
"Kamu mau ke mana?" Glacia bertanya pada Narendra yang sudah rapi dengan setelan celana abu-abu. Vest berwarna senada turut membalut tubuh atasnya, menambah kesan kokoh pada tubuh Narendra yang memang atletis. Ke mana saja Glacia selama ini?
Narendra yang semula menunduk memasang jam tangan, spontan mendongak ke arah Glacia. Ia mendekat seraya menenteng jas yang masih terlipat rapi di lengannya.
Ia tersenyum kecil. "Aku senang, karena sekarang kau selalu bertanya."
Mata Glacia justru memicing. Sepertinya apa pun yang Glacia lakukan sekarang akan membuat Narendra percaya diri. Perhatian kecilnya kerap dianggap berlebihan oleh lelaki itu. "Aku hanya bertanya."
Narendra mengangguk. Senyum kecilnya kembali terukir. Ia duduk di bibir ranjang, menghadap Glacia sambil menatap wanita itu lekat.
Glacia yang salah tingkah pun tak bisa diam. Pandangannya mengedar ke sana kemari menghindari Narendra. Dan entah sejak kapan pula parfum Narendra jadi sewangi ini di indera penciuman Glacia.
"Kamu tahu aku bukan pengangguran," ujar Narendra sedikit geli. "Perusahaan ayahmu butuh aku untuk tetap beroperasi. Jadi, saat ini mungkin kamu harus rela jika aku berbagi perhatian padanya."
Glacia mendengus tak percaya. "Siapa juga yang mengharap perhatian darimu?"
Narendra hanya tersenyum tipis seperti biasa. Tapi, senyumnya kemudian luntur saat melihat wajah Glacia. Dalam sekejap Narendra beringsut hingga membuat Glacia terkejut. Lelaki itu meraih wajahnya dan menatap Glacia cemas.
Narendra mengeluarkan saputangan dari saku celana, lalu mulai menempatkannya di bawah hidung Glacia. Glacia masih mematung menatap wajah Narendra yang begitu dekat. Ia hampir tidak menyadari hidungnya mimisan.
"Ini berdarah, lagi." Narendra berujar pelan. Wajah yang tadi narsis kini berubah tegang disertai gelisah. "Aku akan panggil dokter."
Narendra hendak beranjak, tapi Glacia dengan cepat menahannya. Ia menggeleng sembari menjauhkan tangan Narendra, hingga mereka bisa melihat saputangan Narendra yang sudah berubah warna karena kotor.
"Aku baik-baik saja."
"Bagian mana yang kamu bilang baik?" seru Narendra tanpa sadar.
Glacia diam karena terkejut. Narendra pun membuang nafas, menyugar rambutnya yang rapi hingga kini terlihat acak. Ia menatap Glacia lagi, sorotnya nampak sendu dipenuhi kekhawatiran.
Tangannya kembali menyeka hidung Glacia menggunakan sapu tangan. "Sepertinya aku tidak jadi berangkat."
"Sudah kubilang aku tidak apa-apa. Kamu pergi saja," ujar Glacia. Ia menjauhkan tangan Narendra. "Naren, sudah cukup akhir-akhir ini kamu mengambil cuti karena aku. Sekarang pergilah."
"Tapi—" Sanggahan Narendra terpotong oleh suara ponselnya sendiri.
Membuang nafas, Narendra merogoh benda tersebut dari saku, lantas melihat nama si pemanggil yang juga sempat Glacia lirik.
Glacia tersenyum berusaha menenangkan kebimbangan Narendra. "Kalau Julian sudah menghubungimu, bukankah itu artinya ada hal yang penting? Pergilah."
__ADS_1
Narendra memandang Glacia ragu, namun pada akhirnya ia pun menyerah dan beranjak. "Aku akan minta Meredith untuk menemanimu di sini selama aku pergi," ucapnya, meraih tangan Glacia dan mengecupnya kilat.
"Kenapa tidak Weni atau Wina saja?" tanya Glacia.
Narendra terdiam, ia terpekur menatap Glacia yang memandangnya heran. Betapa wanita ini tidak tahu apa-apa. Ia bahkan tidak tahu bahwa si pelayan hendak membunuhnya sebelum ini.
Tak ingin menambah pikiran sang istri, lagi dan lagi Narendra hanya mengulas senyum bungkam. Ia mengusap punggung tangan Glacia sebelum benar-benar beranjak pergi. "Kalau ada apa-apa hubungi saja. Baik-baiklah selama aku pergi."
Glacia menatap pintu ruang rawatnya yang ditutup dari luar. Narendra baru saja meninggalkannya. Glacia pun membuang nafasnya panjang, sebelum kemudian membaringkan dirinya kembali.
Di luar, Narendra mengangkat panggilan seraya keluar dari lift. Kakinya berderap melewati lobi hingga tiba di samping sebuah mobil. Seseorang yang merupakan sopir membukakan pintu, dan tubuh Narendra pun berayun masuk, disusul si sopir yang tak lama kemudian mengemudikan mobil tersebut keluar dari pelataran rumah sakit.
"Tuan, Thomas mengirim informasi," cetus Julian di seberang sana.
***
Suara teriakan dan rintihan memenuhi setiap sudut ruang kosong itu. Wina maupun Lizy, keduanya sama-sama mendapat penyiksaan paling menyakitkan seumur hidup mereka.
