Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
44. Bimbang


__ADS_3

Glacia menoleh saat mendengar suara derap langkah yang mendekat. Narendra baru saja muncul di ambang pintu dan kini berjalan menghampirinya. Senyum pria itu mengembang tipis menatap Glacia.


"Mau ke mana?" tanya Narendra.


Glacia mengalihkan pandangannya ke arah dapur. "Ambil minum," jawabnya singkat.


Narendra mengangguk paham. "Sudah makan?" Ia kembali bertanya, pun Glacia langsung menggeleng.


"Bagaimana kalau kita makan di luar? Dinner?" tawar Narendra.


Glacia mengerjap sesaat, ia menatap Narendra yang memandangnya penuh harap. "Itu ..."


"Ku anggap diammu adalah iya," cetus Narendra serta-merta.


Spontan Glacia membelalak. Hey, ia belum menyetujuinya sama sekali. Kenapa Narendra berubah jadi pria pemaksa seperti ini?


"Aku belum setu—"


"Weni, bantu Nyonya bersiap." Dengan seenaknya Narendra memerintah Weni yang baru saja kembali dari dapur, mengambil minum untuk Glacia.


Ia pun berkedip bingung menatap bergantian pada Narendra dan Glacia. "Bersiap ke mana, Tuan?"


"Dinner. Dalam setengah jam harus sudah siap, ya."


"Naren," panggil Glacia.


Narendra menunduk mengangkat alis. "Kenapa?"


"Aku tidak bisa. Itu, maksudku ..." Glacia sendiri kebingungan harus mengutarakan apa.


"Glacy, kumohon, cobalah. Kita pasti bisa menjadi pasangan yang sesungguhnya." Narendra tak lepas membujuk.


Glacia terdiam lama, hal yang paling menyebalkan adalah akhir-akhir ini ia kerap lemah dengan bujukan Narendra.

__ADS_1


"Ya sudah," putus Glacia menyerah.


Senyum Narendra mengembang, wajahnya terlihat puas dengan keputusan Glacia.


Weni pun membawa Glacia ke kamarnya untuk segera bersiap. Sementara Narendra, ia memerintah Julian untuk mereservasi restoran sebelum akhirnya menyusul Glacia ke lantai atas.


***


Mereka tiba di sebuah restoran berbintang di pusat kota. Narendra membantu Glacia menduduki kursi rodanya lalu mendorong wanita itu masuk. Glacia sempat menolak karena menurutnya ia bisa mengoperasikannya sendiri secara otomatis, tapi Narendra tetap kekeh mendorongnya secara manual.


Seorang waiters mengantar keduanya ke sebuah ruangan yang sudah dipesan Julian sebelumnya. Makanan juga sudah tersaji dan siap santap di sana. Narendra tersenyum duduk di seberang Glacia, ia menatap wanita itu lekat sebelum menawarkan anggur yang Glacia angguki dengan pelan.


Langit malam dan kerlip lampu gedung menjadi pemandangan utama dari jendela. Meski begitu ruang private tersebut didesain ciamik dengan penghijauan yang ditata apik. Pencahayaan remang membawa pengaruh besar hingga suasana terkesan elegan.


Narendra tak lepas memandang Glacia yang kini tampak melamun. "Ada apa?"


Glacia sedikit terhenyak, ia lalu meninggalkan atensinya dari jendela besar di samping mereka untuk kemudian menoleh pada Narendra. "Tidak ada."


Wanita itu membuang nafas. "Ayolah, Naren, aku butuh waktu."


Narendra mengangguk mengerti. "Aku mengerti."


Glacia lalu membuka suara lagi. "Naren, apa tidak apa-apa kita ... maksudku, Lizy—"


"Berhenti membahas orang lain," potong Narendra. "Kamu tidak lupa dengan pembicaraan kita sebelumnya, kan"


"Ah, iya." Glacia pun memilih bungkam meski hatinya masih dipenuhi rasa khawatir.


Apa-apaan kamu, Glacia. Sebelumnya kamu begitu bersemangat mendekatkan Narendra dengan mantan pacarnya, tapi sekarang kau sendiri malah berkencan dengan lelaki itu.


Narendra tersenyum sambil menyodorkan sepiring steak yang sudah ia iris ke hadapan Glacia. "Makanlah."


Glacia menurut. Sesekali ia memperhatikan Narendra yang sibuk memotong daging untuk dirinya sendiri. Glacia masih belum terbiasa dengan suasana romantis di antara mereka. Ini benar-benar di luar rencana Glacia. Sebelumnya Glacia bahkan tak pernah berpikir akan berada sedekat ini dengan Narendra. Mengobrol hal lain selain menyangkut perpisahan.

__ADS_1


"Bagaimana perasaanmu hari ini? Apa ada keluhan lain?" Narendra bertanya di sela mereka makan.


Glacia menggeleng pelan. Memang apa yang harus ia katakan. Ia terlalu lelah jika harus terus-menerus menyebutkan berbagai masalah kesehatan yang dialaminya. Glacia lebih memilih tak acuh dan mencoba menikmatinya saja.


Mereka makan dengan tenang. Malam ini Glacia tak banyak bicara. Sebaliknya justru Narendra yang terus bersuara menceritakan ini dan itu dengan nada kalemnya.


Secerewet apa pun Narendra, pria itu adalah tipe lelaki yang bicara singkat dengan nada pelan dan teratur. Gaya bicaranya sangat mencerminkan bahwa ia bukan orang yang suka basa-basi.


Kecuali malam ini. Entahlah, Glacia merasa Narendra terlalu memaksakan topik di antara mereka.


"Uhuk!" Belum sempat Glacia menelan potongan terakhir dagingnya, tiba-tiba saja ia terbatuk hingga membuat Narendra turut menghentikan makan.


"Ada apa? Kau tersedak?"


Glacia tak menjawab. Ia menepuk-nepuk dadanya yang sedikit terasa sesak dan berat. Narendra yang melihat itu langsung panik dan hendak mengeluarkan ponselnya entah mau menghubungi siapa. Tapi Glacia segera mencegah, ia menggeleng sambil menahan tangan Narendra yang masih merogoh ke dalam saku jasnya.


"Glacy?"


"Aku baik-baik saja, hanya salah menelan," ucap Glacia susah payah.


Sesaat Narendra masih berkubang dengan raut cemasnya. Lelaki itu mendekat dan sedikit menunduk mengamati wajah Glacia yang sedikit pucat.


"Kamu pasti kedinginan. Pakai saja blazernya." Ia memakaikan outer bulu yang tadi Glacia pakai dari rumah. Tapi entah karena alasan apa wanita itu melepasnya saat sampai restoran.


Narendra tak langsung kembali ke kursinya. Ia diam memperhatikan Glacia sampai-sampai wanita itu merasa risih dan terganggu. "Kembalilah."


Mau tak mau Narendra pun duduk. Ia masih menatap Glacia dengan pandangan menyelidik. Narendra melanjutkan makannya dengan enggan, pun seleranya mendadak hilang.


Diam-diam Glacia menyusut mulutnya dengan tisu. Ia menelan ludah ketika mendapati bercak darah kecil di sana. Matanya kembali melirik Narendra yang sedang makan.


Seketika hati Glacia dipenuhi bimbang dan ragu. Haruskah ia menerima Narendra, atau tetap pada tujuan awalnya untuk berpisah.


Glacia tidak tahu, di sisi lain ia kembali memikirkan pesan asing yang diterimanya tadi siang. Ia tidak merasa memiliki musuh, tapi kenapa ada pesan ancaman yang menyerangnya? Mungkinkah hanya salah kirim?

__ADS_1


__ADS_2