
Glacia terdiam memandangi wajah Narendra yang tertidur lelap. Pria itu sudah diobati oleh dokter, pun bahunya mendapat jahitan lumayan banyak. Glacia menelan ludah mengingat kembali kegilaannya beberapa jam lalu yang hampir menewaskan lelaki itu. Narendra cukup beruntung karena bukan kepalanya yang Glacia tusuk.
Ia kembali termenung dalam diam, hingga tak lama mata itu berkedut lalu terbuka dengan kedipan samar.
"Glacy ..." bisik Narendra. Pria itu langsung bangun, tapi kemudian meringis sakit hingga ia kembali berbaring.
Glacia tak bereaksi apa pun, ia hanya menatap tanpa sekalipun bersuara meski melihat Narendra sudah sadar. Ia lalu memundurkan kursi rodanya hendak keluar. "Akan kupanggil Meredith."
Namun Narendra berseru memanggilnya. "Glacy, tunggu!"
Sekarang lelaki itu berusaha bangkit pelan-pelan, sampai akhirnya ia bisa terduduk meski belum begitu tegak. Matanya menatap Glacia yang kembali berbalik menghadapnya, memberi waktu untuk Narendra bicara.
"Bisa kita bicara sebentar?"
"Katakan," ujar Glacia datar.
Tatapan itu begitu asing di mata Narendra. Narendra seolah menemukan Glacia di masa dulu saat mereka pertama kali bertemu.
"Aku minta maaf." Narendra menjeda. "Karena meninggalkanmu terlalu lama kemarin. Aku benar-benar salah karena tak langsung menghampirimu setelah mendapatkan minuman untuk kita."
Glacia terdiam, dan Narendra kiat menahan rasa sesalnya yang semakin menggunung. "Aku juga minta maaf karena tidak tahu kamu mengalami hal tidak menyenangkan di sana. Aku benar-benar tidak mengira mereka akan melakukan semua itu padamu."
__ADS_1
Narendra tak tahu harus bicara apa lagi, terlebih tatapan dingin Glacia yang seakan menusuk bagian hatinya yang paling dalam.
Seandainya Narendra tahu hubungan mereka akan menjadi buruk seperti ini, ia akan lebih memilih untuk tidak menghadiri acara ulang tahun Lizy.
"Kamu tidak tahu karena sibuk dengan Lizy." Glacia tersenyum sumir. Ia menunduk membuang pandangannya dari Narendra. "Aku melihat kalian," bisiknya lagi. "Dan aku semakin sadar bahwa kalian memang pantas bersama. Aku salah karena sempat menaruh harapan padamu."
Narendra dibuat bungkam.
"Lucu sekali, ya?" Glacia tertawa lirih. "Aku sendiri yang memaksamu dekat dengan Lizy. Tapi memikirkan kalian akan kembali, hatiku malah tidak tahu diri."
"Memang sudah paling benar kita berpisah saja, Naren," lanjut Glacia. Ia mendongak menatap Narendra. "Ayo bercerai."
Hening. Narendra merasakan hatinya dibakar hingga melebur menjadi abu. Perkataan Glacia benar-benar membuatnya tak berkutik. Bukan hanya tubuhnya yang kaku, tapi mulutnya ikut membeku dengan hati yang lebih sakit dari luka jahit di bagian bahu.
"Aku akan minta Papa untuk menyiapkan surat cerai kita," ucap Glacia tak peduli.
Narendra menggeleng pelan. Ia menatap Glacia memohon dengan mata yang entah kapan sudah berkaca. "Tolong jangan lakukan itu, Glacy. Kita masih bisa memperbaiki semuanya. Beri aku kesempatan sekali lagi, kumohon."
Namun Glacia tetap pada pendiriannya. Wajahnya seolah menegaskan bahwa itulah keputusan akhirnya.
"Glacia," mohon Narendra.
__ADS_1
Glacia tak mengacuhkannya. Ia lanjut mendorong kursi rodanya untuk keluar kamar Narendra, membuat Narendra yang masih terduduk di ranjang seketika bangkit dan berlari mencegah Glacia.
"Glacia, aku mohon, tolong maafkan aku. Kita perbaiki semuanya sama-sama. Beri aku kesempatan untuk meyakinkanmu lagi. Tolong jangan bercerai. Ayo kita pergi ke tempat lain yang hanya ada kita berdua. Kita mulai semua dari awal. Kita perbaiki semua yang salah, Glacy. Kamu boleh meminta apa pun dariku asalkan bukan perceraian. Aku mohon jangan."
"Aku mencintaimu, Glacia." Kalimat terakhir Narendra membuat Glacia mematung tak percaya. Tubuhnya membeku melihat Narendra yang sampai memohon memeluk kakinya erat.
"Aku mencintaimu." Narendra mendongak. Ini kedua kalinya Glacia melihat pria itu menangis setelah tertusuk pisau tadi.
Tapi meski begitu Glacia tak serta-merta luluh mengingat ia melihat sendiri pertemuan Narendra dan Lizy di pesta. Mereka sampai menepi dari keramaian untuk sekedar bicara. Apa yang keduanya bicarakan sampai memilih tempat gelap dan sepi dari lalu-lalang orang?
Glacia mendengus hambar. "Cinta? Kamu tidak akan meninggalkanku jika kamu benar-benar peduli padaku, Naren. Asal kamu tahu, hatiku hampir mati rasa karena satu kata memuakkan itu. Cinta tak pernah membuatku bahagia. Mau itu Gallen atau kamu, kalian sama-sama menyakitkan."
"Akan lebih baik aku mengubur harapan pada semua orang. Tidak ada yang bisa membuatku bahagia kecuali diriku sendiri."
"Lagipula, aku tidak tahu Tuhan akan memberikanku hidup sampai kapan. Kamu tahu sendiri, kan?" bisik Glacia, menatap Narendra getir.
Narendra tak mampu berkata-kata. Glacia benar-benar menutup hati untuknya. Hal yang akan Narendra sesali seumur hidup jika mereka benar-benar berpisah.
Glacia, kenapa begitu sulit untuk kita bersama? Kenapa aku tidak bisa memilikimu seutuhnya? Kapan, kapan kamu akan melihat perasaanku?
***
__ADS_1