
Hari bergulir. Jadwal terapi sudah dua hari Glacia lewati. Bahkan hari kedua pameran buku pun sudah berlalu, tapi Glacia tak mendapat apa pun yang membuatnya sedikit menyesal.
Selama itu pula Glacia dengan sabar menghabiskan waktunya di rumah sang ayah. Hal yang paling Yohanes syukuri karena ia bisa lebih sering menikmati kebersamaan dengan Glacia yang tanpa disadari semakin menipis semenjak wanita itu beranjak dewasa, apalagi setelah menikah.
"Papa memang sedikit menyesali keputusanmu untuk bercerai, tapi kabar baiknya Papa bisa lebih dekat denganmu," ucap Yohanes kala itu.
Glacia pun ikut senang, hatinya menghangat tatkala mata yang mulai berkerut itu berbinar penuh harapan. Glacia tahu, Yohanes tengah dibuat gelisah oleh kanker yang menyerangnya. Belum lagi saraf di kakinya yang hanya menunjukkan perkembangan sedikit-sedikit.
Glacia tak masalah dengan itu, tapi ia tak tega melihat lelaki yang baginya setangguh benteng China itu bersedih setiap hari. Padahal, Glacia sudah menerima seandainya ia akan mati.
"Nyonya, lihatlah siapa yang datang." Weni tiba-tiba datang di tengah waktu santainya.
Glacia menoleh, dan ia mendapati Weni yang sedang tersenyum bersama Wina di sampingnya.
"Apa kabar, Nyonya?" Wina menyapa dengan sopan.
"Baik," jawab Glacia, menyimpan cangkir tehnya ke atas meja. "Kau sudah kembali bekerja. Apa ayahmu sudah sembuh?"
"Ayah kami sudah jauh lebih baik, Nyonya," jawab Wina yang lantas diangguki Weni penuh semangat.
Glacia mengangguk. "Syukurlah."
Berbeda dari gaya hidupnya yang dulu, Glacia sebenarnya merindukan kebebasan di masa lalu. Tapi pola hidupnya yang sekarang juga tak kalah membuat Glacia tenang, hanya bosan sesekali yang kadang sulit disembuhkan.
Wina sudah mulai kembali bekerja. Kini dua gadis kembar itu yang menemani hari-hari Glacia seperti biasa. Sebenarnya Glacia merasa hambar karena tak memiliki teman. Teman-teman yang dulu dekat kini turut menjauh setelah tahu kondisinya separuh cacat.
Mereka bahkan tak ada yang menjenguk usai kecelakaan yang menimpa Glacia. Hal yang membuat Glacia sadar bahwa circle pertemanannya selama ini hanya bersifat fana.
Sedih, tapi juga lega karena akhirnya Glacia bisa terlepas dari pertemanan yang toxic.
Pagi berangsur siang, begitu pula siang berangsur sore. Selain membaca dan menonton drama, Glacia juga kerap menyiram tanaman bunga peninggalan ibunya di taman mansion.
Sesekali ia melamun seandainya Tuhan mengambil nyawanya, apa Glacia akan dipertemukan dengan ibunya. Glacia tidak tahu, tapi pemikiran itu berhasil menumpas sedikit rasa takut akan kematian.
"Mama, kalau Glacy ikut Mama, Papa pasti sedih karena sendirian," gumam Glacia, menyentuh bunga gardenia favorit Nyonya Martadinata.
Tak pelak kenangan mereka selalu membuat Glacia ingin menangis. Kenapa Tuhan begitu tega merenggut teman bercerita yang selalu Glacia jadikan tumpuan. Benar, bagi Glacia, Nyonya Martadinata bukan hanya seorang ibu, tapi juga sahabat yang kesetiaannya tak perlu diragukan.
__ADS_1
Glacia menyentuh hidungnya yang lagi-lagi berdarah, ia segera menyekanya menggunakan tisu yang selalu dibawanya ke mana-mana.
Wina dan Weni yang menemani dari kejauhan lekas mendekat ketika menyadari Glacia mengalami mimisan, lagi.
"Nyonya, lebih baik sekarang kita masuk. Hari sudah sangat sore. Lihatlah langitnya mulai gelap," tutur Wina yang dibenarkan Weni. "Benar, Nyonya. Ayo kita masuk. Nyonya harus istirahat."
Glacia tak punya pilihan. Ia pun menggerakkan kursi rodanya memasuki mansion, diikuti Wina serta Weni yang ia larang membantunya mendorong kursi roda.
Hey, ini kursi roda elektrik, untuk apa mereka membantunya?
Sesampainya di kamar, Glacia menyuruh dua pelayan itu pergi. Glacia ingin sendiri, dan ia minta dibuatkan salad untuk makan malam nanti. Wina dan Weni mengerti Glacia butuh ruang dan waktu, maka dari itu mereka dengan patuh meninggalkan Glacia sendirian di kamar, meski sebenarnya was-was karena takut kejadian tempo lalu di rumah Narendra terulang lagi.