Awalnya Lizy masih tidak percaya bahwa yang melakukan semua ini adalah Narendra. Akan tetapi, saat ia melihat sendiri lelaki itu berdiri di hadapannya, memandang Lizy dengan tatapan paling dingin yang belum pernah Lizy dapatkan sebelumnya, dan kemudian berkata angkuh yang mana hal tersebut berhasil menyakiti hati Lizy, mau tak mau Lizy dipaksa menerima bahwa ia memang sudah benar-benar kehilangan Narendra.
"Ini untukmu yang berniat meracuni Glacia," ujar Narendra kala itu, memerintahkan salah satu anak buahnya guna memaksa Lizy meminum teh dari sebuah cangkir.
Lizy tidak tahu Narendra bisa sekejam itu padanya. Kedekatan masa lalu di antara mereka bahkan seolah tak bisa menggerakkan hati Narendra. Kenapa? Kenapa Narendra bisa begitu mudah menyakitinya?
Ini semua karena Glacia. Wanita itu adalah penyebab kehancuran hidup Lizy saat ini. Lizy benar-benar ingin membunuhnya. Dia adalah si pencari perhatian, dan Lizy sangat membenci Glacia.
Setelah menggaet mantan teman tidurnya, yaitu Gallen, Glacia juga merebut kekasihnya, Narendra. Jangan lupakan Rafael yang sepertinya juga tertarik pada wanita cacat itu.
Lizy penasaran, apa yang istimewa dari Glacia? Sebelum ini dia hanyalah gadis sombong yang tak tahu aturan, lalu sekarang dia lumpuh. Lizy senang dengan keadaan Glacia saat ini, tapi meski sudah begitu kenapa semua orang masih saja tertarik padanya?
"Aaarrgghhh!!!" Lizy berteriak kesal, namun sekaligus juga merasakan sengatan panas yang membakar area kakinya.
Nafas Lizy terengah. Entah kapan siksaan ini akan berakhir. Air mata Lizy sudah tak karuan menahan perih, panas, dan sakit dari bekas sengatan puntung rokok, yang beberapa kali anak buah Narendra labuhkan di sejumlah area tubuhnya.
Ini benar-benar mengerikan. Lizy lebih baik mati ketimbang merasakan siksaan-siksaan berikutnya yang akan diberikan.
***
Thomas mengamati Krisna yang tengah menenteng kelinci di tangannya. Mereka baru saja mendapatkan hewan buruan untuk makan siang. Tentu yang menangkap hewan itu adalah Thomas. Memang apa yang bisa diharapkan dari pria bodoh seperti Krisna?
__ADS_1
"Hey, kau! Cepatlah! Kenapa malah diam di sana? Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan!" Krisna berseru pada Thomas yang masih tertinggal di belakang.
Thomas terlihat aneh, ia berdiri diam menatap Krisna dengan pandangan rumit.
"Thomas!" Sekali lagi Krisna berseru.
Namun alih-alih menyahut, Thomas justru berjalan pelan ke arahnya, dengan mata tak lepas menghunus Krisna dengan tatapan aneh.
Krisna mengernyit. Tubuhnya refleks mundur karena aura Thomas mendadak berubah. Krisna merasa bulu kuduknya berdiri seiring anak itu mengikis jarak. "A-ada apa denganmu? Bukankah kita harus segera memotong kelinci ini?"
Krisna yang tergagap mendadak seperti orang bodoh. Entah ada apa dengannya. Biasanya Krisna tak kenal takut pada siapa pun. Tapi, Thomas di hadapannya kali ini memang sedikit menyeramkan.
Aura gelap seakan memenuhi sekeliling anak itu. Thomas semakin mendekat, mendekat, dan terus mendekat hingga akhirnya Krisna terjengkang ke belakang lantaran kakinya terjerat akar.
Bruk!
"H-Hey, ada apa denganmu?!" Krisna berseru dengan suara gagap.
Tiba-tiba saja mata Krisna membelalak, saat dengan pelan Thomas mengangkat tangannya yang memegang golok. Anak itu terus menatap Krisna tajam.
"Matilah!" seru Thomas sembari mengayunkan golok tersebut.
Crash!
Darah segar mengalir di samping tubuh Krisna yang mematung. Lelaki itu tak bergerak seperti patung. Kaku, pun jantungnya serasa akan jatuh beberapa saat lalu, bahkan sekarang Krisna merasa jantungnya sempat berhenti sesaat.
Krisna melirik perlahan ke samping tubuhnya, dan nafasnya langsung terbuang begitu saja ketika melihat golok milik Thomas tertancap di tanah, tepat di antara potongan tubuh ular yang baru saja ditebasnya.
"Sialan, kau menakutiku," umpat Krisna, masih dengan nafas terengah.
Ia bangkit berdiri, lalu menatap Thomas yang masih bertahan dengan ekspresi datarnya. "Kenapa kau tidak bilang kalau ada ular? Brengsek, jantungku hampir lepas karena mengira kau akan membunuhku!"
Krisna berbalik melanjutkan langkahnya yang tertunda untuk keluar dari hutan. Langit semakin gelap pertanda akan hujan, pun petir sudah mulai terdengar bersahutan dari kejauhan.
Masih di tempatnya berdiri, Thomas memandang kepergian Krisna dengan tatapan penuh kebencian. "Aku memang ingin membunuhmu."
Bisikan itu terdengar tajam, membaur dengan gemerisik dedaunan yang tertimpa angin di hutan. Thomas mengepalkan tangannya kuat, ia lalu membungkuk mengambil kembali goloknya yang tertancap, kemudian melangkah mengikuti Krisna yang sudah jauh di depan.
Setelah ini, aku akan membalas kalian semua.
__ADS_1