
Glacia mendelik pada keberadaan Gibran di sisi ruangan. Pria itu bersandar dengan tangan terlipat. Rautnya tak acuh seperti yang biasa Glacia lihat.
Tak lama ia mendengus sekaligus berdecih. Gibran yang menyadari Ekspresi Glacia, kontan mengangkat satu alis sambil menoleh padanya.
"Why?" tanya pria itu singkat.
Glacia mengalihkan pandangan dari Gibran. Ia melirik pintu yang tertutup, di mana sebelumnya Narendra pamit keluar guna membeli sesuatu. Sebelumnya Glacia memang sempat minta makanan sehat yang lebih enak, pemberian rumah sakit benar-benar membuat Glacia menderita. Siapa sangka, pria menyebalkan ini akan masuk saat suaminya tak ada.
Melihat sikap Glacia membuat kening Gibran berkerut dalam. "Ada apa denganmu?"
Glacia kembali mendelik pada Gibran. "Bukankah pertanyaan itu lebih cocok aku tujukan padamu? Ada apa denganmu? Kenapa kau tiba-tiba muncul setelah sekian lama? Lalu, untuk apa kau kemari? Satu lagi, kenapa kau mendadak terlihat dekat dengan Narendra?"
Gibran menegakkan tubuh, ia berjalan santai mendekati ranjang Glacia. "Aku harus menjawab pertanyaanmu yang mana dulu?"
Lelaki itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Mata tajamnya memandang Glacia datar. Benar-benar memuakkan, kenapa Narendra harus berteman dengan orang serupa dirinya? Apa yang mereka bicarakan saat bersama, sementara keduanya lebih sering membisu ketimbang bersuara.
"Jawab saja," cuek Glacia.
Beberapa detik suasana hanya diisi keheningan. Gibran menatap sepupunya itu dengan lekat. Tak lama ia pun bersuara. "Kau tidak perlu tahu alasanku berada di sini, yang harus kau sadari keberadaanku sedikit banyak berpengaruh bagi keselamatanmu."
Glacia mendengus tak menyangka. Ternyata Gibran masih saja terlalu narsis dengan kekuasaannya.
"Mengenai kedekatanku dan suamimu, hal itu bukan sesuatu yang harus kau cemaskan. Hubungan kami bukan alasan untuk kau membenci Narendra. Dia sedikit gila juga karenamu," tutur Gibran cuek.
"Oh, rupanya kalian lebih dekat dari dugaanku." Glacia menyindir. "Kau bahkan rela datang untuk membelanya."
"Aku tidak membela, kau yang bertanya. Aku hanya menjawab yang kutahu." Gibran kini bersidekap angkuh, matanya seolah menantang Glacia yang kini berdecak sedikit kesal.
"Kau jauh lebih cerewet sejak tinggal di Indonesia," decih Glacia pelan, sambil membuang muka.
Gibran tak menanggapi, mengendik pun tidak.
"Lalu apa hubunganmu dengan suamiku?" Ia kembali menatap Gibran, menuntut jawaban. "Jangan sekali-kali kau mempengaruhinya dengan pikiran-pikiran burukmu."
Gibran tertawa pelan seolah mengejek. "Kau serius mengatakan itu padaku? Kau sendiri tahu apa yang Narendra lakukan sebelum ini. Kau lupa sempat menjauhinya?"
Hish!
Glacia merapatkan bibirnya dengan kening berkerut. "Ini pasti gara-gara kau. Dia jadi pembunuh karena pengaruh jelek darimu!"
"Hey, Sister. Aku tidak melakukan apa pun. Narendra melakukannya karena keinginannya sendiri, aku hanya membantunya memuluskan jalan. Dan asal kau tahu, jika bukan karena aku, suamimu saat ini tidak bisa berkeliaran bebas karena terjerat polisi. Bersyukurlah dia tidak punya catatan kriminal."
"Setelah ini jangan berhubungan lagi dengannya," tegas Glacia. "Aku tidak mau mengetahui kegilaan Narendra yang lain."
__ADS_1
Gibran mendengus datar. "Kau tidak tahu saja, sebelum mengenalku dia juga sudah gila. Kau tidak tahu dia pernah memotong jari-jari ayahnya sendiri?"
"Cukup! Lelaki itu memang pantas mendapatkannya," seru Glacia.
Gibran mengangguk lamat. Matanya tak berhenti menatap Glacia, pun sudut bibirnya berkedut tipis. "Maka dari itu, jangan menilai sesuatu hanya dari satu sisi. Ada alasan kenapa seseorang bisa berlaku begitu kejam. Kita tidak serta-merta menyakiti manusia jika mereka tak membuat masalah."
Glacia terdiam. Pembicaraan mereka harus terhenti karena suara pintu yang dibuka. Narendra sudah kembali. Pria itu sempat mematung saat mendapati keberadaan Gibran.
"Kau di sini? Ada perlu apa?"
Gibran yang masih menatap Glacia lekat, menurunkan tangannya hingga kini kembali terselip di saku celana. "Tidak ada. Aku hanya memastikan kondisi sepupuku," jawabnya pendek.
Mata Gibran mulai mengarah pada Narendra. Narendra juga sedikit menyipit memperhatikannya. Rautnya nampak curiga.
Gibran menyeringai samar sambil berjalan pelan menuju pintu. Ia menepuk pundak Narendra saat hampir melewatinya. "Kau tidak perlu memasang raut seperti itu. Aku tidak mungkin macam-macam pada keluargaku sendiri, kan?"
