Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
64. Titik Merah di Pelabuhan


__ADS_3

Glacia mengusap jepit rambut di tangannya. Entah ke mana yang satunya lagi, Glacia ingat ia pakai sepasang saat masih di rumah. Mobil masih berjalan dan tidak tahu hendak bertujuan ke mana. Rasanya Glacia sudah pusing karena haus dan lapar.


"Uhuk!"


Glacia terbatuk, dan ia hanya bisa menghela nafas melihat bercak darah di tangannya. Pemuda berandal di depannya menatap Glacia tanpa suara. Mereka diam sama-sama tak saling bicara. Lalu tiba-tiba Glacia membuka mulutnya dengan lemah. "Kenapa kalian tidak membunuhku saja?"


Pertanyaan lirih Glacia berhasil membuat si berandal mendongak kembali. Glacia melirik pria itu. Keduanya saling pandang sampai si berandal mendengus kasar dan membuang muka.


"Diamlah. Ikuti saja alurnya," jawabnya cuek.


"Kau sedikit berbeda dari teman-temanmu," timpal Glacia. "Kenapa kau tidak menggodaku seperti mereka?"


"Kau pikir apa yang bisa kulakukan dengan wanita cacat sepertimu?" sentak pemuda itu.


Glacia tersenyum lirih. "Benar. Mendadak aku bersyukur memiliki kekurangan."


Si berandal tersenyum sinis. "Tapi kau mempermudah orang lain untuk menyakitimu."


Hening. Tubuh mereka berguncang seiring mobil yang bergerak. Sesekali Glacia limbung menubruk kardus-kardus di sampingnya. Pemuda itu pun sama, meski ia lebih bisa menjaga keseimbangan dibanding Glacia.


"Aku haus. Apa kau punya air? Sedikit saja tidak apa-apa, rasanya aku sudah tidak kuat." Glacia berbisik lirih. Ia menatap penuh harap pada si berandal yang menurutnya sedikit berbeda. Pria muda penuh tato itu cukup bisa diajak bicara.


Lama tak ada jawaban karena si berandal hanya diam, bahkan peduli pun tidak. Glacia pun menyerah, ia kembali bersandar pasrah sambil menerka kapan Tuhan mengambil nyawanya.


Tanpa diduga sebuah botol mineral berukuran sedang menggelinding ke hadapannya. Refleks Glacia menangkap botol tersebut, lalu menoleh pada berandal itu yang kini bersandar memejamkan mata, seolah barusan ia tak melakukan apa pun seperti yang Glacia pikirkan.


Glacia tersenyum. Ia membuka botol itu lalu meminumnya sampai setengah. Glacia berhenti sejenak sebelum lanjut menghabiskan isi air di dalamnya.

__ADS_1


Ia mendesah lega saat rasa hausnya sedikit terobati, meski masih harus menahan rasa lapar yang terus mendera.


"Kita mau ke mana?" tanya Glacia lagi, pelan. Sepertinya Glacia sudah benar-benar pasrah karena tak bisa melarikan diri.


Pemuda itu tak menjawab. Dan setelahnya tetap begitu hingga mereka kembali larut diselimuti bungkam. Glacia pun tak bertanya lagi, pun tenaganya yang lemah membuat Glacia enggan untuk sekedar mengobrol panjang. Ia hanya ingin, seandainya benar akan mati, detik-detik terakhirnya tak begitu terasa sepi.


Mobil berhenti setelah sekian lama perjalanan. Tanpa menghiraukan Glacia, si pemuda beranjak keluar dengan mengunci kembali pintu box itu.


Glacia menghela nafas lagi. Kepalanya luar biasa pening, ditambah lagi dan lagi hidungnya mengalami mimisan. Gejala itu semakin sering terasa, Glacia juga mendapati rambutnya mulai mengalami kerontokan tak wajar, efek dari kemoterapi 3 minggu lalu.


Pinggul Glacia sudah keram karena duduk terus. Ia pun memutuskan berbaring ketika tiba-tiba pintu terbuka, membiaskan cahaya yang seketika masuk menyusupi ruang gelap tempat Glacia menidurkan tubuhnya yang terhalang kardus.


Si berandal kembali sambil melemparkan sebungkus roti padanya. Ia berucap ketus sebelum kemudian berlalu meninggalkan Glacia lagi. "Makan!"


Glacia hanya diam menatap kepergian pemuda bertato itu. Ia melirik, memandang lama bungkusan roti murah yang bahkan belum pernah Glacia temui seumur hidupnya.


