
Sepasang mata itu terbuka cepat. Narendra terbangun dari tidurnya dengan nafas sedikit berantakan. Ia pun mulai bangkit menjauhkan punggungnya dari permukaan ranjang, mengusap wajahnya kasar sambil tertunduk dalam.
Nafasnya terbuang keras saat Narendra menatap jam yang menunjuk pada angka 2 malam. Langit tentu masih gelap, dan sialnya Narendra malah merasa pusing, pun kantuknya pergi dengan begitu cepat.
Narendra menyibak selimut lalu beranjak meninggalkan ranjang. Ia berjalan keluar kamar, memasuki lift hingga tiba di dapur. Kakinya berayun mendekati meja bar, mengambil gelas dan mengisinya dengan air untuk kemudian ia minum hingga tandas.
Narendra terdiam lama di sana. Wajahnya merenung seolah memikirkan sesuatu. Sekali lagi nafas itu terbuang keras hingga bisa di dengar dalam kesunyian.
Ia pun memutuskan untuk kembali ke kamar. Sepanjang langkahnya yang pelan, Narendra tak bisa berhenti berpikir sampai akhirnya ia tiba di depan kamarnya sendiri.
Alih-alih masuk kamar, Narendra malah membuka pintu kamar Glacia yang tidak terkunci. Sesaat ia hanya mematung sebelum kakinya mengambil alih dan bergerak mendekati ranjang. Glacia tengah tertidur pulas di sana.
Narendra bergeming memandangi istrinya yang lelap di alam mimpi. Ia pun melesakkan diri duduk di bibir kasur sambil terus menatap Glacia yang syukurnya tidak terganggu.
Sementara itu, Narendra tidak tahu bahwa di tempat lain Lizy juga terbangun. Bedanya wanita itu terduduk sendiri di kamarnya. Namun mata yang biasa ramah itu kini nampak kosong dipenuhi oleh luka.
Lizy meremas sebuah foto di tangannya. Air matanya luruh perlahan seiring hatinya yang kembali terluka oleh masa lalu. Lizy terisak dengan kepala menunduk, hingga rambut panjangnya terurai ke depan menutupi sebagian wajah.
"Kapan kamu akan mengakui bahwa dulu kamu pernah mengkhianatiku, Naren," bisiknya pelan. "Hiks, ternyata kamu tak lebih dari seorang bajingan yang berselingkuh."
"Andai aku tidak menyelidiki, seumur hidup aku tidak akan pernah tahu alasan sebenarnya kamu memutuskan hubungan kita."
"Ini semua karena Glacia. Lagi dan lagi karena Glacia. Kenapa semua lelaki terus berpaling padanya meski dia cacat sekalipun. Bahkan Rafael." Lizy mendengus sinis. Sudut bibirnya terangkat sumir.
Jika dibandingkan dengan Glacia, prestige-nya jelas lebih meyakinkan dan sempurna. Lizy adalah wanita cerdas berprestasi, berbanding terbalik dengan Glacia yang hanya bisa menciptakan sensasi.
Meski begitu, entah kenapa Lizy selalu merasa kalah dari wanita itu jika masalah cinta.
__ADS_1
"Jika wajahmu buruk rupa, semua orang mungkin akan meninggalkanmu. Termasuk Narendra. Dia terpikat karena kecantikanmu, kan?"
***
Glacia membuka matanya pelan. Ia mengernyit dengan mata menyipit dalam, berusaha menghindari sinar yang berlomba masuk hingga menusuk pupilnya yang belum siap.
Ternyata sudah pagi.
Weni yang baru saja selesai menyiapkan air hangat di kamar mandi, refleks berseru mendapati sang nyonya telah bangun.
"Oh, Nyonya sudah bangun? Mau sarapan dulu atau mandi dulu?"
Glacia menoleh lantas mendengus. "Aku saja belum minum," ucapnya serak.
Kenyataan tersebut membuat Weni langsung gelagapan. "Ah, i-iya benar. Sebentar, saya ambilkan."
Weni bergegas mengambil gelas berisi air di nakas dan memberikannya pada Glacia yang kini sudah duduk. "Silakan, Nyonya."