Glacia kembali menyeka hidungnya yang lagi-lagi berdarah, ia berdecak lelah sebelum pergi ke kamar mandi untuk benar-benar membersihkannya dengan air.
Glacia membuang nafas, ia lalu keluar dan sudah disuguhkan oleh kehadiran Narendra yang berdiri membelakanginya menghadap jendela. Entah kapan pria itu masuk, Glacia tidak heran karena akhir-akhir ini presensinya bagaikan hantu.
Ini sudah keberapa kali Narendra mengunjungi kamarnya sejak mereka pisah rumah. Bahkan Glacia hampir tidak ingat bahwa mereka berpisah sudah hampir seminggu, dan Narendra masih belum juga menandatangani surat perceraian itu.
Glacia sudah lelah menekan Narendra, karena sepertinya itu tak berguna. Lelaki itu seolah tuli dan berbuat sesukanya. Jika dilihat-lihat, semakin hari Narendra semakin berani menunjukkan sifat aslinya.
"Mau apa lagi?" tanya Glacia malas.
Narendra menempelkan punggung tangannya di kening Glacia. "Kamu semakin pucat."
"Setiap hari wajahku memang seperti ini," sahut Glacia, menepis pelan tangan Narendra.
Tapi kemudian tangan itu berpindah mengusap bawah hidung Glacia yang bersemu merah. "Kapan jadwal berikutnya?"
Glacia mengangkat alis. Narendra pun melanjutkan dengan lebih jelas. "Kemoterapi."
Glacia mendengus. "Haruskah kamu mengetahui segala kegiatan dan jadwalku?"
Narendra tak membalas. Ia hanya menatap Glacia tenang dengan sorot datar, namun bukan dingin yang membekukan.
"Naren, kapan kita bercerai?"
"Kenapa kau selalu ingin bercerai?"
__ADS_1
"Karena aku menginginkannya. Kenapa kau selalu menolak?" tanya Glacia balik.
"Karena aku tidak menginginkannya," balas Narendra lugas.
"Naren—"
"Akuilah, Glacy, bahwa kita mulai saling menyukai," potong Narendra.
Glacia menatap pria itu dengan pandangan memohon. "Naren, hentikan. Kau tidak akan bahagia jika bersamaku."
Narendra malah menyerahkan sebuah buku yang beberapa waktu lalu Glacia incar namun gagal ia dapatkan di hari kedua pameran.
"Jangan jadikan sakitmu sebagai alasan untuk menghindar dariku. Kamu butuh teman, jadikan aku sebagai teman yang membuatmu optimis."
Glacia mendongak menatap Narendra. Lagi dan lagi lelaki itu hampir membuat Glacia goyah. Glacia takut, ia takut hatinya yang mulai terasa hambar akan menemui ombak baru lagi. Glacia tidak siap seandainya ia harus terluka berulang kali, hanya karena sebuah perasaan yang rentan akan kesakitan.
"Bagaimana dengan Lizy?" bisik Glacia.
Narendra berlutut di hadapan Glacia, ia lalu merengkuh wanita itu dalam dekapannya yang hangat dan juga erat. "Berapa kali aku harus bilang bahwa ini semua tentang kita. Jangan libatkan orang lain apalagi mengungkit-ungkitnya. Kamu dan aku sama-sama punya masa lalu, Glacy. Aku menerima semua kisahmu yang dulu, begitupun kamu harus menyingkirkan berbagai prasangka tentangku."
"Aku tidak mau." Glacia melepas pelukan Narendra. "Sebentar lagi kita bercerai."
"Tidak, jika itu hanya dari sebelah pihak."
"Maka dari itu tandatangani segera."
Narendra terdiam. Ia tersenyum hambar ketika menyadari sesuatu. "Kemarahanmu saat aku meninggalkanmu di pesta, itu hanya salah satu cara agar kamu memiliki alasan untuk menjauh, kan? Kesempatanmu untuk meminta bantuan Papa yang kecewa padaku memiliki peluang besar. Glacy, kapan kamu akan berhenti?"
"Kamu juga sampai kapan akan bersikap egois, Naren?"
Narendra tak mau mengalah. "Kapan kamu akan berhenti membohongi perasaan sendiri?"
"Siapa yang membohongi perasaan sendiri?" tantang Glacia.
"Kamu. Mungkin mulutmu bisa berbohong, tapi matamu tak pandai menyembunyikannya. Kapan kau akan mengakui bahwa kau juga mencintaiku?"
Glacia mendengus tak menyangka. Ia membuang muka menghindari tatapan Narendra yang terus menghunusnya tanpa memberi ruang. Glacia menelan ludah, dengan wajah menegang ia kembali menatap Narendra yang terus menunggu jawabannya.
__ADS_1
"Iya, kalau benar aku mulai mencintaimu kenapa? Itu tetap tak akan mengubah kenyataan bahwa hidupku tak akan lama lagi."