Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
46. Pesta Ulang Tahun


__ADS_3

Glacia merasa ragu menghadiri acara ulang tahun Lizy. Ia tak kenal siapa pun di sana, kecuali Narendra yang sekarang ikut bersamanya karena ia juga diundang.


Sudah pasti Narendra diundang. Sebelum-sebelumnya pun pasti begitu karena mereka pernah bersama.


"Tetaplah di sampingku. Jika perlu apa pun katakan padaku."


Glacia tahu, Narendra sedikit menyinggung kejadian tempo lalu di pesta perusahaan, di mana Glacia kepergok menerima bantuan Rafael alih-alih Narendra sebagai suaminya.


"Hm." Glacia bergumam mengiyakan. Lagipula ia tidak ada niat bersinggungan lagi dengan Rafael. Sebelumnya pun begitu, hanya kebetulan saja mereka bertemu.


Glacia dan Narendra turun dari mobil. Seperti biasa Narendra akan membantu Glacia menduduki kursi rodanya, lalu mendorong wanita itu pelan memasuki kediaman Pataya, rumah di mana Lizy menggelar perayaan ulang tahunnya.


Suasana tampak ramai oleh para tamu undangan yang datang. Lizy yang melihat kedatangan Narendra serta Glacy, spontan menghampiri keduanya setelah sebelumnya berpamitan pada beberapa tamu yang sedang berbincang dengannya.


"Selamat datang~" Lizy berseru lembut dan langsung memeluk Glacia begitu tiba di hadapannya. "Aku senang karena kalian menerima undanganku dan mau hadir di sini."


Mata Lizy sedikit melirik Narendra. Orang awam pun tahu bahwa yang sebenarnya dia harapkan datang adalah Narendra. Glacia pun memahami itu, tapi ia tidak tahu bahwa ini pertama kalinya Narendra datang di acara ulang tahun Lizy, sejak hubungan mereka berakhir.


Glacia tersenyum tulus pada Lizy. "Selamat ulang tahun. Aku berharap semua yang terbaik untukmu."


Narendra yang mendengar itu kontan merasa hangat. Sepertinya Glacia sudah jauh lebih berubah dari sebelumnya. Wanita itu lebih bisa menghargai orang lain. Narendra senang tentu saja.


Glacia memberikan kado yang sedari tadi ia peluk di pangkuannya. Lizy menerima itu dengan sedikit canggung, namun kemudian ia tersenyum dan berterimakasih.


"Ya ampun, kamu sampai repot-repot memberiku hadiah. Tapi, terima kasih banyak."


"Sama-sama."


"Oh ya, silakan dinikmati pestanya. Semoga menyenangkan. Aku harus menyapa tamu yang lain," ucap Lizy.


Glacia mengangguk. "Tentu."


Lizy tersenyum. Ia pun beranjak dan sempat melirik Narendra sebentar saat akan berlalu. Namun Narendra tetap tak acuh dan lebih memilih memperhatikan Glacia.

__ADS_1


"Mereka datang?"


Ia melirik ke samping, pada Gallen yang memperhatikan jauh ke depan sana. Lizy hanya mengendik singkat. "Seperti yang kau lihat."


Gallen tersenyum sumir. "Mereka cepat sekali akrab," ujarnya sambil terus menatap Naren dan Glacia. Ia menyesap anggur di tangannya dengan pelan.


Narendra tampak begitu perhatian pada istrinya. Interaksi keduanya sangat berbeda dibanding dulu. Sepertinya Glacia sudah mulai menerima Narendra, dan itu membuat Gallen tersenyum sinis.


Di sudut lain, Rafael juga melihat kedatangan mereka. Ia tengah berbincang dengan para tamu sambil sesekali menoleh pada Glacia yang nampaknya kurang nyaman dengan suasana pesta.


Narendra menunduk menatap Glacia di kursi rodanya. "Mau minum?"


Glacia mendongak sebentar. "Sepertinya di sini hanya minuman beralkohol," ujarnya ragu.


Narendra membantah. "Minuman non alkohol juga ada. Biasanya begitu."


Biasanya. Glacia tersenyum kecut mendengar kalimat Narendra yang malah menyadarkan Glacia bahwa pria itu pernah memiliki hubungan dengan si pemilik pesta. Memang pikirmu apa, Glacy? Kau sudah jelas tahu mengenai itu.


Glacia tersenyum kaku. "Baiklah, akan kucari kalau begitu."


