Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
38. Reaksi dan Emosi


__ADS_3

"Terima kasih bantuannya," ucap Glacia begitu keluar dari kamar mandi. Ia baru saja selesai membersihkan mimisan di hidungnya.


"Sama-sama. Kepalamu masih pusing?" Rafael mengamati ekspresi Glacia yang samar-samar mengernyit. Wajah wanita itu nampak pucat dengan keringat mengembun di pelipisnya.


Tanpa diduga Rafael mengulurkan tangan mengusap keringat tersebut. Tentu hal itu membuat Glacia terperanjat dan refleks menjauh.


"Ah, maaf," ucap Rafael canggung.


Glacia hanya mengangguk. Ia lalu berniat meninggalkan lorong mendahului Rafael, namun ia tidak menyadari undakan kecil di depannya. Alhasil kursi roda Glacia tergelincir dan hampir terguling jika saja Rafael tak sigap menahan.


"Hati-hati. Kamu sepertinya lupa di sini ada undakan."


Canggung. Itulah suasana yang menguar di antara mereka. Glacia bergerak tak nyaman lantaran secara tak langsung Rafael memeluknya. Entahlah, tapi ia merasa Rafael selalu menatapnya terlalu lama.


"Sekali lagi terima kasih," ucap Glacia. Jika Rafael mengerti, ia sekaligus memberi isyarat agar pria itu segera menjauh.


Rafael mengangguk, sudut bibirnya terukir ramah. Mungkin Glacia hanya berpikir terlalu berlebihan. Pria itu pun menjauhkan tubuhnya dari Glacia. "Perlu saya bantu mendorongmu?"


"Tidak perlu." Glacia menggeleng.


Sekali lagi Rafael mengangguk paham. Ia pun berjalan mengikuti Glacia dari belakang sembari sesekali mengawasi wanita itu. Glacia tidak sadar bahwa sedari tadi Rafael menatapnya lekat.


Meski dalam keadaan tidak sempurna pun, Glacia Martadinata tetap menawan dengan paras cantiknya, bahkan lebih menawan karena ia berbeda dari yang sering diberitakan.


Glacia si tuan putri manja dan suka semena-mena. Mungkin benar, tapi yang Rafael lihat di depannya adalah Glacia yang berbeda. Wanita itu tidak senakal yang dibicarakan orang-orang. Alih-alih menyebalkan, Glacia yang nampak di mata Rafael adalah wanita yang membutuhkan sebuah rengkuhan.


Dia ... tampak sedikit menyedihkan. Sorot matanya ketika sendirian seolah menyiratkan luka dan emosi terpendam. Rafael penasaran, wanita seperti apa Glacia sebenarnya.


Saat hampir sampai di ujung lorong, Glacia tiba-tiba menghentikan kursi rodanya, pun Rafael turut berhenti dan mengernyit bingung. Baru ia hendak bertanya, sebuah suara berat terdengar di depan mereka.


"Glacy?"


Itu suara Narendra. Lelaki itu berdiri di tengah lorong dengan mata menatap lurus pada mereka. Pencahayaan yang remang membuat penglihatan sedikit samar. Tapi Rafael maupun Glacia menyadari sorot kemarahan yang menyala di mata Narendra.

__ADS_1


"Na-Naren?" Glacia sedikit menoleh pada Rafael di belakangnya. "Kau sudah selesai berdansa?" Ia pun berusaha mencairkan suasana yang mendadak terasa mencekik.


Ketegangan seolah menguar menyelimuti kebungkaman. Demi Tuhan, reaksi Narendra yang seperti ini baru Glacia temui sekarang. Biasanya lelaki itu hanya bertahan dalam satu ekspresi tanpa emosi.


Narendra menatap Rafael lurus, Rafael pun balas menatap Narendra. Dua lelaki itu saling melempar pandang sementara Glacia menelan ludah bingung di antara keduanya.


"Apa acaranya masih berjalan?" Glacia memutuskan untuk bertanya apa saja, yang penting ia keluar dari keheningan mencekam dan terasa mencekik itu.


Padahal Glacia tak merasa berbuat salah apa pun. Tapi raut Narendra memancing kepanikan yang membuatnya ingin lari.


Narendra beralih menatap Glacia. "Masih. Papa mencarimu," ucapnya datar.


"Oh, ya sudah. Aku akan ke sana. Di mana dia?"