Gibran mengangkat alis. Pun Narendra mendengus mengalihkan pandangan. Setelah itu, tanpa mengatakan apa pun lagi, Gibran pergi dan menutup pintu dari luar.
Sepeninggal lelaki itu, Narendra menoleh pada Glacia yang terduduk di atas ranjang. Ia mendekat, menyimpan kantung makanan di atas meja nakas.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Narendra penasaran.
Namun Glacia tersenyum, lantas menarik lelaki itu untuk duduk di sebelahnya. Glacia melingkarkan kedua tangannya di leher Narendra. "Kau tidak perlu tahu."
Narendra diam saat Glacia mengecup bibirnya sekilas. Glacia pun terkekeh karena wajah Narendra begitu serius. "Tidak kusangka pertemanan kalian cukup dekat. Seperti yang Gibran bilang, dia kemari hanya untuk menjengukku."
Narendra membuang nafas. Ia mengambil tas kertas tersebut dan mulai mengeluarkan isinya di hadapan Glacia. Sebuah kotak makan Narendra buka. "Aku beli tuna karena tahu kamu cukup suka ikan laut. Tapi, jangan harap rasanya akan seenak saat kamu makan di restoran. Ini dimasak khusus, aku sengaja pesan atas kriteria dokter. Tolong jangan kecewa."
Glacia tak bisa untuk tidak tersenyum. Ia mengambil kotak makan itu dari tangan Narendra. "Terima kasih. Akhirnya aku bisa makan selain buah dan sayur."
Narendra mengangguk. "Ikan laut memang diperbolehkan. Bukankah rumah sakit juga beberapa kali memberi menu itu?"
"Tapi tidak enak. Kurasa ini lebih enak," sahut Glacia sambil mencicipi.
Narendra tersenyum menatap Glacia teduh. Tangannya terulur menyelipkan rambut panjang Glacia yang kini mulai kelihatan tipis.
"Kita potong rambut saja, ya?" ujar Narendra tiba-tiba.
Glacia mendongak. "Kenapa?"
"Bukankah panjang lebih merepotkan? Ini perlahan akan habis, nanti kamu bisa pakai penutup kepala."
Glacia terdiam.
__ADS_1
"Jangan khawatir, rambutmu akan kembali indah kalau sudah sembuh nanti."
"Tapi ..." Raut Glacia berubah ragu.
"Apa kamu takut terlihat jelek?" Pertanyaan Narendra sepertinya benar. Glacia diam seolah berpikir demikian.
"Saat ini pun aku sudah jelek," cetus Glacia.
Narendra menggeleng. "Kamu hanya tidak secantik dulu karena pucat dan kurus," jujurnya. "Tapi kamu masih terlihat menawan, setidaknya di mataku. Kamu memang cantik dari lahir, mau dalam kondisi apa pun tetap begitu."
Glacia menunduk, kembali menyuapkan tuna ke mulutnya. Narendra menelengkan kepala menatap sang istri. "Kamu tidak percaya padaku?"
Wanita itu tak menjawab.
"Kalau kamu tidak cantik, kenapa Rafael bisa mengejarmu sampai segila itu? Karena kau mengingatkan dia pada adiknya? Bulls**t!" Narendra mendengus. "Secara tidak langsung dia memang menganggapmu cantik."
"Kenapa jadi kamu yang marah? Memangnya aku pernah minta Rafael tertarik padaku?" Glacia berkerut kesal.
Narendra menggeleng. "Kau tidak tahu, seberapa keras aku menahan diri sedari dulu, karena lelaki-lelaki yang mendekatimu," gumamnya tak jelas.
"Apa?" tanya Glacia tak mengerti.
"Sudahlah, kamu lanjutkan makan."
Glacia berdecih. Tanpa diduga Narendra justru mendekatkan wajah dan meraup bibirnya hingga basah. Glacia melotot, ia memukul pria itu setelah Narendra menjauh. "Apa-apaan!"
Narendra mengusap pinggiran bibirnya menggunakan ibu jari. Sudut bibirnya terangkat tipis, lidahnya menyecap sekilas sambil balas menatap Glacia. "Ternyata cukup enak. Aku tidak salah pilih koki."
"Apa? Kau ... Kenapa tidak cicipi langsung dari kotaknya!" seru Glacia malu. Rona merah menyebar di kulit wajahnya yang pucat.
"Bukankah sama saja? Bibirmu juga rasa tuna." Narendra mengendik tak acuh.
Tak lama ponsel lelaki itu berdering di dalam saku. Narendra merogohnya, lalu melihat siapa yang memanggil.
Nama Julian muncul. Narendra pun mengangkat panggilan tersebut, menempelkan ponselnya ke telinga. "Ada apa?"
"Tuan, pelayan bernama Weni baru saja tewas bunuh diri."
Narendra terdiam. Ia melirik Glacia sesaat yang juga tengah memandangnya penasaran. Narendra lalu beranjak. "Aku harus keluar sebentar," ucapnya.
"Ada apa?" Glacia terlihat penasaran.
Narendra mengusap pipi sang istri, lalu mengecup keningnya cepat. "Kamu habiskan makanannya. Aku akan segera kembali."
__ADS_1
"E-Eh!" Glacia terbengong melihat Narendra yang buru-buru keluar.
Ada apa sebenarnya?