
Edward Mou duduk di sebelah Glacia. Ia menumpukan kedua sikutnya di lutut, pun jarinya saling bertaut. Glacia menoleh pada lelaki itu. Mereka sama-sama terdiam. Pertemuan ini sungguh tak Glacia duga sebelumnya. Sudah lama sekali sejak ia bertemu ayah Gallen tersebut. Edward Mou masih terlihat gagah, sama persis seperti yang terakhir Glacia ingat.
Tak lama Suster Lulu datang membawa sebotol air mineral untuk Glacia. Namun langkah wanita itu berhenti beberapa meter dari sana, karena Glacia memberinya isyarat untuk tidak mendekat terlebih dulu.
"Om mau bicara apa?" Glacia bertanya pada Edward.
Lelaki itu balas menoleh menatap Glacia. Sebenarnya Glacia waswas. Bagaimana pun Edward bukan orang yang bisa ia kategorikan baik, persis Gallen yang dulu menyakitinya.
Edward tak kunjung bicara, namun tangannya merogoh sesuatu dalam saku, lalu menyerahkannya pada Glacia.
Glacia mengernyit melihat benda yang terulur di depannya itu. Ia menatap Edward dengan pandangan bertanya.
"Dari Gallen. Om harap kamu mau membacanya. Gallen tulus menuliskan ini untukmu," ucap Edward.
Ragu, Glacia mengambil amplop berisi surat itu dari tangan Edward, lalu membuka selipan kertas di sana. Glacia membaca dalam hati, tulisan tangan itu memang ia kenali milik Gallen. Ia pun tercenung, kenapa Gallen sampai harus menuliskan surat untuknya?
"Beberapa bulan lalu, kaki Gallen diamputasi," kata Edward, mengejutkan Glacia.
Wanita itu langsung menoleh cepat. "Apa? Kenapa?"
Edward mendenguskan senyum getir dengan pandangan agak menunduk. "Mungkin itu karma, karena dia bersalah atas kecelakaan kalian, dan menyebabkan kakimu lumpuh." Ia menoleh kembali pada Glacia. "Glacy, Om benar-benar minta maaf untuk semua kesalahan Gallen, begitu pula Om. Om pernah berlaku tidak baik padamu. Kami sama-sama pernah merendahkanmu."
Glacia terpaku mendengar permintaan maaf yang menurutnya terlalu tiba-tiba ini. Ia menatap Edward enggan berkedip. Rautnya masih terkejut bercampur bingung.
__ADS_1
"Om harap, setelah ini tidak ada lagi dendam di antara kita. Om mau semua ini benar-benar selesai, setelah kamu memaafkan kami." Edward melanjutkan.
"Aku tidak pernah dendam pada siapa pun, termasuk Om maupun Gallen," ucap Glacia pelan. "Kenapa ... Om tiba-tiba ..." Glacia menggantung ucapannya.
"Apa Om sengaja menemuiku ke sini, untuk hal ini?" lanjutnya bertanya.
Edward mengangguk. "Maaf, jika membuatmu tak nyaman. Om tidak tahu bagaimana harus menemuimu secara pribadi. Kamu tahu sendiri, Narendra selalu menjagamu hampir 24 jam penuh. Jika dia melihat Om, pasti langsung berpikir yang bukan-bukan."
Glacia mengangguk paham. Ekspresinya masih terlihat ragu. Jelas saja, bagaimana mungkin seseorang yang begitu sombongnya merendahkanmu, tiba-tiba muncul meminta maaf.
"Om tidak memaksamu untuk percaya. Tujuan Om kemari hanya untuk meminta maaf. Kalau begitu, Om pergi. Sampai jumpa." Edward berdiri, lalu tanpa berlama-lama ia pergi meninggalkan Glacia.
Glacia masih betah termenung dengan pikirannya sendiri. Ia menunduk menatap surat dari Gallen, pun hatinya berkecamuk mengetahui apa yang terjadi pada lelaki itu tanpa ia ketahui.
"Nyonya? Tadi siapa? Pria itu tidak macam-macam, kan? Apa anda baik-baik saja?" Suster Lulu yang melihat Edward pergi, langsung mendekati Glacia, dan bertanya secara beruntun.
Glacia sempat terperanjat sesaat karena terkejut. Ia lantas menggeleng, lalu melipat kembali surat Gallen, dan memasukkannya ke dalam amplop.
"Bukan siapa-siapa, hanya satu kenalan yang kebetulan bertemu. Bu Lulu tadi beli minum?" tanya Glacia, sekaligus mengalihkan pembicaraan mengenai Edward.
"Ah, iya. Ini, Nyonya." Suster Lulu menyerahkan botol minum yang sudah ia buka segelnya pada Glacia.
Glacia menerimanya, lantas meminumnya hingga beberapa tegukan. Pikirannya masih melayang saat ia mengajak perawat itu untuk kembali ke kamar. Entahlah, perasaannya dibuat tidak jelas oleh kedatangan Edward beberapa saat lalu.
__ADS_1
***
Hingga malam tiba, Glacia tengah menonton TV ketika pintu terbuka, memunculkan Narendra yang baru pulang. Ia menoleh pada lelaki itu. Narendra tengah membuka sepatu sebelum kemudian mendekat ke arahnya, dan melesakkan diri di sofa, tepat di samping Glacia.
Glacia tersenyum saat Narendra memeluk dan menciumi pelipisnya bertubi-tubi. Wajahnya terlihat lelah, pun kemejanya kusut dengan lengan tergulung hingga siku.
"Capek?" Glacia menaikkan tangannya, mengusap rambut Narendra yang kini menyandarkan kepala di bahu Glacia.
Lelaki itu bergumam pelan dengan mata setengah terpejam. "Hem." Narendra lalu lanjut bersuara. "Apa saja yang kamu lakukan selama aku tinggal?"
Glacia sempat terdiam, tapi kemudian ia menjawab dengan santai. "Seperti biasa, aku latihan berjalan dengan Suster Lulu. Oh ya, aku sudah bisa melangkah tanpa berpegangan tadi," ucapnya senang.
Narendra membuka matanya pelan. Sesaat sorotnya nampak rumit, namun kemudian hilang saat ia membuang nafas. "Baguslah."
Narendra bangkit, ia berdiri tanpa melihat Glacia. "Aku capek, mau mandi dulu. Kamu hubungi Bu Lulu, minta dia siapkan makan malam kamu dan antar ke kamar," ucapnya, sebelum berlalu ke kamar mandi.
Glacia bergeming memperhatikan sikap Narendra yang aneh. Hanya perasaannya saja, atau malam ini Narendra lebih abai terhadapnya?
Glacia meremas pahanya tidak nyaman. Tak pelak ia gelisah mendapati sikap Narendra yang demikian.
"Naren! Kamu mau kita makan di kamar saja? Kalau begitu akan aku pesankan makan malam buat kamu!" Glacia berseru pada pintu kamar mandi yang tertutup.
Tidak ada jawaban. Narendra tidak mendengarnya, atau lelaki itu sengaja mengabaikannya?
__ADS_1