Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
109. Narendra yang Kacau


__ADS_3

Narendra membuang nafasnya kasar. Ia meneguk vodka di gelasnya dalam sekali teguk. Wajahnya tenang, namun sedikit merah dan sayu. Pun pandangannya kosong tak fokus. Ia tampak melamun sebelum kembali mengisi gelasnya dengan alkohol, lalu meneguknya hingga tandas. Hal itu berkali-kali ia lakukan, sampai seorang wanita menghampiri dan mencoba memulai perbincangan dengannya.


"Hai? Sendirian?" Suara lembut itu mengalun di telinga, tapi tak semerdu suara Glacia yang setiap hari ia dengar.


Narendra menoleh menatap wanita itu yang tersenyum dengan bibir merahnya. Ia mengulurkan tangan pada Narendra untuk berkenalan. "Bella. Boleh kutahu namamu?"


Alih-alih membalas, Narendra justru terkekeh. Ia kembali menuangkan vodka ke gelas lalu meneguknya sampai alkohol itu sedikit merembes dari sisi mulut, turun ke leher dan berakhir menetes di kemeja. Pemandangan tersebut tak lepas dari perhatian si wanita yang kini ikut menelan ludah. Menurut dia, pria yang duduk di sampingnya ini cukup seksi.


"Kapan dia akan menatapku seperti ini?" bisik Narendra tak jelas.


"Ya?"


"Dia tidak pernah tertarik padaku," ucap Narendra sayu. "Hanya aku. Aku yang selalu tertarik padanya."


"Apa kau sedang patah hati?" tanya wanita itu.


Narendra terdiam. "Patah hati?" bisiknya pada diri sendiri. "Apa rasa menyakitkan ini bisa dibilang patah hati? Aku merindukannya, sampai rasanya ingin berteriak. Tapi, sepertinya dia jijik padaku sekarang."


Narendra terus membisikkan keluhan-keluhan dalam hatinya.


"Seharusnya aku tetap menjadi pembohong. Seharusnya aku tidak perlu jujur. Jika aku tidak menjawab pertanyaannya saat itu, mungkin kami masih baik-baik saja sekarang," racau Narendra.


Si wanita tersenyum, tangan lentiknya terulur menyentuh lengan kekar Narendra di atas meja, mengusapnya perlahan sekaligus menyalurkan ketertarikan.


"Memang kau jujur tentang apa?" Wanita itu melirik bartender di sana, ia membuka mulut tanpa suara disertai isyarat tangan yang langsung dimengerti si pemuda.


Narendra memijat keningnya pelan. "Sesuatu yang sangat buruk, hingga semua orang akan memandangku penuh penghakiman," jawabnya serak.


"Itu berarti dia tidak tulus padamu. Dia hanya ingin melihat sisi sempurnamu." Si wanita kini mengulurkan segelas wiski ke hadapan Narendra. "Minumlah. Punyamu sudah habis."

__ADS_1


Narendra melirik gelasnya yang kosong. Ia menerima gelas pemberian si wanita, namun tak lantas meminumnya. Narendra menunduk dalam, ia diam saja saat wanita di sampingnya kini mulai menjalarkan tangan melingkari bahunya.


"Ngomong-ngomong, seburuk apa kejujuranmu hingga dia bersikap seperti itu?" bisik si wanita, tepat di samping telinga Narendra. Ia bahkan dengan sengaja menghembuskan nafas panasnya di sana.


Narendra menoleh menatap wanita itu. Mereka sama-sama terpaku hingga si wanita mendekatkan wajah secara perlahan, berniat menyatukan bibir keduanya.


Kemudian Narendra berkata. "Aku jujur, bahwa aku telah membunuh seseorang. Tidak, bukan hanya seorang, tapi puluhan orang," ucapnya menyeringai. "Termasuk ayahku."


Wanita itu berhenti. Ia mematung saat bibir mereka hampir saja bertemu. Matanya menatap Narendra terpaku. Lelaki itu tidak bercanda, kan?


Meringis, wanita itu menjauhkan pelan wajahnya dari Narendra. "Rupanya kau memiliki selera humor yang buruk." Ia berusaha santai disertai senyum.


Namun senyum itu surut begitu Narendra melanjutkan. "Karena aku memang tidak sedang bercanda. Tubuh-tubuh itu tercabik, dan aku menyaksikannya secara langsung."