Memangnya Narendra berharap Glacia ke mana? Ia tak mengenal siapa pun di sini. Seperginya Narendra, Glacia hanya bisa diam seperti orang asing di aula tersebut.


Tidak ada yang ia kenal, pun tak ada yang ingin mengenalnya. Orang-orang justru menatapnya aneh dan cenderung merendahkan. Hal ini membuat Glacia risih bukan kepalang. Berada di antara kerumunan manusi yang bisa berjalan begitu menyedihkan.


Glacia berusaha menepi saat lalu-lalang orang di depannya semakin ramai. Namun baru sedikit mundur Glacia sudah membuat masalah dengan tanpa sengaja menyenggol seseorang yang kebetulan lewat di belakangnya.


"Kalau jalan pakai mata!" Pekik seorang wanita. "Ups, maaf. Aku baru sadar kau tidak bisa berjalan."


Setelah mengatakan itu ia pergi, meninggalkan Glacia yang terpekur dalam rasa malu karena dihujani tatapan dari beberapa orang di sekitarnya.


Di saat seperti ini ia malah mengharapkan Narendra cepat kembali. Demi apa pun Glacia kebingungan tak punya teman. Ia merasa sudah salah tempat, inilah yang Glacia benci dari tempat ramai sekarang.


Belum sembuh sakit hatinya karena perlakuan tadi, seorang pria berbicara ketus padanya. "Bisakah kau minggir? Menghalangi jalan saja."

__ADS_1


Teguran itu membuat Glacia tergagap. "A-ah, silakan." Dengan pelan ia menyingkir mundur, tapi lagi dan lagi kursi rodanya tertahan karena menabrak seseorang.


"Astaga! Apa yang sebenarnya kau lakukan? Kenapa orang cacat ini bisa ada di sini?" Wanita berbeda yang Glacia tabrak. Entah sudah berapa orang yang terkena masalah karena kursi rodanya. "Sialan, gaunku jadi kotor!" Wanita itu memekik mengibaskan gaunnya yang terkena tumpahan minuman.


Sementara di kejauhan, Lizy memperhatikan dalam diam. Rautnya datar, namun Claire tahu ia merasa puas dengan apa yang Glacia dapatkan. Begitu juga Gallen, ia terkekeh geli melihat pemandangan Glacia yang dirundung sana-sini.


"Dulu wanita itu begitu sombong. Sekarang lihatlah, dia bahkan tak bisa menghindar dan melawan. Memang benar-benar malang. Sudah benar aku memutuskannya." Gallen tertawa pelan.


Lizy tak bereaksi, matanya malah beralih pada Narendra yang masih sibuk memilah minuman di meja. Lelaki itu masih belum sadar istrinya terkena masalah. Hal itu pun membuat Lizy tersenyum miring.


"Kalian awasi terus wanita itu," ujarnya yang mulai beranjak.


Claire melihat Lizy yang kini menghampiri Narendra dan mengajaknya mengobrol. Ia mendengus dan menoleh lagi pada Glacia di ujung ruang yang lain, cukup jauh dari posisi mereka sekarang. Claire lalu menoleh pada Gallen. "Kau tidak mau menolongnya?"


"Untuk apa? Sejak dulu dia membuatku muak," dengus Gallen.


***


"Naren?"


Narendra menoleh saat ada suara yang memanggilnya. Ia baru saja mendapatkan minuman untuk Glacia dan hendak kembali pada sang istri. Tapi, Lizy justru menghadangnya dan mengajaknya bicara.


"Apa kau menikmati pestanya?" tanya Lizy dengan suara lembut khasnya.


"Kau tahu aku dan istriku baru sampai," jawab Naren datar.


Ia lalu hendak berlalu saat lagi-lagi Lizy menahan. "Bisa kita bicara sebentar, berdua?"


Narendra mengernyit dalam. Ia berusaha melirik ke tempat di mana ia meninggalkan Glacia sebelumnya, tapi pandangannya terhalang oleh kerumunan orang yang berlalu-lalang dan juga Lizy yang berdiri tepat di depannya.


Mengetahui Narendra pasti menolak, Lizy pun kembali menyanggah. "Ada sesuatu yang penting ingin kubicarakan padamu."


Narendra diam berusaha menimbang. Ia membuang nafas terlihat enggan. "Nanti saja—"

__ADS_1


"Sekarang," potong Lizy. "Ini tentang ayahmu."


Seketika Narendra terdiam. Ia menatap Lizy penuh tanya dan juga perasaan yang berkecamuk dalam.


__ADS_2