Selagi mereka makan, Krisna melipir sedikit jauh untuk menelepon seseorang. "Halo, tugasku hampir selesai, kuharap kau segera mentransfer uangnya, dan tepatilah janjimu. Bantu aku merebut kekuasaan Martadinata." Senyum miring tercipta di bibir Krisna.


Seseorang yang ternyata adalah Lizy, tersenyum culas menyandarkan tubuhnya di kursi. Ia berputar dengan raut wajah bahagia. Berita mengenai hilangnya Glacia masih terus ditayangkan di mana-mana. Bahkan Yohanes sampai membuat sayembara pada siapa pun yang menemukan dan bersedia membawa pulang putrinya, akan diberi 6 persen saham Martadinata.


Lizy mendengus, cukup berani tapi akan berakhir sia-sia, karena sebentar lagi Glacia akan Krisna tenggelamkan hidup-hidup di lautan. Setelah itu, wanita itu akan mati, entah karena kehabisan nafas atau justru menjadi santapan hewan buas.


"Hahaha ..." Lizy tertawa anggun. "Tenang saja, asal kau memberiku bukti kematiannya, aku akan membantumu meraih kejayaanmu kembali."


Krisna tersenyum penuh ambisi. Matanya menyorot tajam mobil box, di mana di dalamnya ada Glacia. Sebentar lagi, sebentar lagi ia akan kaya seperti dulu.


Lihat saja, Narendra. Aku akan membuatmu merasakan apa yang kurasakan saat itu. Kau yang lebih dulu menghancurkan ayahmu. Sekarang, giliran aku yang menghancurkanmu, anakku.

__ADS_1


"Tenang, karena tanpa aku membunuhnya pun, sepertinya dia sudah akan mati. Dia sekarat."


***


"Sinyalnya mengarah ke pelabuhan," ucap Harley datar. Ia menunjuk sebuah titik di tabletnya pada Narendra.


Narendra memperbesar lokasi tersebut dengan cepat. Harley menepati ucapannya, dia benar-benar melakukan pelacakan dengan waktu yang sangat singkat. Padahal sinyal dari jepit rambut itu sangat lemah dan sulit Narendra deteksi.


"Oke, thanks. Aku akan segera ke sana." Narendra berlari menuju mobilnya, tapi kemudian berhenti saat Harley bersuara.


"Perlu kuantar?" Lelaki itu menatap Narendra tanpa ekspresi, kedua tangannya tenggelam di saku.


Raut keduanya sama-sama datar, bedanya Narendra kini telah dilanda ketegangan. Kegelisahan itu bisa jelas terbaca oleh Harley.


"No, thanks. Cukup sampai sini saja, aku akan mengurus semua sendiri," sahut Narendra, sebelum lanjut memasuki mobilnya dan pergi meninggalkan Harley yang masih diam acuh tak acuh.


Narendra memacu kendaraannya menuju titik lokasi yang ditemukan Harley. Pelabuhan di luar kota yang cukup jauh jaraknya. Entah apa yang hendak Krisna lakukan pada Glacia di sana. Narendra benar-benar tak akan memaafkan pria itu, serta Lizy yang ia tahu terlibat dalam masalah ini.


Narendra sudah mengatakan semuanya pada polisi, dan saat ini mereka tengah mencari keberadaan Lizy yang mendadak hilang bak ditelan bumi. Wanita itu pasti kabur setelah Narendra menyiksanya malam itu. Ia menyesal kenapa tak mengikat Lizy saja sampai polisi datang.


Mata Narendra kembali jatuh pada jepit rambut Glacia. Sebenarnya bukan kali ini saja Narendra menyematkan alat pelacak di barang-barang milik istrinya. Sejak dulu Narendra sudah melakukannya ketika Glacia kerap bepergian ke luar bersama Gallen. Katakan ia terlalu posesif. Nyatanya, meski Narendra bilang tak perduli pun, ia tetap penasaran.


Narendra mengamati titik merah pada peta yang mulai bergerak menjauh. Ia pun segera menekan pedal gas, mempercepat laju mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Glacy, bertahanlah sebentar lagi," bisik Narendra. "Kumohon."


Jauh di kota lain, Glacia yang tertidur sedikit membuka matanya. Pelan dan sayu, Glacia mengerjap dengan pandangan kosong. Ia baru saja bermimpi, mimpi yang entah harus ia senangi atau ratapi.

__ADS_1


Glacia bermimpi bertemu Narendra di ujung nafas terakhirnya.


__ADS_2