Alih-alih menjawab, Narendra justru mendekat dan memposisikan diri di belakang Glacia. Tanpa kata lelaki itu mendorong kursi roda sang istri untuk keluar dari lorong.


Di belakang sana, Rafael mendenguskan senyum masih sambil berdiri menatap kepergian keduanya.


"Di mana Papa?" Glacia bertanya karena Narendra tak kunjung membawanya pada Yohanes. Alih-alih itu ia malah mengajak Glacia mengambil kudapan di meja.


"Naren, aku bertanya padamu," ujar Glacia lagi. Narendra tak kunjung menanggapi hingga Glacia kesal sendiri. "Kau bilang Papa mencariku?"


"Apa yang kau lakukan bersama Rafael?" Narendra malah balik bertanya. Kebiasaan.


Glacia berdecak dan hendak memundurkan kursi rodanya meninggalkan Narendra lantaran terlanjur kesal. "Bukan urusanmu. Rupanya kau berbohong padaku."


Namun niatan Glacia berhasil ditahan oleh Narendra. Lelaki itu mencekal pegangan kursi rodanya hingga Glacia tak jadi pergi.


Lelaki itu tak berkata apa pun, namun Glacia yang risih dengan tatapan menuntutnya kontan berdecak. "Aku hanya ke kamar mandi. Puas?"


"Ke kamar mandi dengan seorang lelaki?"


"Dia hanya mengantarku, Naren," jawab Glacia lelah.

__ADS_1


"Kenapa harus di antar?"


"Kenapa kau cerewet sekali?" gumam Glacia, lebih pada mencibir karena heran. "Tentu saja dia mengantarku karen aku tidak tahu letak toiletnya."


Narendra terdiam. Ia masih menatap Glacia dengan tatapan menyelidik. Hal itu membuat Glacia membuang nafas.


"Kau membohongiku hanya untuk ini?" tanya Glacia tak percaya. Narendra lagi-lagi tak menjawab.


"Sekarang kau sudah tahu, jadi berhentilah bersikap menyebalkan." Glacia hendak kembali melanjutkan niatnya meninggalkan Narendra, namun sekali lagi Narendra tak membiarkan Glacia pergi.


"Makanlah dulu," ujar lelaki itu, sambil memberikan sepiring kecil berisi kudapan pada Glacia.


Masih dengan wajah heran, Glacia menerima piring itu dan memperhatikan Narendra yang beranjak mengambil segelas jus.


"Kita ke balkon," ucapnya, mendorong kursi roda Glacia ke tempat yang ia sebutkan barusan. Kini di tangan Glacia terdapat piring dan gelas yang tadi Narendra ambil.


Mereka sampai di balkon yang lumayan sepi. Narendra berdiri menyandar di tepian pagar beton sambil menghadap Glacia yang mengernyit menatapnya dengan mata menyipit.


Wajah Glacia dipenuhi kebingungan akan sikap Narendra. Tadi pria itu terlihat begitu tegang sampai-sampai suasana di sekitarnya terasa mencekam. Lalu sekarang tiba-tiba mengajak Glacia menepi dari keramaian, atau bahasa anak jaman sekarang nongkrong berduaan.


"Kau kenapa?" Glacia yang tidak tahan karena terus ditatap akhirnya bertanya.


Narendra tak langsung menjawab, tapi tangannya yang semula tersemat di saku ia tarik keluar untuk kemudian berjongkok di depan Glacia. Narendra tak berkata apa pun hingga membuat Glacia semakin bingung.


Pria itu hanya menatapnya sambil memegangi sisi kiri dan kanan lengan kursi roda Glacia. Lalu tiba-tiba tangan Narendra terulur menyeka lubang hidung Glacia menggunakan ibu jarinya.


Glacia tak mampu berkata-kata ketika Narendra mendapati bias kemerahan pada jemarinya tersebut. "Glacy, padahal aku berharap, apa pun yang terjadi dan kau rasakan, kau akan datang padaku," gumannya sedikit tak jelas.


Narendra kembali mendongak. "Kenapa kau tidak pernah bilang kau sering kesakitan?"


Glacia terpekur membalas tatapan Narendra yang sekilas dipenuhi rasa bersalah. Apa pria itu sudah tahu tentang kondisinya?


"Kenapa? Kau mau kasihan lagi padaku?" Glacia mengetatkan rahangnya tak senang. Ia benar-benar benci ditatap selemah itu.

__ADS_1


__ADS_2