
Keesokan harinya Wina dan Weni datang. Mereka membawa Glacia ke taman rumah sakit untuk berjemur sesuai anjuran dokter. Ayahnya dan Narendra baru saja ke kantor, mereka tak bisa serta-merta meninggalkan pekerjaan terus-menerus, pun sebenarnya Glacia risih dengan keberadaan Narendra.
"Nyonya, cuacanya sangat bagus," celetuk Weni, yang lantas diangguki Wina.
Glacia hanya diam meski sebetulnya ia membenarkan dalam hati. Glacia ikut ke manapun mereka membawanya. Wina mendorong kursi roda Glacia, sementara Weni memegangi infusan.
Sesekali mata Glacia mengedar mengamati sekitar. Rumah sakit ini rupanya begitu besar dan megah. Semuanya tertata apik hingga nyaman dipandang mata.
Sudah jelas, ini rumah sakit keluarga Adiwangsa, tak lain dan tak bukan adalah Rafael yang semalam ia temui.
"Apa Nyonya lelah?" Wina bertanya. Ia takut karena akhir-akhir ini Glacia kerap kelelahan meski tak melakukan aktifitas berat.
Namun Glacia menggeleng dan menyuruh keduanya tetap berjalan. "Lanjut saja. Aku sedang bosan."
Mereka pun terus menelusuri taman dan sekitarnya yang luas. Hingga tanpa sengaja Glacia kembali bertemu Rafael yang kebetulan berjalan dari arah berlawanan.
Mau tak mau mereka bertemu pandang saat berpapasan. Rafael berhenti, begitu pun Wina yang turut menghentikan langkah mendorong Glacia.
"Kamu ..." Rafael sedikit berpikir. "Ah, kamu yang di kamar presidential." Akhirnya dia mengingat. "Sedang berjemur?" lanjutnya bertanya.
__ADS_1
Glacia hanya bergumam. "Hm."
Rafael mengangguk disertai senyum kecil yang teduh. Rautnya memang khas dan ramah, tipe-tipe pria yang banyak disukai wanita, termasuk Wina dan Weni yang kini melongo terpesona.
Glacia mendengus dalam hati. Ia mendongak ke arah belakang dan memberi delikan pada Wina. "Kenapa diam? Jalan!" titahnya ketus.
"A-ah ... Baik, Nyonya!" Wina menyenggol Weni yang masih terpaku menatap Rafael. "Ayo," bisiknya panik.
Weni gelagapan dan langsung mengikuti Wina yang mendorong pergi sang nyonya.
Rafael menatap mereka dari belakang. Bibirnya melengkungkan senyum sebelum kemudian melanjutkan langkahnya yang tertunda.
***
Narendra baru saja keluar dari ruang meeting saat tanpa sengaja melihat ayah mertuanya di pinggir koridor. Lelaki baya itu tengah menelpon dengan suara pelan nan serius.
Mulanya Narendra tak peduli, tapi saat mendengar nama Glacia disebut, langkahnya pun otomatis memelan.
Sayangnya tak lama dari itu Yohanes menutup panggilan hingga Narendra gagal memahami isi percakapan.
__ADS_1
Pria itu berbalik dan sempat terdiam mendapati keberadaan Narendra tak jauh di belakangnya. "Naren? Meeting-nya sudah selesai?"
Narendra mengangguk segan. "Sudah, semuanya berjalan baik."
"Baguslah. Tapi maaf, Papa tidak bisa lama-lama di kantor, Papa ada urusan penting di luar."
Narendra hanya mengangguk mengiyakan, meski sebenarnya ia sangat penasaran urusan penting apa yang dimaksud Yohanes barusan. Apa ini menyangkut Glacia?
Yohanes menepuk pundak Narendra sebelum pergi. "Baik-baiklah, Papa percaya padamu."
Hingga Yohanes hilang dari pandangan pun, Narendra masih setia bergeming di tempatnya. Ia menoleh melihat punggung sang papa mertua yang mengecil di lorong panjang.
Narendra segera mengeluarkan ponsel dari saku jasnya guna menghubungi Julian.
"Aku mau kau selidiki mertuaku. Cari tahu apa pun yang beliau lakukan, terutama yang berhubungan dengan Glacia," ucapnya yakin.
Narendra belum pernah sekalipun mengusik privasi Yohanes, tapi kali ini Narendra benar-benar merasa penasaran, karena ia yakin betul lelaki itu menyembunyikan sesuatu mengenai Glacia.
Insting Narendra tak pernah salah, ada yang mereka tutup-tutupi darinya, dan terpaksa Narendra mencari tahunya sendiri.
__ADS_1