Si wanita mengerjap canggung. Tak lama ia pun berdiri gelagapan. "Ah, begitu. Lebih baik kau kembali pada istrimu."


Ia berbalik hendak pergi, namun Narendra menarik tangannya. "Kenapa? Bukankah kau tadi berusaha mendekatiku?" tanyanya menantang.


Wanita itu berjalan cepat menjauhi Narendra. Narendra terkekeh dengan wajah mabuknya. Ia menunduk sembari menggeleng. Tak lama seseorang mendorong bahunya hingga tubuhnya oleng bersandar di meja.


"Kau cukup pintar menakuti wanita." Gibran Wiranata melesakkan diri di sebelahnya, tepat di kursi bekas wanita tadi duduk. Ia memesan minum pada bartender, lalu menoleh pada Narendra yang setengah tidak sadar. "Haruskah aku mengambil foto, agar kau tahu seberapa kacau dirimu saat ini?" ucapnya berseloroh.


Narendra hendak mengambil gelas di depannya, namun urung ketika Gibran menarik gelas tersebut menjauh. "Kau akan kesulitan jika meminumnya."


Narendra tak membantah. Ia menumpukan kepalanya dengan posisi miring, menindih lengan kanannya yang terlentang di atas meja bar. Lelaki itu sesekali meracau, tak jarang pula ia menggumam nama Glacia. Hal tersebut membuat Gibran menggeleng melihatnya.


"Glacy, jangan membenciku," bisik Narendra pelan.


Gibran membuang nafas panjang. Ia mengeluarkan ponsel, lalu mengarahkan kamera memotret Narendra. "Ck, ck, ck, lihatlah wajahmu yang mirip bayi harimau. Akan bagus jika aku memberikanmu pada Moru."

__ADS_1


Gibran menyimpan ponselnya di atas meja, lalu meneguk sedikit minuman di gelasnya.


"Jangan terlalu khawatir, Glacia hanya butuh waktu. Maria juga begitu dulu." Percuma juga Gibran berkata panjang lebar, Narendra sudah tak bisa menyerap perkataan siapa pun. Yang ada di otaknya hanya Glacia dan Glacia.


Tiba-tiba ponsel Gibran di atas meja bergetar. Ia berkerut mendapati telpon dari sang istri. Padahal tadi ia sudah izin sebelum kemari.


"Hey, Sugarplum. What's wrong? You miss me, huh?" Sudut bibir Gibran tersenyum sumir. Namun senyum itu perlahan hilang begitu Maria bersuara.


"Kau bersama Narendra, kan? Cepat ke rumah sakit, kondisi Glacia mendadak buruk!" seru wanita itu panik.


Gibran terdiam, ia melirik Narendra yang terkulai di meja bar. Panggilan Maria berakhir menyisakan kebingungan bagi Gibran. Ia berdecak memasukkan ponselnya ke dalam saku mantel, lalu berdiri dan mulai mengguncang tubuh Narendra.


"Bangun, sialan!"


"Hemm." Narendra malah bergumam. Sementara Gibran berdiri semakin gusar.


"Brengsek Narendra! BANGUN!"


Teriakan Gibran mampu memecah suara bising musik dan orang-orang. Beberapa mata menoleh ke arahnya dengan penasaran, tapi memilih acuh dan tak berniat ikut campur.


"ISTRIMU MATI!"


Mata Narendra langsung terbuka. Tubuhnya bahkan terperanjat duduk sambil melotot menatap Gibran, meski terlihat kurang fokus dan linglung. "Apa?" bisiknya lamat.


Alih-alih menjelaskan, Gibran justru menarik lengan Narendra hingga pria itu berdiri dengan tubuh oleng. Ia lalu melemparkan Narendra pada Nick yang dengan sigap menangkapnya.


"Bawa dia. Sampai rumah sakit harus sudah sadar," ucap Gibran, lalu mendahului keluar dari club malam tersebut.


Nick hanya berdecak tanpa membantah. "Sial, kenapa kau harus bersikap menyebalkan seperti ini? Kapan kau akan berhenti merepotkanku?"

__ADS_1


Nick tak berhenti menggerutu sambil memapah Narendra keluar. Karena lama, ia pun terpaksa menggendong lelaki itu di punggungnya.


"Kau harus membayarku setelah ini, Narendra."


__ADS_2