secara beruntung bekerja pada Papa."


Mengerjap, Glacia berdehem. "Jadi ... ibumu sudah meninggal?" Ia bertanya hati-hati. Suasana pun kembali serius saat Narendra melanjutkan ceritanya.


Narendra mengangguk. "Ia korban kekerasan rumah tangga."


"Ya Tuhan," bisik Glacia tak menyangka.


"Demi membalasnya, aku berusaha keras tetap sekolah meski dengan biaya minim, karena dia tak lagi membiayai hidupku."


"Kejam sekali. Apa dia benar-benar seorang ayah?" Glacia mendengus. "Jadi, kau sekolah dengan beasiswa?"


Narendra mengangguk. "Selebihnya aku juga bekerja. Apa saja yang bisa menghasilkan uang, aku kerjakan untuk makan dan tambahan keperluan sekolah. Beberapa tahun setelah lulus kuliah, aku berhasil diterima di sebuah perusahaan, tapi karena sedikit masalah, aku dipecat."


Sorot Glacia seketika meredup. Hatinya turut perih mendengar cerita Narendra. Ternyata banyak sekali kesulitan yang sudah lelaki itu hadapi.


"Sampai aku bertemu papamu," lanjut Narendra. Ia mendongak menatap Glacia. "Papamu menawarkan agar aku bergabung dengan perusahaannya. Yang tidak kusangka, dia juga membantuku membalaskan dendam pada bajingan itu."


"Jadi Papa membantumu?" Glacia baru tahu cerita itu. "Pantas dia terkesan sangat menyayangimu," lanjutnya bergumam.


"Benar. Alasan kenapa aku sangat menghormatinya. Karena Papa Yohan, aku bisa membuat Krisna Julius bangkrut sebangkrut-bangkrutnya."


"Krisna Julius itu ayahmu?"


Narendra mengangguk. "Dia juga yang bekerjasama dengan Lizy untuk menculikmu saat itu."


"Jadi dia." Glacia mengangguk lamat. "Dia yang membuatku kelaparan dan kehausan," lanjutnya mencebik.


Narendra terkekeh, tangannya terulur menggenggam jemari Glacia dan mengusapnya lembut. "Ini juga yang menambah daftar kebencianku padanya."


"Dia memang pantas mati," ketus Glacia.


"Dia memang sudah mati," sahut Narendra. Ia menatap Glacia serius, sambil menelan ludah dengan raut waswas. Ia takut Glacia tak bisa mendengarkan ceritanya. "Aku yang membunuhnya."

__ADS_1


Hening. Narendra mengamati reaksi Glacia dengan begitu lekat. "Mungkin aku adalah anak durhaka, lebih durhaka dari cerita melegenda," bisiknya hati-hati.


Glacia balas menatap Narendra lekat. Lama mereka saling tatap hingga akhirnya helaan nafas terdengar dari mulut Glacia.


"Aku tidak berani menyalahkanmu karena akupun bukan orang suci. Tindakanmu terkesan wajar setelah banyaknya situasi sulit yang kau hadapi. Meski kau tidak menceritakan semuanya padaku, aku bisa menangkap secara garis besar, bahwa dialah penyebab kamu dan ibumu menderita. Dia juga sudah menyiksa ibumu sampai kehilangan nyawa. Kalau aku di posisimu, mungkin akan melakukan hal yang sama, dan bisa jadi lebih gila dari yang dikira."


Mulut Narendra sedikit bergetar mengukir senyum tak percaya. "Kamu percaya padaku?"


"Kamu mau aku bagaimana? Aku sebagai istri dituntut memahami suamiku sendiri, dan aku paham kenapa kamu begitu membenci ayahmu sampai berakhir membunuhnya. Yang aku khawatirkan justru adalah polisi, kenapa mereka belum juga menangkapmu sampai saat ini?"


Narendra menunduk sebentar, sambil mengelus jemari Glacia. "Sepupumu membantuku."


"Gibran?"


"Hm." Narendra mengangguk.


"Syukurlah. Aku bukan mau membelamu, tapi ayahmu memang pantas mendapat balasan setimpal."


Sekali lagi Narendra mengangguk. "Dia memang sangat bejat. Saat masih bersama ibuku, dia selingkuh sampai membuat pacarnya hamil." Ia mendengus kesal. "Lucunya setelah itu dia malah lari."


"Berarti dia punya anak selain kamu?" Glacia penasaran.


Narendra mengangguk. "Usianya sudah 20 tahun sekarang."


Berdecak, Glacia semakin ingin memaki Krisna Julius yang merupakan ayah Narendra, sekaligus juga ayah mertuanya. Glacia tidak menyangka ia punya mertua sejahat itu.


"Di mana dia sekarang?"


Narendra mengendik. "Untuk apa kau bertanya?"


"Kenapa kau tidak mencarinya? Dia masih sekolah?"


Lelaki itu menggeleng sembari mendengus. "Dia berandalan."


Kening Glacia berkerut. "Berandal?"


Tanpa bisa dicegah otak Glacia berputar, dan entah kenapa sebutan berandal malah mengingatkannya pada satu dari sekian orang yang menculiknya kala itu.


"Kau sudah pernah bertemu dengannya," ucap Narendra tiba-tiba.


Glacia mengerjap. "Benarkah? Siapa?"


"Thomas."


Mulut Glacia ternganga. Ia tak mampu berkata-kata saat berhasil mengingat siapa yang dimaksud Narendra. "Jadi, bocah itu adikmu? Wah, kebetulan macam apa ini?"


Narendra turut mendengus disertai senyum. "Dia juga yang membantu rencanaku melenyapkan bajingan itu," aku Narendra.


Glacia semakin terperangah. "Apa? Jadi ... kalian bersekongkol melenyapkan ayah kalian sendiri?"


Melihat Narendra yang terdiam, Glacia berusaha mencerna semua informasi yang menurutnya sangat mengejutkan. "Wah, sulit dipercaya."


Narendra membuang nafas, mengelus punggung tangan Glacia. "Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Inilah yang membuatku ragu bercerita. Aku takut membuatmu stress dan mempengaruhi kesehatanmu saat ini."


Glacia terdiam, ia memandangi Narendra lekat. Lalu tangannya terulur mengusap rambut lelaki itu pelan. "Kamu hebat karena bisa melalui semuanya dengan baik."


Narendra tersenyum. Ia meraih tangan Glacia yang mengusap kepalanya hingga kini kedua tangan wanita itu ia genggam. Narendra mengecup jari-jemari Glacia.


"Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa kenal sepupuku? Sejak kapan kau akrab dengan Gibran Wiranata?"


Sesaat lalu Narendra merasa masalah telah usai, tapi ia tidak menduga Glacia akan bertanya soal keterkaitannya dengan sepupu wanita itu.


Mata Glacia menyipit penasaran. "Kulihat akhir-akhir ini kalian sering bersama."


Narendra tergagap. "A-Ah ... itu ..."


Sial, Narendra tidak mau menambah daftar kekejaman di mata Glacia. Sudah cukup ia merasa kesulitan karena menjelaskan tentang ayahnya, belum lagi Glacia tahu ia juga menyiksa Lizy sebelum ini.


Narendra meringis. "Glacy, apa aku belum cukup jujur padamu?"

__ADS_1


Narendra yang tampak memohon malah membuat Glacia semakin ingin tahu. "Katakan, sejak kapan kau berteman dengan Gibran Wiranata? Apa kau tidak tahu dia seorang mafia berbahaya?"


__ADS_2