"Ah, Wina kemarin izin untuk cuti, Nyonya. Ayah kami sakit. Karena tidak mungkin kita pulang berbarengan, akhirnya Wina saja yang pulang kampung, Nyonya," jelas Weni.
"Oh." Glacia hanya mengangguk. Sesaat ia terdiam memikirkan sesuatu. "Apa semalam ada orang yang masuk ke kamarku?"
Weni mengerjap. "Saya tidak tahu. Memangnya kenapa, Nyonya?"
Glacia lupa kalau sudah malam tidak ada pelayan yang berkeliaran. Ia pun menggeleng sembari mengibas. "Sudahlah. Mungkin hanya perasaanku saja."
Sekali lagi Weni hanya mengerjap lantaran bingung. Mengesampingkan pertanyaan aneh sang nyonya, ia pun mulai membantu Glacia menjalani rutinitas paginya seperti biasa. Memandikan, membantunya berpakaian, lalu turun ke lantai bawah untuk sarapan.
__ADS_1
Glacia tak menemukan keberadaan Narendra di meja makan. Mungkin lelaki itu sudah berangkat bekerja sebelum Glacia bangun dari tidurnya.
***
Di sisi lain Narendra sedang terpekur di meja kerjanya. Ia sengaja berangkat pagi-pagi sekali karena tak bisa tidur usai terbangun di tengah malam. Pun sebenarnya Narendra tak berani bertemu Glacia, ia takut Glacia menyadari bahwa semalam ia masuk tanpa izin ke kamarnya, dan ... menciumnya.
Narendra akui ia salah karena mencuri-curi kesempatan, tapi semalam hatinya sangat kalut tanpa alasan yang jelas. Terlebih setelah melihat hasil tes yang dibawa Julian pagi ini ke kantornya. Narendra benar-benar dibuat tak habis pikir oleh semua orang yang berusaha menyembunyikan semua ini darinya.
Terutama Yohanes. Padahal Narendra sangat menghormati pria itu seumur hidupnya, tapi untuk masalah Glacia saja Narendra tak dilibatkan meski statusnya sebagai suami.
"Dulu, saat kecil Nyonya pernah menjalani kemoterapi untuk penyembuhan kanker. Beliau dinyatakan sembuh setelah melewati 6 bulan pengobatan."
Informasi yang didapat Julian kembali terngiang mengganggu pikiran Narendra. Ternyata ia memang belum tahu apa-apa soal Glacia. Bahkan hal terkecil sekalipun, apalagi sesuatu yang wanita itu alami di masa lalu.
Di tengah lamunannya yang carut-marut, tiba-tiba Yohanes datang setelah mengetuk pintu. "Boleh Papa masuk?"
Narendra berdiri menyambut kedatangan pria itu. Ia mengangguk dan mempersilakan Yohanes untuk duduk di sofa di ruangan itu.
Mereka duduk saling berhadapan. Yohanes memandang menantunya lekat dengan sorot rumit penuh rasa tanya.
"Papa dengar akhir-akhir ini Julian sering terlihat keluar masuk rumah sakit Medika," ucap Yohanes memulai pembicaraan.
Tak ada perubahan dari raut Narendra. Ia tetap bertahan dengan posisi tenang sambil mendengarkan. Narendra tahu betul apa maksud dari kalimat Yohanes. Secara tak langsung lelaki itu ingin mengatakan bahwa ia tahu Narendra menyelidiki sesuatu mengenai putrinya.
Narendra menunduk sesaat sambil mengeluarkan kekehan. "Ternyata Papa masih sering mengawasi saya?" Ia mendongak. Keduanya saling melempar tatap dalam artian masing-masing.
"Naren, kamu harus tahu bahwa Papa mempercayaimu. Jangan sampai kepercayaan Papa hilang karena tindakanmu."
__ADS_1
"Memang apa yang kulakukan? Aku hanya berusaha mencari tahu apa yang terjadi pada istriku," tegas Narendra.
Ini pertama kali Narendra menentang perkataan Yohanes, dan ia merasa telah melakukan hal yang benar.