
"Bagaimana perasaan kamu sekarang?" Yohanes baru saja tiba di rumah sakit sekitar setengah jam yang lalu.
Ia bahkan meninggalkan semua jadwal begitu Narendra memberi tahu bahwa Glacia masuk rumah sakit.
Glacia masih terlihat pucat dan lemah, detaknya terdengar dari alat monitor jantung di samping ranjang. Yohanes sudah bertemu Dokter Teresa, ia bilang Glacia sempat drop dan hampir kritis.
Yohanes benar-benar ketakutan sekarang. Gejala yang dirasakan Glacia sudah mulai jelas dan intens. Hal ini membuat Yohanes berpikir keras mencari solusi.
Dampak dari kecelakaan tempo lalu tidak bisa dianggap ringan. Selain cidera pada saraf tulang belakang, sebelumnya Glacia juga memiliki riwayat lain pada tubuhnya, salah satu yang menghambat pengobatan Glacia. Yohanes hanya bisa menunggu keputusan terbaik dari dokter.
"Sudah lebih baik. Papa kapan datang?" tanya Glacia parau.
"Baru saja," jawab Yohanes.
"Pa?"
Panggilan Glacia membuat Yohanes yang semula menunduk menggenggam tangan sang putri, lekas mendongak dengan kedua alis terangkat. "Kenapa, Sayang?"
Glacia terlihat berpikir sesaat, sebelum kemudian mengutarakan sesuatu yang akhir-akhir ini memunculkan praduga.
"Kondisiku tidak sebaik yang Dokter Teresa katakan. Benar, kan?" tanyanya dengan suara pelan.
Raut mengantuk Glacia membuat Yohanes melipat bibir guna mempertahankan ekspresi. Ia tidak terkejut, karena cepat atau lambat Glacia pasti menyadarinya sendiri.
__ADS_1
"Memang, tapi kamu akan sembuh. Pasti sembuh," yakin Yohanes.
Glacia tak mengatakan apa pun lagi sampai pintu ruang rawatnya terbuka menampilkan Lizy. Lizy datang menjenguknya, namun yang membuat Glacia terpaku adalah, wanita itu masuk bersamaan dengan Narendra.
Apa mereka datang bersama?
Mungkin. Bukankah ini yang Glacia inginkan, melihat mereka berbaikan?
Ingatan Glacia kembali pada siang tadi, tentang pertanyaan Narendra yang menjurus pada hubungan mereka. Glacia tak yakin, maka ia tak menjawabnya. Dan sekarang Narendra sudah terlihat bersama dengah Lizy. Glacia harus merasa senang.
"Glacy? Bagaimana kondisi kamu sekarang? Sudah lebih baik?" Lizy mendekat dan berhenti di samping ranjang Glacia.
Wanita itu memberinya buket bunga dan menyimpan parsel buah ke atas nakas.
"Tadi pagi saat kau pingsan aku sempat ikut kemari, tapi karena ada kepentingan jadi aku pulang dulu," lanjut Lizy.
Salah, lebih tepatnya pertemuan kalian. Glacia kembali mengulas senyum untuk menutupi rasa tidak nyaman di hatinya. Matanya sempat menangkap pandangan Narendra yang mengarah padanya lekat, namun Glacia segera mengalihkan atensinya pada Lizy.
Lizy sangat santun dan ramah. Dia terkendali dan lemah lembut. Mungkin inilah yang disukai Narendra dari wanita itu.
"Jangan pikirkan lagi. Kita masih bisa makan bersama di lain waktu," ucap Lizy.
Glacia mengangguk membenarkan. Keduanya pun terlibat obrolan ringan cukup lama. Di samping itu, Yohanes menatap Narendra yang sejak tadi terdiam. Ia tahu betul siapa Lizy, wanita yang Narendra pacari sebelum ia menyuruhnya menikahi Glacia.
__ADS_1
"Glacia tampak akrab dengannya," ujar Yohanes ketika mereka berada di luar.
Narendra mengikuti sang mertua yang sebelumnya mengajak minum kopi. Kini keduanya duduk di bangku koridor dengan masing-masing paper cup di tangan.
Narendra menyeruput cairan panas di gelasnya, matanya menatap lurus ke depan sama seperti Yohanes.
"Akhir-akhir ini mereka dekat," jawab Narendra, yang mengundang tolehan dari pria di sampingnya.
Yohanes memandang Narendra rumit. Ia kemudian bertanya. "Kau masih mencintainya?"
Sesaat Narendra terdiam membalas tatapan Yohanes. "Saya bukan orang yang tertarik pada masa lalu," ujarnya diplomatis.
Kalimat tersebut membuat Yohanes terkekeh. Suaranya terdengar netral tanpa menyudutkan. "Bukankah masa lalu membuat kita belajar?"
"Benar, jika itu membuat kita merasa lebih baik. Tapi ada beberapa yang memang harus tetap pada tempatnya."
"Termasuk Lizy?"
Tanpa dijelaskan pun Narendra tahu Yohanes pasti mengerti maksudnya. Lizy hanya masa lalu, biarkan ia menjadi salah satu pengalaman Narendra mengenai hubungannya dengan seorang wanita.
Yohanes membuang nafasnya perlahan. "Dia sudah bertunangan, tapi jika hatimu masih tertaut padanya bisa saja masa lalu itu akan terulang." Ia menoleh pada Narendra. Bibirnya mengulas senyum penuh arti yang membuat Narendra tenggelam menebak-nebak apa maksudnya.
Yohanes tidak percaya padanya?
__ADS_1
"Papa, apa yang anda sembunyikan tentang Glacia?" Narendra menatap tepat di mata Yohanes.
Rupanya Narendra menyadari ada yang tidak beres dengan perkembangan kesehatan istrinya. Namun Yohanes menganggap bahwa Narendra tengah mengalihkan pembicaraan mereka.